"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pamit dari Desa, Membawa Duri
Bab 18: Pamit dari Desa, Membawa Duri
Embun subuh yang tebal masih menyelimuti atap joglo Paman Harjo ketika lampu teras dinyalakan. Suara mesin mobil MPV mewah milik Adrian menderu halus, memecah kesunyian desa yang masih pekat. Di bawah temaram cahaya lampu gantung, sandiwara terakhir sebelum kepulangan ke kota sedang dimainkan dengan sangat rapi.
Yu Sumi berdiri memegangi lengan Santi dengan mata yang dibuat berkaca-kaca, seolah-olah berat melepaskan anak gadisnya pergi merantau. Sementara Santi, dengan kepala tertunduk dalam dan tas kain lusuh di genggamannya, kembali memasang wajah paling melas yang ia miliki. Di depan Paman Harjo yang berdiri menyaksikan dengan raut wajah tulus, mereka adalah potret ibu dan anak miskin yang sedang mengadu nasib.
"Mbak Broto, Den Adrian... saya titip Santi, ya," ucap Yu Sumi membungkuk berkali-kali, suaranya bergetar penuh haru palsu. "Kalau dia bebal atau kerjanya tidak becus, tolong jewer saja telinganya."
Ibu Broto tersenyum jemawa sembari merapikan selendang sutranya. "Sudah, Yu, tidak usah khawatir. Santi aman bersama kami. Di kota nanti dia tidak akan kekurangan, yang penting dia tetap penurut seperti sekarang."
Hana keluar dari dalam rumah joglo, dibantu oleh Paman Harjo untuk membawa tas jinjing kecilnya. Langkah kaki Hana lambat namun pasti. Sebelum melangkah menuju mobil, ia memeluk erat paman tuanya itu. "Paman, jaga kesehatan ya. Jangan terlalu lelah di sawah," bisik Hana, menyalurkan kehangatan terakhir yang bisa ia rasakan sebelum kembali ke medan perang kota.
"Kamu juga, Nduk. Jaga kandunganmu baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung kabari Paman," jawab Paman Harjo sembari menepuk-nepuk punggung Hana dengan tangan legamnya yang kasar.
Hana mengangguk, lalu berjalan menuju mobil tanpa melirik sedikit pun ke arah Adrian, Ibu Broto, maupun Santi. Ia membuka pintu baris tengah, mendudukkan dirinya dengan anggun, dan langsung menutup pintu.
Adrian yang sudah berada di kursi kemudi segera menginjak pedal gas begitu Ibu Broto masuk ke kursi tengah bersama Hana, dan Santi mengambil posisi di kursi penumpang depan. Mobil mewah itu bergerak perlahan meninggalkan pelataran berdebu rumah Paman Harjo, membelah kabut subuh yang dingin.
Perjalanan panjang belasan jam menuju ibu kota pun dimulai. Begitu mobil memasuki jalur tol fungsional dan suasana pedesaan mulai digantikan oleh bentangan aspal hitam yang monoton, topeng kepatuhan Santi di depan keluarga desa perlahan-lahan tanggal. Ia tidak lagi menekuk kepalanya dalam-dalam.
Dari balik kaca spion tengah, Hana yang berpura-pura memejamkan mata bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh Santi mulai bergerak gelisah, sengaja memposisikan duduknya agak miring ke arah kanan—ke arah Adrian yang sedang fokus menyetir.
Santi melirik ke baris tengah lewat spion. Setelah memastikan Ibu Broto sudah mulai terlelap dengan kepala bersandar pada bantal leher, dan Hana tampak tertidur pulas dengan tangan mendekap perut buncitnya, Santi mulai melancarkan aksi gerilya halusnya.
Ia membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebotol minyak angin beraroma terapi yang sengaja ia beli sebelum mudik. Dengan gerakan yang sangat lembut dan perlahan, Santi mengoleskan minyak itu ke pelipisnya sendiri, membiarkan aromanya yang segar menguar memenuhi kabin depan mobil.
"Mas Adrian..." bisik Santi dengan suara yang teramat lirih, nyaris seperti desiran angin AC, memastikan suaranya tidak sampai membangunkan dua wanita di belakang. "Mas mengantuk? Ini Santi ada minyak angin, atau mau Santi ambilkan kopi yang di termos kecil tadi?"
Adrian melirik sekilas ke arah samping kiri. Pandangannya menangkap leher jenjang Santi yang bergerak bebas karena rambutnya sengaja diikat tinggi ke atas. Kabut nafsu yang sempat diredam selama beberapa hari di kampung halaman mendadak bergejolak kembali di dalam dada Adrian. Sentuhan fisik rahasia di teras joglo kemarin sore seolah memicu dahaga yang lebih besar di dalam dirinya.
"Boleh... ambilkan kopinya, Santi," jawab Adrian dengan suara yang sengaja diturunkan beberapa oktav, menciptakan frekuensi obrolan rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Santi tersenyum manis. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia membungkuk untuk meraih termos kecil di bawah dasbor. Posisi tubuhnya yang membungkuk itu membuat jarak di antara mereka menyusut drastis. Saat menyerahkan cangkir kecil berisi kopi hangat kepada Adrian, ujung-ujung jemari Santi dengan sengaja mengelus permukaan telapak tangan Adrian yang sedang memegang setir.
Adrian mempererat genggamannya pada cangkir, merasakan sengatan listrik yang melenakan dari sentuhan itu. Matanya kembali menggelap oleh kabut gairah pria yang merasa ego kelelakiannya sedang dimanjakan.
"Jalannya masih jauh, Mas. Kalau pundak Mas Adrian terasa kaku... bilang ya. Santi bisa bantu pijat sedikit dari samping sini," tawar Santi lagi, matanya menatap Adrian dengan binar penuh pengabdian yang manipulatif.
"Nanti saja... kalau kita sudah berhenti di rest area berikutnya," balas Adrian dengan senyuman tipis yang sarat akan makna terselubung.
Di baris tengah, di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, Hana mendengar setiap bisikan, merasakan setiap getaran canggung yang tercipta di baris depan. Sudut bibir Hana terangkat membentuk senyuman yang teramat tipis dan dingin—sejenis senyuman yang biasa ditunjukkan oleh seorang pawang yang sedang melihat korbannya berjalan sukarela masuk ke dalam perangkap besi.
Hana tidak berniat membuka matanya atau melabrak mereka di dalam mobil yang sedang melaju kencang ini. Baginya, setiap interaksi menjijikkan antara suaminya dan pelayan itu adalah butir-butir peluru berharga yang sedang mereka kumpulkan sendiri untuk menembak jantung mereka di masa depan. “Teruslah bermain api di depanku, Adrian, Santi,” batin Hana dengan ketegangan yang tertata rapi di dalam kepalanya. “Sebab semakin berani kalian melangkah sekarang, semakin tidak akan ada jalan pulang bagi kalian saat badai yang sesungguhnya aku datangkan nanti.”