NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Penipuan Tabrak Lari dan Penjahat Kecil

Tiga hari setelah apel penghargaan, Adira mengirim pesan singkat.

Makan malam. Warung Seafood Cak Har, jam delapan. Jangan bawa berkas.

Arka membaca pesan itu dua kali.

Lalu membalas.

Kalau tidak bawa berkas, saya boleh bawa catatan evaluasi?

Balasan datang cepat.

Tidak.

Itu terdengar seperti perintah resmi.

Jam delapan lewat sedikit, Arka duduk di warung seafood dekat pasar malam kecil di Surabaya. Meja plastik. Es teh. Ikan bakar. Kerang saus pedas. Adira duduk di depannya dengan jaket sederhana, tanpa seragam.

Tidak ada suasana romantis.

Yang ada hanya dua orang yang terlalu sering melihat berkas kematian dan akhirnya makan malam seperti manusia biasa.

Adira menusuk cumi dengan garpu. "Dok, saya tanya sekali. Di kasus Rungkut, kapan pertama kali kamu yakin cold storage menyimpan korban lain?"

Arka berhenti mengambil nasi.

"Saat residu tidak konsisten."

"Itu jawaban laporan. Saya tanya jawaban jujur."

"Jawaban jujur juga itu."

Adira menatapnya.

Arka meneguk es teh. "Bu Iptu bilang jangan bawa berkas. Pertanyaannya malah seperti BAP."

"Saya sedang makan. BAP nanti saja."

"Nada Bu Iptu tidak ikut makan."

Adira hampir tersenyum, lalu menahan. "Kamu pandai menghindar."

"Saya belajar dari tersangka."

Sebelum Adira membalas, suara ribut pecah di sisi jalan.

"Kaki saya patah! Kamu mau lari?"

Seorang pria paruh baya duduk di aspal sambil memegangi kaki kanan. Di dekatnya, seorang pengantar makanan muda berdiri pucat dengan motor yang masih menyala.

Kerumunan langsung terbentuk.

"Dia nabrak saya!" teriak pria itu. "Saya tidak bisa jalan! Ganti rugi lima puluh juta!"

Pengantar makanan itu gemetar. "Pak, saya pelan. Bapak tiba-tiba jatuh ke depan motor. Saya tidak nabrak keras."

"Bohong! Lihat kaki saya!"

Adira meletakkan garpu.

Arka sudah berdiri.

"Jangan pakai cara ekstrem," kata Adira pelan.

"Saya hanya lihat."

"Itu yang saya maksud."

Mereka mendekat.

Pria itu berguling sedikit, suaranya makin keras saat melihat Adira. "Bu, tolong! Saya ditabrak. Anak ini mau kabur."

Adira menunjukkan kartu polisi. "Tenang. Saya polisi."

Wajah pria itu berubah setengah detik, lalu kembali memelas. "Bagus, Bu. Tolong proses. Dia harus tanggung jawab."

Arka berjongkok di sisi kaki kanan pria itu.

"Saya dokter dari RSUD dr. Soetomo. Boleh saya cek?"

Pria itu langsung menarik kakinya. "Jangan! Sakit!"

Panel kuning muncul di atas lututnya.

[Tibia kanan: tidak fraktur]

[Tidak ada retak akut]

[Cedera lama: degenerasi meniskus lutut kanan]

[Respons nyeri: tidak konsisten]

Arka mengangkat alis tipis.

Pria itu salah memilih lawan.

"Pak," kata Arka. "Kalau tulang kering patah, biasanya pembengkakan dan deformitasnya jelas. Posisi kaki Bapak terlalu bebas."

"Saya sakit!"

"Sakitnya di mana?"

"Semua!"

Arka menunjuk lutut. "Lutut kanan lama bermasalah, ya? Bukan dari tabrakan barusan."

Pria itu membeku.

Kerumunan mulai berbisik.

Adira menatap Arka. "Dok?"

Arka tidak menyebut sistem. Ia hanya menyentuh area sekitar tibia tanpa menekan keras. "Tidak ada tanda fraktur tibia akut. Tidak ada posisi abnormal. Reaksi nyeri tidak sesuai. Saya sarankan dibawa ke IGD untuk foto rontgen. Kalau tidak patah, laporan pemerasan bisa berjalan."

Pengantar makanan itu hampir menangis. "Saya benar-benar tidak nabrak keras, Bu. Saya punya kamera helm."

Adira langsung berkata, "Tunjukkan."

Pria di aspal tiba-tiba mencoba berdiri.

Bambang tidak ada di sana.

Tetapi Adira cukup.

Ia menangkap pergelangan pria itu sebelum sempat lari. "Katanya kaki patah. Mau ke mana?"

Dari kerumunan, dua orang pria lain bergerak menjauh.

Arka melihat mereka.

Label kuning muncul di wajah satu orang.

[Cemas]

[Koordinasi dengan pelaku]

Yang kedua menatap pengantar makanan, lalu memberi isyarat kecil ke warung sebelah.

Adira melihat arah mata Arka. "Ada lagi?"

"Lima orang kemungkinan satu kelompok. Satu pura-pura korban, dua jadi saksi palsu, satu merekam, satu bawa motor untuk kabur."

"Dasar?"

"Mereka tidak melihat korban. Mereka melihat dompet pengantar makanan."

Adira tersenyum tipis.

"Cukup."

Ia bergerak cepat.

Pria pertama diborgol dengan bantuan satpam pasar. Dua saksi palsu mencoba kabur ke gang kecil. Adira mengejar yang paling dekat, memotong jalur, lalu satu tendangan samping membuat pria itu jatuh ke dekat gerobak es.

Dimas, yang ternyata sedang membeli minuman di sisi pasar, muncul seperti dipanggil nasib.

"Bu Adira? Mas Arka? Kenapa setiap saya beli es, selalu ada tersangka?"

"Tangkap yang pakai jaket hijau!" perintah Adira.

"Siap!"

Dimas berlari.

Pengantar makanan membuka rekaman kamera helm. Dalam video, pria itu jelas melangkah sendiri ke depan motor lalu menjatuhkan badan sebelum roda menyentuh keras.

Arka menunjuk frame. "Di sini. Kontak pertama bukan benturan keras. Dia sudah menekuk lutut sebelum motor menyentuh."

Adira mengambil ponsel. "Barang bukti digital. Simpan. Jangan hapus."

Dalam dua puluh menit, lima orang terkumpul di pos kecil pasar.

Satu pura-pura korban.

Dua saksi palsu.

Satu perekam video untuk menekan korban.

Satu pengawas yang membawa motor.

Dari ponsel mereka, Adira menemukan percakapan tentang beberapa sasaran sebelumnya. Total uang yang pernah mereka ambil sekitar Rp 120.000.000.

Pengantar makanan itu menunduk ke arah Arka. "Terima kasih, Dok. Kalau saya harus bayar lima puluh juta, motor saya pasti dijual."

"Lain kali kamera helm tetap nyala," kata Arka.

"Siap, Dok. Nama Dokter boleh saya tulis? Saya mau buat posting supaya orang tahu modus ini."

Arka hendak menolak.

Adira lebih dulu berkata, "Tulis fakta. Jangan melebih-lebihkan."

Dimas menyeringai. "Tulis saja: dokter forensik membongkar kaki palsu kurang dari satu menit."

"Itu berlebihan," kata Arka.

"Tapi enak dibaca."

Adira menatap Dimas.

Dimas langsung menutup mulut.

Di Polrestabes, lima orang itu diproses sebagai tangkap tangan. Pengantar makanan membuat laporan. Rekaman kamera helm, ponsel pelaku, dan keterangan saksi diamankan.

Menjelang tengah malam, Arka duduk di bangku koridor, akhirnya meminum es teh yang sudah tidak dingin.

Adira duduk di sebelahnya. "Kamu sadar? Bahkan makan malam tanpa berkas pun bisa berubah jadi perkara."

"Berarti saya sebaiknya bawa berkas lain kali. Untuk menyeimbangkan nasib."

"Jangan."

Ponsel Arka berbunyi.

Unggahan pengantar makanan sudah naik di TikTok dan Instagram. Wajah Arka tidak terlalu jelas, tetapi namanya tertulis di keterangan.

Dok Arka dari IKF bantu bongkar sindikat tabrak lari palsu. Terima kasih sudah menyelamatkan saya.

Komentar mulai masuk.

Dokter forensik kok bisa tahu kaki tidak patah?

Ini dokter yang kasus mutilasi itu?

Polisi Surabaya keren juga.

Arka mematikan layar.

"Tidak senang terkenal?" tanya Adira.

"Terkenal membuat orang mencari kesalahan."

Adira meliriknya. "Itu kalimat siapa?"

"Dokter Suherman."

"Untuk sekali ini, dia benar."

Arka berdiri. "Saya pulang. Besok mulai persiapan evaluasi."

"Takut?"

"Tidak."

"Yakin?"

Arka menatap lorong Polrestabes yang masih menyala.

"Saya lebih takut kalau lolos karena kasihan. Jadi saya harus lolos dengan angka yang membuat orang diam."

Adira tersenyum kecil.

"Itu baru jawaban jujur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!