NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Tidak Menerima

Kaizan masih berada di lorong saat matahari terbit.

Dia duduk bersandar pada dinding, jam biru di pergelangan dan koper di sisi tubuh. Pukul lima, petugas keamanan gedung meminta dia tidak menghalangi jalur. Kaizan memindahkan barang, turun ke lobi, lalu pergi tanpa mencoba mengetuk lagi.

Pukul enam tiga puluh, dia kembali membawa tas makan berinsulasi.

Di atasnya tertempel catatan.

Aku tahu kita putus. Aku tidak akan masuk atau menunggu di depan pintu. Sarapan ini boleh kamu ambil atau biarkan. Petugas akan membuangnya pukul sembilan supaya tidak basi.

Keira melihat tas itu melalui kamera pintu. Dia tidak membukanya.

Pukul sembilan lewat lima, staf gedung mengambilnya sesuai pesan. Kaizan tidak menelepon dan tidak mengirim dari nomor lain.

Hari kedua, sarapan datang lagi. Bubur ayam tanpa daun bawang, air mineral, dan obat sakit kepala yang masih tersegel. Catatannya hanya memuat waktu aman makanan.

Keira membiarkannya.

Hari ketiga, ada roti telur dan potongan pepaya. Tidak ada bunga, perhiasan, atau permintaan maaf sepanjang halaman. Hanya satu kalimat.

Semoga penerbanganmu tenang.

Keira membawa tas itu masuk setelah berdiri di depan pintu hampir satu menit. Dia tidak memakannya. Roti disimpan di kulkas, pepaya diberikan kepada petugas gedung, dan kotak kosong dicuci karena dia tidak suka menyimpan barang kotor.

Di kantor, Kaizan menjaga jarak. Dia membatalkan semua permintaan penugasan bersama Keira dan mengembalikan penyusunan jadwal sepenuhnya kepada operasi. Jika mereka bertemu di lobi, dia berhenti cukup jauh dan hanya mengangguk.

Karyawan tetap berbisik. Foto pengejaran setelah acara pembukaan, kabar mereka tinggal di alamat sama, dan sikap dingin Keira pada penerbangan pertama membentuk cerita sendiri. Kaizan mengirim kebijakan singkat kepada komunikasi internal: kehidupan pribadi pegawai bukan bahan penyelidikan atau penilaian. Tidak ada nama Keira disebut.

Moreno menemukan Kaizan di dapur kediaman pribadi pada hari keempat. Tiga kotak makan terbuka di meja. Telur pertama terlalu asin. Telur kedua gosong. Telur ketiga baru layak dikirim.

"Bos bisa meminta koki," katanya.

"Dia akan tahu."

"Dia juga tahu Bos tidak bisa memasak telur empat hari lalu."

"Aku sedang belajar."

Ponsel Moreno berbunyi. Foto dari petugas pengantaran menunjukkan satu kotak makan kosong berada di luar pintu Keira.

Kaizan menatapnya lama. "Dia makan?"

"Kita tidak tahu. Bisa saja dibuang."

"Kotaknya dicuci."

"Bu Keira orang yang rapi. Jangan membuat kesimpulan terlalu jauh."

Kaizan tetap menyimpan foto itu.

Hari kelima, kotak berisi nasi tim dan sayur rebus kembali kosong. Kali ini ada secarik kertas di bawah tas.

Jangan menunggu di lobi. Jangan menyuruh staf melaporkan apakah aku makan.

Kaizan membaca dua kalimat itu, lalu meminta petugas pengantaran berhenti mengirim foto. Mulai hari berikutnya, dia hanya menerima pemberitahuan bahwa tas sudah diambil kembali, tanpa keadaan isi.

Hari keenam, Keira menemukan teh jahe dalam botol yang tidak bocor dan sandwich dengan saus dipisah agar roti tidak lembek. Dia makan setengah sebelum penerbangan, menyimpan sisanya untuk perjalanan pulang, lalu membenci dirinya sendiri karena masih mengingat rasa masakan Kai.

Hari ketujuh, tidak ada catatan romantis. Hanya jadwal aman makanan dan satu kalimat kecil: Aku sedang belajar tidak mengubah perhatian menjadi pengawasan.

Keira duduk di belakang pintu dengan kotak di pangkuan. Dia belum memaafkan. Namun untuk pertama kalinya, Kaizan menunjukkan perubahan yang tidak membutuhkan dia sebagai penonton.

Oma Suhui mengetahui kabar perpisahan dari Moreno pada hari yang sama. Dia terbang ke Jakarta sore itu dan langsung menuju kediaman Kaizan.

Kaizan baru saja menguji suhu tas makanan ketika kipas lipat memukul bahunya.

"Oma sudah menyuruh kamu jujur!"

"Aku tahu."

"Kamu membawa rahasia ke panggung seperti meluncurkan produk. Siapa yang mengajarimu minta maaf begitu?"

"Tidak ada. Itu masalahnya."

Oma duduk di meja dapur. "Kamu menerima dia putus?"

"Aku menerima bahwa dia berhak mengakhiri hubungan. Aku tidak menerima bahwa aku harus berhenti memperbaiki diriku."

"Bagus. Bedakan mengejar dengan memaksa. Jangan pakai jadwal, jabatan, hadiah, atau orang lain untuk menutup jalan keluarnya."

"Aku sudah berhenti."

"Sarapan?"

"Dia boleh tidak mengambil."

Oma memeriksa isi kotak. "Telurnya jelek."

"Oma belum coba."

"Dari bentuknya sudah bersalah."

Keesokan siangnya, Oma datang sendiri ke apartemen Keira. Dia tidak memakai nama palsu. Pada meja keamanan tertulis jelas Suhui Tanujaya.

Keira membuka pintu tetapi tidak langsung mempersilakan masuk.

"Oma datang untuk membujukku kembali?"

"Tidak. Oma datang meminta maaf."

Keira menatapnya.

"Oma tahu siapa Kai setelah bertemu Moreno. Oma menguji kamu, mendengar luka tentang ayahmu, lalu hanya menekan Kaizan agar jujur. Oma seharusnya juga memberimu kebenaran. Oma ikut membiarkanmu berada dalam lingkaran itu."

Tidak ada alasan usia, keluarga, atau niat baik.

"Nama Suhui Ong?" tanya Keira.

"Nama gadis Oma. Bukan nama palsu, tapi dipakai untuk menyembunyikan bagian yang paling penting. Sama seperti Kaizan memakai Kai."

"Oma bahkan bertanya apakah aku memilih dia atau legenda itu."

"Oma ingin tahu apakah kamu mengejar nama Tanujaya. Itu tidak adil karena kamu tidak tahu sedang diuji. Ketika kamu memilih Kai, Oma menangis karena bahagia untuk cucu Oma. Oma tidak memikirkan betapa memalukannya pertanyaan itu jika kamu tahu kebenaran nanti."

Keira memeluk bantal sofa. "Semua orang takut aku menginginkan uangnya. Tidak ada yang bertanya apakah aku ingin berada di dekat keluarga yang menguji orang diam-diam."

Oma menerima kalimat itu tanpa tersinggung. "Benar. Kalau kamu tidak mau dekat keluarga kami setelah ini, itu akibat yang harus kami terima."

Keira akhirnya membuka pintu lebih lebar.

Mereka duduk di ruang tamu. Mochi mengenali Oma dan menyandarkan kepala di lututnya. Selama hampir satu jam, Oma tidak menyebut Kaizan. Dia bertanya apakah Keira tidur, apakah perusahaan memberi ruang setelah insiden, dan apakah media masih mengganggu.

"Aku masih marah kepada Oma," kata Keira.

"Boleh."

"Aku juga tidak ingin dinasihati bahwa dia berbohong karena mencintaiku."

"Oma tidak akan mengatakan itu. Cinta menjelaskan kenapa dia takut, bukan membenarkan apa yang dia lakukan."

Keira menunduk. Pertahanan di bahunya turun sedikit.

Sebelum pulang, Oma menaruh kartu namanya di meja. "Kalau kamu butuh Oma, telepon. Bukan sebagai oma Kaizan. Sebagai orang tua yang pernah kamu percaya. Kalau kamu tidak mau, Oma tetap mengerti."

Keira tidak membuang kartu itu.

Malamnya, Oma kembali ke kediaman Kaizan. Kaizan sedang mencuci kotak makan yang dikembalikan kosong.

"Dia bilang apa?" tanyanya.

"Bukan urusanmu. Oma tidak akan membawa percakapannya untuk menyenangkanmu."

Kaizan menunduk. "Baik."

"Dan jangan tanya Moreno berapa lama Oma di sana, apakah dia menangis, atau apa yang ada di meja. Kalau kamu memakai orang untuk mengawasinya lagi, Oma sendiri yang akan menghentikan sarapan ini."

"Aku mengerti."

"Kotak kosong bukan maaf. Bukan juga undangan masuk. Itu hanya bukti bahwa perhatianmu belum selalu menyakitinya. Jangan menuntut makna lebih."

Oma melihat kotak bersih di tangannya.

"Dia mengembalikan kotak kosong, berarti pintu hatinya masih menyisakan satu celah. Tugasmu cuma satu: jangan sampai celah itu tertutup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!