Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari yang ditunggu‑tunggu akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana di seluruh rumah keluarga Baskara dan keluarga Wijaya sudah dipenuhi kegembiraan serta kesibukan yang menyenangkan. Semua persiapan yang direncanakan berminggu‑minggu lamanya kini terlihat menjadi satu kesatuan yang indah dan sempurna. Sebagai tanda penghormatan dan kasih sayang yang besar, Kakek Baskara dan Kakek Wijaya bersama‑sama menyewa satu ruangan besar di gedung hotel paling megah dan elegan di kota—khusus disiapkan hanya untuk acara pertunangan Elio dan Alena.
Ruangan itu dihias dengan sangat indah: karpet halus berwarna gading terbentang luas, dinding dan langit‑langit dihiasi lampu‑lampu gantung yang memancarkan cahaya keemasan lembut, sementara di sekelilingnya tersusun rangkaian bunga segar berwarna krem, merah muda lembut, dan sedikit sentuhan hijau daun yang menyejukkan pandangan. Di tengah ruangan, di atas panggung kecil yang ditinggikan, terpasang kursi‑kursi berukir indah tempat kedua calon mempelai akan duduk, dihiasi kain sutra dan pita yang sama anggunnya.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan sejak pukul dua siang. Hadir kerabat dekat dari kedua belah pihak, teman‑teman lama, serta banyak tokoh dari kalangan dunia usaha dan kenalan kedua keluarga. Suasana terasa hangat, penuh percakapan sopan, tawa halus, dan ucapan selamat yang saling diucapkan. Semua orang tampak rapi dan anggun, seolah turut merayakan kebahagiaan besar ini.
Di ruang persiapan khusus yang nyaman dan luas, Alena sedang duduk di hadapan cermin besar sambil dirapikan penampilannya oleh penata rias dan penjahit yang sudah dipanggil jauh‑hari sebelumnya. Hari ini, penampilannya benar‑benar berbeda dari biasanya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna gading lembut yang pas namun tidak terlalu ketat, dengan kain yang jatuh halus dan berkilau sedikit saat terkena cahaya. Bagian dada dan bahunya dihiasi sulaman halus berbentuk bunga dan ranting kecil menggunakan benang perak dan mutiara buatan, tidak berlebihan namun cukup menambah kesan mewah dan anggun. Rambutnya yang indah disusun rapi namun tetap terlihat alami, dihiasi sederhana dengan bunga kecil berwarna merah muda dan seutas rantai halus yang jatuh lembut ke dahi. Rias wajahnya dibuat agar menonjolkan kecantikan aslinya—lembut, segar, dan bersahaja namun tetap berwibawa.
Saat ia berdiri perlahan dan menatap bayangannya di cermin besar, jantungnya berdebar pelan namun berirama bahagia. Ia merasa sedikit gugup, namun lebih dari itu—merasa sangat bersyukur.
“Kamu terlihat luar biasa cantik, Nak,” ujar Ibu Alena sambil tersenyum berkaca‑kaca, lalu mencium kening putrinya. “Seperti putri dari dongeng.”
“Terima kasih, Bu… semoga semuanya berjalan lancar,” jawab Alena sambil tersenyum dan merapikan sedikit lipatan gaunnya.
Sementara itu di sisi lain ruangan, Elio juga sudah siap sepenuhnya. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru tua yang pas di badan, kemeja putih bersih, dan dasi yang warnanya sedikit senada dengan hiasan gaun Alena—seolah sudah disusun serasi sejak awal. Rambutnya disisir rapi namun tetap terlihat wajar, membuatnya tampak lebih gagah, tenang, dan sangat dewasa dibandingkan hari‑hari biasa di sekolah. Saat berdiri di dekat pintu keluar menuju lorong utama, ia terus melirik ke arah pintu ruang Alena—seolah tidak sabar menunggu momen pertama melihat gadisnya hari ini.
“Tenang saja, Elio… sebentar lagi kamu akan melihatnya,” bisik Kakek Baskara sambil menepuk bahu cucunya dengan senyum penuh arti. “Dan percayalah, hari ini akan menjadi kenangan yang abadi.”
Saat acara hampir dimulai, pintu besar di ujung lorong terbuka perlahan. Musik lembut dan anggun mulai terdengar, mengalun pelan namun merdu memenuhi seluruh ruangan. Semua tamu berhenti berbicara dan menoleh serentak ke arah pintu masuk.
Pertama berjalan Elio dengan langkah tenang dan tegap, diikuti kedua kakek dan orang tua mereka. Namun beberapa saat kemudian, saat Alena mulai melangkah keluar diiringi ibunya, suasana seolah berubah seketika.
Elio yang berdiri di dekat panggung langsung tertegun. Matanya terpaku pada sosok yang mendekat, dan untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang—ia benar‑benar tidak bisa berkedip.
Bagi Elio, Alena hari ini tampak jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Gerakannya tenang namun anggun, wajahnya bercahaya lembut, senyumnya malu‑malu namun hangat seperti matahari pagi. Gaun itu seolah dibuat khusus untuknya, menyempurnakan setiap lekukan dan kelembutan tubuhnya, sementara rambut dan hiasan di kepalanya hanya menambah pesona alami yang tak tertandingi. Di mata Elio, gadis itu tampak bersinar di antara keramaian dan keindahan gedung itu sendiri—seolah‑olah cahaya di ruangan itu justru berasal darinya.
“Benar‑benar… menakjubkan,” bisik Elio pelan, hampir tak terdengar namun cukup jelas bagi dirinya sendiri. Hingga Alena berhenti tepat di hadapannya, ia masih menatap lekat‑lekat seolah takut jika berkedip sekejap saja, pemandangan indah itu akan hilang.
Alena yang menyadari tatapan itu, wajahnya perlahan berubah merah muda namun tetap tersenyum lebar—senyum yang paling bahagia yang pernah diberikan pada Elio.
“Kamu juga tampak sangat gagah hari ini,” bisiknya pelan saat mereka berdiri berhadapan.
Elio tersadar sejenak, lalu ikut tersenyum—senyum yang lebar, tulus, dan penuh kebanggaan hingga menyentuh matanya. “Terima kasih… tapi percayalah, tidak ada siapa pun di ruangan ini yang bisa menandingi kecantikanmu hari ini. Aku bahkan sempat lupa cara berkedip sejenak tadi.”
Kata‑kata itu sederhana namun tulus, membuat Alena tertawa kecil dengan suara halus yang terdengar sangat merdu.
Upacara pertunangan berjalan dengan tertib, sopan, namun penuh kehangatan. Setelah saling menyampaikan niat dan doa baik di hadapan kedua keluarga serta para tamu, tibalah saat yang paling ditunggu‑tunggu: pertukaran cincin.
Elio mengangkat tangan kanan Alena perlahan dan lembut, lalu menyelipkan cincin halus berhias batu kecil yang berkilau lembut ke jari manisnya. Tangannya bergerak perlahan dan hati‑hati seolah sedang menyentuh benda paling berharga di dunia. Setelah itu giliran Alena yang mengambil cincin pasangannya, menyelipkannya dengan gerakan hati‑hati namun mantap ke jari manis tangan kanan Elio.
Saat cincin itu sudah terpasang sempurna, mereka saling mengangkat wajah dan menatap satu sama lain lekat‑lekat—dan serentak tersenyum bahagia, senyum yang paling tulus dan paling dalam yang pernah mereka miliki. Di bawah cahaya ruangan yang hangat, diiringi tepuk tangan halus dan ucapan selamat dari semua orang, keduanya merasa seolah dunia hanya milik mereka berdua saat itu juga.
“Mulai hari ini,” bisik Elio cukup agar hanya Alena yang mendengar, “kamu bukan lagi sekadar pasangan yang dijodohkan… tapi gadis yang resmi menjadi milikku, dan aku akan selalu menjagamu selamanya.”
“Aku juga,” jawab Alena lembut namun tegas, matanya berbinar penuh keyakinan. “Dan aku akan selalu berada di sisimu, apa pun yang terjadi.”
Namun, di sudut ruangan yang agak jauh dan sedikit tersembunyi di balik tiang besar yang dihias bunga, ada satu sosok yang berdiri diam sambil menatap pemandangan itu dengan pandangan yang sama sekali tidak bahagia.
Itu adalah Jena. Meski bukan termasuk undangan utama, ia berhasil datang bersama kerabat jauh yang diundang, berharap setidaknya bisa melihat situasi dengan mata kepalanya sendiri—dan mungkin masih berharap ada hal yang tidak berjalan sempurna. Namun kenyataannya justru sebaliknya: ia melihat betapa indahnya Alena hari ini, betapa Elio memandangnya seolah tidak ada hal lain yang penting selain gadis itu, dan betapa eratnya ikatan yang kini terikat resmi oleh cincin serta persetujuan seluruh keluarga besar.
Di matanya, kebahagiaan itu tampak begitu nyata dan kokoh hingga membuatnya merasa semakin kecil dan makin kecewa. Rahangnya terkatup rapat, bibirnya ditarik ke bawah tanpa senyum sedikit pun, dan matanya menyimpan rasa benci yang dingin namun tak berdaya—karena ia tahu, segala usaha dan rencana yang dibuatnya bersama Dinda dari dulu hingga kini benar‑benar gagal total. Tidak ada celah, tidak ada kesempatan lagi.
Di sebelahnya berdiri Dinda yang juga hadir namun berdiri makin jauh dan makin diam, seolah mulai sadar bahwa kehadiran mereka di sini tidak berarti apa‑apa bagi pasangan yang sedang bersinar itu.
Namun Elio dan Alena tidak mempedulikan tatapan‑tatapan seperti itu. Mereka terlalu sibuk menikmati kebahagiaan yang akhirnya terwujud, mendengarkan ucapan selamat dari kakek‑kakek yang penuh makna, dan tertawa kecil membayangkan perjalanan panjang yang baru saja dimulai secara resmi hari ini.
Saat acara berlanjut dengan jamuan makan dan obrolan santai, Elio tetap berdiri dekat Alena, sesekali menyelipkan ucapan manis atau sedikit candaan yang membuat gadis itu tersipu namun tertawa renyah—seperti kebiasaan kecil yang membuat hubungan mereka selalu hidup dan menyenangkan.
“Tadi aku sungguh‑sungguh tidak bisa berkedip saat kamu masuk,” ujar Elio lagi sambil tersenyum nakal namun tulus saat mereka berdiri berdua sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke taman luar. “Dan percayalah… mulai hari ini hingga selamanya, pandanganku hanya akan tertuju padamu saja.”
Alena memukul pelan lengan jasnya sambil tersenyum bahagia. “Kamu ini… selalu saja bisa membuatku salah tingkah meski sudah lama kita kenal.”
“Karena kamu selalu mampu membuatku terpesona setiap hari—dan hari ini lebih dari hari‑hari lainnya,” jawabnya tenang sambil menggenggam tangan Alena yang kini terhias cincin keemasan itu erat‑erat namun lembut.