Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Kesombongan Sang Grandmaster
Gedung turnamen di Jakarta lebih mirip studio televisi daripada arena permainan papan.
Spanduk besar menggantung di pintu masuk. Wajah Hendra Kusuma dicetak paling besar, diapit sponsor teknologi dan logo komunitas strategi. Di bawahnya ada kalimat: Sang Raja Kembali Menjaga Takhta. Rizky melihat spanduk itu dan langsung berbisik, "Kalau dia kalah, desain grafis ini akan menjadi barang bukti."
Putri menyikutnya pelan. "Jangan keras-keras."
"Aku bicara demi sejarah."
Arya membaca daftar meja tanpa menoleh ke spanduk lagi. Ia lebih tertarik pada susunan peserta. Panitia menempatkan Hendra sebagai unggulan pertama, beberapa master daerah di bawahnya, lalu peserta undangan khusus. Nama Arya berada hampir di bawah, dengan label siswa viral. Panitia bahkan tidak memberinya label pemain atau analis.
"Mereka mengundangmu sebagai bahan tontonan," kata Putri.
"Bagus. Orang yang mengira panggung hanya tontonan biasanya lupa memasang pertahanan."
Pak Surya sedang mengambil kartu peserta ketika kerumunan kecil terbentuk di dekat pintu utama. Hendra Kusuma masuk dengan setelan gelap, ditemani dua asisten dan satu kamera dokumenter. Ia tersenyum kepada penggemar, memberi tanda tangan, lalu menjawab pertanyaan wartawan dengan suara halus.
"Turnamen terbuka selalu menarik," kata Hendra. "Anak-anak muda perlu diberi kesempatan merasakan tekanan papan sesungguhnya. Dari sana mereka belajar bahwa logika saja tidak cukup."
Wartawan menunjuk Arya. "Pak Hendra, ada peserta muda yang sedang viral karena kompetisi pengetahuan. Komentar Bapak?"
Hendra mengikuti arah tangan itu. Matanya berhenti pada Arya, lalu turun ke kartu peserta. Senyumnya tetap ada, tetapi ukurannya berubah.
"Saya senang generasi muda tertarik. Namun permainan papan tidak sama dengan menjawab soal di studio. Di sini, lawan tidak memberi tahu bidang pertanyaan. Papan menghukum kesombongan."
Beberapa orang tertawa. Kamera menangkap wajah Arya.
Rizky menahan napas. Pak Surya memejamkan mata. Putri menatap Arya, siap menariknya jika perlu. Arya hanya berkata, cukup keras untuk didengar wartawan terdekat, "Papan juga menghukum kebiasaan buruk."
Tawa berhenti.
Hendra mengangkat alis. "Kamu Arya Wijaya?"
"Iya."
"Saya menonton sedikit videomu. Cepat, percaya diri. Dua hal yang bagus untuk panggung, belum tentu cukup untuk papan."
"Saya menonton tiga pertandingan Bapak. Tenang, berpengalaman. Dua hal yang bagus untuk intimidasi, belum tentu cukup untuk posisi."
Rizky menutup wajah dengan kartu peserta. "Sudah dimulai. Belum babak pertama, tapi perang sudah dimulai."
Wartawan langsung mendekat. Hendra tertawa pendek, kali ini tidak sehalus sebelumnya. "Anak muda memang harus punya keberanian. Semoga setelah turnamen kamu masih menyukainya."
"Saya lebih suka belajar dari posisi sulit daripada dari pujian mudah."
Hendra pergi dengan senyum yang sedikit lebih kaku. Asistennya menatap Arya seperti ingin menghafal wajah musuh kecil. Kamera mengejar Hendra, tetapi beberapa wartawan tetap merekam Arya.
Rafi muncul dari sisi aula, memakai tanda panitia pendamping khusus. "Kamu baru sampai dan sudah membuat kutipan nasional."
Arya menjawab, "Dia memulai dengan papan menghukum kesombongan. Saya hanya melengkapi materi."
"Maya akan sakit kepala."
"Itu risiko pekerjaannya."
Pak Surya mendekat dengan suara rendah. "Arya, ingat, kita tidak datang untuk membuat musuh tambahan."
"Saya tidak membuat. Saya mengidentifikasi."
"Kadang dua hal itu terlihat sama di kamera."
Arya akhirnya mengangguk. Ia tidak menyesal, hanya memahami hukum tambahan panggung nasional: kebenaran yang salah tempo bisa menjadi masalah baru.
Babak teknis dimulai. Panitia menjelaskan format: fase Swiss lima ronde, delapan besar masuk gugur, semifinal dan final disiarkan langsung. Batas waktu ketat di fase awal. Pemain yang terlambat dua menit kehilangan hak jalan pertama. Protes hanya diterima melalui wasit meja. Tidak boleh ada alat elektronik.
Arya menyerahkan ponselnya. Rizky tampak lebih sedih daripada pemilik ponsel. "Aku merasa kita menyerahkan anggota keluarga."
Putri berkata, "Itu ponsel Arya. Isinya mungkin hanya catatan ancaman dan rumus."
"Justru itu anggota keluarga yang menarik."
Lawannya di ronde pertama adalah mahasiswa bernama Dwi Prakoso, juara kampus yang jelas tidak senang mendapat anak SMA di meja awal. Dwi duduk, melihat Arya, lalu berkata, "Kamu tahu aturan renju atau cuma tahu viral?"
Arya menata batu hitam. "Turnamen ini gomoku bebas dengan larangan double-three untuk hitam sesuai aturan panitia. Renju murni tidak dipakai. Mas sebaiknya membaca buku panduan sebelum meremehkan lawan."
Wasit meja batuk kecil. Dwi memerah.
Di meja sebelah, Hendra tidak bermain di ronde pertama karena mendapat bye unggulan. Ia berdiri jauh, menonton sebentar dengan senyum ringan. Baginya, anak muda yang berani bicara biasanya patah oleh dua hal: waktu dan tekanan. Ia ingin melihat mana yang mematahkan Arya lebih dulu.
Bel ronde berbunyi.
Arya meletakkan batu pertama di tengah papan.
Dwi membalas cepat. Terlalu cepat. Arya melihat garis kelemahan terbuka sejak langkah kedua. Ia hampir kecewa, tetapi tidak menunjukkannya.
Sebelum ronde, ruang tunggu peserta dipenuhi bisik-bisik. Beberapa pemain senior menganggap Arya hanya undangan rating. Beberapa yang menonton video kompetisi pengetahuan lebih hati-hati. Seorang pemain muda bahkan meminta foto, lalu langsung dimarahi pelatihnya karena dianggap mengganggu konsentrasi.
Arya tidak memperhatikan. Ia meneliti papan resmi: kualitas garis, ukuran batu, pantulan lampu, jarak kursi, dan posisi kamera. Papan yang terlalu mengilap bisa membuat pemain salah membaca diagonal jauh. Lampu dari kanan membuat bayangan batu putih sedikit melebar. Semua detail itu kecil, tetapi dalam permainan dengan ancaman satu titik, kecil sering menjadi pintu.
Putri melihat catatannya. "Kamu bahkan menilai lampu?"
"Kalau kalah karena bayangan batu, itu bukan kalah strategi. Itu kalah kebodohan teknis."
Rafi yang mendengar dari belakang mengirim pesan kepada Maya: subjek memeriksa lingkungan kompetisi seperti operasi risiko, melebihi kebutuhan pertandingan biasa.
Balasan Maya singkat: bagus. Atau berbahaya. Bedanya tergantung siapa yang berdiri di seberangnya.
Sebelum duduk, Dwi mencoba memancing lagi. "Kalau kalah cepat, jangan bilang papan nasional terlalu mudah."
Arya menatapnya sebentar. "Kalau saya kalah, saya akan mencari alasan di posisi. Kalau Mas kalah, coba lakukan hal yang sama. Itu lebih sehat daripada mencari alasan di usia lawan."
Beberapa peserta yang mendengar langsung menahan tawa. Dwi menggigit bibir. Hendra dari jauh melihat pertukaran itu dan sadar satu hal: Arya tidak bisa ditekan dengan senioritas. Anak itu hanya merespons isi kalimat. Bagi Hendra, itu mengganggu. Permainan psikologisnya selalu dimulai dari membuat lawan sadar siapa yang lebih besar. Arya tampak tidak peduli ukuran nama.
Wasit meja yang mencatat pertandingan pertama juga mulai lebih serius. Ia mengganti lembar skor baru dan memastikan kamera atas aktif. Tidak ada lagi yang memperlakukan meja Arya sebagai sudut hiburan.
Sepuluh langkah kemudian, Dwi mulai berkeringat.
Wasit meja menunduk lebih dekat ke lembar skor. Ia semula menyiapkan kolom catatan pendek, cukup untuk pertandingan pembuka yang biasanya selesai hambar. Kini ia menulis tiap langkah dengan hati-hati karena partai itu mulai terasa seperti bukti resmi bahwa undangan Arya layak dipertanyakan ulang oleh semua orang yang meremehkannya.