Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Perjanjian dengan Klan Zhao
Kedai teh "Naga Hitam" bukanlah tempat bagi orang-orang yang mencari ketenangan. Di sini, udara kental dengan asap rokok murah, aroma alkohol basi, dan keringat para pria yang menghabiskan hidup mereka di jalur hukum yang kelabu. Lampu-lampu minyak yang menggantung dari langit-langit rendah berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding seperti hantu-hantu yang gelisah.
Lin Fan duduk di sudut ruangan yang paling gelap, jauh dari keramaian meja-meja judi di tengah. Di depannya, secangkir teh hijau dingin yang sudah tidak berasa. Ia tidak menyentuhnya. Matanya terpejam setengah, seolah-olah sedang tidur, namun setiap otot di tubuhnya siaga. Ia bisa merasakan tatapan curiga dari setidaknya lima orang di ruangan itu. Mereka adalah anggota rendah Klan Zhao, preman-preman yang biasa mengumpulkan uang perlindungan dari pedagang pasar.
Pria berotot dengan bekas luka di wajah, yang tadi menyambutnya di pintu, kini berdiri di samping mejanya dengan tangan terlipat. Namanya, menurut bisikan orang-orang di sekitarnya, adalah "Si Banteng". Ia menatap Lin Fan dengan campuran rasa jijik dan penasaran.
"Wakil Kepala belum datang," geram Si Banteng, suaranya berat seperti gesekan batu.
"Kau punya banyak nyali, anak kecil. Biasanya, orang-orang dari Klan Lin yang masuk ke sini berakhir sebagai umpan ikan di sungai belakang. Apa yang membuatmu berpikir kau akan berbeda?"
Lin Fan membuka matanya perlahan. Kilatan dingin di matanya membuat Si Banteng sedikit bergeser, meski ia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya.
"Aku tidak berpikir begitu, Tuan.," jawab Lin Fan tenang.
"aku tahu bahwa Wakil Kepala Zhang sedang mengalami masalah dengan pasokan Batu Spirit kualitas rendah dari tambang utara. Pasokan itu terhambat karena inspeksi mendadak dari Pengawal Kota, yang ternyata disuap oleh saingan bisnis beliau, bukan?"
Wajah Si Banteng berubah pucat. Informasi itu adalah rahasia dagang Klan Zhao yang sangat sensitif. Bagaimana mungkin seorang remaja dari klan saingan yang dianggap "sampah" bisa mengetahuinya?
Sebelum Si Banteng bisa bereaksi, suara tawa ringan terdengar dari tangga menuju lantai dua kedai.
"Hahaha! Menarik, ini sangat menarik!"
Semua orang di ruangan itu segera membungkuk hormat. Seorang pria paruh baya turun dengan langkah santai. Ia mengenakan jubah hitam polos tanpa hiasan, namun kainnya berkilau halus di bawah lampu minyak, menandakan kualitas sutra tingkat tinggi. Wajahnya rata-rata, mudah dilupakan, kecuali sepasang matanya yang tajam dan licik seperti ular piton.
Ini adalah Zhang Wei, Wakil Kepala Klan Zhao. Pria yang dikenal sebagai "Ular Beracun" di Kota Qingyun karena kemampuannya dalam intrik dan racun.
Zhang Wei berjalan mendekati meja Lin Fan, mengabaikan kursi yang ditawarkan Si Banteng, dan duduk langsung di tepi meja, menatap Lin Fan dari dekat. Jarak mereka hanya satu jengkal. Lin Fan bisa mencium aroma obat-obatan herbal yang samar dari napas Zhang Wei—tanda bahwa pria ini sering bereksperimen dengan racun atau pil terlarang.
"Jadi, kau adalah Lin Fan?" tanya Zhang Wei,
suaranya lembut namun mengandung ancaman terselubung. "
"Anak yang di sebut sebut meridiannya rusak, dipukuli hingga hampir mati"
"Dan sekarang datang ke sarangku menawarkan 'informasi'. Kau tahu apa hukuman bagi mata-mata Klan Lin di wilayah kami?"
Lin Fan tidak gentar. Ia menatap balik mata Zhang Wei. "Hukuman bagi mata-mata adalah kematian. Tapi aku bukan mata-mata, Tuan Zhang. Aku adalah investor."
Zhang Wei mengangkat alisnya, tertarik. "Investor? Dengan modal apa? Tubuhmu yang hancur? Atau harga dirimu yang sudah diinjak-injak sepupumu sendiri?"
"Dengan pengetahuan," jawab Lin Fan singkat. Ia mengambil sebuah kertas kusut dari saku bajunya dan meletakkannya di atas meja. Itu adalah sketsa kasar rute patroli Pengawal Kota dan jadwal inspeksi gudang Klan Zhao yang ia ingat dari obrolan mabuk salah satu penjaga gerbang klan minggu lalu—informasi sepele bagi orang lain, tapi berharga bagi seseorang yang ingin menghindari penyitaan barang.
"Ini hanya pemanasan," kata Lin Fan. "Tawaran utamanya lebih besar. Saya tahu di mana Lin Hao, sepupu saya, menyimpan bukti korupsi Kepala Cabang Utama Klan Lin terkait penggelapan dana pembangunan tembok kota"
"Bukti itu bisa menghancurkan Cabang Utama, dan secara otomatis melemahkan posisi Klan Lin secara keseluruhan di hadapan Dewan Kota. Itu akan membuka jalan bagi Klan Zhao untuk mengambil alih distrik perdagangan timur."
Mata Zhang Wei menyipit. Distrik perdagangan timur adalah sumber pendapatan terbesar kedua setelah tambang. Jika Klan Lin melemah, Klan Zhao bisa mencaploknya. Ini adalah tawaran yang sangat menggoda.
"Dan apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" tanya Zhang Wei, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu.
"apakah Uang? Kami bisa memberimu seratus batu spirit. Cukup untuk membeli obat terbaik dan melarikan diri dari kota ini."
Lin Fan menggeleng. "Uang habis. Obat hanya memperbaiki tubuh, bukan nasib"
"Aku menginginkan tiga hal."
Ia mengangkat tiga jari.
"Pertama, perlindungan diam-diam dari Klan Zhao terhadap gangguan fisik dari anggota Klan Lin lainnya."
"Kedua, akses ke perpustakaan medis Klan Zhao untuk mempelajari teknik pengobatan meridian.
"Ketiga..." Lin Fan berhenti sejenak, menatap Zhang Wei dalam-dalam.
"Ketiga, ketika waktunya tiba, aku akan meminta satu favor. Hanya satu. Dan Tuan Zhang wajib memenuhinya, selama itu tidak membahayakan nyawa Tuan secara langsung."
"HAHAHA"
Zhang Wei tertawa keras, kali ini tawanya terdengar lebih misterius.
"Berani sekali kau, anak muda."
"Kau meminta perlindungan dari musuh bebuyutan klanmu, akses ke rahasia keluarga kami, dan janji buta dari seorang pria yang dikenal tidak pernah menepati janji.
"Mengapa aku harus setuju Hah? Aku bisa saja membunuhmu sekarang"
"lalu mengambil kertas itu, dan menyiksa mu"
Sampai informasimu keluar dari mulutmu."
Lin Fan tersenyum tipis. Senyuman yang sama yang dulu membuat ribuan jenderal berlutut di hadapannya.
"Karena Tuan Zhang adalah orang pragmatis. Membunuhku hanya akan memberi Anda informasi statis"
"Tapi bekerja sama dengan saya memberi Anda aset dinamis. Saya berada di dalam Klan Lin. Saya bisa mendengar rencana mereka sebelum mereka sendiri menyadarinya."
"Saya adalah mata dan telinga Anda di jantung musuh"
"Dan mengenai janji..." Lin Fan condong maju, suaranya menjadi bisikan dingin.
"Jika saya berniat jahat, saya tidak akan datang ke sini sendirian"
"Saya datang karena saya butuh kekuatan Tuan Zhang untuk menghancurkan rumah yang memenjarakan saya. Setelah itu, kita bisa menjadi mitra... atau musuh. Tergantung bagaimana Tuan memperlakukan saya."
Ruangan menjadi hening. Si Banteng dan para preman lainnya menahan napas, menunggu keputusan pemimpin mereka. Zhang Wei menatap Lin Fan lama sekali. Ia mencari kebohongan, mencari ketakutan, mencari kelemahan. Tapi yang ia temukan hanyalah kedalaman yang tak terbaca, seperti sumur tua yang tidak ada dasarnya.
Akhirnya, Zhang Wei mengambil kertas itu, melipatnya, dan memasukkannya ke saku dadanya.
"Baik lah! Perlindungan dimulai malam ini," kata Zhang Wei, berdiri.
"Dua anak buahku akan mengawasimu dari jarak jauh."
"Jangan coba-coba bermain ganda, bocah!"
"Jika kau mengkhianatiku, aku akan memastikan kematianmu lebih lambat dan lebih menyakitkan daripada pukulan preman manapun."
Lin Fan bangkit, membungkuk sedikit sebagai tanda hormat—bukan tanda ketundukan, tapi etiket bisnis.
"Saya mengerti, Tuan Zhang. Kerja sama yang menyenangkan."
Saat Lin Fan keluar dari kedai "Naga Hitam", hujan mulai turun lagi. Dinginnya air hujan menyegarkan kulitnya, namun hatinya terasa panas. Ia baru saja membuat perjanjian dengan iblis. Klan Zhao tidak lebih baik dari Klan Lin; mereka hanya lebih jujur tentang kejahatan mereka.
Tapi bagi Lin Fan, ini adalah langkah pertama. Ia telah mendapatkan pelindung sementara dan akses ke pengetahuan medis. Sekarang, ia bisa mulai memperbaiki meridiannya dengan lebih cepat.
Di balik bayangan sebuah gang sempit, dua sosok bertopeng mengikuti Lin Fan dari kejauhan, memastikan tidak ada anggota Klan Lin lain yang mengganggunya dalam perjalanan pulang.
Lin Fan menyadari kehadiran mereka, tapi ia pura-pura tidak tahu. Ia menatap langit malam yang gelap, di mana bintang-bintang tampak redup tertutup awan.
"Lin Hao," gumamnya dalam hati.
"Kau pikir kau sudah menang karena memiliki dukungan klan? Tunggu saja. Badai sebenarnya baru akan dimulai. Dan aku adalah petirnya."
Ia mempercepat langkahnya menuju gubuk reyotnya. Di sana, ibunya pasti masih terjaga, menunggu kepulangannya dengan cemas. Lin Fan harus segera kembali ke peran "anak yang lemah" itu, sementara di balik topeng tersebut, otak sang Kaisar sedang merancang kehancuran total bagi semua yang pernah merendahkannya.