NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

"Bara, perketat pengamanan rute kembali ke mansion. Gunakan mobil umpan."

Perintah Arkan memecah keheningan di ruang tunggu VIP sesaat setelah konferensi pers selesai. Wajah tampannya yang tadi tampak tenang di depan kamera kini berubah total menjadi datar dan penuh kalkulasi. Ketegangan yang pekat kembali menyelimuti atmosfer di sekitarnya.

Milly yang baru saja memakai kembali kacamata bulatnya menghela napas lega setidaknya dunia buramnya sudah kembali jelas. Namun, rasa lega itu langsung sirna begitu mendengar instruksi Arkan.

"T-Tuan... mobil umpan? Berarti ada yang mau menyerang kita?" tanya Milly, meremas saputangan di tangannya dengan cemas.

Arkan berbalik, menatap Milly yang masih anggun dalam balutan gaun pengantin satinnya, meski ekspresi wajah gadis itu tampak luar biasa ketakutan. "Aku sudah bilang, kau adalah umpan terbaik. Dan sepertinya tikus-tikus itu sudah mulai keluar dari sarangnya."

"Tapi saya belum siap mati, Tuan! Masa kontrak saya baru saja bertambah jadi enam tahun!" cicit Milly dengan wajah memelas yang polos.

Arkan mendengus pelan, seulas senyum tipis hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya sebelum kembali menghilang. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Milly terpaksa mendongak.

"Selama kau berdiri di sampingku, kontrak itu tidak akan berubah menjadi akta kematianmu. Mengerti?" ucap Arkan rendah, nadanya mutlak tak terbantahkan. Ia meraih sebuah jubah hitam tebal dari sofa dan menyampirkannya ke bahu terbuka Milly, menutupi gaun putih megah itu dari pandangan luar.

"Ayo jalan. Tetap di belakangku."

Perjalanan pulang di malam hari itu terasa jauh lebih mencekam. Konvoi mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi. Milly duduk dengan kaku di kursi belakang, sementara Arkan di sampingnya sibuk memeriksa serangkaian kode data dan rekaman CCTV perimeter mansion melalui tabletnya.

Citttt!

"Tuan! Tiarap!" teriak Bara dari kursi kemudi.

Seketika, mobil berguncang hebat akibat rem mendadak. Dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor tiba-tiba memotong jalur mereka dari arah depan, memblokade jalanan sepi yang dikelilingi pepohonan rimbun.

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan beruntun menggema, menghantam kaca depan mobil Arkan yang untungnya sudah dilapisi bahan antipeluru tingkat tinggi.

"Aaaaa!" Milly menjerit histeris, refleks menutup telinganya dan memejamkan mata erat-erat. Ketakutan yang amat sangat membuat seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.

Sebelum tubuh Milly sempat terguling akibat guncangan mobil, sebuah lengan kekar dan kokoh menarik pinggangnya dengan paksa. Dalam sekejap, Arkan sudah mendekap tubuh Milly dengan erat, menyembunyikan kepala gadis itu di dada bidangnya, melindunginya sepenuhnya dari arah jendela.

"Bara, bereskan mereka. Jangan sisakan satu pun hidup-hidup," perintah Arkan lewat interkom, suaranya luar biasa tenang dan dingin, seolah-olah hujan peluru di sekitar mereka hanyalah gangguan kecil.

"Baik, Tuan." Bara bersama para pengawal di mobil lain langsung keluar dengan senjata lengkap. Baku tembak sengit tak terhindarkan di luar sana.

Di dalam mobil, Milly bisa mendengar dengan jelas detak jantung Arkan yang tenang dan beritme konstan, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar. Aroma maskulin mint dan tembakau mahal dari tubuh Arkan entah bagaimana perlahan meredakan kepanikan masif yang menyerang otaknya.

Milly mendongak sedikit dari dada Arkan, menatap rahang tegas pria itu yang mengeras di tengah temaram lampu mobil. "T-Tuan... Tuan tidak takut?" bisiknya gemetar.

Arkan menunduk, menatap mata bulat di balik kacamata yang kini berkaca-kaca karena air mata ketakutan. Ibu jari tangan kekarnya bergerak pelan, mengusap sudut mata Milly dengan kelembutan yang sangat asing bagi sosoknya yang kejam.

"Ketakutan adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki, Gadis Ceroboh," bisik Arkan rendah, tatapannya mengunci manik mata Milly. "Dan sekarang, kau adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milikku."

Kata 'milikku' yang diucapkan dengan nada posesif dan penuh penekanan itu membuat dada Milly berdesir aneh untuk kedua kalinya. Di tengah ancaman maut yang mengintai di luar sana, sang Presdir kejam justru menjelma menjadi satu-satunya tempat paling aman bagi si pelayan ceroboh.

Keheningan yang mencekam akhirnya kembali turun setelah sepuluh menit baku tembak yang terasa seperti selamanya bagi Milly. Bau mesiu yang tajam merembes masuk melalui celah sistem ventilasi mobil, membuat Milly sedikit mual.

Tangan Arkan masih mendekap kepalanya dengan protektif.

Tok. Tok. Tok.

Kaca di samping kemudi diketuk dari luar. Arkan sedikit melonggarkan pelukannya, namun tidak membiarkan Milly beranjak. Ia menekan sebuah tombol, dan kaca antipeluru itu turun sedikit.

Bara berdiri di sana dengan jas yang sudah berlubang di bagian bahu, napasnya teratur seolah baru saja selesai lari pagi, bukan baku tembak. "Situasi aman, Tuan. Enam tewas. Satu berhasil kami lumpuhkan hidup-hidup sesuai perintah."

"Bawa bajingan itu ke ruang interogasi bawah tanah mansion. Pastikan dia tetap bernapas sampai aku sendiri yang mencabut nyawanya," desis Arkan dengan suara setajam silet. "Kita kembali sekarang."

"Baik, Tuan."

Kaca mobil kembali tertutup. Mobil Rolls-Royce yang kini baret di berbagai sisi itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah sisa malam.

Milly akhirnya berani menarik tubuhnya dari pelukan Arkan. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang dingin, berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Kakinya gemetar hebat. Ia hanya seorang pelayan hotel yang paling banter menghadapi tamu mengamuk karena handuk kurang bersih, bukan peluru sungguhan!

Setibanya di pelataran mansion, pintu mobil dibuka oleh salah satu pengawal.

"Turun," perintah Arkan singkat sambil melangkah keluar lebih dulu.

Milly mengangguk lemah. Ia memegang ujung jubah hitam yang menutupi gaunnya, bersiap melangkah. Namun, begitu ujung sepatu hak tingginya menyentuh konblok pelataran, lutut Milly seketika kehilangan fungsi. Sisa syok akibat adrenalin yang merosot drastis membuatnya terhuyung ke depan.

"A-Ah!"

Milly sudah memejamkan mata, bersiap mencium kerasnya pelataran mansion. Namun, sebuah lengan kekar melingkar cepat di bawah lututnya, sementara satu lengan lain menahan punggungnya. Dalam satu gerakan mulus, tubuh Milly terangkat ke udara.

Mata Milly membelalak di balik kacamata bulatnya. "T-Tuan Arkan?! Turunkan saya, saya berat!"

"Diam dan jangan banyak bergerak, atau masa kontrakmu kutambah sepuluh tahun karena memperlambat waktuku," tegur Arkan datar. Tanpa memedulikan tatapan takjub para pengawal dan pelayan yang berjejer menyambut di pintu utama, sang Presdir menggendong Milly ala bridal style melintasi aula mansion yang megah menuju lantai dua.

Milly menelan ludah, wajahnya memanas seperti kepiting rebus. Ia terpaksa mengalungkan kedua lengannya di leher Arkan agar tidak jatuh. Saat itulah, telapak tangan kanannya merasakan sesuatu yang basah dan lengket di balik kerah belakang kemeja pria itu.

Milly menarik tangannya. Di bawah cahaya lampu kristal koridor, telapak tangannya berwarna merah pekat.

"T-Tuan! Anda berdarah!" pekik Milly panik, rasa takutnya pada sang Presdir mendadak menguap digantikan oleh kekhawatiran murni.

Arkan tidak berhenti melangkah. Ia menendang pintu kamar tidurnya sendiri, bukan kamar Milly lalu membaringkan gadis itu di atas ranjang king-size bersprei sutra hitamnya dengan hati-hati.

"Hanya serpihan kaca jendela yang memantul dan menggores leher belakangku. Bukan masalah besar," jawab Arkan santai. Ia melepaskan jas abu-abunya yang sudah sedikit kotor dan melemparnya sembarangan ke sofa.

"Bukan masalah besar bagaimana?! Darahnya menembus kemeja Tuan!" Milly segera bangkit dari ranjang, mengabaikan kakinya yang masih sedikit lemas. "Di mana kotak P3K-nya? Jangan remehkan infeksi, Tuan. Dulu teman saya di panti asuhan hampir diamputasi karena luka gores berkarat!"

Arkan menatap Milly dengan alis terangkat sebelah. Gadis yang sepuluh menit lalu menangis ketakutan setengah mati di bawah hujan peluru, kini berani menceramahinya soal infeksi?

"Di laci kamar mandi," tunjuk Arkan dengan dagunya, setengah penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis ceroboh ini.

Milly berlari kecil ke arah kamar mandi yang ditunjuk, lalu kembali membawa kotak putih berlogo palang merah. "Tuan, duduk membelakangi saya," perintah Milly tanpa sadar.

Arkan mendengus geli, namun anehnya, ia menuruti perintah pelayan kecil itu. Ia duduk di tepi ranjang.

"Permisi... saya buka sedikit kancing atasnya ya, Tuan," izin Milly dengan suara pelan.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Milly membuka dua kancing teratas kemeja Arkan dan menarik kerahnya ke bawah. Tampak otot punggung dan bahu Arkan yang kokoh, serta sebuah goresan panjang yang cukup dalam melintang di pangkal lehernya. Darah segar masih merembes pelan.

Milly menahan napas. Ia mengambil kapas, membasahinya dengan antiseptik, lalu mengusapnya perlahan di atas luka itu.

"Ssh," Arkan mendesis pelan, lebih karena terkejut oleh sentuhan tangan Milly yang luar biasa lembut dan dingin, bukan karena rasa perih.

"S-Sakit ya? Maaf, saya tiup sedikit," ucap Milly polos.

Milly menundukkan wajahnya mendekati tengkuk Arkan, lalu meniup luka itu dengan lembut. Hembusan napas Milly yang hangat menyapu kulit Arkan, mengirimkan sengatan listrik tak kasatmata yang merambat langsung ke sepanjang tulang belakang sang Presdir. Rahang Arkan mengeras. Tangannya yang menumpu di paha mengepal kuat.

"Kau..." suara bariton Arkan terdengar lebih berat dan serak dari biasanya. "Kau tahu, meniup tengkuk seorang pria di atas ranjangnya adalah tindakan yang sangat bodoh untuk seorang gadis yang baru menikah kontrak, Milly."

Milly menghentikan tiupannya, mengerjap bingung. "Eh? Memangnya kenapa, Tuan? Ibu panti selalu meniup luka anak-anak panti biar tidak perih."

Arkan menoleh ke belakang, menatap wajah polos berbingkai kacamata itu dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara gemas, frustrasi, dan gairah posesif yang mati-matian ia tekan.

Dengan satu gerakan cepat, Arkan membalikkan badannya, meraih sebelah pergelangan tangan Milly yang memegang kapas, lalu menarik gadis itu hingga jatuh ke dadanya. Milly terkesiap, kini ia berada di bawah kungkungan tubuh besar Arkan, tenggelam di atas lautan sprei hitam.

"Karena aku bukan anak panti, Milly," bisik Arkan tepat di depan bibir Milly, matanya menatap tajam bibir mungil yang sedikit terbuka karena syok itu. "Dan batas kesabaranku tidak sebaik yang kau kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!