NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu

Aruna mematut dirinya di depan cermin dengan menggunakan seragam sekolah. Sebenarnya masih tidak percaya dengan apa yang ia alami, rasanya seperti mimpi tidak masuk di akal. Nyatanya, berkali-kali ia mencubit lengan dan pipinya hanya untuk memastikan saja dan rasa perih yang di dapat. Gadis kecil itu menghela nafas pelan, apalagi melihat balutan seragam sekolah di tubuhnya saat ini.

Jika boleh jujur, Aruna tidak ingin pergi kesekolah dan mengulang kembali semua hal-hal buruk yang ia alami di sana. Statusnya yang di ketahui hanya sebagai anak angkat di keluarga Adijaya membuatnya sering mendapat sindiran-sindiran tajam juga cemo'ohan teman-temannya. Dulu mungkin ia akan selalu ketakutan setiap kali ke Sekolah dan berharap untuk tidak pergi, tapi pikiran naifnya tak ingin mengecewakan keluarganya.

Namun, sekarang rasanya ia tak ingin pergi karena merepotkan menghadapi para pembully cebol di sana. Mengingat kembali membuat Aruna tanpa sadar berdecak kesal sendiri.

Ia melihat jam di ponsel miliknya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, biasanya ada pelayan yang akan datang membangunkannya di menit-menit terakhir hingga Aruna sering terlambat ke Sekolah. Para pelayan selalu beralasan mereka kekurangan tenaga dan sangat sibuk di pagi hari, jadi sering terlambat membangunkannya. Tapi hingga pukul 7 begini tak ada satu pun dari mereka yang datang.

Keningnya berkerut bingung, apalagi ia mendengar suara-suara ribut seperti suara tawa tertahan dari balik pintu kamarnya. Di rumah mewah ini hanya ada dia, ketiga saudaranya, juga sang Kepala keluarga. Tidak mungkin salah satu dari mereka yang berada di balik pintu kamarnya.

Ah, jadi begitu.

Mereka sengaja melakukan hal itu untuk membuatnya terlambat.

Meski Aruna sudah menjadi bagian keluarga Adijaya, tapi ia tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Membuat para pelayan seringkali menggunakan kesempatan itu untuk mengerjainya atau bahkan menyiksanya pelan-pelan. Dengan sifat Aruna yang begitu takut mengecewakan keluarganya, ia hanya diam saja mendapatkan semua perlakuan tidak adil itu.

Pernah sekali Aruna mengadu, tapi mereka lebih mempercayai ucapan pelayan yang sudah bertahun-tahun bekerja di Rumah itu. Pada akhirnya Aruna hanya bisa diam.

Menyedihkan sekali dirinya dulu.

Aruna menghela nafas lagi dan terduduk di kursi belajarnya sembari memangku anggun salah satu kaki. Ia tak berminat datang tepat waktu ke Sekolah, sudah saatnya berhenti menjadi anak baik dan penurut. Ia melihat sekeliling kamarnya yang bisa dibilang luas, setidaknya mereka memberikan kamar yang layak untuk ia pakai. Getaran ponsel di atas meja membuatnya menoleh, mengambil benda persegi itu dan membukanya. Ada pesan dari seseorang bernama Ganesha.

Ah, benar. Kenapa ia bisa melupakan Ganesha?

Satu-satunya teman yang ia punya dan tulus padanya. Tapi nasib sial menghampiri anak itu saat usia mereka menginjak 11 tahun. Ganesha tertabrak sebuah mobil saat baru saja keluar dari sebuah toko pakaian bersama ibunya. Sang ibu selamat tapi Ganesha tidak dapat terselamatkan. Aruna ingat ia menangis berhari-hari bahkan hingga sering menghabiskan waktu di makam Ganesha.

Ia merindukan gadis cerewet itu.

Cklek!

Pintu kamarnya terbuka begitu saja dan menampakkan salah satu pelayan. Terlihat ia begitu kaget karena mendapati Aruna sudah terduduk di kursi dengan seragam rapi di tubuhnya.

Si pelayan berdehem dengan dagunya yang terangkat naik begitu arogan, "Nona, saya pikir anda belum bangun. Jadi, saya—"

Ucapan si pelayan terhenti saat Aruna terkekeh pelan, menatap pelayan wanita dengan nama Mia di name tagnya.

"Sudah tidak mengetuk pintu lebih dahulu, sekarang malah berbicara tanpa seijin tuannya. Ternyata pelayan di Rumah keluarga Adijaya begitu kekurangan tata krama, ya."

"Umm, Nona saya pikir tadi anda masih tidur. Jadi, saya tidak mengetuk pintu karena takut anda terganggu," ucapnya tanpa merasa bersalah.

"Tidak mengetuk pintu karena takut merasa terganggu, tetapi cekikikan di depan pintu dengan suara keras tanpa rasa malu. Hebat sekali, Mia~"

Mendengar ucapan Aruna membuat Mia tersentak kaget, ia langsung menggertakkan rahangnya menahan kesal tapi tetap mendongakkan kepalanya angkuh.

Benar-benar tidak tahu diri.

Dulu Aruna hanya akan diam dan mengatakan tidak apa-apa, tapi saat ini ia tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Maka Aruna turun dari kursinya dengan merangkul ransel hitam di pundak kecilnya. Ia berjalan mendekati Mia yang masih berdiri tanpa rasa takut. Ditambah Mia bingung dengan perubahan sifat Aruna yang kini terasa berbeda. Tidak ada tatapan takut sama sekali seperti yang selalu anak itu tunjukkan.

"Nona, saya mungkin pelayan di Rumah ini tapi saya lebih tua dari anda. Tidak seharusnya anda memanggil nama saya begitu saja," katanya lagi dengan nada tegas. Mencoba membuat Aruna ketakutan seperti biasanya.

Apa pelayan itu gila? Sejak kapan sang Tuan yang di layani harus berbicara lebih sopan jika pelayannya lebih tua? Aruna yang dulu mungkin akan merasa bersalah dan meminta maaf karena ia tidak tahu. Tapi Aruna yang sekarang tidak sebodoh itu lagi.

"Pfftt!" kekehan Aruna pecah dan membuat Mia semakin bingung.

"Nona—"

"Sejak kapan Tuan yang di layani harus bersikap sopan kepada pelayannya sendiri? Apa Ayah yang mengatakannya? Jika iya, aku akan bertanya padanya nanti untuk memastikan."

Ucapan Aruna cukup membuat si pelayan kaget dan takut, sebelum ia mengingat kembali status Aruna di rumah ini yang bukan siapa-siapa.

"Dan anda pikir Tuan Besar akan mendengarkan dan berpihak pada anda?"

Oh, Menantangnya?

Sepertinya Mia melupakan satu hal.

"Kenapa tidak? Aku mungkin diperlakukan dingin, tapi sebagai pelayan yang sudah bekerja lama di tempat ini seharusnya kau tahu bagaimana sifat Ayah, kan? Ayah bisa mentolerir apapun kecuali jika nama Adijaya di injak-injak."

Si pelayan mengepalkan kedua tangannya kesal, "Beraninya anda—"

"Mia, siapa namaku?"

"Apa?"

Mia tertegun ketika melihat tatapan dingin Aruna yang membuat seluruh tubuhnya merinding.

"Aku tahu kau tidak tuli. Siapa namaku, Mia?" ulangnya lagi.

Seketika Mia langsung ketakutan saat ia menyadari kesalahannya kali ini. Tubuhnya sampai jatuh berlutut di hadapan Aruna yang masih berdiri di hadapannya.

Ia terlalu angkuh hingga melupakan bahwa Aruna menyandang nama Adijaya di belakangnya.

"Nona! Saya—"

"Siapa namaku, Mia?"

Dengan mulut bergetar dan pucat, Mia menyebutkan nama Aruna terbata-bata.

"Ar-Aruna Cheryl Adijaya, Nona."

"Benar. Aruna Cheryl Adijaya. Haruskah aku mengeja untukmu? A-D-I-J-A-Y-A," katanya sembari menekan nama akhirnya dengan begitu jelas. Senyuman miring terukir di wajah kecil Aruna, ia menundukkan pandangannya karena posisi Mia yang berlutut sehingga lebih pendek darinya.

"Aku mungkin hanya anak angkat, tapi aku diberi nama Adijaya saat memasuki keluarga ini. Menurutmu, apa Ayah akan diam saja ketika ia mengetahui nama Adijaya yang ia berikan padaku di injak-injak oleh pelayan sepertimu?"

"Saya tidak—"

PLAK!

Mia tertegun ketika wajahnya di tampar kuat oleh tangan kecil Aruna. Terlalu kuat hingga telinganya berdengung. Bagaimana mungkin anak 10 tahun bisa memukul sekuat itu?

"Aku tidak menyuruhmu untuk bicara. Berani sekali meninggikan suara padaku, Mia."

"Tapi, saya tidak—"

PLAK!

Satu tamparan lagi menghantam wajah Mia begitu kuat.

"Aku bisa melakukan hal ini seharian, kau tahu. Tidak akan ada yang datang dan mengecek ke kamarku. Bagaimana?"

Mulut Mia terkunci, ia terdiam menahan rasa sakit karena kedua pipinya terasa begitu perih sekali. Tidak menyangka bahwa Aruna akan berubah hanya dalam semalam saja seperti ini.

Aruna bukan tipe yang senang melakukan kekerasan, tapi ini kesempatan kedua yang di berikan untuk memperbaiki takdir miliknya. Jika ia hanya diam saja membiarkan para pelayan itu melakukan sesukanya, maka sama saja seperti ia mengulang takdir yang sama. Ia harus menegaskan posisinya di Rumah ini agar setidaknya para pelayan tidak memperlakukannya semena-mena. Seandainya dirinya yang dulu lebih pintar dan berani menggunakan keuntungannya sebagai bagian dari keluarga Adijaya begini, maka Aruna mungkin tak perlu mengalami semua hal buruk itu.

"Aku tahu kalian yang di luar mendengarkan. Masuk sekarang," titahnya.

Tak lama pintu terbuka dan menampakan 3 orang pelayan lain yang hanya bisa menundukkan kepala. Apalagi saat melihat keadaan Mia saat itu, membuat mereka hanya bisa diam. Sebenarnya tidak semua pelayan memperlakukannya buruk, sebagian dari mereka memilih mengabaikan eksistensi dirinya dan sebagian lagi seperti Mia.

Namun, diantara mereka, Mia lah yang paling sering menyakiti Aruna terang-terangan. Makanya saat ini ia menjadikan Mia sebagai contoh untuk mereka.

Aruna mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku rok seragam lalu memutar sesuatu hingga suara Mia terdengar dari rekaman audionya. Mia terkejut dan mendongak, begitu pun pelayan lainnya. Mendengar percakapan mereka barusan dari awal yang terekam dengan jelas.

"Bagaimana menurutmu jika rekaman ini aku kirim pada Ayah juga ketiga saudaraku itu? Aw! aku penasaran reaksi mereka!" Aruna memekik dengan tawa renyahnya sementara Mia semakin bergetar ketakutan begitu pun pelayan lainnya.

"No-nona saya mohon! Maafkan saya! Saya—"

PLAK!

Sekali lagi tamparan keras menghantam wajah Mia dan membuat ketiga pelayan lainnya tersentak kaget dengan kedua mata melotot. Rasanya saat ini mereka bukan menghadapi seorang gadis kecil, tapi lebih ke seorang wanita dewasa.

"Bukankah sudah kubilang aku tidak mengijinkanmu untuk bicara?"

Hening.

Aruna mendengus dan memasukkan kembali ponsel di saku roknya lalu menghela nafas kesal. Ia menatap para pelayan di hadapannya yang hanya bisa menunduk ketakutan. Padahal dulu mereka dengan beraninya menyakiti tubuh kecilnya, tapi lihat sekarang?

Ia mengangkat wajah Mia dengan telunjuknya hingga terlihat jelas wajah pelayan itu yang memerah dan bengkak akibat tamparannya tadi.

"Aku diam selama ini karena aku ingin hidup dengan tenang tanpa membuat masalah atau keributan apa pun. Tapi aku sadar jika aku hanya diam saja, maka sama saja dengan membiarkan kalian menginjak-nginjak nama Adijaya. Jadi, bersikaplah selayaknya mulai sekarang atau kau dan kalian akan melihat sisi burukku lebih dari ini. Paham? Jawab aku."

Mia mengangguk kaku dengan airmata berlinang di wajahnya, "Sa-saya mengerti, Nona."

Aruna mendengus dan menghempaskan wajah Mia lalu menatap ketiga pelayan yang masih berdiri di hadapannya.

"Apa kalian tidak punya mulut?"

"Ka-kami paham, Nona!" pekik mereka bersamaan.

Setelahnya Aruna berjalan keluar begitu saja tanpa melihat mereka sama sekali.

Menginjak-nginjak nama Adijaya, My ass. Like hell I care about that shit! Batinnya dalam hati.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!