Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Jamuan Keluarga
Untuk sesaat, semua orang hanya saling melihat.
Yvonne adalah perempuan yang membuat ruang kecil itu terasa lebih rapi hanya dengan berdiri di ambang pintu. Pakaiannya sederhana, gaun gelap tanpa perhiasan mencolok, tetapi cara ia membawa diri membuat Kirana segera tahu bahwa kesederhanaan itu dipilih, bukan dipaksa. Nadine di sebelahnya berbeda sama sekali. Wajahnya cerah, matanya bergerak cepat, dan senyumnya seperti seseorang yang selalu punya komentar sebelum diminta.
Kirana menunduk sedikit. "Selamat siang, Bu. Selamat siang."
"Selamat siang, Kirana," kata Yvonne. "Maaf kami datang terlalu awal."
"Tidak apa-apa."
"Itu bohong sopan," bisik Nadine, cukup keras untuk didengar semua orang. "Wajah Kak Leon seperti ingin mengusirku."
Leon menatap adiknya. "Masuk."
Nadine melangkah masuk dan langsung berhenti ketika melihat dapur. Di atas kompor, ayam kecap masih mengental. Di meja, sayur bening, tahu goreng, sambal, dan piring kue sudah tersusun. Di dekat wastafel, Leon memakai celemek abu-abu dengan tangan memegang lap.
Nadine menutup mulut. Bahunya bergetar.
"Jangan," kata Leon.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Matamu sudah."
Yvonne juga melihat putranya. Tatapannya lebih halus, tetapi tidak kalah terkejut. Nathaniel Sim, anak yang dulu bahkan jarang mengambil air sendiri karena seluruh rumah bergerak sebelum ia meminta, kini berdiri di dapur kecil, menjaga ayam kecap agar tidak gosong.
Kirana menangkap keterkejutan itu dan tiba-tiba ingin menjelaskan. "Kami masak sederhana. Kalau rasanya kurang..."
"Aromanya enak," potong Yvonne lembut.
Kirana sedikit lega.
Ia menyerahkan kotak kue dengan kedua tangan. "Saya membawa ini. Tidak mahal, tapi masih hangat saat dibeli."
Yvonne menerimanya seperti menerima sesuatu yang berharga. "Terima kasih. Bunda suka kue tradisional."
Kata Bunda membuat Kirana bingung harus memanggil apa. Bu? Bunda? Ibu? Ia belum sempat memutuskan ketika Nadine sudah mengintip isi kotak.
"Ada onde-onde?"
"Ada," jawab Kirana.
"Aku resmi menyukaimu."
"Nadine," tegur Yvonne.
"Apa? Aku menilai orang dari pilihan kue. Itu metode yang sah."
Kirana tidak bisa menahan senyum kecil.
Ketegangan pertama mencair sedikit.
Mereka duduk di ruang makan yang sebenarnya terlalu kecil untuk empat orang, tetapi Kirana sudah menggeser kursi dan menaruh bangku tambahan. Leon hendak mengambil piring, namun Yvonne berdiri lebih dulu.
"Bunda bantu."
"Tidak perlu," kata Leon.
"Bunda tidak tanya izin."
Kirana buru-buru ikut berdiri. "Saya saja, Bu."
Yvonne menatapnya dengan mata hangat. "Kalau kamu memanggil Bunda dengan Bu karena gugup, Bunda tidak keberatan. Tapi kalau suatu hari ingin memanggil Bunda, Bunda juga tidak keberatan."
Kirana merasakan tenggorokannya menegang.
Tidak ada hinaan. Tidak ada tatapan jijik. Tidak ada pertanyaan mengapa perempuan seperti dirinya berani masuk ke keluarga orang. Justru keramahan yang terlalu lembut membuatnya hampir tidak tahu cara berdiri.
"Baik, Bu," katanya pelan.
Yvonne tidak memaksa.
Makan siang dimulai dengan canggung, lalu perlahan hidup. Nadine memuji ayam kecap dengan ekspresi berlebihan sampai Leon menyuruhnya makan saja. Yvonne bertanya tentang pekerjaan Kirana di toko, bukan tentang penjara. Kirana menjawab hati-hati, tetapi semakin lama suaranya semakin stabil.
"Kamu suka pakaian?" tanya Yvonne.
"Saya suka desain. Dulu ingin menjadi perancang busana."
"Dulu?"
Kirana menatap piring. "Hidup sempat berubah arah."
"Arah bisa dicari lagi."
Kalimat itu mirip dengan yang pernah Leon katakan. Kirana melirik Leon tanpa sadar. Pria itu juga menatapnya, seolah ingin berkata bahwa ia tidak sendirian dalam membuka pintu itu.
Nadine mengunyah tahu goreng. "Kak Leon pernah bilang dia tidak mengerti kenapa orang bisa lama memilih kain. Sekarang dia menikahi orang yang mengerti kain. Hidup memang lucu."
"Aku tidak pernah bilang begitu," kata Leon.
"Kamu bilang saat aku memilih gaun ulang tahun."
"Kamu memilih selama tiga jam."
"Karena gaunnya penting."
"Kamu akhirnya memakai yang pertama."
"Karena aku butuh perjalanan untuk menyadari pilihan pertama terbaik."
Kirana mendengar mereka berdebat dan merasa aneh. Ini keluarga. Bukan keluarga sempurna, tetapi ada kebiasaan saling menyela yang tidak langsung berubah menjadi luka. Di rumah Sylvia Leng, meja makan adalah tempat kesalahan dihitung. Di sini, bahkan celaan Nadine terdengar seperti cara mencari perhatian.
Namun semakin lama, Kirana juga melihat sesuatu yang tidak sepenuhnya ringan.
Setiap kali ponsel Nadine bergetar, senyum perempuan itu sedikit retak. Ia menaruh ponsel terbalik, lalu memaksa tertawa lebih keras. Di pergelangan tangannya, ada gelang lebar yang tampak tidak cocok dengan pakaian santainya. Ketika ia mengambil sambal, lengan bajunya naik sedikit, dan Kirana melihat bayangan kebiruan di dekat tulang pergelangan.
Kirana menahan napas.
Nadine segera menurunkan lengan.
Leon melihatnya juga.
Yvonne berpura-pura mengambil air, tetapi wajahnya menegang. Untuk beberapa detik, rahasia lain duduk di meja bersama mereka.
Nadine memecah keheningan dengan mengangkat gelas. "Untuk ayam kecap Kak Leon yang tidak membunuh siapa pun."
Kirana tersentak sangat halus.
Nadine langsung sadar. Wajahnya pucat. "Maaf. Aku tidak bermaksud..."
Ruang makan membeku.
Leon menatap adiknya tajam. "Nadine."
"Aku benar-benar tidak bermaksud."
Kirana meletakkan sendok. Dadanya sakit, tetapi ia melihat rasa bersalah di mata Nadine yang nyata, bukan pura-pura.
"Tidak apa-apa," kata Kirana.
"Tidak, itu tidak lucu. Aku sering bicara tanpa berpikir."
"Aku tahu kamu tidak sedang menyerangku."
Nadine menggigit bibir. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak jauh lebih muda dan lebih rapuh daripada sikap cerianya. "Aku sudah dengar sedikit dari Bunda. Tidak semuanya. Aku hanya... maaf."
Kirana menatapnya lama. "Aku juga kadang tidak tahu harus bereaksi bagaimana ketika orang tahu masa laluku. Jadi kita sama-sama canggung saja."
Yvonne menurunkan pandangan, mungkin menyembunyikan lega.
Leon tidak berkata apa-apa, tetapi tangannya di bawah meja bergerak mendekat ke tangan Kirana. Ia tidak menyentuh tanpa izin. Hanya berada di sana. Kirana melihatnya, lalu membiarkan jari kelingkingnya menyentuh punggung tangannya sebentar.
Nadine melihat gerakan kecil itu. Matanya tiba-tiba merah.
"Kalian..." Ia berhenti, tertawa singkat yang terdengar patah. "Kalian lumayan manis."
"Jangan menangis di atas sambal," kata Leon, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku tidak menangis."
"Matamu merah."
"Itu karena sambal."
"Kamu belum makan sambal."
Nadine mengambil sambal cepat-cepat. "Sekarang sudah."
Yvonne menggeleng, tetapi tangannya menyentuh bahu putrinya sebentar. Nadine kaku pada sentuhan itu, lalu memaksakan diri rileks. Kirana melihat semuanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah tangga Nadine, tetapi ia mengenali seseorang yang terlalu terbiasa mengalihkan rasa sakit menjadi lelucon.
Setelah makan, Yvonne membantu Kirana mencuci piring meskipun Kirana menolak berkali-kali. Leon dan Nadine duduk di ruang tamu, berdebat pelan tentang cara menyeduh teh. Dari dapur, Kirana bisa mendengar Nadine menertawakan kakaknya karena menyimpan gula di wadah garam.
"Kamu takut pada Bunda?" tanya Yvonne tiba-tiba.
Piring di tangan Kirana hampir tergelincir.
"Sedikit," jawabnya jujur.
"Karena masa lalumu?"
Kirana mengangguk.
Yvonne mengambil piring berikutnya. "Bunda tidak akan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Bunda tahu kamu pernah dipenjara. Bunda juga tahu orang yang pernah dipenjara tidak selalu sama dengan orang yang bersalah."
Kirana menatap air sabun.
"Nathaniel jarang membawa seseorang pulang ke hidupnya," lanjut Yvonne. "Kalau dia memilih menjagamu, pasti ada alasan. Tapi alasan itu tidak mengharuskan kamu membuktikan diri kepada Bunda hari ini."
Nama Nathaniel hampir membuat Kirana menoleh, tetapi Yvonne menyadari terlalu cepat.
"Maksud Bunda, Leon."
Kirana menatapnya.
Yvonne tetap tenang, tetapi jeda kecil itu sudah cukup.
Di ruang tamu, Leon juga mendengar. Ia berhenti bicara.
Kirana tidak bertanya. Bukan karena tidak curiga, melainkan karena di dapur itu, dengan piring basah di tangan dan ibu mertuanya berdiri di samping, ia tiba-tiba terlalu lelah untuk membuka rahasia lain.
Sore menjelang ketika Yvonne dan Nadine bersiap pulang. Nadine memeluk Kirana tanpa banyak izin, lalu berbisik, "Kalau Kak Leon menyebalkan, lapor aku. Aku punya daftar kelemahannya."
Kirana tersenyum. "Baik."
"Dan maaf soal tadi."
"Sudah."
Nadine mengangguk, tetapi matanya lagi-lagi beralih ke ponsel yang bergetar. Nama di layar tidak terlihat oleh Kirana, tetapi tubuh Nadine menegang seketika.
Leon melihat.
Yvonne juga.
"Kami pulang dulu," kata Yvonne.
Di pintu, ia memegang tangan Kirana sebentar. "Terima kasih sudah menerima kami."
Kirana menjawab pelan, "Terima kasih sudah datang."
Setelah pintu tertutup, apartemen menjadi sunyi. Sisa aroma ayam kecap masih menggantung, tetapi ketegangan baru ikut tertinggal.
Leon menatap Kirana. "Kamu baik-baik saja?"
Kirana ingin menjawab iya. Lalu ia mengingat nama yang hampir terucap di dapur.
"Siapa Nathaniel?"
Leon diam.
Di luar apartemen, Nadine berjalan menuju lift bersama Yvonne. Begitu pintu lift terbuka, ponselnya bergetar lagi. Kali ini ia menjawab.
"Aku pulang sekarang," katanya cepat.
Suara pria di seberang terdengar rendah dan tajam, tidak jelas kata-katanya, tetapi cukup membuat warna wajah Nadine hilang.
Yvonne menggenggam tangan putrinya.
Nadine menutup telepon dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gerald hanya tanya aku di mana."
Yvonne tidak percaya. Nathaniel, yang masih berdiri di balik pintu apartemen, juga tidak. Ia mendengar nada takut dalam suara adiknya melalui dinding tipis lorong.
Hari itu seharusnya hanya tentang makan siang keluarga.
Tetapi dua rahasia telah retak sekaligus.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔