NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Keheningan menyelimuti halaman rumah setelah mobil pengacara perlahan meninggalkan kediaman Evan. Laras masih berdiri di tempatnya sambil menggendong Aurora yang terlelap. Sorot matanya diam-diam mengamati Evan.

Pria itu tampak kehilangan ketenangannya. Wajah yang tadi penuh senyum kini berubah pucat. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya kosong menatap halaman rumah.

Laras tahu, nama Amelia telah mengguncang pertahanan Evan. Ia pun berpura-pura tidak mengerti.

Dengan suara pelan, Laras bertanya, "Tuan..."

Evan menoleh. "Iya?"

"Tadi ... siapa Amelia?"

Pertanyaan sederhana itu membuat tubuh Evan menegang. Untuk sesaat, ia terdiam. Wajahnya tampak panik, tetapi secepat mungkin ia memaksakan senyum agar Laras tidak curiga.

"Oh ... dia? Hanya mantan karyawan di perusahaan Hartono. Dulu sempat dikabarkan menghilang."

Laras menatapnya tanpa berkedip.

"Hilang?"

"Iya, entah ke mana. Sudah dicari, tapi tidak ditemukan."

Evan berusaha terdengar setenang mungkin.

"Sayangnya, Papa Carolin justru menjadikan kejadian itu untuk menuduhku. Padahal itu bukan salahku."

Mendengar kalimat itu, tangan Laras yang berada di balik selimut Aurora mengepal erat. Kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri.

'Bukan salahmu?' batinnya penuh amarah.

'Bagaimana mungkin kamu masih bisa berkata seperti itu setelah semua yang kamu lakukan?'

Namun, ekspresi wajah Laras tetap tenang. Ia kembali bertanya dengan nada polos.

"Kalau memang bukan salah Tuan ... berarti ada orang lain yang terlibat?"

Evan mengangguk pelan. "Ada, tapi ceritanya panjang."

Tatapannya mulai menerawang, seolah mengingat sesuatu yang sangat ingin ia lupakan. Laras memperhatikan perubahan itu dengan saksama.

Ia ingin terus menggali. Namun, Evan lebih dulu menggeleng pelan.

"Aku sedang tidak ingin membahasnya malam ini. Besok saja. Aku janji akan menceritakan semuanya kepadamu."

Laras menatap Evan beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Baik, Tuan."

Evan mengembuskan napas panjang.

"Kamu juga pasti lelah bawa Aurora istirahat. Jangan terlalu memikirkan masalah ini."

Laras tersenyum tipis.

"Iya, Tuan." Ia membungkukkan badan pelan, lalu berjalan menuju kamar Aurora.

Sementara Evan masih berdiri seorang diri di ruang tamu. Tangannya mengusap wajah dengan gelisah. Nama Amelia, yang selama ini ia kira telah hilang bersama waktu. Kini kembali menghantuinya. Sedangkan di balik pintu kamar yang telah tertutup rapat, senyum Laras perlahan memudar.

Tatapannya berubah dingin.

"Besok..." Bisiknya lirih.

"Aku ingin mendengar sendiri bagaimana caramu memutarbalikkan semua kenyataan. Teruslah berbohong, Evan. Karena setiap kebohongan yang keluar dari mulutmu, akan menjadi bukti yang mempercepat kehancuranmu sendiri."

Keesokan paginya, suasana rumah yang biasanya tenang mendadak berubah. Beberapa mobil polisi berhenti tepat di depan gerbang.

Suara pintu mobil yang dibuka membuat para pelayan berhamburan keluar rumah. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Ada apa ini? Kenapa banyak polisi datang?"

Tak lama kemudian, beberapa petugas memasuki halaman rumah. Salah seorang di antaranya memperlihatkan kartu identitas.

"Selamat pagi. Kami dari kepolisian. Kami ingin bertemu dengan Saudara Evan Cristian."

Saat itu, Evan yang baru selesai sarapan keluar dari ruang makan. Melihat banyak polisi berdiri di hadapannya, wajahnya langsung berubah.

"Ada apa?" Petugas melangkah mendekat.

"Saudara Evan Cristian?"

"Iya."

"Kami meminta Saudara untuk ikut ke kantor polisi guna memberikan keterangan terkait laporan yang telah kami terima."

Evan langsung menggeleng.

"Saya tidak bersalah. Pasti ada kesalahan."

Petugas tetap bersikap tenang.

"Silakan sampaikan semuanya nanti di kantor polisi. Saat ini kami hanya menjalankan prosedur."

"Tapi saya tidak melakukan apa pun!" Suara Evan mulai meninggi.

"Ini pasti ulah keluarga Baskara! Saya dijebak!"

Beberapa pelayan mulai berbisik ketakutan. Laras yang sejak tadi berdiri sambil menggendong Aurora segera mendekat. Dengan wajah cemas, ia berdiri di samping Evan.

"Pak Polisi ... Tuan saya orang baik. Beliau tidak mungkin melakukan kejahatan. Pasti ada kesalahpahaman."

Salah seorang petugas menatap Laras dengan sopan.

"Nona ... anda hanya pengasuh yang baru bekerja di rumah ini. Perkara yang sedang kami tangani terjadi jauh sebelum Anda datang. Jadi kami mohon jangan menghalangi proses hukum."

Laras menundukkan kepala.

"Maaf ... Saya hanya tidak percaya Tuan bisa melakukan hal seperti itu."

Petugas mengangguk singkat. "Kami mengerti, tapi semuanya akan dibuktikan melalui proses penyelidikan."

Evan mengepalkan kedua tangannya. Ia masih berusaha menenangkan diri. Lalu ia menoleh ke arah Laras.

"Laras."

Wanita itu mengangkat wajahnya.

"Iya, Tuan."

"Aku pasti akan kembali. Jaga Aurora, jangan khawatir. Aku akan menyelesaikan semuanya."

Laras mengangguk pelan. "Saya akan menunggu Tuan pulang."

Evan tersenyum tipis. Ia masih yakin semua ini hanyalah kesalahpahaman yang bisa segera diselesaikan. Tanpa perlawanan lagi, ia akhirnya mengikuti para petugas menuju mobil polisi.

Pintu mobil ditutup.

Beberapa detik kemudian. Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.

Seluruh pelayan masih berdiri memandangi kepergian majikan mereka dengan wajah cemas. Namun, berbeda dengan mereka. Laras tetap berdiri di tempat. Memeluk Aurora dengan lembut. Saat mobil polisi benar-benar menghilang dari pandangan, sudut bibirnya perlahan terangkat.

Senyum tipis yang penuh arti.

"Selamat datang di awal kehancuranmu, Evan. Semoga perjalananmu ke kantor polisi menjadi langkah pertama untuk membayar semua air mata yang pernah kau berikan kepada Amelia."

Laras kemudian menatap Aurora yang tertidur damai di pelukannya.

"Sebentar lagi, Sayang ... Ibu akan benar-benar membawamu pulang." Lalu ia berbalik melangkah masuk ke dalam rumah.

Tak seorang pun menyadari bahwa senyum lembut pengasuh baru itu bukanlah senyum karena lega. Melainkan senyum kemenangan dari seseorang yang akhirnya melihat balas dendamnya mulai menjadi kenyataan.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!