Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Bulan Menuju Perpisahan
Kenan dan Kinasih pun menyetujuinya. Mereka bertiga pulang bersama, dan sesampainya di rumah, Kinasih langsung menuju kamar Amara. Di sana ia duduk santai sambil asyik menonton drama kesukaannya, sama sekali tidak tahu badai apa yang sedang menimpa suaminya itu. Sementara itu, Kenan kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Belum lama ia berbaring, seorang pelayan datang menyampaikan bahwa Papa memanggilnya ke ruang kerja. Kenan segera berjalan ke sana dengan langkah tenang, tapi begitu masuk ia langsung merasakan suasana yang sangat serius dan tegang.
Papa duduk di kursi besarnya dengan wajah kaku, lalu langsung berbicara tanpa basa-basi. “Duduklah, Kenan. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan sekarang.”
Ia melanjutkan, “Baru saja Papa mendapat kabar dari sahabat lama kita, Tuan Alexander Miler dari Jerman. Ia mengajukan perjodohan antara kamu dan putrinya, Kamila Miler. Katanya gadis itu sudah lama menyukaimu.”
Mendengar itu, Kenan langsung menggeleng tegas tanpa ragu sedikit pun. “Maaf, Papa. Aku menolak tawaran itu. Aku sudah memiliki wanita yang sangat kucintai, dan takkan ada orang lain yang bisa menggantikannya.”
Namun Papa hanya menghela napas panjang, wajahnya makin berat. “Kamu tidak bisa menolaknya sesuka hati, Nak. Ini bukan soal perasaan semata, tapi menyangkut kelangsungan hidup perusahaan kita. Tuan Alexander adalah investor terbesar — hampir tujuh puluh persen modal perusahaan kita berasal darinya. Jika kita menolak, ia akan menarik seluruh dananya dan memindahkannya ke perusahaan saingan. Kalau itu terjadi, perusahaan Hartmann yang dibangun puluhan tahun ini akan hancur seketika.”
Kenan terdiam terpaku, dadanya terasa sesak menahan rasa sakit. “Tapi Papa… bagaimana dengan Kinasih? Bagaimana nasibnya jika aku harus menikahi orang lain?”
Papa menatapnya tajam, nada bicaranya berubah dingin dan mengancam. “Kamu harus memilih. Antara masa depan keluarga dan perusahaan, atau wanita itu. Ingat kata Papa — jika kamu tetap keras kepala menolak, Papa takkan segan melenyapkan dia dari hidupmu selamanya. Papa takkan membiarkan segalanya hancur hanya karena perasaan pribadimu.”
Ancaman itu menusuk hati Kenan seperti belati tajam. Ia tahu Papa benar-benar mampu melakukannya, dan tak ada tempat aman bagi Kinasih jika hal itu terjadi. Dengan hati hancur berkeping-keping, Kenan akhirnya menunduk pasrah, suaranya lirih dan bergetar menahan tangis.
“Baiklah… aku setuju. Aku akan menerima perjodohan itu.”
Papa menghela napas lega, meski tahu ia baru saja melukai hati putranya sendiri. “Bagus. Ini keputusan terbaik untuk semuanya.”
Kenan keluar dari ruangan itu dengan langkah terasa berat, hatinya kosong dan perih. Di dalam benaknya hanya terbayang wajah Kinasih, dan ia tahu mulai saat ini ia harus menyimpan rasa cintanya dalam-dalam — menyembunyikan kenyataan pahit itu agar istrinya tetap aman.
Kenan menunduk dalam, jemarinya mengepal erat menahan segala rasa sakit yang ingin meledak keluar. Dengan suara yang lirih dan penuh kesedihan, ia mengajukan permohonan terakhir:
“Papa… tolong berikan aku waktu enam bulan lagi. Hanya enam bulan saja. Setelah itu, aku akan menjalani semua yang Papa inginkan, dan pernikahanku dengan Kamila bisa digelar sebaik mungkin.”
Papa menghela napas panjang, menatap putranya dengan pandangan yang bercampur antara kekesalan dan rasa iba yang disembunyikannya. Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baiklah. Papa berikan kamu waktu enam bulan. Setelah itu, pernikahan akan dilaksanakan dengan upacara yang megah dan semewah mungkin, sesuai keinginan keluarga Miler.”
Kenan hanya bisa mengangguk pasrah sebagai jawaban. Ia menundukkan kepalanya, lalu mencium tangan Papa sebagai tanda hormat, sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruangan kerja itu dengan langkah yang terasa sangat berat.
Ia berjalan menuju balkon kamar pribadinya, lalu berdiri memandang ke arah langit yang tertutup awan gelap yang mendung tebal — persis seperti keadaan hatinya yang kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Angin malam berhembus kencang menerpa wajahnya, tapi tak bisa menghilangkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh jiwanya.
Malam semakin larut, dan seluruh penghuni rumah sudah mulai masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Amara sudah kembali ke kamarnya, tertidur lelap setelah seharian beraktivitas. Sementara itu, Kinasih masih menunggu kehadiran suaminya dengan perasaan yang tenang, menunggu Kenan datang dan menghabiskan malam bersamanya seperti biasanya. Namun jam terus bergerak, dan sampai larut malam pun Kenan belum juga muncul.
Kinasih mulai merasa khawatir dan cemas. Dengan langkah yang pelan dan hati yang berdebar, ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar Kenan. Pintu kamar itu tidak dikunci sedikit pun, seolah sengaja dibiarkan terbuka. Kinasih mendorong pintu itu perlahan, masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali dengan hati-hati agar tidak mengeluarkan suara berisik.
Ia berjalan menuju bagian balkon kamar, dan matanya menangkap sosok Kenan yang sedang duduk di hadapan laptopnya, wajahnya terlihat pucat dan sedih. Tanpa disengaja, langkah Kinasih membuat suara yang sedikit berisik, membuat Kenan menoleh sebentar — namun ia segera kembali memandang layar laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Kinasih berjalan mendekat sedikit, dan matanya menangkap gambar seseorang di layar laptop itu. Ternyata itu adalah panggilan video dengan seorang wanita yang cantik dengan penampilan yang sangat elegan — itu adalah Kamila Miler.
Tanpa sengaja, Kinasih bisa mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Kenan dan wanita itu.
“Baiklah, Kamila… aku setuju dengan permohonan perjodohan ini,”kata Kenan dengan suara yang terdengar datar dan penuh kesedihan, sama sekali tidak ada rasa bahagia atau antusias sedikit pun. “Tapi aku meminta satu hal… tolong selesaikan segala urusan dan persiapan pernikahan ini setelah enam bulan lagi. Berikan aku waktu enam bulan sebelum semuanya berjalan.”
Mendengar kata-kata itu, seluruh tubuh Kinasih seolah ditusuk oleh ribuan belati tajam. Ia langsung mengerti apa artinya semuanya.
Enam bulan lagi…
Ingatan Kinasih terputar kembali ke perjanjian mereka saat menikah sirri dulu — bahwa ikatan mereka hanya akan berlangsung selama satu tahun penuh. Dan sekarang, enam bulan lagi akan berlalu, tepat saat waktu itu tiba, Kenan akan menceraikannya. Ia akan meninggalkannya, dan menikahi Kamila — anak dari sahabat Papa-nya yang menjadi pilihan untuk masa depan keluarga dan perusahaan.
Seluruh rencana dan mimpi indah yang pernah mereka bangun bersama seolah runtuh seketika. Dadanya terasa sangat sesak, sesak sampai ia tak bisa lagi menahan napasnya. Rasa sakit yang mendalam menyelimuti seluruh hatinya, membuat matanya berkaca-kaca dan air mata mulai tumpah deras membasahi pipinya tanpa bisa dihentikan.
Tanpa berani mengeluarkan suara atau memberitahu kehadirannya, Kinasih segera berbalik badan dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar itu. Ia berlari menuju kamar tamu yang disediakan untuknya, menutup pintu dengan erat, lalu membiarkan tangisnya meledak sepuas hati di dalam kegelapan kamar yang sunyi itu. Ia menutup mulutnya dengan tangannya agar suaranya tidak kedengaran oleh siapa pun, merasakan betapa hancurnya hatinya yang baru saja dihancurkan oleh kenyataan yang menyakitkan itu.
Keesokan paginya, saat matahari baru saja menyingsing dan sinarnya mulai menerangi halaman rumah, Kinasih sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ia sudah mandi, berpakaian rapi dengan seragam koasnya, dan merapikan seluruh barang bawaannya—semuanya ia lakukan dengan gerakan yang kaku dan tatapan yang kosong, masih terbayang jelas percakapan yang didengarnya semalam. Rasa sakit itu masih terasa menusuk di dadanya, seolah takkan pernah hilang.
Tak lama kemudian, Amara pun bangun dan ikut bersiap. Mereka berdua turun ke ruang makan untuk sarapan bersama. Di meja makan, Kenan sudah menunggu lebih dulu, duduk dengan wajah yang terlihat pucat dan matanya sembab—tanda ia juga tak bisa tidur semalaman, terbebani oleh kenyataan pahit yang harus dipikulnya.
Suasana meja makan terasa sangat hening dan canggung, berbeda dari hari-hari sebelumnya yang selalu hangat dan penuh canda. Amara yang tak tahu apa-apa hanya mengira mereka sedang lelah, lalu mencoba mencairkan suasana seperti biasa.
Setelah selesai sarapan, Kenan mengantar mereka berdua ke rumah sakit seperti biasanya. Di dalam mobil, keheningan itu terasa makin terasa. Biasanya Kenan akan menggenggam tangan Kinasih sepanjang perjalanan, bertanya ini itu, dan bercerita dengan nada lembut. Biasanya Kinasih pun akan membalas dengan senyum dan candaannya sendiri. Tapi pagi ini, keduanya hanya diam membeku. Kenan memegang kemudi dengan tangan yang sedikit gemetar, sesekali melirik sekilas ke arah Kinasih yang duduk di sampingnya—namun Kinasih selalu memalingkan wajah, menatap ke luar jendela dengan pandapan yang jauh.
Hanya Amara yang terus berbicara, bercanda dan menggoda keduanya tanpa henti.
“Wah, kok pagi ini kalian berdua seperti patung ya? Biasanya mesra terus sampai bikin gue iri! Apa semalaman begadang sampai nggak punya tenaga ngobrol?” goda Amara sambil tersenyum lebar. “Jangan-jangan semalaman kalian berdua asyik sendiri sampai nggak tidur? Hahaha!”
Namun godaan itu hanya dijawab dengan senyum tipis dan getir dari keduanya. Senyum yang tak sampai ke mata, hanya topeng yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa sakit yang sedang meluap di dalam hati masing-masing. Kenan hanya mengangguk samar tanpa bicara panjang, sedangkan Kinasih hanya mengulum senyum sebentar lalu kembali menunduk, menahan air mata yang ingin kembali tumpah.
Sepanjang perjalanan itu, keheningan yang menyakitkan itu terus menyelimuti mereka—membuat keduanya sama-sama tahu bahwa sesuatu telah berubah, dan sisa waktu enam bulan yang tersisa itu kini terasa seperti duri yang terus menusuk hati mereka berdua.
Sesampainya di depan pintu masuk rumah sakit, Amara dan Kinasih segera membuka pintu dan turun dari mobil. Biasanya Kenan akan berhenti sebentar, melambaikan tangan, atau sekadar mengucapkan kata-kata lembut sebelum mereka berpisah, kadang bahkan sempat mencium punggung tangan atau kening Kinasih sebagai tanda perhatian. Tapi pagi ini, tak ada satu pun kebiasaan itu yang terjadi.
Begitu kedua kaki Kinasih dan Amara menginjak tanah, Kenan langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan cepat, pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, tanpa menoleh sedikit pun. Perpisahan itu terasa dingin, kosong, dan menyakitkan—persis seperti rasa yang memenuhi hati Kinasih saat ini.