Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Cincin yang Mengikat
Berlian kecil itu memantulkan cahaya tepat ke mata Darren.
Ia duduk di ruang konsultasi Frank & Co., menatap tiga cincin yang disusun di atas kain beludru. Semuanya indah. Dua terlalu ramai, satu terlalu besar untuk tangan Keira yang sederhana.
"Bapak mencari cincin lamaran?" tanya konsultan.
"Ya."
"Untuk kejutan?"
Darren mengangguk.
Pernikahan mereka sudah sah hampir tiga bulan. Ia bahkan sudah memasangkan cincin polos di Catatan Sipil. Namun setelah mendengar Keira menyimpan perasaan selama sepuluh tahun, cincin itu terasa belum cukup untuk menggantikan satu hal yang tidak pernah ia berikan.
Sebuah lamaran yang benar-benar dipersiapkan.
Darren menunjuk cincin paling sederhana. Satu berlian utama, garis bersih, tanpa hiasan berlebihan.
"Yang ini."
Konsultan menyebut harga. Darren tidak menawar.
"Ukuran jarinya?"
Ia mengeluarkan foto cincin polos Keira yang sempat diukur diam-diam saat istrinya tertidur. Konsultan tersenyum, lalu mencatat.
Ponsel Darren bergetar sebelum transaksi selesai.
Keira menelepon.
"Ren, kamu sibuk?"
"Tidak."
"Aku akan ke Panti Asuhan Malaikat besok. Oma Sari bilang ada masalah dengan tanah."
Darren berdiri dan menjauh dari meja. "Masalah apa?"
"Pemilik lama menjual lahan kepada pengembang. Mereka memberi waktu dua minggu untuk mengosongkan bangunan. Anak-anak belum punya tempat pindah."
Suara Keira berusaha tenang, tetapi napasnya terlalu pendek.
"Kirim semua dokumen yang kamu punya."
"Untuk apa?"
"Aku ingin melihatnya."
"Jangan gunakan jabatanmu, Ren. Ini sengketa sipil."
"Aku tahu. Kirim saja."
Beberapa menit kemudian, foto surat sewa, pemberitahuan pengosongan, dan kontak yayasan masuk ke ponselnya.
Darren menyelesaikan pembayaran cincin, menyimpan kotak biru gelap ke dalam saku dalam jaket, lalu menghubungi notaris keluarga. Ia meminta pemeriksaan sertifikat, status jual beli, dan izin pembangunan. Om Herman membantu memastikan tidak ada pembongkaran sebelum prosedur perlindungan anak serta pemberitahuan resmi dipenuhi, tetapi tidak menghentikan transaksi dengan kekuasaan.
Masalah utamanya ternyata sederhana. Yayasan menyewa tanah tanpa perlindungan jangka panjang. Pengembang baru bersedia menjual kembali jika dibayar pada harga pasar dan biaya yang sudah mereka keluarkan.
Darren membayar dengan dana pribadi.
Malam itu perjanjian pengikatan jual beli ditandatangani di hadapan notaris. Pengalihan sertifikat membutuhkan waktu, tetapi yayasan menerima jaminan tertulis bahwa tidak akan ada pengosongan atau pembongkaran. Setelah proses selesai, tanah itu akan diberikan hak pakai jangka panjang kepada Panti Asuhan Malaikat.
Nama pembeli tidak disampaikan kepada pengurus panti.
Keesokan siang, Keira tiba membawa buku, susu, dan alat gambar. Anak-anak berlari menyambutnya di halaman.
"Kak Keira!"
Ia berjongkok dan membuka kedua tangan. Tiga anak langsung memeluknya, saling berebut menceritakan tugas sekolah.
Di teras, Keira melihat kardus-kardus bertuliskan DAPUR, BUKU, dan PAKAIAN. Beberapa rak sudah kosong. Anak paling kecil menarik ujung bajunya.
"Kak, kalau rumah ini dibongkar, kami tidur di mana?"
Pertanyaan itu membuat Keira tidak segera menjawab.
Ia pernah datang ke tempat ini pada usia enam tahun tanpa ingatan, tanpa nama, dan tanpa tahu siapa yang akan menjemputnya. Selama empat tahun, halaman ini menjadi satu-satunya dunia yang tidak menanyakan darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya. Oma Sari memberinya nama Keira di kantor kecil dekat dapur.
Kini anak-anak lain menghadapi ketakutan kehilangan rumah yang sama.
Keira memegang bahu si kecil. "Orang dewasa sedang mencari jalan. Apa pun yang terjadi, kalian tidak akan ditinggalkan sendirian."
Ia tidak menjanjikan bangunan itu akan selamat karena belum tahu caranya. Namun ia berjanji dalam hati akan menggunakan seluruh tabungannya jika diperlukan untuk mencari tempat aman.
Oma Sari keluar dari kantor kecil dengan mata sembap. Rambutnya yang memutih disanggul sederhana.
"Keira."
Keira segera berdiri dan memeluknya. "Oma, bagaimana surat pengosongan itu? Aku sudah menghubungi beberapa lembaga bantuan hukum."
Oma Sari menggenggam tangannya. "Tidak perlu pindah."
"Apa?"
"Tadi malam notaris datang. Tanahnya sudah diikat jual beli oleh seseorang. Pengembang mencabut perintah pengosongan dan memberi jaminan tertulis. Panti boleh tetap di sini."
Keira menatap wajah Oma, memastikan ia tidak salah dengar.
"Siapa yang membeli?"
"Tidak mau disebutkan. Notaris hanya bilang orang itu ingin anak-anak punya rumah yang tidak bisa diambil sewaktu-waktu."
Suara anak-anak bermain memenuhi halaman. Keira melihat dinding yang dicat dengan gambar malaikat, pohon mangga tempat ia dulu membaca, dan garis tinggi badan anak-anak di dekat dapur.
Semua itu hampir hilang dalam dua minggu.
Air matanya jatuh.
Oma Sari mengusap pipinya. "Ada orang baik yang menjaga kita."
Keira teringat satu kalimat di telepon kemarin.
Kirim semua dokumen yang kamu punya.
Ia mengambil ponsel, ingin langsung menelepon Darren. Namun jarinya berhenti di atas nama Ren. Tidak ada bukti, hanya cara pria itu selalu menyelesaikan masalah tanpa meminta pujian.
Keira akhirnya mengirim satu pesan.
"Panti sudah aman. Terima kasih sudah mau melihat dokumennya."
Balasan datang singkat.
"Bagus. Temani anak-anak."
Tidak mengaku. Tidak menyangkal.
Sore harinya Darren datang ke sebuah pusat perbelanjaan untuk mengambil cincin yang sudah disesuaikan ukurannya. Ia baru keluar dari butik ketika Vania muncul dari toko di seberang.
Perempuan itu langsung melihat kotak kecil di tangannya.
"Pak Darren. Beli hadiah?"
Darren memasukkan kotak ke saku. "Ada perlu apa?"
"Kebetulan bertemu saja." Vania tersenyum dan berdiri terlalu dekat. "Aku ingin minta maaf soal kejadian di kantor. Keira memang mudah tersinggung. Kadang kami sekeluarga kewalahan menghadapinya."
"Kamu meminta maaf kepadanya, bukan kepadaku."
"Aku hanya merasa kamu belum mengenal Keira sepenuhnya." Vania merendahkan suara. "Dia tumbuh sebagai anak angkat dan selalu haus perhatian. Laki-laki seperti kamu seharusnya bersama perempuan yang paham cara membawa diri."
"Seperti kamu?"
Mata Vania berbinar, mengira mendapat celah. "Setidaknya aku memahami dunia keluarga berada."
"Aku juga memahami rekaman CCTV, pesan tertulis, dan batas persetujuan."
Senyumnya membeku.
Darren mengangkat ponsel. "Tidak ada pasal khusus tentang mengganggu pernikahan prajurit. Tapi kalau kamu terus mengirim pesan, menyentuh, atau mendekat setelah diminta berhenti, itu bisa menjadi bukti pelecehan. Saya bisa meneruskannya kepada polisi, keluargamu, dan perusahaanmu."
Vania mundur setengah langkah.
"Aku tidak melecehkan siapa pun."
"Kalau begitu berhenti. Jangan dekati aku dan jangan hina istriku lagi."
"Kamu mengancamku?"
"Aku menjelaskan konsekuensi."
Darren berjalan pergi. Vania tidak mengikuti.
Di rumah, Keira sedang mandi ketika ia tiba. Darren masuk ke ruang kerja, membuka laci paling bawah, dan meletakkan kotak cincin di balik map dokumen tugas.
Ia membuka kotak sekali lagi.
Berlian itu kecil, tetapi cahayanya memenuhi ruang gelap di dalam laci.
Darren menutupnya.
Belum sekarang.
Ia menunggu waktu yang tepat untuk meminta Keira memilihnya sekali lagi, kali ini tanpa bahaya, telepon keluarga, atau keputusan mendadak di tenda militer.
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻