NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - KALAU BAGUS, TIDAK AKAN KULEPASKAN

"Ayah, apa kau mengira putrimu ini tega melihat adiknya kehilangan cinta?" Kirana menatap Bawono dengan tenang, menahan gelombang perasaan yang berkecamuk di dadanya. Kalimat itu ia siapkan sejak tadi malam, setelah memikirkan kata demi kata agar tidak ada yang bisa memutarbalikkannya.

Bawono terdiam. Ia tidak menyangka putrinya akan menjawab sehalus itu; selama ini ia membayangkan Kirana akan menangis atau marah, tetapi yang ia lihat justru ketenangan yang aneh. Tangan yang tadinya menggenggam erat kini terulur, tidak tahu harus mengarah ke mana.

Kirana menunduk sebentar, lalu melanjutkan bicara dengan suara yang bergetar halus, seolah menahan sebentuk kesedihan yang dalam: "Ayah, kau benar-benar tidak bisa menyalahkanku dalam hal ini. Sekar dan Danendra saling mencintai, dan aku hanya mencari orang untuk dinikahi demi mewujudkan mereka! Sayangnya orang lain tidak mengerti perjuanganku. Sudahlah — bagaimana kau bisa salah paham begini? Sekar sangat menyedihkan, aku hanya berharap ia bisa bersama orang yang dicintainya, apa salahnya itu? Meskipun aku merasa malu, aku tidak tega membiarkan Sekar kehilangan cintanya."

Bawono tertegun di tempat. Semua kalimat protes yang sudah ia susun sepanjang jalan tiba-tiba kehilangan arah.

Ki Ageng melirik cucunya dengan tenang, sorot matanya penuh makna yang sulit diterka. Dari kejauhan, sang kakek seolah menjadi penonton yang hanya mengamati, membiarkan drama itu berjalan sesuai kehendaknya.

Butuh waktu lama bagi Bawono untuk menenangkan diri. Ia akhirnya bertanya: "Benarkah?"

Kirana segera mengangguk: "Tentu saja! Sekar sudah lama menyukai Danendra. Tetapi karena aku yang bertunangan dengan Danendra, ia selalu memendam perasaannya itu di dalam hati. Ketika Sekar dalam bahaya, Danendra mengabaikan bahaya demi menyelamatkannya tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri — bukankah itu cinta sejati? Aku tersentuh oleh mereka, jadi aku ingin mewujudkannya!" Kirana mengatakannya dengan mantap, tanpa sedikit pun keraguan di matanya.

Bawono lama terdiam, seakan terserap ke dalam kata-kata putrinya: "Jadi, mereka berdua benar-benar saling mencintai?" Pertanyaan itu keluar dengan setengah percaya, setengah ragu.

"Ya. Biarkan Sekar menikah dengan Danendra. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui — Sekar menikah dengan cinta, dan hubungan kedua keluarga kita tetap terjaga. Sedangkan aku, tidak apa-apa menanggung perasaan dirugikan. Bagaimanapun, Sekar adalah adikku." Ia sengaja memilih kata-kata itu dengan hati-hati, agar tidak ada yang bisa menuduhnya menahan adiknya bahagia.

Bawono menatap sorot haru di mata putrinya, dan tiba-tiba merasa bahwa selama ini ia telah salah menyalahkan Kirana. Perasaan bersalah menyeruak begitu cepat, mengalahkan segala keraguan yang tadi membuncah.

"Rara, maafkan Ayah! Ayah salah menuduhmu selama ini! Ayah akan pergi ke keluarga Prasaja sekarang untuk membicarakan hal ini." Ucapan itu keluar dengan nada yang lebih lunak daripada biasanya, seolah seluruh kekerasan hatinya telah runtuh.

Kirana mengangguk dengan mata memerah: "Pergilah, Ayah. Jangan sampai ini memengaruhi usaha keluarga kita. Dan Sekar mungkin masih malu — ia tidak ingin aku berkorban untuknya. Jadi lebih baik Ayah langsung memutuskan pernikahan keduanya, lalu memberitahukannya. Ia pasti akan menangis bahagia." Mata memerah itu bukan karena ia tak kuasa menahan pilu, melainkan karena ia harus tampak meyakinkan di hadapan ayahnya sendiri.

"Baik," jawab Bawono, dan tanpa menunggu lebih lama lagi ia berbalik.

Bawono bergegas pergi, langkahnya tampak jauh lebih ringan daripada saat ia datang. Dari balik jendela, Kirana memperhatikan bayangan ayahnya sampai hilang di ujung jalan.

Kirana dengan tenang menyeka air mata yang menggenang di ujung matanya. Air mata itu memang bukan pura-pura — hanya saja, ia tidak menangis untuk Danendra, melainkan untuk kelegaan yang baru saja ia raih.

Sudut bibir Ki Ageng terangkat, menggoda: "Rara, apa kau benar-benar rela melepasnya begitu saja?" Nada itu terdengar ringan, tetapi matanya menyimpan rasa ingin tahu yang sesungguhnya.

Kirana menjawab: "Kalau barangnya benar-benar bagus, tentu tidak akan kulepaskan. Tetapi ini cuma pria yang tidak bertanggung jawab — buang pun tidak sayang. Namun, sulit untuk memastikan apakah Danendra benar-benar akan menikahi Sekar. Keluarga Prasaja akhirnya mendapat kesempatan seperti ini, mungkin mereka tidak akan menyerah begitu saja. Kita masih perlu menyiapkan dua rencana." Kata-kata Kirana terdengar begitu tegas, seolah ia sedang menyusun strategi dalam sebuah permainan, bukan membicarakan perjodohan adiknya.

"Baik. Kalau begitu, kau segera hubungi petinggi itu."

"……Baik."

Setelah kembali ke kamarnya, Kirana mengatupkan kedua tangan dan berdoa: "Semoga aku hanya terlalu banyak berpikir. Semoga petinggi besar itu tidak ada hubungannya dengan Rangga!"

Kunang tidak mengerti: "Nyonya, kalau memang ada hubungannya, bukankah akan lebih mudah bagi Nyonya untuk meminta bantuan pihak lain?" Roh kecil itu memiringkan kepalanya, benar-benar tidak memahami kerumitan hati manusia.

Kirana menghela napas: "Tapi aku sendiri belum tahu, apakah aku ini musuh atau teman di mata Rangga." Ia menatap lampu gelang yang berkedip redup, seolah menunggu jawaban dari keheningan.

Kunang: "Musuh atau teman? Bukankah Nyonya adalah istrinya?" Kunang bertanya dengan nada polos yang justru membuat Kirana tidak bisa menjawab.

Kirana kehabisan kata-kata: "Aku tidak bisa menjelaskan hal ini kepadamu, roh kecil yang masih lajang. Sudahlah, malam masih muda. Kita masih harus menyelesaikan masalah sayur-mayur kita dulu." Ia mengibaskan tangan, memilih menyerah daripada berdebat dengan roh pendamping yang polos itu.

Kirana berpikir keras, menyusun langkah demi langkah di kepalanya. "Kalau kita menunggu keluarga Prasaja bertindak lebih dulu, kita akan kalah pasif!"

Lalu Kirana menyambungkan cara menghubungi yang diberikan Ki Ageng. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk gelang itu, ragu sejenak sebelum akhirnya menekan denyut gema yang pertama.

Di seberang sana, Rangga yang tengah memimpin rapat melirik dingin ke sekeliling ruangan. Bau tinta dan peta provinsi yang terbentang di atas meja menyesaki ruangan, tetapi tidak ada yang berani berbicara sebelum Panglima memberi aba-aba.

"Serangan mendadak ini membuktikan ada masalah di dalam sembilan provinsi kita. Kalian masing-masing memegang satu provinsi dan lakukan penyaringan ketat. Mata-mata pasti masih ada di antara kita! Kalau tidak ditemukan, tidak ada satu pun dari kalian yang boleh beristirahat!" Suaranya memotong udara seperti pisau, membuat setiap petinggi di ruangan itu menegakkan punggung.

"Siap!" Semua petinggi di ruangan itu mengangguk dengan serius. Pihak lain benar-benar telah mengulurkan tangan sampai ke jantung wilayah sembilan provinsi — kalau tidak dibersihkan, semua orang akan sulit tidur dan makan di kemudian hari! Tidak seorang pun berani melirik ke kiri atau ke kanan, karena mereka semua tahu betul apa artinya murka Panglima Kabut.

Namun pada saat itu, Gelang Lentera Rangga tiba-tiba berbunyi, memotong keheningan yang baru saja terbentuk. Ia mengerutkan kening halus, raut wajahnya memperlihatkan ketidaksenangan yang samar namun jelas bagi semua orang di ruangan itu.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!