NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Mobil berhenti di halaman rumah Pak Kades menjelang magrib. Langit desa mulai berwarna jingga keabu-abuan, angin sejuk menyapu pepohonan di sekitar rumah.

Begitu Kiara turun, Bu Sulastri langsung menghampiri dengan wajah penuh cemas.

“Kiara, gimana kondisimu, Nak? Masih pusing? Gatalnya sudah mendingan?”

Namun, sebelum Kiara sempat menjawab, Alvar lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan kantong obat di atas meja makan dengan bunyi cukup keras.

“Habis makan malam, minum obat lagi,” katanya singkat, tanpa menoleh.

Nada itu membuat Kiara langsung tahu, sikap Alvar kembali dingin. Bahkan, lebih dingin dari sebelumnya. Pak Yono dan Bu Sulastri saling pandang, jelas terlihat khawatir. Bu Sulastri menggenggam tangan Kiara lembut.

“Kamu mandi dulu ya, biar segar. Habis itu makan malam. Ibu masakin yang aman buat kamu.”

Kiara mengangguk pelan. Ia menoleh sekilas, mencari sosok Alvar, tapi pria itu sudah tak terlihat, entah pergi ke mana.

Kiara melangkah menuju kamar dengan langkah berat. Begitu pintu kamar dibuka, ia langsung menuju kamar mandi. Tanpa banyak pikir, ia mulai membuka pakaian, tubuhnya masih terasa lengket dan tak nyaman.

Namun, baru saja baju atasnya terlepas,

“Aah!” Jeritan Kiara memecah keheningan rumah.

Bu Sulastri dan Pak Yono yang sedang di dapur langsung tersentak.

“Kiara?! Kenapa?!” teriak Bu Sulastri panik.

Pintu kamar mandi mendadak terbuka lebih lebar. Alvar berdiri di ambang pintu, wajahnya sama terkejutnya.

“Kamu kenapa sih?!” Kiara berteriak histeris sambil refleks menutup tubuhnya.

“Kenapa masuk kamar nggak ada suara?!"

Alvar tersadar, lalu dengan cepat menutup pintu kamar dari dalam. Ia berbalik ke arah pintu dan berteriak keluar,

“Bu! Pak! Nggak apa-apa!”

Di luar, Bu Sulastri dan Pak Yono masih terdengar cemas, tapi akhirnya menjauh.

Kiara menatap Alvar dengan mata menyala. “Kamu kalau mau masuk kamar orang itu ketuk dulu pintunya! Ini aku lagi mau ganti baju!”

Alvar tak kalah marah.

“Ini kamar kita, Kiara!”

“Justru karena itu kamu harusnya lebih tahu diri!” balas Kiara sengit.

 “Aku belum siap satu kamar sama kamu!”

Alvar menghela napas keras, emosinya nyaris meledak.

 “Harusnya kamu yang kunci pintu kamar mandi atau bilang kalau lagi ganti baju! Bukan teriak kayak orang kesurupan!”

Kiara mendengus, wajahnya memerah, antara marah, malu, dan terhina.

“Jangan balik-balik nyalahin aku! Kamu yang masuk sembarangan!”

Alvar menatapnya tajam. “Mulai sekarang, biasakan hidup di rumah orang, Kiara. Bukan di apartemen kota yang semua serba bebas.”

Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.

“Dan kamu biasakan juga,” balas Kiara dingin, “kalau istrimu ini bukan gadis desa yang bisa kamu atur seenaknya.”

Hening jatuh di antara mereka, udara kamar terasa panas meski malam mulai turun.

"Pak, Bapak dengar kan? Sampai kapan coba mereka bertengkar terus. Kalau seperti ini sampai tua ibu nggak akan pernah gendong cucu," ujar Bu Sulastri.

"Sabar toh, Bu. Namanya pengantin baru, mereka baru belajar, Bu. Kita sebagai orang tua harus sering-sering nasehatin mereka berdua," kata Pak Yono, seraya membantu Bu Sulastri.

“Aku mau mandi,” kata Kiara ketus, memalingkan wajah.

Alvar menoleh sekilas. “Kamar mandi dalam lagi rusak. Kerannya bocor, kamu mandi di luar saja, besok aku perbaiki.”

“Apa?” Kiara langsung mendengus kesal. “Serius?”

“Serius,” jawab Alvar datar.

Tanpa menunggu balasan lagi, Kiara mengambil handuk dan melangkah keluar kamar dengan langkah berat. Begitu sampai di kamar mandi luar, langkahnya melambat.

Suasana sudah lumayan gelap. Lampu teras redup, sementara suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun belakang. Udara dingin desa merambat masuk ke kulitnya, membuat bulu kuduk Kiara sedikit meremang.

Dia menekan sakelar lampu kamar mandi tetapi tidak menyala.

“Ya ampun…” gumam Kiara kesal sekaligus cemas.

Tak lama, Alvar keluar menyusul. Ia berhenti saat melihat Kiara berdiri kaku di depan kamar mandi luar, handuk digenggam erat.

“Kenapa?” tanyanya.

“Lampunya nggak nyala,” jawab Kiara singkat, nada suaranya sedikit berubah, tidak setajam sebelumnya.

Alvar mendengus pelan. “Sebentar.”

Ia melangkah masuk ke kamar mandi luar, membuka penutup lampu dan memeriksanya. “Lampunya putus.”

Kiara berdiri agak menjauh, menatap sekeliling yang sunyi. Alvar keluar membawa bohlam lama.

 “Aku ambil lampu ganti.”

Beberapa menit kemudian ia kembali, memasang lampu baru. Cahaya kuning temaram akhirnya menyala, menerangi kamar mandi sederhana itu.

“Nah, sudah.” kata Alvar.

Kiara menatap lampu itu sejenak, lalu mengangguk pelan.

 “Makasih.”

Satu kata itu keluar tanpa gengsi, bahkan tanpa sadar. Alvar menoleh, sedikit terkejut, tapi tak berkomentar apa pun. Dia hanya berkata singkat, “Cepat mandi, udara malam dingin.”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Kiara sendirian di depan kamar mandi. Kiara menarik napas panjang sebelum masuk.

Makan malam terhidang sederhana di meja kayu panjang. Nasi hangat mengepul, sayur bening, tahu tempe goreng, dan lauk lain yang aman bagi Kiara. Lampu ruang makan menyala temaram, menghadirkan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya hubungan dua insan di ujung meja.

Bu Sulastri tersenyum, memulai cerita.

“Dulu, pertama kali bapak sama ibu makan bareng setelah nikah … rasanya deg-degan. Bapak sampai salah pegang sendok,” katanya terkekeh.

Pak Yono ikut tertawa kecil. “Ibumu malu-malu tapi perhatian. Teh manisnya selalu pas.”

Sulastri melirik Kiara dengan mata berbinar. “Nanti juga kalian—”

“Ibu harus mengerti,” potong Kiara tiba-tiba. Sendoknya berhenti di udara.

“Aku sama Alvar itu dijodohkan. Bukan menikah karena cinta. Kami nggak akan seperti kisah ibu dan bapak.”

Kalimat itu jatuh berat di meja makan.

Bu Sulastri terdiam, senyum di wajahnya memudar perlahan. Tangannya yang semula merapikan piring berhenti, jemarinya saling menggenggam.

Pak Yono menghela napas, lalu berbicara tenang.

“Bapak paham, Kiara. Nggak semua pernikahan dimulai dari cinta. Kadang … cinta itu tumbuh belakangan.”

Kiara menunduk, tak menjawab.

Alvar yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat wajah. Sorot matanya dingin, dia tidak suka Kiara menyela ucapan ibunya, terlebih dengan nada setegas itu.

“Ucapkan dengan cara yang lebih sopan,” katanya pelan namun tegas.

Kiara menoleh, tersenyum tipis dan tajam. “Aku hanya jujur.”

Keheningan kembali menyelimuti meja. Suara sendok yang menyentuh piring terdengar lebih keras dari biasanya.

Bu Sulastri memaksakan senyum. “Makan dulu, Nak. Nasinya keburu dingin.”

Mereka kembali menyantap makanan, masing-masing tenggelam dalam pikiran.

Di meja yang sama, di bawah atap yang sama, empat hati berdetak dengan irama berbeda.

Makan malam pertama itu berakhir tanpa tawa namun menjadi penanda, perjalanan mereka sebagai suami istri baru saja dimulai, dengan kejujuran yang pahit dan harapan yang masih samar.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!