Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu depan membangunkan Arga dari tidur siangnya yang panjang.
Arga menguap lebar sambil meregangkan otot-otot punggungnya yang kaku karena tidur di lantai ruang tamu.
Dia berjalan malas menuju pintu depan dan membukanya perlahan.
"Eh Mang Udin, tumben mampir ke rumah jelek ini ada apa Mang?"
Mang Udin adalah tukang kayu serabutan di desa yang kebetulan lewat sehabis pulang kerja dari ladang orang.
"Ini Ga, mamang lihat genteng depanmu ada yang merosot, takutnya nanti bocor kalau tiba-tiba hujan malam ini."
Arga menatap Mang Udin lalu sebuah ide cemerlang melintas cepat di kepalanya.
"Kebetulan sekali Mang Udin ke sini, saya kebetulan butuh tenaga mamang sekarang juga."
"Tenaga buat apa Ga, perbaiki genteng itu mah gampang sebentar juga kelar tidak usah bayar mahal."
"Bukan genteng Mang, saya mau minta tolong buatkan pagar seng yang tinggi keliling halaman belakang rumah ini."
Mang Udin mengerutkan keningnya keheranan mendengar permintaan Arga yang tiba-tiba.
"Pagar seng keliling? Halaman belakangmu kan luas banget Ga, butuh banyak biaya buat beli seng dan kayunya lho."
"Uangnya ada Mang, saya baru dapat uang pesangon lumayan besar dari bos di Jakarta."
Arga mengeluarkan dompet kulit imitasi miliknya dan memperlihatkan tumpukan uang merah tebal kepada Mang Udin.
"Bisa dikerjakan mulai besok pagi tidak Mang, saya butuh cepat dan harus selesai dalam satu hari."
Mata Mang Udin langsung berbinar-binar melihat uang tunai dalam jumlah banyak di depan matanya.
"Bisa banget Ga, besok pagi mamang bawa anak buah dua orang dari kampung sebelah biar sehari langsung kelar."
"Bagus, ini uang lima juta untuk beli bahan seng tebal, kayu balok, dan sekalian ongkos kerjanya."
Arga menyerahkan lima puluh lembar uang seratus ribuan ke tangan Mang Udin yang gemetaran karena girang.
"Kalau ada sisa uang kembaliannya buat mamang saja, yang penting pagarnya rapat dan tinggi melebihi tinggi orang dewasa."
Mang Udin mengangguk semangat sambil memasukkan uang merah itu ke dalam saku celananya dengan sangat hati-hati.
"Siap Bos Arga, mamang jamin tidak ada satu pun ayam atau tetangga usil yang bisa ngintip ke dalam kebun belakangmu."
Setelah Mang Udin pergi Arga kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih lega.
Satu masalah soal keamanan kebun rahasianya sudah teratasi dengan baik dengan modal uang pesangon palsunya.
Waktu berjalan begitu cepat dan hari ketiga akhirnya tiba di desa yang masih diselimuti kabut tebal.
Suara ayam jantan berkokok dari kejauhan membangunkan Arga tepat di saat langit masih berwarna gelap kebiruan.
Dia duduk di tepi kasur kapuknya sambil menunggu suara yang paling ditunggunya setiap pagi sejak tiga hari lalu.
Ting.
Suara mekanis yang familier itu berbunyi nyaring di dalam rongga kepalanya mengusir rasa kantuknya.
[Waktu Check-in Harian di pagi hari telah tiba.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in Hari Ketiga? Ya / Tidak]
Arga langsung menunjuk ke udara kosong di depannya tanpa ragu sedikit pun karena dia sudah menantikan hadiah hariannya.
"Ya, lakukan check-in sekarang juga wahai sistemku yang paling baik hati sedunia."
[Check-in Hari Ketiga Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Harian: Keranjang Anyaman Spasial Tingkat A.]
Wush.
Sebuah keranjang bambu berukuran sedang entah dari mana tiba-tiba jatuh ke pangkuan Arga dari udara kosong.
Arga membolak-balikkan keranjang bambu itu yang secara fisik terlihat sangat biasa dan tradisional seperti keranjang belanja ibu-ibu.
"Keranjang spasial? Apa maksudnya ini bisa muat barang banyak seperti kantong ajaib robot kucing di tivi itu?"
[Keranjang Anyaman Spasial: Memiliki ruang dimensi kosong seluas ruangan berukuran 3x3 meter di dalamnya.]
[Benda hidup tidak bisa dimasukkan, dan suhu di dalam keranjang terjaga konstan agar hasil panen Host tetap segar setiap saat.]
"Wow, ini sih gila dan sangat berguna buat bawa panen tomatku ke pasar tanpa ketahuan oleh orang-orang desa."
Arga menenteng keranjang bambu itu dengan semangat yang menggebu-gebu di dalam dadanya.
Dia berjalan cepat menuju halaman belakang rumah yang kini sudah tertutup sangat rapat oleh pagar seng tinggi buatan rombongan Mang Udin kemarin.
Tidak ada lagi celah sedikit pun bagi warga desa untuk mengintip apa yang terjadi di kebun belakang rumah Mbah Darmo tersebut.
Arga berhenti melangkah dan mematung di depan petak tanahnya dengan mulut yang sedikit terbuka karena takjub.
Sepuluh pohon tomat mutasinya kini sudah tumbuh setinggi dada orang dewasa dan daunnya lebat menyebar ke segala arah.
Batangnya sangat kokoh menopang puluhan buah tomat yang bergelantungan lebat di setiap dahan.
Bentuk buah tomat itu tidak bulat berair seperti biasa melainkan sedikit lonjong padat menyerupai bongkahan permata merah.
Kulitnya sangat bening dan memancarkan pendar cahaya merah yang lembut di tengah kegelapan pagi yang masih menyelimuti.
Aroma manis yang sangat menyegarkan menguar dari buah-buah tersebut memenuhi udara di seluruh area kebun belakang.
"Sinting, bentuk buahnya benar-benar seperti kristal merah yang sering kulihat di game online saat aku bolos kerja dulu."