NovelToon NovelToon
Harusnya Aku Yang Disana

Harusnya Aku Yang Disana

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Atap Perlindungan dan Jatuhnya Ikrar Talak

Hujan lebat masih mengguyur aspal ibu kota saat mobil sedan milik dr. Adrian melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Atmosfer di dalam kabin mobil terasa sangat hening, hanya ditemani suara ketukan wiper yang menyapu kaca depan.

​Dari balik kemudinya, sepasang mata tajam dr. Adrian tidak bisa fokus sepenuhnya ke jalanan raya. Lewat spion gantung yang ada di atas kepalanya, pandangan Adrian terus-menerus melirik ke arah kursi tengah dengan sorot mata yang dipenuhi rasa khawatir yang sangat mendalam. Di sana, Kirana duduk bersandar dengan tubuh yang masih tampak lemas, sementara Ibu Sarah terus mendekap bahu wanita itu dengan penuh kehangatan.

​"Kirana..." suara bariton dr. Adrian akhirnya memecah keheningan, terdengar sangat lembut, penuh wibawa. "Untuk sementara waktu, saya rasa sangat tidak aman kalau kamu langsung kembali ke ruko konveksi milikmu. Kita tidak tahu apakah Dimas atau orang-orang suruhannya akan nekat melakukan hal buruk lagi di sana. Bagaimana kalau untuk beberapa hari ini, kamu tinggal sementara di rumah saya?"

​Kirana tersentak kecil, mendongak menatap spion tengah, beradu pandang sekilas dengan dr. Adrian. "Tapi, Dokter... saya tidak enak merepotkan. Lagi pula... bagaimana dengan Aisyah di ruko? Dia pasti kebingungan dan ketakutan sendirian menjaga konveksi." Kirana mencoba menolak halus karena tidak ingin membebani keluarga sang dokter.

​Ibu Sarah langsung mengusap punggung tangan Kirana, menyela dengan senyuman keibuan yang sangat menenangkan. "Ibu setuju dengan usul Adrian, Nak Kirana. Keselamatanmu itu yang paling utama sekarang. Jangan memikirkan rasa sungkan pada kami."

​Melihat keraguan di wajah Kirana yang mengkhawatirkan sahabatnya, dr. Adrian langsung menyahut dengan cepat. "Soal Aisyah, kamu tidak perlu khawatir, Kirana. Sesampainya kita di rumah nanti, kamu bisa langsung menghubungi Aisyah. Saya akan meminta Aisyah untuk menutup ruko sementara waktu dan menjemputnya agar ikut tinggal bersama di rumah saya. Jadi, kamu tidak akan sendirian di sana."

​Mendengar solusi yang teramat sangat bijak dan melindungi dari mulut dr. Adrian, rasa sesak di dada Kirana perlahan mulai terangkat. Sebuah perasaan lega yang teramat sangat sejuk merayapi hatinya. Kirana akhirnya mengangguk pelan sebagai tanda setuju.

​Tidak butuh waktu lama, mobil sedan itu berbelok memasuki halaman sebuah rumah bernuansa asri dan teduh milik keluarga dr. Adrian. Begitu mobil berhenti sempurna di garasi, Ibu Sarah dengan sangat sigap menuntun tubuh Kirana yang masih agak gemetar untuk melangkah masuk ke dalam rumah.

​Mereka bersama-sama berjalan menuju ruang tamu yang berukuran cukup luas dengan tataan sofa yang sangat nyaman. Ibu Sarah mendudukkan Kirana di sofa empuk tersebut, menggenggam kedua tangan Kirana itu dengan sangat erat.

​"Nak Kirana, dengarkan Ibu, ya," ucap Ibu Sarah dengan nada suara yang teramat tulus. "Mulai hari ini, selama kamu berada di sini, jangan pernah merasa sungkan atau canggung terhadap kami. Anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri, Nak. Kamu sudah aman di sini."

​Kirana hanya bisa mengangguk dengan mata yang kembali berkaca-kaca menahan haru. Di sudut ruangan, dr. Adrian terus berdiri diam sembari memperhatikan setiap gerak-gerik Kirana. Hati Adrian terasa sangat sakit dan teriris melihat raut wajah Kirana yang sepertinya masih didera rasa ketakutan dan trauma mendalam akibat aksi gila Dimas tadi. Pria itu tidak tahan melihat wanita pujaan hatinya tampak serapuh itu.

​Adrian melangkah mendekat, merogoh saku celananya dan menyerahkan ponsel pribadinya ke hadapan Kirana. "Kirana, pakai ponsel saya. Hubungin Aisyah sekarang juga. Dia di ruko pasti sedang sangat mengkhawatirkan keadaan kamu."

​Kirana mendongak, menatap ponsel dr. Adrian, kemudian mengangguk pelan. Karena sudah sangat menghafal nomor ponsel sahabat sejatinya di luar kepala, jemari Kirana dengan cepat menekan deretan angka di layar sentuh tersebut dan menempelkannya ke telinga.

​Tut... Tut...

​Tidak butuh waktu lama, bahkan belum sempat dering kedua selesai, panggilan telepon itu langsung diangkat dengan sangat kasar dari seberang sana.

​"Syaaahh... ini aku, Kirana..." ucap Kirana dengan suara yang bergetar menahan tangis kelegaan.

​"KIRANAAAA!!! YA Tuhan, KIRANA!!! KAMU DI MANA SEKARANG, Naaa?! KAMU GAK APA-APA KAN?! SI GILA DIMAS ITU GAK NGAPA-NGAPAIN KAMU KAN, RAN?! JAWAB AKU, RAN!!!"

​Suara Aisyah di seberang telepon langsung meledak heboh, histeris, dan setengah mati panik hingga suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru ruang tamu. Aisyah bising karena mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya.

​Kirana mencoba menenangkan Aisyah meski air matanya kembali luluh. "Syaah, dengerin aku... aku sudah aman sekarang. Dokter Adrian dan Ibunya berhasil menyelamatkan aku tepat waktu. Sekarang aku ada di rumah Dokter Adrian. Syaah, Dokter Adrian minta kamu untuk segera menutup ruko konveksi kita sekarang juga. Kamu kemasi baju-baju kamu, terus kamu langsung menyusul ke sini ke alamat rumah Dokter Adrian. Kita diminta tinggal sementara di sini demi keamanan..."

​Mendengar kabar bahwa Kirana selamat di bawah perlindungan sang dokter tampan, Aisyah di seberang sana langsung bernapas lega sembari mengusap dadanya. "Syukurlah ya Tuhan! Baik, Ran! Baik! Aku bakal gembok ruko sekarang juga dan langsung otw ke rumah Pak Dokter! Kamu tunggu aku ya, Ran!" Panggilan pun terputus, menyisakan senyum tipis di bibir Kirana.

​Sementara itu, alur langsung beralih seratus delapan puluh derajat menuju kediaman mewah milik Ayah Dimas. Suasana di dalam rumah besar itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan mencekam seperti neraka jahanam.

​Ibu Ratna dengan pakaian yang masih setengah basah menyeret paksa tubuh Dimas yang sudah babak belur masuk ke dalam ruang keluarga. Di sana, sudah duduk berkumpul Ayah Dimas, Ibu Dimas, dan juga Pramudya terkejut melihat kedatangan mereka dalam kondisi yang sangat hancur berantakan.

​Tanpa membuang waktu, Ibu Ratna langsung meledakkan amarahnya yang teramat sangat menyala-nyala. Di hadapan sang ayah mertua, Ratna berteriak histeris mengadukan seluruh kelakuan gila suaminya.

​"Ayah!!! Lihat kelakuan anak kandung Ayah yang tidak tahu diri ini!" jerit Ibu Ratna dengan jari telunjuk menunjuk kasar ke arah wajah Dimas yang lebam.

"Anak Ayah ini sudah gila! Dia nekat menculik dan membawa kabur perempuan melarat bernama Kirana itu! Dia bahkan nekat membawa perempuan itu ke rumah ibadah untuk dipaksa menikah secara ilegal! Dia sudah mempermalukan nama besar keluarga kita, Ayah! Dia hampir saja diseret ke kantor polisi, kalau saja saya tidak datang tepat waktu!"

​Mendengar rentetan pengaduan yang teramat sangat memalukan dari mulut menantunya, Ayah Dimas langsung berdiri dari kursinya. Wajah tua itu seketika berubah menjadi merah padam dipenuhi kemurkaan yang tiada tanding.

​BRAAAKKK!!!

​Ayah Dimas memukul meja kaca di depannya hingga bergetar keras sekujur tubuh. "DIMAS!!! Apa sudah putus seluruh urat waras di dalam kepalamu, hah?! Kamu coreng hitam di kening keluarga ini! Kamu merusak reputasi bisnis kita hanya demi mengejar-ngejar perempuan yang tidak punya apa-apa itu?!" Bentak sang ayah dengan suara menggelegar.

​Dimas yang sejak tadi hanya diam menahan sakit di rahangnya, mendadak mendongakkan kepalanya. Sepasang matanya yang merah nanar memancarkan kilatan pemberontakan yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Saraf sabar Dimas benar-benar sudah putus total siang itu.

​"CUKUP, AYAH!!! CUKUP SE_MUA_NYA!!!" teriak Dimas dengan suara melengking keras melawan sang orang tua kandungnya sendiri tanpa ada rasa takut lagi.

​"Ayah adalah orang tua yang paling egois di dunia ini! Ayah dan Ratna sama saja! Kalian semua terus memperlakukan aku seperti boneka pajangan yang bisa kalian setir demi harta dan kasta bajingan kalian! Aku tidak pernah bahagia hidup bersama wanita angkuh ini, Ayah! Aku sangat tersiksa!"

​Ratna melotot tidak percaya mendengar suaminya berani melawan di depan ayahnya sendiri. "Dimas! Jaga ya bicaramu—"

​"DIAM KAMU, RATNA!!!" potong Dimas dengan raut wajah seperti iblis yang sedang murka. Dimas melangkah maju satu kali tepat di depan wajah Ibu Ratna, menatap wanita yang selama ini menginjak-injak harga dirinya itu dengan tatapan jijik yang teramat mendalam.

​Dimas menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya di depan Ayah Dimas, Ibu Dimas, dan Pramudya yang terbelalak syok menanti apa yang akan terjadi.

​"Ratna... di hadapan ayah kandungku dan di hadapan seluruh keluargaku hari ini..." ucap Dimas dengan suara bariton yang sangat dingin, lambat, namun penuh penekanan mutlak. "Detik ini juga... aku jatuhkan talak satu kepadamu! Mulai hari ini, aku mengikrarkan kata TALAK untukmu! Kita bukan lagi suami istri!"

​DEG...

​Suasana di dalam ruangan besar itu seketika berubah menjadi sangat senyap, laksana kuburan yang dingin.

​Ibu Ratna yang mendengar ikrar talak mutlak itu keluar secara langsung dari mulut Dimas di hadapan keluarga Dimas, langsung mematung seketika. Wajah berubah menjadi pucat pasi seperti mayat, dadanya mendadak terasa teramat sangat sesak kehabisan oksigen, dan seluruh dunianya laksana runtuh hancur berkeping-keping karena harga dirinya diinjak sampai ke dasar bumi.

​BRUKK!!!

​Pandangan mata Ibu Ratna langsung berubah menjadi gelap gulita, dan tubuhnya langsung jatuh ambruk, pingsan tidak sadarkan diri di atas lantai marmer ruang keluarga.

​"RATNA!!!" Jerit Ibu Dimas dengan suara histeris setengah mati.

​"Ratna! Bangun, Nak!" Ayah Dimas dan Pramudya langsung panik luar biasa, berlari maju mengerubungi tubuh Ratna yang sudah terkulai lemas tak berdaya, sementara Dimas hanya menatap dingin tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun di wajah babak belurnya.

1
falea sezi
🤣🤣 nenek tua gatel
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
iya ini keputusan yang besar,Kirana tidak cerita ke keluarga
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ayahnya Dimas udah berjuang untuk membalas Ratna
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas korban keegoisan keluarga tapi Kirana ga ada hubungannya malahan kena juga karena dimas
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas Dimas sadar Kirana udah bukan hak mu lagi weh
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga ada otak😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
keluarga kaya tapi minim adab😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna itu emang ga ada sadar dirinya
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna ga sadar diri banget
udah merebut malahan dia merasa korban😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
itu hasil yang kalian tanam sndri
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
wkwkwk Ratna itu hasil kerja kerasmu itu merebut hak yang awalnya bukan milikmu
rasakan akibatnya sendiri
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
mau alasan kaya apa aja
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga tau masa lalu
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Kirana Tuhan tau kamu kuat makanya diksh cobaan ini
ayo tetap semangat
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
penyesalan emang diakhir kirana
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
anjay Dimas lebih memilih menikah dengan Ratna secara diam diam
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ceritanya bagus
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas udah banyak alasan ini
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
demi Dimas dia rela ninggalin agamanya iya😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
pst ada sesuatu sama Dimas itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!