Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 8
Beberapa menit kemudian, Damian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, wajahnya masih basah oleh sisa air dingin. Dia menemukan kamar mereka yang tadinya penuh ketegangan, kini tampak aneh karena keheningan yang berbeda.
Walau di atas tempat tidur, Alysia selalu menyiapkan pakaian tidur untuknya. Tak lama Alysia juga melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat ke arah dirinya. Alysia benar-benar berubah.
Damian masih berkutat dengan pikirannya sendiri tentang perubahan Alysia. Bahkan dia mengabaikan banyak pesan dan panggilan dari Berlian dan ayahnya. Dia memilih mematikan ponselnya. Tak lama Alysia keluar dari dalam kamar mandi. Dahi Damian berkerut.
Alysia tidak lagi mengenakan gaun sutra tipis atau lingerie yang selama enam tahun ini sengaja dia beli dengan harapan samar. Harapan bahwa suatu malam, Damian akan meliriknya dengan hasrat yang lebih dari sekadar rutinitas. Selama enam tahun tidur bersama di ran-jang yang dingin tanpa sentuhan satu kali pun.
Alysia mengira jika Damian belum siap karena ingin meyakinkan kalau dirinya pantas jadi istri dan ibu. Tapi enam tahun berjuang tak juga membuat semuanya berubah. Bahkan Damian semakin dingin padanya. Dan kadang sering menghindar dengan alasan pekerjaan ke luar kota.
Malam ini Alysia mengenakan piyama setelan katun panjang yang tertutup rapat, longgar, dan tampak sangat nyaman. Itu adalah pakaian yang menegaskan bahwa dia tidak lagi mencoba untuk memikat suaminya. Seolah menegaskan kalau Alysia menyerah.
Alysia juga mengikat rambutnya asal dan wajah yang dibersihkan dari make-up. Dia tampak jauh lebih muda, jauh lebih segar, namun juga jauh lebih sulit dijangkau. Alysia berjalan melewati Damian tanpa melirik sedikit pun, seolah Damian hanyalah sebuah patung perabot di dalam kamar itu.
Alysia naik ke atas tempat tidur sisi tempatnya sela enam tahun. Dia menarik selimut hingga sebatas pinggang, dan langsung membelakangi sisi ranjang Damian. Dia mengambil sebuah buku dari nakas dan mulai membacanya, tenang seolah malam ini tidak terjadi konfrontasi yang hampir menghancurkan fondasi rumah tangga mereka.
Damian masih duduk mematung sambil bersandar di sisi sebelah ran-jang mereka, dadanya bergemuruh. Dia terbiasa dengan Alysia yang akan menunggunya sampai dia selesai mandi, lalu bertanya dengan suara lembut apakah dia butuh sesuatu atau ingin dipijat.
Damian merasakan tenggorokannya tercekat. Kesunyian di kamar ini bukan lagi kesunyian yang menenangkan, melainkan kesunyian yang menekan seperti berada di dalam ruang hampa udara.
Dia memperhatikan punggung Alysia yang terbalut piyama katun longgar itu. Selama enam tahun, Damian selalu merasa aman dengan fakta bahwa Alysia akan selalu menunggunya dengan gaun-gaun sutra yang sedikit transparan, seolah-olah istrinya itu selalu menanti sebuah 'kebajaiban' yang tak pernah Damian berikan.
Dia merasa berkuasa atas penantian itu. Namun kini, melihat Alysia berpakaian begitu tertutup dan tidak peduli, Damian merasa kehilangan hak istimewanya.
"Alysia..." Damian memulai, suaranya parau dan sedikit pecah.
"Iya, maaf Mas! Selamat malam!" jawab Alysia tanpa berbalik, menyimpan buku dan memberikan lampu tidur di sebelahnya.
Bukan itu yang ingin di katakan oleh Damian. Kenapa dengan Alysia?
Jawaban Alysia yang teramat sopan dan dingin itu justru memukul Damian lebih telak daripada jika istrinya itu berteriak atau melempar barang. Kata "Mas" yang diucapkan dengan nada datar, diikuti permintaan maaf dan ucapan selamat malam, adalah tembok beton setebal ribuan kilometer yang baru saja Alysia bangun di antara mereka.
Damian mengepalkan tangannya di atas paha. Dia merasa seolah-olah ia baru saja kehilangan kendali atas dunianya sendiri. Selama enam tahun, dia telah terbiasa dengan Alysia yang selalu menatapnya dengan binar pemujaan, terbiasa dengan aroma parfum mahal yang selalu menguar dari tubuh istrinya setiap kali ia keluar dari kamar mandi, dan terbiasa dengan posisi Alysia yang selalu menghadap ke arahnya, menunggu satu kata atau satu sentuhan yang tak pernah dia berikan.
"Alysia, jangan pura-pura tidur," desis Damian, suaranya kini lebih tegas, mencoba memanggil kembali otoritas yang selama ini dia miliki.
Alysia tidak bergerak. Dia menarik selimut sedikit lebih tinggi, membenamkan separuh wajahnya ke bantal.
"Aku tidak pura-pura, Mas. Aku hanya lelah. Besok aku punya banyak hal yang harus kerjakan. Aku juga harus selalu menyiapkan kopermu kalau tiba-tiba kamu akan pergi dinas ke Singapura ataupun ke luar pulau bahkan luar negri untuk beberapa hari. Jadi aku tidak akan melakukan kesalahan karena tak lengkap membawa kebutuhanmu!" jawabnya tenang, napasnya terdengar teratur, terlalu teratur untuk seseorang yang baru saja mengalami malam paling berat dalam pernikahan mereka.
Damian merasa dadanya sesak. Dia bangkit dari duduknya, mendekati sisi tempat tidur Alysia. Dia ingin menarik bahu itu, ingin memaksa Alysia berbalik dan menatap matanya seperti dulu.Di mana dia bisa melihat segala ketakutan dan pengharapan Alysia yang selalu bisa dia manipulasi dengan kebisuan.
Namun, tangannya menggantung di udara. Ada sesuatu yang berbeda pada aura Alysia. Sesuatu yang membuatnya ragu untuk menyentuh.
Ucapan terakhir Alysia seolah menyindir dirinya yang tadi siang mengatakan akan pergi ke Singapura. Tapi kenyataan itu tak pernah terjadi dan dia pergi bersama Berlian makan malam mewah. Lalu tiba-tiba dia ada di rumah, memang sangat mencurigakan.
Tapi Alysia tak bertanya banyak, apa mungkin? Semalaman Damian akhirnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun karena ulah Alysia.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat