NovelToon NovelToon
Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:487.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**

Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.

Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*

Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.

Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.

Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:

*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*

Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—

**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

# Bab 24

## Bunga Setiap Hari

Arunika tidak pergi makan malam dengan Mahesa malam itu.

Ia hanya menatap mawar di tangannya, menatap pria yang menunggu jawaban dengan senyum terlalu tenang, lalu berkata, "Terima kasih untuk bunganya. Untuk makan malam, tidak."

Mahesa tidak tampak tersinggung.

Ia malah tertawa pelan, seolah penolakan itu bukan pintu tertutup, melainkan tanda bahwa pintunya memang ada.

"Baik," katanya. "Kalau begitu saya mulai dari bunga."

Arunika mengira itu hanya kalimat ringan yang akan hilang bersama riuh Langit.

Ia salah.

Malam di Langit berakhir tanpa makan malam.

Mahesa tidak mengejar ketika Arunika turun dari panggung dan menyerahkan mawar itu kepada Sekar untuk dibawa. Ia juga tidak meminta nomor, tidak menahan langkah, tidak membuat adegan di depan Damar yang wajahnya sudah cukup gelap untuk menjadi bahan pembicaraan satu rooftop.

Ia hanya memberi Arunika anggukan singkat dari jarak aman.

"Saya akan mencoba lagi dengan cara yang lebih rapi."

"Tidak perlu."

"Itu pendapat Anda malam ini."

"Dan besok?"

"Besok saya tetap menghormatinya." Senyum Mahesa malas, tetapi matanya serius. "Saya hanya tidak berjanji berhenti menyukai drum."

Arunika tidak menjawab.

Ia pulang bersama Sekar sebelum tengah malam. Di mobil, Sekar memeluk mawar seperti barang bukti.

"Nik, aku tahu kamu sedang berusaha terlihat tidak terkesan, tapi pria itu naik panggung membawa mawar dan tetap sopan. Itu kombinasi berbahaya."

"Dia orang asing."

"Semua orang dimulai sebagai orang asing."

"Kamu terlalu banyak menonton drama."

"Kamu terlalu banyak mengurus audit."

Arunika menoleh ke jendela, menahan senyum kecil yang tidak ia beri izin tumbuh lebih jauh. Ia belum siap membiarkan siapa pun mendekat. Tapi untuk pertama kalinya, penolakan tidak terasa seperti perang. Hanya batas.

Dan Mahesa, setidaknya malam itu, tidak melanggarnya.

Senin pagi, sebuah vas kaca ramping sudah berdiri di meja resepsionis Semesta Jakarta. Di dalamnya, satu tangkai mawar putih dengan pita hitam kecil. Tidak ada kartu panjang. Hanya satu kalimat di kertas tebal.

Untuk ritme yang tidak terburu-buru.

Tari membawanya ke ruangan Arunika dengan ekspresi yang sangat profesional dan mata yang jelas menahan sesuatu.

"Bu Arunika, dari Pak Mahesa."

Arunika menatap bunga itu. "Kirim ke lobi."

"Sudah dari lobi."

"Maksud saya, jangan taruh di meja saya."

"Baik, Bu."

Tari mengangkat vas itu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar. "Untuk dicatat sebagai hadiah pribadi atau relasi bisnis?"

Arunika mengangkat mata.

Tari menunduk sedikit. "Saya perlu kategori untuk administrasi kantor."

"Relasi tidak jelas."

"Baik, Bu. Relasi tidak jelas."

Setelah Tari keluar, Arunika mendengar satu tawa tertahan dari balik pintu. Ia memijat pangkal hidungnya dan kembali membaca laporan tender.

Selasa, bunganya bukan mawar.

Anggrek bulan putih, dua tangkai, dikirim ke ruang rapat tepat sebelum presentasi vendor dimulai. Kali ini kartunya berbunyi:

Untuk perempuan yang tahu kapan harus diam dan kapan harus memukul drum.

Seorang manajer muda hampir menjatuhkan laser pen saat melihat nama pengirim.

"Pak Mahesa itu... Mahesa Adiwangsa?"

Arunika membuka halaman laporan. "Kita mulai presentasi."

"Baik, Bu."

Rapat berjalan, tetapi tidak ada yang benar-benar lupa pada anggrek di sudut meja. Setelah rapat selesai, foto bunga itu sudah muncul di beberapa grup kantor, lalu berpindah ke grup pengusaha muda, lalu ke akun gosip bisnis kecil yang sering menulis tentang kehidupan sosial konglomerat.

Putri Prawira dapat bunga dari Mahesa?

Di Langit juga ada mawar.

Ini apa, babak baru?

Sekar mengirim tangkapan layar ke Arunika dengan enam pesan beruntun.

Nik.

NIK.

INI BUKAN LATIHAN.

Mahesa Adiwangsa kirim bunga?

Gue baru mau bilang jangan cepat percaya.

Tapi bunganya bagus.

Arunika membalas satu kalimat.

Kerja.

Sekar menjawab dengan gambar tertawa.

Satu jam kemudian, Sekar benar-benar datang ke Semesta dengan alasan mengantar berkas Bagas yang sebenarnya bisa dikirim kurir.

"Aku cuma lewat," katanya, masuk ke ruangan Arunika tanpa rasa bersalah.

Arunika tidak mengangkat kepala dari laptop. "Dari Tangsel ke SCBD disebut lewat?"

"Kalau hatiku niat, semua tempat searah."

Tari yang sedang merapikan map pura-pura tidak mendengar.

Sekar menghampiri anggrek di sudut ruang rapat, memotretnya, lalu menatap Arunika dengan wajah penuh kemenangan. "Aku suka dia."

"Kamu bahkan belum bicara dengannya."

"Aku bicara dengan bunganya."

"Itu mengkhawatirkan."

"Yang mengkhawatirkan itu kalau kamu tidak merasa apa-apa sama sekali."

Arunika akhirnya menutup laptop setengah. "Aku baru bercerai. Aku baru kembali bekerja. Namaku baru saja menjadi bahan pembicaraan satu kota. Aku tidak punya ruang untuk pria yang gemar membuat orang berbisik."

Sekar melembut, tetapi hanya sedikit. "Aku tahu. Makanya aku tidak bilang terima dia. Aku cuma bilang, untuk pertama kalinya ada pria yang mendekat tanpa minta kamu membayar dengan rasa bersalah."

Kalimat itu membuat ruangan diam sebentar.

Tari menunduk pada mapnya.

Arunika melihat anggrek putih di sudut ruangan. Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan bantahan yang cukup jujur.

"Bunga tetap keluar dari meja kerja saya," katanya akhirnya.

Sekar tersenyum. "Itu belum penolakan. Itu tata ruang."

Rabu, bunga matahari kecil datang bersama kotak kayu berisi kopi dari kedai Kemang. Kartunya:

Untuk pagi yang tidak perlu dimenangkan dengan marah.

Tari meletakkannya di meja samping, bukan meja kerja.

"Saya sudah belajar, Bu."

"Bagus."

"Tapi bagian resepsionis meminta arahan. Kalau setiap hari ada bunga, mereka perlu tempat khusus."

Arunika berhenti mengetik.

"Setiap hari?"

Tari tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponsel. Ada unggahan dari akun Mahesa, bukan foto wajah, bukan foto Arunika, hanya foto satu tangkai mawar merah pertama di Langit dengan latar lampu biru.

Tulisannya sederhana.

Hari pertama: ritme.

Unggahan kedua, anggrek di ruang rapat.

Hari kedua: jeda.

Unggahan ketiga, bunga matahari kecil di dekat kopi.

Hari ketiga: pagi.

Tidak ada nama Arunika. Tidak ada tagar berlebihan. Justru karena itu, semua orang lebih sibuk menebak.

"Dia sengaja," kata Arunika.

Tari mengangguk. "Kemungkinan besar."

"Terlalu banyak waktu."

"Atau terlalu teratur."

Arunika menatapnya.

Tari kembali profesional. "Maaf, Bu."

Kamis, bunga lili datang saat Arunika baru selesai menelepon kantor pusat Surabaya. Ia menolak tiga undangan makan siang, dua ajakan minum kopi, dan satu permintaan wawancara dari media bisnis. Semua memakai alasan yang sama: jadwal penuh.

Mahesa tidak meminta jadwal.

Ia hanya mengirim bunga.

Dan entah bagaimana, ia selalu memilih waktu ketika ruangan Arunika sedang paling tegang.

Kali itu, Semesta sedang menghadapi masalah kecil yang bisa menjadi besar. Sebuah izin teknis untuk proyek gudang Jakarta Utara tertahan karena konsultan lama menghilang membawa dokumen pendukung. Jika dokumen itu tidak ditemukan sebelum Jumat sore, tender ulang yang baru dibuka bisa mundur sepekan.

Arunika memandangi papan kerja dengan alis berkerut.

"Konsultan terakhir siapa?"

"Lintas Garda," jawab Tari. "Direkturnya sulit dihubungi sejak audit Cakra Mandiri dimulai."

"Cari alamat operasionalnya."

"Alamat yang terdaftar kosong."

Arunika menahan napas. Ia tidak suka kebetulan. Terutama kebetulan yang selalu berbau vendor lama.

Saat itulah resepsionis mengetuk pintu.

"Bu, ada kiriman bunga lagi."

Tari hampir berkata bahwa waktunya tidak tepat. Arunika mengangkat tangan.

"Masuk."

Kali ini bukan vas besar. Hanya rangkaian kecil bunga kenanga dan melati putih, wangi lembut, diletakkan dalam kotak datar. Di atasnya ada kartu hitam.

Arunika hampir tidak membukanya.

Hampir.

Namun ada sesuatu di balik kartu itu. Bukan hanya kalimat.

Ia mengambilnya.

Di bagian depan tertulis:

Hari keempat: jangan biarkan orang lama memegang kunci baru.

Di balik kartu, ada baris alamat pendek dan satu nama.

Gudang arsip lama Lintas Garda, Cilincing. Tanyakan Pak Rauf.

Tari membaca dari samping dan langsung menegang.

"Bu..."

Arunika menatap kartu itu lama.

Bunga hari ini tidak lagi lucu.

Mahesa tidak hanya mengejar.

Ia sedang menjawab masalah yang belum sempat Arunika ceritakan kepada siapa pun.

1
Jetva
Hmmm....kenapa semua jd bisu Thooor...😔😔...
Jetva
Keluarga Notonegoro ga pux empedu...👹..benar" iblis...
Jetva
Notonegoro benar" ga tau malu...
Jetva
KELUARGA NOTONEGORO SAKIT JIWA...SDH CERAI BERARTI TINGGAL TANGGUNGJAWAB NAFKAH ..BUKAN MENGATUR KEHIDUPAN ANAK YG BAHKAN BARU BERUPA JANIN🤣🤣🤣SUNGGUH LUCU KELUARGA INI🤣🤣🤣APA KABAR RENATA YG LAGI BUNTING...🤔🤔🤔
Ervin Bata
jangan terlalu berputar-putar 🙏
Nany Susilowati
emang di ballroom kelihatan panggungnya../Shame/
Fauziah
terlambat menyesalkan
awesome moment
yaaccchhhh...hamidun dwh
awesome moment
notonegoro yg songong
awesome moment
udh jelas skrg. notonegoro tua tau prawira punya anak perempuan. tp g tau bhw tu nika. damar married sm nika yg diqra anak ART prawira. g pake nama blakang c. krn nikah kabur, nikah pake wali hakim. bintinya ttp prawira tp kn prawira buanyak. nama nika g bawa p pun. lari dri rumah. jd lengkip keoonan notonegoro
Noneng Gula: ohh gitu tohh
total 1 replies
awesome moment
rada g konsisten sm judulnya. anggap j bhw damar mengira nika adalah anak pembokat kelg prawira. jd dia hnya nunggu di luar rumah, nika g pake nama belakangnya, nikah tanpa restu tanpa nama kelg jd notonegoro anggap sbg asal usul g jelas. tp...jwaban bram jd g masuk akal. notonegoro tau asal nika tp msh merendahkan nika. jd makin mlencemg dri judul dunk
awesome moment
damar lupa ato brusaha lupa bhw nika anak konglomerat. tp...bisa jd krn nika milih damar jd damar ngerasa nika udh dibuang.
awesome moment
balik ke jakarta lg😄😄😄
awesome moment
😄😄😄laki2 sll syuka perempuan yg lemah dan lembut pdhl...manipulatif
awesome moment
mulai nyesel g n
awesome moment
nika pelampiasan nepsong damar g n,
awesome moment
perempuan mmg kdg jd oon krn cinta
mommy
terlalu dibuat dramatisir
Han Han
vany kalis hukum😂😂😂
Han Han
sibuk proses hukum tapi tiada yg dihukum😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!