SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 RENCANA PINDAH DEMI KEKAYAAN PESUGIHAN
Hari demi hari terus berlalu...
Minggu demi minggu terus berjalan...
Bulan demi bulan terus terlewati...
Warung makan pesugihan keluarga Gendis terus menerus memberikan kekayaan kepada mereka...
Akan tetapi, kecurigaan warga sekitar semakin besar...
Karena setelah kematian Dita, Pak Diki berencana untuk membuka cabang ketiga warung makannya itu. Dan hampir semua warga membicarakan desas-desus tentang kekayaan keluarga Gendis. Terus menerus membicarakan kaitan kematian Toto dan Dita dengan kemajuan usaha mereka.
Dan pada akhirnya, semua pembicaraan para warga itu membuat Pak Diki dan Bu Fitri mulai merasa tidak nyaman. Bahkan mereka berdua mulai takut jika semua rahasia "PESUGIHAN TUMBAL DARAH" yang mereka lakukan itu, cepat atau lambat akan terbongkar.
.....
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Di tengah malam yang sunyi...
Pak Diki dan Bu Fitri belum tidur...
Batin mereka berdua mulai merasakan keresahan yang semakin besar...
"Pak..." ucap Bu Fitri sambil menemani suaminya itu di ruang tamu.
"Apa Bu?"
"Aku sekarang gak tenang Pak..." kata Bu Fitri.
Dan Pak Diki memandang wajah istrinya itu, dia pun langsung paham apa maksud dari perkataan sang istri.
"Gimana kalo nanti semuanya terbongkar Pak? Bisa habis kita Pak..." tambah Bu Fitri dengan raut wajah yang tampak gelisah.
"Iya Bu, aku juga ngerasain yang sama kok." respon Pak Diki, juga dengan raut wajah yang gelisah.
"Terus gimana Pak? Kita harus gimana?" tanya Bu Fitri.
"Tenang dulu aja Bu, jangan panik dulu... Pasti ada cara biar semuanya tetap terjaga. Dan gak ada orang yang tau." ucap Pak Diki mencoba menenangkan istrinya itu.
Pak Diki bangkit dari duduknya, berjalan mendekati jendela ruang tamu yang masih terbuka gordennya.
"Iya Pak, tapi gimana caranya? Sedangkan usaha warung makan kita lagi bagus-bagusnya loh..." kata Bu Fitri yang masih duduk di sofa ruang tamu.
Pak Diki menarik napas dalam-dalam...
Wajahnya memandang ke luar jendela...
Cahaya bulan purnama di atas langit mampu menyinari ke dua matanya yang tampak sedang menerawang jauh...
Seolah mewakili isi pikirannya juga yang sedang gelisah itu...
"Aku juga kasian sama anak kita Pak..." ucap Bu Fitri.
Pak Diki pun menoleh ke istrinya itu...
"Udah hampir dua bulan ini, Gendis selalu dikucilkan sama teman-temannya di sekolah loh Pak..." tambah Bu Fitri.
"Dikucilkan gimana Bu?" tanya Pak Diki, masih berdiri di dekat jendela.
"Gendis udah sering cerita sama aku Pak, dia sering dikata-katain anak pesugihan sama teman-temannya..."
Pak Diki sedikit berubah raut wajahnya. Tampak sedikit kemarahan dari tatapan matanya itu.
"Bangsat! Dasar anak-anak gak tau sopan santun!" Pak Diki malah melontarkan kalimat umpatan kasar.
"Masih untung bukan mereka yang kita jadikan tumbal!" tambah Pak Diki, yang dimaksud adalah teman-teman Gendis itu.
"Aku juga gak tega sama Gendis Pak... Gak tega juga kalau Gendis menanggung beban seberat ini Pak..." kata Bu Fitri.
Pak Diki kembali duduk di sofa, kini di depan istrinya. Berhadap-hadapan.
"Tapi... Memang sudah kayak gini jalannya Bu. Memang kayak gini aturan yang harus dijalani buat kekayaan kita. Mau gak mau, suka gak suka, tega gak tega, biarlah Gendis tetap jadi wadah pesugihan kita Bu!" jelas Pak Diki dengan raut wajah yang serius.
"Tapi Pak..." ucap Bu Fitri terhenti.
"Tapi apa Bu?"
"Ya gimana kita selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan? Aku takut kalau nanti orang-orang beneran tau apa yang kita lakukan ini Pak!"
Pak Diki kembali menarik napas dalam-dalam, sambil bersandar tubuhnya ke sofa.
Sejenak Pak Diki tampak berpikir...
Dan kemudian ia berkata...
"Kayaknya kita harus pindah rumah lagi Bu, biar semuanya tetap aman."
"Hah? Pindah lagi?" tanya Bu Fitri.
"Iya, sama persis kayak dua tahun lalu..." jawab Pak Diki.
"Tapi kita mau pindah kemana lagi Pak? Apa kata saudara-saudara kita nanti?"
"Halaaah... Itu urusan gampang Bu! Kita sekarang udah punya banyak uang kan? Kita tinggal atur aja semuanya... Pasti beres kok!" jawab Pak Diki dengan gaya nya yang sombong.
"Terus gimana sekolah Gendis? Dia juga sebentar lagi kan mau naik ke kelas 5 loh Pak... Apa gak repot nanti ngurus perpindahan sekolah Gendis?" tanya Bu Fitri.
"Ah, kamu tuh... Tenang aja, selama ada uang, urusan sesulit apapun pasti bisa beres dengan cepet Bu. Gak usah khawatir. Semuanya juga kan aku yang ngurus." jawab Pak Diki dengan penuh percaya diri.
Bu Fitri diam sejenak sambil memandang wajah suaminya itu...
"Kalo mau pindah, kita mau pindah kemana lagi Pak?" tanya Bu Fitri lagi.
"Udah... Tenang... Kalau soal urusan itu, udah ada jawabannya Bu." jawab Pak Diki.
Kemudian, Pak Diki mengeluarkan HP dari dalam saku bajunya. Tampak ia seperti membuka galeri HP nya. Dan setelah itu, Pak Diki memberikan HP nya ke sang istri.
Tampaklah beberapa buah foto di dalam galeri HP Pak Diki...
Beberapa foto yang menunjukkan sebuah rumah berlantai dua...
Fotonya menunjukkan kondisi rumah itu dari berbagai sudut, dan juga menunjukkan kondisi interior dan juga ruangan-ruangan yang ada di dalamnya...
"Ini rumah siapa Pak?" tanya Bu Fitri, tapi kali ini raut wajahnya mulai berubah senang.
"Hahaha... Kalo kamu mau Bu, nanti kita pindah ke rumah itu. Rumah itu dijual sama pemiliknya kok."
"Oooh gituuu... Waaah... Bagus banget Pak rumahnya..." respon Bu Fitri sumringah sambil terus melihat beberapa ruangan rumah di galeri HP suaminya.
"Wah, kalo gini rumahnya sih, aku mau banget Pak! Rumahnya tingkat dua, ruang tamunya juga luas, kamar-kamarnya juga bagus banget!" tambah Bu Fitri.
"Hahaha... Iya dooong... Kan kita udah jadi orang kaya Bu! Pasti harus punya rumah kayak gitu dong!" respon Pak Diki semakin sombongnya.
"Ngomong-ngomong... Ini rumahnya dimana Pak?" tanya Bu Fitri.
"Rumah itu ada di Cirebon Bu..."
"Hah? Cirebon? Jauh banget Pak..."
"Loh, ya bagus dong kalo jauh Bu."
"Kok bagus? Bagus kenapa?"
"Halaaah... Kamu baru liat rumah mewah begitu udah langsung lupa sama obrolan tadi..." kata Pak Diki.
Dan Pak Diki memajukan tubuhnya, condong ke istrinya...
Dan ia berkata...
"KALO KITA PINDAH JAUH DARI SINI, PASTI GAK AKAN ADA YANG TAU TENTANG PESUGIHAN KITA BU! KITA PASTI AMAN!"
Dan Bu Fitri pun tampak mengangguk sambil tersenyum, setuju dengan suaminya...
😆😆 lanjut kak👍👍👍