Alvino Jordy Admaja adalah seorang laki-laki yang hampir sempurna. Ia memiliki ketampanan diatas rata-rata, begitu juga dengan harta warisan yang ia yakini tak akan habis 7 turunan. Namun justru itu semua menjadi bumerang untuknya mencari pendamping hidup.
Semua wanita yang mendekat hanya melihatnya dari segi fisik dan juga harta. Ia terkenal playboy di luar rumah tapi terkenal jones di keluarganya sendiri, akibat tak pernah membawa ataupun mengenalkan pacarnya.
"Kapan kamu kenalin pacar kamu ke mama Vin ?". ~ Mama Dina
"Kapan-kapan ma". ~ Alvin
Mencari istri tidak semudah membeli barang branded. Hatinya tertambat pada seorang gadis berjilbab. Namun tetap tidak semudah itu meminang gadis cantik dengan lesung pipit yang selalu menjadi penyejuk hati.
Penasaran ? Ikuti keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah Pindah Keyakinan ?
Sendok dan garpu langsung berjatuhan, tak peduli lagi dengan acara makan untuk mengisi perut. Sekarang yang harus di lakukan adalah membawa mama untuk ke ranjang guna istirahat, papa Rey memberikan tatapan nyalang kepada Alvin yang telah membuat ini semua terjadi. Jika permintaan Alvin tak aneh-aneh, tentu mama tak akan pingsan dan terjatuh dari duduknya.
"Pa aku minta ma_."
"Jika sesuatu terjadi kepada mama, kaulah yang bertanggung jawab." Jari telunjuk papa diarahkan kepada Alvin, memperingatkan bahwa ia tak main-main dengan ucapannya. Sang istri pingsan begitu saja, bahkan saat memberikan minyak kayu putih tetap saja belum sadar, hingga papa mengambil hp hang berada di saku celana dan hendak menelfon dokter keluarga.
Alvin menunduk dan diam karena menyesal, jika waktu bisa diputar ia tak ingin bilang begitu kalau tau mama akan pingsan. Semua orang khawatir tanpa terkecuali, sekarang Alvin sadar bahwa cintanya kepada Hani banyak mempengaruhi keluarga dan mengambil keputusan yang salah akan membuat keluarganya berantakan.
"Pa mama sadar." Abel langsung mendekat ke arah mama Dina, begitu juga dengan papa yang langsung menggenggam tangannya. Terasa dingin saat perempuan yang telah melahirkan tiga anak itu terlihat sayu menatap anak keduanya dengan kecewa.
"Bagaimana kondisi mama ? Apa mama butuh sesuatu ?."
"Ti-tidak, tolong biarkan aku sendiri." Rasa lemas yang melebur menjadi satu dengan rasa kecewa membuat mama Dina tak tau harus berkata apa, ia sesekali menatap Alvin tapi ia segera beralih menatap papa yang duduk di pinggir ranjang. Masih memegang tangannya yang tak bertenaga.
"Kalau begitu kalian lanjutkan saja makan, papa yang akan menemani mama." Semuanya beranjak pergi, hanya tinggal papa Rey yang akan menemani mama Dina. Albin sendiri bingung antara keluar dari kamar atau menemani mama Dina juga, karena ini semua karena ia salah bicara tapi jika melihat tatapan mata papa yang tak bersahabat maka Alvin memutuskan untuk pergi.
"Aku minta maaf ma." Ujarnya sebelum benar-benar keluar dari kamar dan menutup pintu. Sekarang bukan hanya tak mendapatkan izin untuk pindah agama. Tapi ia juga telah membuat kedua orangtuanya kecewa. Sebagai seorang anak ia gak berguna dan sebagai seorang laki-laki ia merasa seperti pecundang.
Berada di rumah hanya membuatnya kian jenuh dan merasa bersalah, ia mengambil kunci mobil untuk keluar dan mencari suasana baru. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Excel yang berdiri disana sambil bersandar pada tembok sebelah kamarnya, kelihatan sekali bahwa ia telah di tunggu.
"Ada apa ?." Tanyanya dengan malas, ia yakin akan di beri nasehat yang membuat Alvin kian merasa bersalah. Untuk kisah cintanya dengan Hani, Alvin sudah menyerah. Tapi sepertinya Tuhan tak mempermudah hidupnya begitu saja.
"Kita bicara sebentar, ikut aku." Excel memimpin jalan di depan, Alvin berada di belakang mengikuti jalannya Excel yang mengarah ke kolam ikan dekat dengan taman. Suasana sejuk yang kerap kali Alvin lupakan bahwa dirumahnya sendiri bisa di jadikan tempat untuk menyendiri.
Mereka memilih duduk di gazebo dekat dengan kolam ikan tersebut, suara gemericik air terdengar lebih dominan saat tak ada yang saling membuka suara. Ia sebenarnya malas jika hendak diberikan nasihat yang ujung tetap sama, bukan bermaksud menyepelekan tapi hanya saja Alvin sudah lelah dan ia sudah menyerah.
"Gue udah nggak bakal memaksa buat bersama sama Hani, jika itu yang kalian mau." Ujarnya mendahului agar tak jadi diceramahi atau diberi nasihat. Alvin mengalihkan pandangannya pada ikan hias yang hidup di kolam, ada beberapa jenis dan di dominasi oleh warna merah.
"Sebenarnya aku tidak menyuruhmu untuk berpisah, tapi hubunganmu hanya akan membuat semuanya menjadi sulit. Ada banyak pihak yang di rugikan jika terus dipaksakan, papa dan mama belum lagi orangutannya Hani dan juga hubunganmu hang tidak ada jaminan nanti akan langgeng atau tidak, perbedaan keyakinan sangat sulit untuk disatukan dalam sebuah hubungan."
Excel ikut memandang kolam berisi ikan tersebut saat Alvin tak memperhatikan, tapi ia tau jika perkataannya di dengarkan. Maka dari itu setidaknya jika apa yang telah ia katakan tak akan mengurangi beban Alvin, tapi ini akan membantunya memilih mana yang seharusnya di lakukan sebelum semua terlambat dan lebih buruk lagi.
"Terus apa yang mesti gue lakukan kalau gue masih sayang dan masih ingin Hani jadi istri gue."
"Melepas dan mengiklankannya, ikuti takdir seperti arus yang tenang dan akan membawamu pada apa yang sudah di takdirkan."
"Cuma ikan mati yang mengikuti arus, bahkan ikan hidup akan melawan arus jika arahnya ke air terjun." Sebal dengan saran Excel, ia memilih untuk acuh walau bagaimanapun ia sudah menyerah dan tak akan menjadi beban keluarga lagi. Kesedihan hang ia rasakan mungkin tinggal rasa sayang yang masih belum ingin hilang.
"Ingat ini baik-baik, kalau kau tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai, maka carilah orang yang bisa membuatmu nyaman dan jadi dirimu sendiri." Ujarnya dan berlalu untuk menyusul sang istri yang menunggu untuk pergi ke swalayan guna membeli keperluan Marcel.
Selepas itu hari-hari Alvin di penuhi dengan masa suram yang membuatnya berfikir cinta harus dilenyapkan, cinta itu bukan untuk dirinya. Berada di titik dimana ia lelah dan kecewa hingga tak peduli dan memilih bersikap acuh terhadap semua. Jika tau begini tentu ia akan memilih untuk tak kenal Hani dari awal daripada kenal tapi malah berakhir tragis.
Perbedaan dan juga kesedihan Alvin disadari oleh semua orang, tapi tak ada yang berani mengungkit karena yang ada hanya akan memperburuk suasana. Sebagai seorang ibu tentu mama Dina merasa terenyuh hatinya, ia sedih jika anaknya sedih dan layaknya batu keras yang keras jika ditimpa hujan tentu akan pecah juga.
Setelah membicarakan hal ini dengan baik, juga memperhitungkan konsekuensi akhirnya tiba pada keputusan mereka yang mengalah asal Alvin bahagia. Bercermin pada kisah cinta di masal lalu dimana papa Rey dan juga mama Dina terhalang oleh restu, hal yang sama yang ingin terjadi pada Alvin.
Tentu ini adalah keputusan yang berat, bersangkutan pula dengan agama yang telah dianut sepanjang mereka lahir dan hidup sampai sekarang. Tapi kebagian anak diatas segalanya, dan semua ini juga telah di setujui oleh papa Rey hingga mereka memilih untuk melepaskan Alvin untuk memilih keyakinan dan juga kebahagiaan menurutnya sendiri.
"Alvin ada yang ingin mama dan papa katakan." Mama dan papa duduk di samping Alvin yang menonton TV, kini siaran itu tak menarik lagi hingga Alvin memilih untuk mematikannya dan mendengar apa yang hendak kedua orangtuanya sampaikan.
"Apa ma, pa ?."
"Setelah mama dan papa berfikir panjang, dan untuk kebahagianmu kau boleh pindah agama dan bersama dengan Hani."
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk novel² Thor yang sudah menghibur kami para reader..
mohon maaf lhr n btn jg...👍
paparey
jan
kristen
ya
kok
lwbaran