Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ibam cukup hapal dengan suara yang menjawab salamnya, dan yang pasti suara itu bukan milik Indara, melainkan Bude’ Aya. Wanita paruh baya itu terllihat dengan ramahnya melangkah menuju Ibam.
“Ara sama Ina lagi buat minum. Tadi Bu Titi sama Naura ke pasar dan belum balik.” Ucap Bude’ Aya sambil mendudukkan tubuhnya disalah satu sofa yang berada tak jauh dari Ibam.
“Oh iya bu.” Jawab Ibam dengan singkatnya. (Bukan karena enggan namun seperti sungkan dan gugup).
“Jadi gimana nak Ibam ?” Tanya Bude’ Aya kembali. “Tumben kamu kerumah jam segini ? Apa kaki Ara sakit lagi ?” Tanya Bude’ Aya beruntun dengan tetap ramah dan menyunggingkan senyum.
Pertanyaan beruntun Bude’ Aya seperti tak memberi jeda pada Ibam untuk menarik napas, karena setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Bude’ Aya membuat Ibam seperti mengurungkan niat untuk menghirup oksigen.
“Engg enggak bu. Sa saya—." Ucap Ibam dengan patah-patah. Sesaat kemudian terpotong saat melihat Indara membawa nampan dengan dua cangkir dan segelas susu. Sementara Ina membawa satu piring berisi cookies dengan dua tangannya.
Setelah Indara meletakkan cangkir tersebut di depan dua orang yang sedang saling menatap itu. Bude’ Aya mempersilahkan Ibam untuk melanjutkan ucapannya.
“Silahkan lanjutkan ucapanmu nak Ibam.” Ucap bude’ Aya pada Ibam yang melirik Ina dalam pangkuan Indara. Padahal sebenarnya Indara yang dilirik oleh laki-laki itu.
Ibam mengambil nafas dalam-dalam, ia sepertinya ingin mengisi setiap rongga paru-parunya dengan oksigen sebelum mengeluarkan suara kembali.
“Jadi hari ini saya mau mengajak Indara keluar Bu. Itu kalau ibu tidak keberatan. Saya juga mengajak Ina, kalau ibu mengizinkannya saya usahakan untuk megantarkan Indara sebelum Magrib.” Ucap Ibam dengan lebih jelas dan tak lagi terpatah-patah.
“Kamu mau ngajak Indara kemana ?”
“Saya mau ngajak Indara kepasar bunga bu, kalau Indara mau, Ina juga mau kesana katanya. Mungkin setelah itu hanya akan berkeliling.” Jawab Ibam sopan pada wanita paruh di depannya itu.
“Kalau saya memberikan ijin, apa kamu akan menjaganya ?” Tanya Bude’ Aya.
“Iya bu. Insya Allah.” Jawab Ibam dengan menunduk.
“Kalian harus kembali sebelum Magrib. Kalian harus kembali seperti kalian pergi. Kalian paham kan ? Tanya Bude’ Aya pada mereka. “Terutama kamu nak Ibam. Kamu yang bertanggung jawab atas Indara selama kamu keluar bersamanya.” Ucap Bude’ Aya yang semakin dipertegas.
“Iya bu. Insya Allah.” Jawab Ibam kembali.
“Iya sudah, habiskan minuman kalian dulu sebelum berangkat.” Ujar Bude’ Aya kembali dan meraih cangkir yang berada di atas meja. “Ina habiskan susunya ya nak.” ucapnya kembali pada Ina yang masih sibuk dengan cookies ditangannya.
“Iya bu.” Jawab Ina sambil mengangguk dan beranjak dari pangkuan Indara untuk mengambil gelasnya.
Setelah menghabiskan minumannya, baik Ibam ataupun Ina. Dengan segera Ibam berpamitan pada bude’ Aya.
“Kalau gitu kami pamit dulu bu.” Ucap Ibam pada bude’ Aya tengah menatap Ina yang sibuk dengan makanannya.
“Iya nak. Kalian hati-hati.” Jawab Bude’ Aya. “Ra, kamu nggak bawa apa-apa ?” Tanya Bude’ Aya pada Indara yang masih mematung.
“Haaa ?” Tanya Indara dengan terkejutnya. “Oh iya bude’, tasnya Ara masih di atas. Sebentar ya aku ambil dulu.” Ucapnya dan meninggalkan ruangan tersebut.
Indara dengan segera meraih tasnya yang berada di atas meja belajar, tak lupa kembali memeriksa apa ada yang masih belum masuk atau tertinggal. Setelah dirasa semuanya sudah tak ada yang tertinggal, ia segera berjalan menuju tangga dan kembali bergabung dengan yang lain.
“Ra, cookiesnya masih ada kan ?” Tanya Bude’ Aya saat mendengar langkah kaki Indara semakin jelas.
“Masih bude’.” Jawab Indara sembari membenarkan tas yang sudah menggantung ditubuhnya.
“Kalau gitu kamu bawa ya, biar Ina bisa makannya dijalan. Kalian pake mobil kan ?” Tanya Bude’ Aya kembali memastikan bahwa mobil yang terparkir tepat didepan rumahnya itu adalah mobil yang akan digunakan oleh mereka.
“Iya bu.” Jawab Ibam.
“Iya sudah, kamu siapin dulu Ra.” Pinta bude’ Aya pada Indara.
Dengan segera Indara melangkah menuju dapur dan memindahkan cookies tersebut kedalam wadah. Gadis itu juga tak melupakan air minum untuk gadis kecil Ina, dengan sigap tangannya meraih botol air minum dan mengisi.
Ibam menangkap sosok Indara yang telah kembali dari dari dapur dengan menenteng paper bag berwarna coklat.
“Kami pamit bude’.” Ucap Indara dan menyalami bude’ Aya, begitupun hal sama juga dilakukan oleh Ina pun dengan Ibam.
“Assalamualaikum.” Salam ketiganya. Ibam dengan segera menggendong Ina untuk segera menuju mobil.
“Waalaikumussalam.” Jawa Bude’ Aya. “Hati-hati.” Ucapnya kembali
Bude’ Aya menatap punggung ketiganya, tanpa sadar wanita paruh baya itu tersenyum tipis dan menutup pintu.
Setelah Ibam menekan kunci otomatis mobil dengan segera Indara membuka pintu belakang dan akan berniat masuk. Namun diurungkan setelah mendengar Ina bertutur padanya.
“Tante Ara didepan aja.” Ucap gadis kecil yang masih berada digendongan Ibam.
“Kalau tante Ara didepan, tuanputri mau dibelakang ?” Tanyanya pada gadis itu.
“Enggak tante.” Jawabnya.
“Ya udah, tuan putri didepan trus tante dibelakang yah sayang.” Ucap Indara lembut sembari memberi pengertian pada gadis itu.
“Ina nggak mau tante. Ina maunya sama tante di depan.” Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Indara tercengang mendengar perkataan Ina. Sontak saja gadis itu meraih Ina dari gendongan Ibam, sebelum gadis kecil itu menumpahkan cairan dari dalam matanya.
“Iya, iya tuan putri. Sama tante kok.” Ucap Indara menenangkan Ina dan mengelus punggungnya.
Ibam yang melihat Indara masih menentang paper bag, dengan segera meraih dan meletakkan dikursi belakang. Sedangkan Indara bersiap-siap untuk kembali masuk mobil tepat disamping kemudi sambil menggendong Ina. Namun suara motor matic menghentikan niat gadis itu.
“Nak Ibam.” Panggil Bu Titi yang baru saja turun dari motor.
“Iya bu.” Jawab Ibam. “Assalamualaikum.” Salamnya kembali.
“Waalaikumussalam.” Jawab Bu Titi dan Naura pada Ibam.
“Mbak cantik mau kemana ?” Tanya Naura pada Indara yang terlihat masih menggendong Ina.
“Mau keluar Nau.” Jawab Indara sambil tersenyum kecil pada Naura.
“Oh..” Ucap Naura. Sementara Bu Titi memandang keduanya penuh maksud, terutama pandangannya pada Indara.
“Bu Titi kenapa ?” Tanya Ina dengan polos, setelah mengangkat kepalanya dari bahu Indara yang dijadikan tempat senderan.
“Nggak apa-apa Ina.” Jawab Bu Titi dan menatap Ina dengan senyum tipis. “Ina ikut sama om Ibam juga ?” Tanya Bu Titi kembali.
“Hu’um. Ina mau ke pasar bunga. Abis itu keliling kota.” Ujar gadis itu dengan semangatnya. Sepertinya ia telah melupakan rasa kesalnya tadi.
“Kalau gitu kalian hati-hati yah.” Ucap Bu Titi.
“Iya bu.” Jawab Ibam dan Indara serentak.
“Kami masuk dulu mas Ibam, mbak cantik, Ina.” Ucap Naura seperti mengabsen nama mereka satu persatu.
Baik Ibam ataupun Indara hanya mengangguk sebagai jawabannya. Sementara Ina kembali menyenderkan kepalanya dibahu Indara.
“Assalamualaikum.” Salam Bu Titi dan Naura kemudian memasuki halaman rumah Bude’ Aya.
“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya.
“Tante ayo masuk.”Ajak Ina pada Indara.
“Iya tuan putri, ayo.” Ucap Indara dan hendak meraih pegangan pintu mobil, namun sudah lebih dulu dibuka oleh Ibam.
“Terima kasih.” Ucapnya pada Ibam yang masih memperhatikan Indara.
“Sama-sama.” Jawab Ibam kemudian menutup pintu setelah tubuh Indara dan Ina sempurna berada di dalam mobil.
Ibam setengah mengelilingi mobil sebelum tubuhnya didaratkan dibelakang kemudi. Setelah itu terlihat mobil tersebut perlahan-lahan meninggalkan depan rumah Bude’ Aya.