Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
Cahaya tiga warna — emas naga yang agung, biru es abadi yang dingin, dan putih teratai suci yang murni — turun dari langit-langit ruangan makam seperti air terjun cahaya yang mengalir terbalik.
Cahaya itu menembus lantai kristal dari Kolam Teratai Suci di atas, menembus sungai cahaya galaksi yang mengalir di bawah lantai, dan akhirnya jatuh tepat di atas altar tempat Leluhur Naga Langit terbaring.
Begitu cahaya itu menyentuh tubuh Leluhur Naga Langit, tubuh tua yang sudah menderita seribu tahun karena Pedang Jantung Darah Iblis itu bergetar dengan hebat. Garis-garis hitam yang selama seribu tahun merayap di meridian-nya seperti cacing, yang merupakan racun darah dari pedang itu, untuk pertama kalinya mengeluarkan suara jeritan kesakitan dan mulai menguap menjadi asap hitam yang kemudian langsung dimurnikan menjadi asap putih oleh cahaya teratai suci.
"ARGHHH!"
Leluhur Naga Langit yang selama seribu tahun hanya bisa bernapas pelan dan menahan sakit tanpa bersuara, kini menjerit dengan keras. Bukan jeritan kesakitan karena racunnya semakin parah, tapi jeritan kelegaan karena untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, racun itu bisa dilawan.
Di tengah air terjun cahaya itu, tiga sosok perlahan turun.
Arya, Sekar, dan Luna.
Penampilan mereka tidak banyak berubah, jubah dan gaun mereka masih sama, tapi aura di sekitar mereka telah berubah total.
Jika tiga hari yang lalu di Arena Langit Biru mereka bertiga masih terlihat seperti tiga orang yang berbeda yang dipaksa bekerja sama karena keadaan, kini mereka terlihat seperti satu kesatuan. Saat Arya melangkah, cahaya biru es dan putih keemasan di sekitarnya ikut beriak pelan. Saat Sekar mengangkat tangannya, bayangan naga emas kecil melintas di balik es birunya. Saat Luna bernapas, udara di sekitarnya terasa hangat dan dingin pada saat yang sama.
Di dahi mereka, tiga tanda — naga emas, es abadi, dan teratai suci — kini tidak lagi berkilau sendiri-sendiri, tapi saling terhubung dengan garis cahaya tipis yang membentuk segitiga sempurna. Tanda Penyatuan Tiga Jiwa.
Mereka telah berhasil melakukan Ritual Penyatuan Tiga Jiwa.
Mereka telah melihat luka terdalam masing-masing. Rasa malu Arya sebagai sampah yang diludahi, kesepian Sekar yang dikurung di ruang es selama tiga hari, dan kesepian Luna yang harus menjadi simbol sempurna tanpa boleh menangis. Mereka telah memeluk luka-luka itu dan berjanji untuk menanggungnya bersama.
Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tidak ada lagi jarak antara istri pertama dan istri kedua. Hanya ada tiga jiwa yang telah menjadi satu.
Ratu Teratai Suci yang berlutut di tepi altar melihat ketiga anak itu turun dengan cahaya tiga warna itu, air matanya yang sudah berhenti tadi mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena sedih atau terkejut, tapi karena bahagia dan lega. Sebagai seorang ibu, dia bisa melihat dengan jelas bahwa putrinya, Luna, yang selama dua puluh tahun harus memakai topeng Putri Suci yang sempurna, untuk pertama kalinya tersenyum dengan senyum yang benar-benar tulus dan bebas, tanpa beban.
Leluhur Naga Langit yang masih terbaring di altar mencoba untuk duduk, tapi pedang darah hitam di dadanya langsung berdenyut dan mengeluarkan lebih banyak cacing hitam yang mencoba menahannya.
"Kalian... berhasil..." suaranya masih serak, tapi sudah jauh lebih jelas dari sebelumnya, tidak lagi seperti batu yang bergesekan, "Ritual Penyatuan Tiga Jiwa yang bahkan aku dan istriku seribu tahun lalu tidak sempat melakukannya karena perang datang terlalu cepat... kalian berhasil melakukannya hanya dalam waktu setengah jam... Takdir... memang memilih kalian..."
Arya berjalan mendekati altar, diikuti oleh Sekar di sisi kirinya dan Luna di sisi kanannya. Mereka bertiga berlutut di depan altar itu.
"Kakek Naga, bagaimana cara mencabut pedang ini? Kami bertiga sudah siap," kata Arya dengan suara mantap.
Leluhur Naga Langit menatap pedang hitam-merah yang tertancap di dadanya itu dengan tatapan penuh kebencian dan kelelahan yang sudah dipendam seribu tahun.
"Pedang ini bernama Pedang Jantung Darah Iblis, senjata natal Leluhur Darah Hitam. Seribu tahun lalu, saat aku dan istriku berhasil melukai Leluhur Darah Hitam hingga hampir mati, dia menusukkan pedang ini ke dadaku sebagai serangan terakhir sebelum jiwanya melarikan diri. Pedang ini bukan pedang biasa, dia hidup. Dia memiliki roh pedang yang terbuat dari kebencian seribu jiwa yang diserap Leluhur Darah Hitam. Jika dicabut sembarangan, roh pedang itu akan meledak dan racun darahnya akan menyebar ke seluruh Danau Teratai Suci dan membunuh semua makhluk hidup dalam radius seratus kilometer."
Dia terbatuk, darah emas kembali keluar.
"Untuk mencabutnya dengan aman, dibutuhkan tiga langkah yang harus dilakukan bersamaan tanpa jeda sedikit pun. Pertama, Darah Naga Langit yang agung harus menarik pedangnya keluar dengan kekuatan fisik murni. Kedua, saat pedang itu tertarik setengah, Darah Embun Beku Abadi harus langsung membekukan jalur meridian di sekitar jantungku agar racun darah tidak menyebar ke seluruh tubuhku dan membunuhku seketika. Ketiga, saat pedang itu sudah tercabut sepenuhnya, Darah Teratai Suci Pemurnian harus langsung memurnikan roh pedang dan racun yang tersisa di udara sebelum dia sempat melarikan diri atau meledak."
Tiga langkah, tiga darah, harus bersamaan tanpa jeda.
Satu kesalahan kecil saja, Leluhur Naga Langit akan mati, atau racunnya akan menyebar dan membunuh ribuan orang di Istana Teratai Suci.
Tugas yang beratnya bahkan melebihi menghancurkan Jantung Leluhur Darah Hitam tiga hari yang lalu.
Sekar dan Luna saling pandang, ada sedikit rasa takut di mata mereka, bukan takut gagal, tapi takut kehilangan. Baru saja mereka merasakan kehangatan menjadi satu jiwa, mereka tidak mau kehilangan keluarga baru yang baru saja mereka temukan.
Arya merasakan genggaman tangan kedua istrinya yang sedikit mengencang karena takut. Dia membalikkan telapak tangannya dan menggenggam tangan mereka balik dengan erat.
"Tidak apa-apa. Kita sudah pernah melakukan yang lebih sulit. Ingat di Arena Langit Biru? Kita menghancurkan jantungnya. Sekarang kita hanya mencabut pedangnya. Kita lakukan bersama, seperti tadi."
Kalimat sederhana itu, yang mengingatkan mereka pada janji di ruang jiwa tadi — untuk tidak menanggung semuanya sendirian — membuat rasa takut di mata Sekar dan Luna perlahan menghilang, digantikan oleh tekad.
Mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Baik, suamiku."
Leluhur Naga Langit melihat tekad di mata ketiga anak muda itu dan tertawa dengan lemah. "Bagus... Kalau begitu... bersiaplah... Aku akan membuka sedikit segel es yang kutahan seribu tahun ini agar kalian bisa melihat akar pedangnya... Setelah itu... semuanya terserah kalian..."
Leluhur Naga Langit menutup matanya dan kedua tangannya yang keriput itu membuat segel yang sangat rumit dengan kecepatan yang lambat karena sakit.
"Segel Naga Langit, Buka!"
BOOM!
Cahaya keemasan yang selama seribu tahun menyelimuti dada Leluhur Naga Langit untuk menahan agar pedang itu tidak masuk lebih dalam, tiba-tiba terbuka seperti kelopak bunga.
Begitu segel itu terbuka, pemandangan di dalam dada Leluhur Naga Langit terlihat jelas.
Pedang darah hitam itu tidak hanya menusuk daging, akarnya — yang terbuat dari ribuan serabut hitam-merah seperti akar pohon — telah menyebar ke seluruh jantung, paru-paru, dan meridian di sekitar dada Leluhur Naga Langit, menghisap darah emasnya setiap detik seperti parasit.
Pemandangan itu membuat Luna yang berhati lembut langsung menutup mulutnya karena hampir muntah, dan Sekar langsung memalingkan wajahnya karena tidak tega melihatnya.
Arya adalah yang paling tenang, tapi tinjunya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih karena marah melihat kekejaman Sekte Darah Hitam.
"Inilah... wajah asli Sekte Darah Hitam... Mereka tidak pernah membunuh dengan bersih... Mereka membuat korbannya menderita selama mungkin..." bisik Leluhur Naga Langit dengan suara menahan sakit yang luar biasa karena segelnya dibuka.
"Sekarang!"
Arya tidak menunggu lagi. Dia melangkah maju, kedua tangannya yang kini diselimuti sisik naga emas halus karena Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 5 yang aktif penuh, langsung menggenggam gagang pedang darah hitam itu.
Begitu tangannya menyentuh gagang pedang, jeritan yang sangat mengerikan — jeritan dari seribu jiwa yang terperangkap di dalam pedang itu — langsung masuk ke dalam kepalanya.
"Mati! Mati! Darah! Aku haus darah!"
Roh pedang itu mencoba menyerang jiwa Arya!
Tapi sebelum roh pedang itu sempat masuk lebih dalam, dua cahaya — biru es dan putih keemasan — langsung masuk dari genggaman tangan Arya yang masih terhubung dengan Sekar dan Luna.
Cahaya biru es milik Sekar langsung membekukan jeritan seribu jiwa itu, membuat roh pedang itu melambat, dan cahaya putih keemasan milik Luna langsung memurnikan kebencian di dalam jeritan itu, membuat jeritan itu menjadi tangisan yang akhirnya bisa tenang.
Tiga jiwa yang sudah menyatu memang jauh lebih kuat dari satu jiwa!
"Tarikk!"
Arya mengerahkan semua kekuatan fisik murni dari Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 5 dan kultivasi Alam Jiwa Kesatria tingkat sembilan puncak yang kini setara dengan kekuatan fisik Alam Raja Langit tingkat tiga!
Otot-otot di lengannya menegang, urat-urat emas muncul di lehernya, lantai kristal di bawah kakinya retak karena tumpuan kekuatannya yang begitu besar!
Pedang darah hitam yang sudah tertancap seribu tahun itu, yang bahkan Leluhur Naga Langit sendiri tidak bisa mencabutnya karena akarnya sudah menyebar, mulai bergerak!
Satu senti... dua senti...
Setiap senti pedang itu tertarik keluar, darah emas dari jantung Leluhur Naga Langit muncrat keluar dan cacing-cacing hitam dari akar pedang itu mencoba merayap keluar dan masuk ke dalam tubuh Arya!
"Sekar, sekarang!"
Arya berteriak dengan suara tertahan karena menahan kekuatan dan serangan jiwa dari roh pedang itu.
Sekar Embun yang sudah bersiap dari tadi langsung melesat maju. Kedua tangannya yang kini diselimuti es abadi biru bening yang sepuluh kali lebih murni dari sebelumnya karena ritual tadi, langsung menempel di dada Leluhur Naga Langit, tepat di sekitar luka pedang itu.
"Teknik Embun Beku Abadi, Segel Jantung Es Sepuluh Ribu Tahun!"
KRAK! KRAK! KRAK!
Lapisan es biru bening yang sangat tebal dan sangat murni langsung menyebar dari telapak tangan Sekar dan membekukan semua pembuluh darah, semua meridian, dan semua cacing hitam yang mencoba keluar dari jantung Leluhur Naga Langit! Darah emas yang muncrat tadi langsung membeku menjadi kristal emas yang indah dan tidak mengalir lagi!
Racun darah tidak bisa menyebar!
Pedang itu sudah tertarik setengah!
"ARGHHHH! LEPASKAN AKU! AKU TIDAK MAU DIMURNIKAN!"
Roh pedang yang menyadari bahwa dia akan segera tercabut dan dimurnikan itu menjerit dengan sangat keras dan mencoba untuk meledakkan dirinya sendiri! Cahaya merah darah yang sangat pekat mulai berkumpul di gagang pedang, tanda dia akan meledak!
Jika pedang tingkat Kaisar meledak di sini, seluruh Istana Teratai Suci akan hancur!
"Luna, sekarang!"
Arya dan Sekar berteriak bersamaan.
Luna Maheswari yang sudah berdiri dengan kedua tangan terangkat dan mata terpejam sejak tadi, yang tubuhnya kini memancarkan cahaya teratai suci putih keemasan yang sangat terang hingga seluruh ruangan bintang itu berubah menjadi putih, akhirnya membuka matanya.
Matanya kini bukan lagi mata manusia biasa, tapi mata yang di dalamnya terlihat sebuah teratai putih keemasan yang mekar dengan pelan.
"Dengan nama Teratai Suci Pemurnian Jiwa yang sempurna, aku, Luna Maheswari, memerintahkanmu... tenanglah..."
Suara Luna tidak lagi suara gadis manja, tapi suara yang agung dan suci, seperti suara dewi pemurnian yang turun dari langit.
Cahaya putih keemasan dari tubuhnya melesat dan menyelimuti pedang darah hitam yang sudah setengah tercabut dan sedang mengumpulkan energi untuk meledak itu.
Cahaya merah darah yang pekat itu, yang merupakan kebencian seribu tahun, begitu tersentuh cahaya putih keemasan itu langsung mengeluarkan suara mendesis seperti air yang dituangkan ke atas besi panas.
Jeritan roh pedang yang tadinya penuh kebencian itu perlahan berubah menjadi tangisan, lalu menjadi desahan lega, lalu menjadi keheningan.
Seribu jiwa yang terperangkap di dalam pedang itu akhirnya dimurnikan dan dibebaskan.
Cahaya merah darah yang akan meledak itu padam total.
Melihat kesempatan itu, Arya mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir.
"CABUT!"
BOOM!
Pedang Jantung Darah Iblis yang sudah tertancap seribu tahun itu akhirnya tercabut sepenuhnya dari dada Leluhur Naga Langit!
Darah emas muncrat, tapi langsung dibekukan oleh Sekar. Asap hitam keluar dari lubang pedang, tapi langsung dimurnikan oleh Luna.
Arya memegang pedang hitam-merah yang masih bergetar pelan di tangannya, pedang yang kini sudah kehilangan rohnya dan hanya menjadi pedang biasa, lalu tanpa ragu dia menghancurkannya dengan tinjunya sendiri!
KRAK! PECAH!
Pedang Jantung Darah Iblis yang menjadi mimpi buruk selama seribu tahun itu hancur menjadi debu hitam yang kemudian dimurnikan menjadi debu putih oleh cahaya Luna dan menghilang tanpa jejak!
Pedang itu hancur!
Lubang besar di dada Leluhur Naga Langit masih ada, tapi tanpa pedang dan racunnya, cahaya keemasan dari tubuhnya sendiri mulai mengalir dan menutup lubang itu dengan perlahan.
Leluhur Naga Langit yang sudah menahan sakit seribu tahun itu menarik napas panjang untuk pertama kalinya tanpa rasa sakit. Napasnya masih lemah, tapi sudah tidak ada lagi suara cacing hitam di dalamnya. Wajahnya yang pucat pasi mulai mendapatkan sedikit warna.
Dia berhasil diselamatkan.
Arya, Sekar, dan Luna yang melihat pedang itu hancur dan Leluhur Naga Langit bisa bernapas lega, ketiga-tiganya langsung jatuh terduduk di lantai kristal karena kehabisan energi total. Keringat membasahi punggung mereka, tapi senyum bahagia dan lega tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka.
Mereka berhasil. Mereka benar-benar mencabut pedang yang bahkan ahli Alam Kaisar Langit pun tidak bisa mencabutnya selama seribu tahun.
Leluhur Naga Langit yang masih terbaring tapi sudah jauh lebih baik itu menatap tiga anak muda yang terduduk lemas di depannya itu dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia dan terharu.
"Terima kasih... anak-anak... Terima kasih... Kalian telah menyelamatkan kakek... dan menyelamatkan seluruh dunia ini dari malapetaka yang lebih besar..."
Dia mengangkat tangannya yang masih gemetar dan tiga tetes darah emas murni keluar dari ujung jarinya dan melayang ke arah dahi Arya, Sekar, dan Luna.
"Ini adalah hadiah kecil dari kakek... Darah Asli Naga Langit... untuk kalian bertiga..."
Tiga tetes darah emas itu masuk ke dalam dahi mereka bertiga.
Begitu darah itu masuk, tubuh Arya, Sekar, dan Luna langsung diselimuti cahaya keemasan yang sangat hangat dan sangat nyaman, semua kelelahan mereka tadi langsung hilang total, bahkan kultivasi mereka naik sedikit!
Tapi sebelum mereka sempat berterima kasih, seluruh ruangan bintang itu tiba-tiba bergetar dengan hebat, bahkan lebih hebat dari saat pintu makam dibuka tadi!
Bukan hanya ruangan makam, tapi seluruh Danau Teratai Suci di atas, seluruh Istana Teratai Suci, bahkan seluruh Perguruan Langit Biru yang jaraknya setengah hari perjalanan pun ikut bergetar!
Dari bawah altar tempat Leluhur Naga Langit terbaring, dari kedalaman yang bahkan lebih dalam dari makam ini, sebuah suara gemuruh yang sangat dalam dan sangat tua, yang bahkan lebih tua dari Leluhur Naga Langit dan Leluhur Darah Hitam, terdengar.
Suara itu seperti suara sesuatu yang sangat besar yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang karena merasakan segel Pedang Jantung Darah Iblis yang menahan pintu penjaranya selama seribu tahun telah hancur.
Leluhur Naga Langit yang baru saja mendapatkan sedikit warna di wajahnya itu, begitu mendengar suara gemuruh itu, wajahnya langsung pucat pasi kembali seperti mayat, bahkan lebih pucat dari saat pedang masih tertancap di dadanya.
Matanya yang emas itu membelalak dengan ketakutan yang bahkan tidak pernah terlihat saat dia melawan Leluhur Darah Hitam seribu tahun lalu.
"Tidak... Tidak mungkin... Segel itu... Segel itu terbuka... Dia... Dia bangun... Raja Iblis Laut Dalam yang asli... yang kami segel di bawah Danau Teratai Suci bersama dengan Leluhur Darah Hitam seribu tahun lalu... dia bangun!"
Raja Iblis Laut Dalam!
Musuh yang bahkan lebih mengerikan dari Leluhur Darah Hitam!
Dan dia bangun tepat setelah mereka mencabut pedang yang menjadi kunci segelnya!
Di bawah altar yang bergetar hebat itu, lantai kristal yang tadinya menampilkan sungai cahaya yang indah, kini retak dan dari dalam retakan itu, air hitam yang sangat pekat dan sangat dingin, yang memancarkan hawa iblis yang jauh lebih mengerikan dari darah hitam Leluhur Darah Hitam, mulai merembes keluar!