NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden razia kosmetik di ruang OSIS. Suasana di sekolah relatif tenang, meski riak-riak perselisihan kecil antara aku, Clara, dan Diana masih sesekali terjadi. Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana sebagian besar siswa menikmati waktu luang untuk bersantai atau jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Namun bagiku, hari Minggu adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi menyambung hidup.

Sejak pagi-pagi sekali, aku sudah bersiap untuk pergi bersama sahabat karibku yang bekerja sebagai supir pengantar air minum galon isi ulang. Namanya Egi. Setiap kali hari libur sekolah tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk membantunya mengangkut dan mengantarkan galon-galon air ke rumah-rumah pelanggan. Selain bisa mendapatkan uang saku tambahan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, bekerja bersama Egi selalu terasa menyenangkan karena dia adalah tipe teman yang setia kawan dan humoris.

Pagi itu, matahari mulai merangkak naik memancarkan sinar hangatnya. Kami berdua sudah menaiki mobil bak terbuka milik tempat kerja Egi, melintasi jalanan kota yang masih agak lengang. Di bagian belakang mobil, puluhan galon air berjejer rapi, siap untuk diantarkan ke berbagai alamat pemesan.

"Kan, ada satu pesanan lagi nih sebelum kita istirahat makan siang," ujar Egi sambil memperhatikan secarik kertas alamat yang tertempel di papan jalan dekat setir. "Alamatnya di perumahan elite ujung jalan sana. Pemesannya atas nama Pak Hendra, mintanya lima galon sekaligus."

Aku menepuk bahu Egi santai. "Siap, Bro. Makin cepat selesai, makin cepat kita bisa ngisi perut. Ayo meluncur!"

Mobil bak terbuka kami melaju pelan memasuki kawasan perumahan mewah. Rumah-rumah di area ini berukuran sangat besar dengan pagar besi menjulang tinggi dan halaman yang luas. Setelah mencari nomor rumah yang sesuai, Egi menghentikan mobil di depan sebuah rumah megah bergaya modern.

Begitu gerbang otomatis rumah tersebut terbuka sedikit, seorang pelayan pria keluar menyapa kami. Kami pun mulai menurunkan galon-galon air yang cukup berat tersebut satu per satu. Saat aku sedang membungkuk menggendong sebuah galon di atas bahu kananku untuk dibawakan ke area dapur belakang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang familiar melangkah mendekat dari arah pintu samping.

"Loh... Kak Arkan?! Ngapain Kakak ada di rumah aku?!"

Suara melengking itu membuat langkahku terhenti seketika. Aku menoleh dan mendapati Diana berdiri di sana dengan pakaian santai rumahannya. Wajahnya menyorotkan rasa terkejut yang luar biasa, seolah-olah baru saja melihat fenomena alam yang sangat aneh.

Aku menghela napas pelan, mengoreksi posisi galon di bahuku yang agak berat, lalu menatapnya datar.

"Kamu enggak lihat aku lagi ngapain?" jawabku ketus dan santai sambil terus berjalan melewatinya menuju arah dapur. "Ya lagi mengantar galon air lah, masa lagi main golf di rumah kamu."

Diana mengikuti langkahku dari belakang dengan raut wajah melongo. Usut punya usut, air galon isi ulang yang kami antarkan ini ternyata diperuntukkan bagi para pekerja dan pelayan di rumahnya yang megah itu, sedangkan keluarga Diana sendiri selalu mengonsumsi air mineral kemasan merek impor.

Diana memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Aku hanya mengenakan kaus oblong polos yang sedikit basah oleh keringat dan celana kain biasa, sangat jauh berbeda dengan penampilanku yang selalu rapi berseragam dengan ban lengan Ketua OSIS di sekolah.

"Oh... jadi kalau hari libur sekolah, kamu itu tukang galon ya, Kak?" kata Diana dengan nada bicara yang sedikit merendahkan, diselingi tawa kecil yang agak mengejek.

Dia melipat kedua tangannya di dada, lalu bergumam pelan dengan mata berbinar-binar seolah baru saja menemukan rahasia terbesar abad ini. "Wah... dapat berita baru nih!

Bahan bagus buat ngasih tahu Clara!"

Aku sama sekali tidak memedulikan atau memasukkan ke dalam hati perkataan Diana. Kenyataan ekonomi keluargaku memang seperti ini, dan aku sama sekali tidak merasa malu bekerja halal untuk mencari uang. Daripada melayani ejekannya yang tidak bermutu, aku memilih segera menyelesaikan pekerjaan mengangkut lima galon air tersebut sampai selesai di dapur.

Setelah semua galon diletakkan di tempatnya dan Egi menerima uang pembayaran dari kepala pelayan rumah tersebut, kami berdua segera berpamitan untuk keluar dari area rumah mewah itu. Aku melangkah kembali ke mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arah Diana yang masih berdiri di teras sambil tersenyum-senyum menyebalkan.

Egi menghidupkan mesin mobil bak kami, lalu melaju perlahan

keluar dari kompleks perumahan elite tersebut. Setelah berada di jalan raya utama, Egi melirik ke arah bagian belakang mobil melalui kaca spion tengah.

"Arkan, galon yang masih terisi sisa sepuluh biji lagi nih. Air galon di rumah kamu masih ada enggak? Kalau habis, sekalian aja dibawa pulang satu," tanya Egi padaku dengan penuh perhatian.

"Masih ada kok, Bro. Pasokan di rumahku aman sampai minggu depan," jawabku santai sambil menyandarkan kepala ke kaca jendela mobil, menikmati terpaan angin siang.

Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki trek jalanan lintas yang cukup sepi dan lurus. Di jalur-jalur seperti inilah kami biasanya punya kebiasaan unik. Jika jalanan sedang sepi dan tidak ada patroli lalu lintas, Egi selalu memintaku untuk menggantikannya menyetir. Lagi pula, Egi sudah mengajariku cara mengendarai mobil sejak setahun yang lalu. Dia mengajariku dengan sangat sabar hingga aku mahir mengendalikan setir, mengoper gigi, hingga memarkirkan mobil di area sempit. Bagi diriku yang tidak memiliki keluarga utuh,

Egi sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri.

Egi menguap lebar sambil menepuk-nepuk lehernya yang terasa kaku. "Kan, kamu yang nyetir ya? Aku mau tidur sebentar, capek banget mataku agak sepet nih."

"Okey, gampang. Sini pindah," jawabku cepat.

Egi menepi sebentar di bahu jalan yang teduh. Kami berdua dengan sigap bertukar posisi duduk. Kini aku duduk di kursi pengemudi, memegang lingkar kemudi dengan mantap, membetulkan posisi spion, lalu menginjak pedal kopling dan memasukkan gigi satu. Mobil pun melaju dengan mulus di bawah kendaliku.

Baru sekitar lima belas menit mobil berjalan dan Egi hampir tertidur pulas, perutku tiba-tiba berbunyi lumayan nyaring.

Rasa lapar yang sejak tadi ditahan akhirnya menuntut untuk segera dipenuhi.

Egi yang terbangun karena mendengar dengkurannya sendiri tiba-tiba membuka mata dan menyeringai. "Arkan, mampir di warung biasa tempat kita makan yuk. Aku sudah lapar banget ini, perutku rasanya sudah menyatu sama tulang punggung."

Aku tertawa kecil sambil meliriknya sekilas, lalu menambah kecepatan mobil secara konstan. "Warung Bu Tanti, siap meluncur! On the way!"

Aku memutar setir ke arah belokan menuju warung makan langganan kami. Di atas mobil pengangkut galon yang sederhana ini, aku merajut kemampuanku mengemudi—sebuah keahlian yang sama sekali tidak pernah kubayangkan akan menjadi mata pencaharian utamanya di masa depan, saat harus mengemudikan mobil mewah untuk melayani Clara Adelin dan keluarganya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!