Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga 11
Bhumi mengusap wajahnya kasar. Pria itu tampak frustasi sekali sekarang.
Bagaimana tidak. Isi paket itu bukan main-main. Isinya adalah benda-benda penting yang akan digunakannya dalam proses lamarannya dengan sang kekasih.
Bhumi tengah menjalin hubungan serius dengan wanita yang bernama Senia Artia Hayati. Wanita berusia 25 tahun itu berasal dari salah satu kota yang ada di Jawa Tengah. Bhumi mengirimkan barang-barang seserahan karena Senia yang menginginkannya untuk di kemas seperti yang diinginkannya.
Acara tersebut akan dilangsungkan minggu depan, maka dari itu Bhumi begitu frustasi mendengar kabar dari sang calon tunangan tentang paket yang belum kunjung datang.
Arimbi yang mendengar cerita Bhumi ikut merasa gelisah. Pertama, Bhumi adalah klien setianya. Lalu yang kedua adalah, itu merupakan acara penting yang akan mengubah hidup seseorang.
"Sur, kamu tahu kan kontak gate hub daerah itu. Coba hubungi,"perintah Arimbi kepada Surya.
"Ya Bu."
Surya bergerak cepat menghubungi cabang kota tempat dimana Senia berada. Oleh pihak setempat, paket yang dikirimkan Bhumi langsung dicari. Namun jawaban yang diberikan tetap sama, yakni paket itu sudah datang dan sampai ke tangan penerima sejak kurang lebih sepuluh hari yang lalu.
"Kenapa gini sih?" ucap Bhumi lirih.
"Bos sabar, paket hilang begini memang pernah ada. Tapi jarang banget. Mungkin Bos lagi kena sialnya,"sahut Ibnu menenangkan.
Ibnu menatap tuannya dengan penuh iba. Dia tidak pernah melihat Bhumi sepanik itu sebelumnya. Sudah bertahun-tahun menjadi asisten Bhumi, Ibnu selalu melihat Bhumi penuh dengan tenang dan juga kepala dingin dalam menyelesaikan masalah.
"Begini saja Pak, saya punya satu usulan. Monggo Pak Bhumi berkenan atau tidak,"ucap Arimbi setelah dia terdiam sejenak dan berpikir tentang apa yang harus dilakukan.
"Apa itu?" tanya Bhumi dengan kening yang berkerut.
"Mari kita pergi ke tempat tersebut. Gate hub terakhir di kota tersebut lalu menemui kurir yang mengantarkan paket Pak Bhumi. Saya yakin kurir pasti mengirim pesan kepada penerima paket. Dan meski sudah lama, pasti kurir tersebut masih menyimpan pesan tersebut. Kita akan tahu dimana paket Pak Bhumi berada."
FAE tidaklah besar namun juga tidak kecil. Akan tetapi paket-paket yang dikirim ke masing-masing kota masih dalam tahap aman alias tidaklah membludak. Arimbi yakin akan bisa menemukannya.
Sebenarnya dia tidak perlu melakukan sejauh ini. Akan tetapi melihat Bhumi yang begitu frustasi, membuatnya merasa iba dan prihatin. Alhasil dia menyarankan untuk mendatangi tempatnya langsung.
"Terimakasih, dan maaf merepotkan. Tapi paket itu benar-benar sangat penting untuk saya. Seandainya nanti pun sudah tidak ditemukan, saya akan ikhlas,"ucap Bhumi.
Bisa saja sebenarnya, dia membeli barang-barang itu lagi dan mengirimkannya kembali atau bahkan mengantarkannya langsung. Akan tetapi vibes nya pasti sudah berbeda.
Paket yang dikirimkan itu berisi barang yang ia beli sambil melakukan panggilan video call dengan sang calon tunangan. Jadi bisa dikatakan Senia memilih sendiri barang itu meski mereka tidak berada di tempat yang sama dan menjalani hubungan LDR (long distance relationship).
"Tidak masalah Pak Bhumi. Kami juga mohon maaf atas semua yang terjadi. Dan jika paket Anda benar-benar hilang, kami akan menggantinya. Baiklah mari kita berangkat sekarang. Surya, kamu ikut."
"Baik Bu." Surya langsung menjawab dengan lantang. Dia bahkan bergegas bergerak sendiri untuk langsung mengambil kunci mobil perusahaan.
"Terimakasih Bu Arimbi. Soal ganti rugi, saya rasa tidak perlu. Saya hanya penasaran dimana paket saya berada. Dan lebih baik menggunakan mobil saya saja. Ibnu, kamu yang nyupir."
"Siap Bos!"
Pagi menjelang siang itu, Arimbi, Bhumi, Ibnu dan Surya pergi menuju ke tempat dimana paket Bhumi yang katanya tidak kunjung sampai. Dugaan sementara memang hilang. Akan tetapi dalam sudut hati Arimbi entah mengapa merasa tidak demikian.
Arimbi sangat yakin bahwa paket tersebut tersampaikan dengan aman. Terlebih dia sudah mengonfirmasi beberapa pihak dan semua jawaban adalah sama bahwa paket tersebut sudah sampai kepada si penerima.
Ia mencurigai si penerima, wanita yang bernama Senia itu mungkin saja berbohong. Tapi Arimbi tidak mungkin berkata demikian di depan Bhumi. Lantas, apa juga alasan wanita itu berbohong tentang barang yang penting bagi mereka berdua.
"Ughhh kenapa sih masalah ada aja, haaah,"ucap Arimbi dalam hatinya. Dia benar-benar merasa lelah. Bukan fisiknya melainkan hati dan pikirannya.
Di saat dirinya menegaskan tentang perceraian yang tak kunjung diajukan oleh Amar, malah tak berselang lama sebuah masalah besar datang.
"Kapan aku diberi ketenangan ya,"gumamnya lirih.
Sedangkan Bhumi, wajah pria itu nampak gelisah. Sepanjang perjalanan menuju ke kota tempat dimana sang calon tunangan berada, ingin sekali Bhumi lansung mendatangi rumah Senia. Dia ingin bertanya langsung apakah benar paketnya sungguh tidak datang.
Tapi jika dia melakukan itu, Senia pasti akan menganggap Bhumi tidak memercayainya. Terlebih waktu itu Senia berkata, "Kamu nggak percaya sama aku kah, Mas. Aku beneran nggak bohong, aku sama sekali nggak nerima paket itu. Maka dari itu aku bilang sama kamu, kapan kamu akan ngirim barang-barangnya."
Bhumi lagi-lagi mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar merasa bingung dengan apa yang tengah terjadi sekarang ini.
"Selama ini aku nge-cek aman. Dan paket itu beneran udah sampai.Tapi dia bilang belum tiga hari kemarin. Kenapa bisa gini sih," gumam Bhumi lirih. Pandangannya terus menatap ke luar jendela.
Meski dia hanya bergumam akan tetapi Arimbi bisa mendengarnya dengan jelas. Terlebih di dalam mobil itu suasananya memang sunyi. Arimbi yang duduk tepat di belakang Bhumi jelas bisa mendengar jelas apa yang Bhumi gumamkan.
Arimbi berkesimpulan, sebenarnya Bhumi pun merasa ada yang aneh dengan paket yang katanya tak sampai itu. Dia sendiri merasa bahwa paket telah berjalan sesuai dengan estimasi pengiriman.
Namun tidak ada salahnya memang memeriksanya langsung dan Arimbi merasa tidak jadi soal akan hal tersebut
Selama kurang lebih enam jam perjalanan yang dilakukan melalui jalan tol tersebut, akhirnya mereka sampai juga di kota tempat dimana paket dinyatakan hilang. Sebelum menuju gudang hub, lebih dulu mereka menjalankan ibadah sholat. Awalnya Arimbi mengajak makan siang, namun melihat wajah Bhumi yang tidak tenang ia pun urung melakukannya.
Sesampainya di gudang, Surya lah yang langsung bergerak. Meski sedikit mengganggu para kurir, namun mau tidak mau ia harus mengumpulkan semua kurir tersebut.
Akan tetapi Arimbi juga tidak diam saja. Dia akan memberikan kompensasi kepada kurir yang ada di luar gudang atau dalam proses pengantaran.
Total ada dua pulu kurir yang ada di gudang tersebut. Surya langsung menyampaikan apa yang mereka inginkan.
"Jadi coba cek siapa yang mengirimkan paket milik Pak Bhumi Kahan Abinawa. Nama penerimanya adalah Senia Artia Hayati dengan alamat jalan xx ... . Estimasi kedatangan paket itu kalau tidak salah 10 atau 11 hari yang lalu."
Semua kurir disana langsung memeriksa ponsel mereka. Tak hanya itu bagian gudang yang memegang sistem komputer juga melakukan pelacakan.
Tapi ternyata kurir yang mengantarkan paket milik Bhumi sudah ketemu dan dia langsung mengangkat tangannya.
"Saya Pak yang mengantarkannya!" ucap pria yang mungkin usianya masih awal dua puluh tahunan.
Bhumi tersenyum lebar. Ada rasa lega dalam hatinya karena paket itu tidak hilang. Hanya saja pertanyaan besar muncul, dimana paket itu berada.
"Siapa nama kamu?"
"Saya Fery, Bu."
"Paket itu ada dimana sekarang. Ah maaf Fery bukannya saya berpikir buruk tentang kamu. Hanya saja katanya si penerima tidak menerima paket tersebut."
Arimbi bicara selembut mungkin. Dia berusaha untuk tidak terkesan menuduh pemuda itu.
"Eh tidak mungkin Bu. Paket itu jelas-jelas saya yang memberikannya kepada Mbak Senia kok. Wong saya kebetulan tetangga nya. Ah iya, ini saya juga ada bukti pas Mbak Senia nerima paket itu."
Jegleeeer
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣