Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Motivasi Teman
Dhita terdiam cukup lama setelah sambungan telepon gelap itu terputus. Ponselnya masih tergenggam erat di tangan, layar sudah menghitam, tapi kata-kata dari seberang sana seperti masih bergema di kepalanya. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada beban tak kasatmata yang menekan dari dalam. Pandangannya kosong, menatap satu titik tanpa benar-benar melihat apa pun.
Beberapa detik berlalu. Atau mungkin menit. Dhita sendiri tak yakin., tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Suaranya memecah keheningan yang menyesakkan. Sekali. Dua kali. Terus berdering.
Dhita menghela napas panjang. Dia tak langsung menoleh, apalagi berniat menjawab. Ada keengganan yang kuat, rasa takut akan percakapan berikutnya, siapa pun orang di ujung sana. Dia membiarkan panggilan itu berdering, jemarinya gemetar di atas layar.
Namun dering itu tak kunjung berhenti.
Akhirnya, dengan gerakan pelan, Dhita menurunkan pandangannya ke layar ponsel. Matanya menyipit, berusaha fokus. Di sana tertera satu nama yang begitu dikenalnya.
Mbak Mira.
Tanpa berpikir lebih lama, Dhita menelan ludah, lalu menggeser layar itu.
'Assalamu'alaikum, Mbak…” Suaranya terdengar pelan saat dia mengangkat telepon, masih dengan sisa getar yang belum sepenuhnya hilang.
"Dhiiiit, pa kabar. Hebatlah sudah jadi pengusaha catering."
" Alhamdulillah kabar baik Mbak. Kabar Mbak juga gimana? Baik kan?' Dhita balik bertanya.
"Alhamdulillah baik. O ya Dhita, aku bawa teman-teman kantor bentar lagi ke sana, siapin menu yang istimewa ya!"
"Masya Allah, boleh banget Mbak." Dhita antusias menjawab.
Mata Dhita langsung berbinar. Rasa sesak di dadanya perlahan tergantikan oleh semangat yang hangat. “Masya Allah, boleh banget, Mbak,” jawabnya antusias. “Tenang aja, nanti Dhita siapin yang terbaik.”
Setelah panggilan ditutup, Dhita menatap ponselnya sejenak. Kali ini, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan senyum tipis dan langkah cepat menuju dapur—seolah panggilan itu menjadi penanda bahwa hidup harus terus berjalan.
Sekitar empat puluh lima menit sejak panggilan Mbak Mira berakhir, sebuah mini bus perlahan masuk ke area parkir Dhita Catering. Dhita yang sejak tadi mondar-mandir di dapur langsung menoleh begitu suara mesin terdengar mendekat.
Benar saja. Pintu mini bus terbuka, dan satu per satu penumpangnya turun. Ternyata mereka adalah teman-teman Mbak Mira. Jumlahnya tujuh orang. Dhita tersenyum lega—dan sedikit terkejut—karena tiga di antaranya bukan wajah asing. Dia mengenal mereka dengan cukup baik.
Ingatan Dhita melayang ke masa lalu, saat dia masih PPL. Ketiga orang itu sudah lebih dulu bekerja di sana, menjadi senior yang sering membantunya beradaptasi. Melihat mereka berdiri di depan tempat usahanya sekarang, ada rasa bangga yang diam-diam menghangatkan dada Dhita.
Dia melangkah keluar menyambut mereka, senyumnya mengembang, rasa gugup perlahan berubah menjadi kepercayaan diri. Hari itu, Dhita merasa usahanya benar-benar sedang diuji—dan dia siap memberikan yang terbaik.
"Dhitaaaa, hebat kau, sudah sukses sekarang,” Seru salah satu dari mereka dengan nada kagum.
Dhita terkekeh pelan. “Ah bisa aja, Mbak. Masih merintis ini.” Jawabnya merendah sambil menyalami mereka satu per satu. Tangannya bergerak luwes, senyumnya tulus, berusaha menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba muncul.
"Dhit, keluarin menu makan favoritnya ya!” Pinta Mbak Mira sambil tersenyum.
"Boleh.” Jawab Dhita sigap. Dia mengambil buku menu, lalu mulai menjelaskan satu per satu dengan detail—dari bahan, cara pengolahan, sampai menu andalan yang paling sering dipesan pelanggan. Sesekali dia menimpali dengan rekomendasi, membuat suasana jadi akrab dan cair.
Setelah semua teman Mbak Mira menyebutkan pesanan mereka dan mencatatnya dengan rapi, Dhita menutup buku menu. Tanpa menunda, dia langsung melangkah menuju dapur. Di sana, dengan nada tegas namun tenang, dia menyerahkan daftar pesanan kepada bagian juru masak, memastikan setiap detail tersampaikan dengan jelas.
Tak lama kemudian, menu makanan sudah siap dan terhidang rapi di atas meja. Aroma masakan memenuhi ruangan, menggugah selera. Mereka mulai makan sambil sesekali tertawa, obrolan pun mengalir ke kenangan lama—masa-masa kerja dulu yang penuh cerita.
"Dhita, tahu nggak,” tiba-tiba Virna membuka pembicaraan dengan nada serius tapi jujur, “aku dulu iri banget sama kamu. Anak baru, tapi bisa langsung bikin Mas Reza bertekuk lutut. Kamu pasti nggak nyangka, selama seminggu aku nangis. Aku cinta banget lho sama mantan suamimu itu.”
Dhita berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. "Sekarang sih Alhamdulillah ya, Vir, suamimu sekarang jauh lebih baik dari Mas Reza.”
"Iya bener, Alhamdulillah banget."
"Iya juga,” sahut yang lain. “Reza dulu emang favorit banget. Kirain sifat playboy-nya bakal sembuh setelah nikah sama Tyas Ambardhita yang cantik. Eh, ternyata nggak juga.”
Dhita hanya tersenyum mendengar celetukan-celetukan itu. Dia memilih menikmati makanannya, membiarkan masa lalu tetap tinggal sebagai cerita.
"Tapi Dhita,” Mbak Tania yang biasanya pendiam ikut nimbrung, “suamimu itu buta kali ya. Istri dia yang sekarang biasa aja lho. Jauhlah kalau dibanding kamu.”
Dhita terkekeh kecil. “Ya namanya juga setan, Mbak. Kelihatan lebih wow di mata orang yang lagi kasmaran.”
"Dhit, buktiin kalau kamu bisa lebih keren dari istri Reza yang sekarang.” Sahut Mbak Anita penuh semangat.
"Iya, semoga kamu makin sukses,” Timpal Mbak Mira lagi.
Dhita tersenyum lebar, hatinya terasa hangat. "Duh, makasih ya, Mbak. Semua dukungannya,” Ucapnya tulus.
Di antara tawa dan nostalgia, Dhita sadar—dia sudah benar-benar melangkah jauh. Bukan untuk mengalahkan siapa pun, tapi untuk memenangkan dirinya sendiri.
***
Di tempat lain, Tari yang baru saja menyelesaikan perjalanan bulan madunya kembali menginjakkan kaki di kantor. Namun kali ini, bukan tumpukan pekerjaan yang dia tuju, melainkan ruang HRD—tempat dia akan menyerahkan surat pengunduran diri.
Begitu dia muncul di area kerja, beberapa rekan langsung menyadari keberadaannya.
"Wah, kamu keren Tar.” Seru Riris sambil mendekat. “Baru merit langsung resign.”
Tari tersenyum tipis. “Iya, soalnya ibu mertua minta aku dampingi Mas Reza buat ngelola perusahaan keluarga.”
"Taaarr,” Lita langsung menimpali sambil tertawa kecil. “Pacar lu yang kulit item dikemanain? Kirain lu bakal merit sama dia.”
"Bukan jodohnya, Lit.” Jawab Tari sambil tertawa sumbang. Tawanya terdengar ringan, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Iya lah, mending Reza. Lebih ganteng dan jelas lebih tajir." Sahut yang lain.
"Tapi yang kulit item itu ada plusnya, lho.” Celetuk seorang teman lain sambil terkekeh, membuat suasana makin riuh.
"Emang plusnya apa?” Tanya Riris penasaran.
"Ah, kura-kura dalam perahu.” Jawabnya setengah berbisik tapi cukup keras untuk memancing tawa.
"Bener gitu, Tar?” Baberapa pasang mata langsung tertuju padanya.
"Ah kalian ngomongin apa sih?” Tari terkekeh, berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
"Tapi kamu pernah kan Tar sama si Item itu?"
Namun tawa mereka mendadak terhenti.
"Pada ngomongin apa sih? Rame banget. Dan siapa Si Item itu?”
Suara itu datang dari belakang. Reza berdiri tak jauh dari mereka, rapi dengan kemeja dan jam mahal melingkar di pergelangan tangannya. Hari itu memang dia yang mengantar Tari ke kantor.
Seketika suasana membeku. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi bisik-bisik. Satu per satu dari mereka saling berpandangan, lalu menunduk, pura-pura sibuk dengan layar komputer masing-masing.
Tari menelan ludah, sementara Reza menatap mereka sekilas, lalu beralih ke arah Tari dengan senyum tipis yang sulit dibaca.