Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Tya mengembuskan napas pelan sembari mere-mas ponselnya begitu keluar dari ruang kerja Abimanyu. Tatapannya sempat kembali mengarah ke pintu yang kini telah tertutup rapat, usahanya membujuk pria itu untuk sekadar makan siang benar-benar sia-sia.
Sejak tadi Abimanyu bahkan tidak benar-benar mengalihkan pandangan dari laptop dan tumpukan berkas di hadapannya. Penolakannya halus, tetapi tegas. Seolah tak memberi sedikit pun celah untuk memaksanya.
Di dalam hati, Tya dihantui rasa tidak enak. Ia tahu ajakan makan siang itu bukan murni keinginannya. Jenny-lah yang sejak pagi terus memohon agar dirinya membantu mempertemukan keduanya. Mantan kekasih Abimanyu itu berharap makan siang bersama bisa menjadi awal untuk kembali menjalin kedekatan dengan pria yang dulu pernah ditinggalkannya demi memilih laki-laki lain.
Namun, kenyataan yang baru saja dilihat Tya membuatnya sadar bahwa semuanya tidak akan semudah yang dibayangkan Jenny. Sikap Abimanyu begitu dingin, datar, dan nyaris tanpa emosi saat nama perempuan itu disebut. Tidak ada amarah, tidak pula kerinduan. Yang tersisa hanyalah tembok tinggi yang seakan telah dibangun dari kekecewaan dan luka masa lalu.
Tya menatap ponselnya yang kembali berdering, kali ini meskipun ragu-ragu ia menggeser layar menerima panggilan sahabat lamanya. "Ya, Jenn!" Ucapnya tegas menutupi kekesalannya pada Abimanyu. Bayang tiket liburan ke ke Paris Perancis yang dijanjikan Jenny kembali membayang di kepalanya.
[Gimana responnya?]
"Lumayan, tapi dia sekarang lagi sibuk. Lagi menerima beberapa klien penting makanya dia enggak bisa keluar, sorry ya." Dusta Tya, ia terpaksa berdusta karena tak ingin hadiah liburan mewah bersama Jenny hangus begitu saja.
[No. Problem bestie, ini kan baru permulaan. Kamu bisa bantu aku pelan-pelan biar dia enggak curiga, suamiku kaya raya tapi jujur aku enggak bisa melupakan pesonanya. Aku ingin bersenang-senang dengannya.]
"Oke, aku akan selalu usahakan untuk membantumu."
[Ah thanks sayangku... Ayo cepat ke sini, aku sudah pesan makanan kesukaanmu]
"Oke, wait." Tya bernapas lega, ia menatap layar ponselnya yang sudah kembali menggelap. 'Aku harus bisa menyeret Abimanyu supaya mau membantu Jenny, apapun risikonya.' Gumamnya sembari melangkah menuju lift.
-
-
Semburat jingga membias di cakrawala saat Abimanyu tiba di apartemennya. Ia berdiri di depan pintu, kemudian mengembuskan napas panjang sebelum membuka kunci elektronik. Begitu pintu terbuka, keheningan langsung menyambut kedatangannya. Aroma ruangan yang bersih bercampur dengan hawa sejuk pendingin udara, memenuhi inderanya.
Ia berdiri beberapa saat di ambang pintu, memandangi apartemen yang mulai diselimuti cahaya temaram senja dari balik jendela besar, seakan mencari sedikit ketenangan setelah seharian bergelut dengan kesibukan dan berbagai pikiran yang tak kunjung usai.
Abimanyu memijat pangkal hidungnya sesaat, kemudian melangkah gontai menuju kamar. Saat melewati sofa ekor matanya melirik ke arah dapur dimana Amara tengah fokus di depan kompor. Gadis itu sepertinya tidak menyadari kepulangannya, sebab sedikitpun tidak bereaksi atau pun menoleh.
Lagi-lagi Abimanyu menarik napas, ada sunyi yang dirasakannya saat Amara tidak merespon dan menyapanya meskipun entah itu disengaja atau memang beneran tidak menyadari kepulangannya. Sebab hari-hari sebelum terjadinya ketegangan antara dirinya dengan Amara tadi pagi, gadis itu selalu menyambutnya dengan ramah meskipun sikapnya tidak mirip seorang istri pada suami melainkan lebih mirip seorang anak pada ayahnya.
Abimanyu masuk ke dalam kamar, ia melewati depan televisi tanpa menimbulkan suara. Setelah meletakkan tas kerja di samping ranjang, ia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur kemudian menelungkupkan tubuhnya dengan dengan tangan dipakai untuk mengganjal perut.
Lelah, lapar, dan kantuk yang sudah mendernya sedari beberapa jam yang lalu kian bercampur menjadi satu, membuat kesadarannya cepat menipis dan akhirnya menguap pindah ke alam mimpi.
Di luar kamar. Sejak langit di luar jendela perlahan berubah dari jingga menjadi kelabu, Amara berkali-kali keluar dari dapur dan berdiri di ruang tengah berpura-pura melihat televisi yang sengaja ia nyalakan dari tadi. Gadis itu mengusap kedua tangannya yang masih basah oleh air cucian, lalu berdiri beberapa saat di ruang tengah berharap mendengar bunyi pintu terbuka atau langkah kaki suaminya. Namun, lorong di luar sana selalu sunyi.
Jarum jam terus bergerak tanpa henti, hingga waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Kecemasan yang semula hanya sebesar riak perlahan menjelma menjadi ombak di dalam dadanya. Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalanya.
'Apa mungkin om Abi lembur? Terjebak macet? Atau... Apa jangan-jangan dia enggak mau pulang karena benaran marah padaku? Argh dasar tua bangka baper!' umpatnya dengan gumaman, pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi kepalanya.
Selang beberapa saat, Amara kembali menoleh ke arah pintu, ia tak sanggup lagi memusatkan perhatian pada hidangan di atas meja yang sudah hampir dingin sebab pintu masuk seolah menjadi pemandangan yang paling menarik baginya saat ini.
Di tengah pikirannya yang mulai dilanda kekhawatiran, Amara berdiri kemudian melangkah pelan ia berniat mengintip keluar. Berharap saat dirinya membuka pintu, pria itu muncul baru keluar dari lift. Namun, saat tangannya hendak menarik gagang pintu, langkahnya mendadak terhenti.
Netranya membulat saat menangkap sepasang sepatu kulit hitam yang tergeletak asal di samping pintu masuk. 'Itu kan sepatunya om Abi yang dipakai tadi pagi!' gumam Amara pada dirinya sendiri.
Amara segera berjongkok, menyentuh sepatu yang ia yakini dipakai suaminya tadi pagi. Sesaat gadis itu hanya terpaku, dadanya yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan berubah menjadi kebingungan.
'Kalau sepatunya sudah ada di sini... berarti om Abi sudah pulang, kapan pulangnya? Perasaan dari tadi aku di dapur terus, dan enggak denger suara pintu.'
Gumam Amara lalu kembali berdiri dengan bibir yang tak henti bergumam. Tak ingin mati berdiri karena penasaran ia pun segera membalikkan badan, melangkah perlahan dengan kaki yang berjinjit karena takut laki-laki yang sedari tadi ditunggunya sudah pulang, mendengar pergerakannya kemudian besar kepala karena merasa dikhawatirkan.
Tujuan langkahnya yaitu kamar utama, tempat tidur Abimanyu.
Sesampainya di depan pintu, ia berdiri dengan jantung yang sedikit berdebar. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu.
Jangan sampai dia salah paham dan jadi besar kepala karena menganggap aku menunggu dan mengkhawatirkannya, aku cuma mau memastikan dia benar-benar sudah pulang atau belum. Bukan karena khawatir, cuma memastikan saja. Batinnya berulang kali meyakinkan diri.
Pintu didorongnya sedikit demi sedikit.
Ceklek...
Belum sempat celah pintu terbuka lebar, dari arah sebaliknya Abimanyu justru hendak keluar.
Bruk!
"Aahh!" Amara memekik pelan, ia refleks melompat mundur satu langkah.
Abimanyu yang baru bangun dengan tubuh lemas dan kepala yang masih sedikit berdenyut, membuatnya tak sempat mengantisipasi dorongan pintu. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, terjengkang ke belakang dengan wajah yang sempat menunjukkan ekspresi bingung sebelum akhirnya berhasil menahan diri agar tidak benar-benar jatuh.
Melihat itu mata Amara langsung membulat. "Ya Allah...!" Tangannya refleks terulur hendak menolong. Namun baru bergerak setengah jalan, ia buru-buru menariknya kembali sambil berpura-pura merapikan anak rambut di telinga, seolah sejak awal memang tidak berniat membantu.
"E-eh... aku... aku cuma..." Kalimatnya menggantung, wajahnya memerah. Antara panik, malu, dan merasa bersalah karena hampir saja membuat suaminya terkapar di lantai.
"Om! kenapa keluar diam-diam begitu?" tegurnya cepat, malah terdengar seperti sedang menyalahkan Abimanyu. Padahal jelas-jelas dialah pelaku utamanya. Tatapannya diam-diam menyapu wajah pria dihadapannya yang terlihat sedikit pucat dan mata yang sembap, bahkan cara Abimanyu hendak berdiri pun terlihat limbung.
Rasa khawatir kembali menyusup ke dalam dadanya, bibirnya berkali-kali terbuka hendak bertanya apakah pria itu baik-baik saja. Namun harga dirinya menahan kata-kata itu di ujung lidah. Sebagai gantinya, ia malah berdeham canggung, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Lain kali kalau mau keluar kamar kasih aba-aba dulu," gumamnya pelan, berusaha memasang wajah jutek. Padahal sorot matanya terus mengawasi Abimanyu dari ujung kepala sampai kaki, memastikan pria itu benar-benar tidak terluka.
Kekhawatirannya begitu kentara hingga bertolak belakang dengan bibirnya yang masih sibuk berpura-pura kesal dengan mata yang memicing.
Abimanyu masih bertahan dengan posisinya yang kini terduduk di lantai, pria itu mengangkat wajah menatap istri bocahnya dengan alis yang saling bertautan. "Sudah ngomongnya?" Tanyanya pelan, membuat Amara seketika salah tingkah.
Gadis itu menggaruk kepalanya, "eh... Itu, em... Apaan sih?"