Patah hati melihat gadis yang di cintai lebih memilih pria lain membuatnya bertemu dengan seorang gadis keturunan kerajaan luar Jawa, gadis yang berbeda dari trah garis darahnya.
Perbedaan di antara mereka dalam segi apapun membuat mereka sering berselisih pendapat dan tidak akur namun siapa sangka waktu telah membuat mereka sering berjumpa.
Seiring berjalannya waktu, ada benih rasa yang sedang bermekaran namun hati yang masih tertambat pada sang mantan kekasih membuatnya melukai hati sang putri. Mampukah mereka bersatu dalam perbedaan dan keadaan atau mereka menyerah begitu saja?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Membuatmu tenang.
Bang Anom menarik tangan Syila.
"Aku hamil Mas..!!" Kata Elma.
"Kamu hamil lalu apa urusannya denganku??? Itu anakmu bersama laki-laki lain. Ceritakan pada suamimu dan minta tanggung jawabnya..!!" Ucap garang Bang Anom.
"Aku istri kedua. Istri pertamanya memfitnahku..!! Sampai disini hanya kamu harapanku, kalau kamu mengusirku lalu aku harus pergi kemana Mas????" Pekik Elma.
"Persetan denganmu."
"Maaass.. teganya Mas bicara begitu. Mbak Elma sedang hamil." Kata Syila yang sebenarnya juga menahan tangis.
"Siapa yang memintamu bicara???? Saya seperti ini karena saya cinta sama kamu, saya perjuangkan kamu dan saya menjaga anak saya. Lebih baik kamu diam atau saya pulangkan kamu ke Abangmu..!!!!" Ancam Bang Anom, ucapnya yang kasar karena hatinya tak sanggup lagi menampung amarah yang melampaui batas saat kembali bertemu dengan Elma.
"Begitukah namanya cinta???? Syila nggak cinta sama Mas Anom.. sekarang kembalikan Syila sama Bang Suta..!!" Pinta Syila lalu meninggalkan Bang Anom.
"Syilaa.. jangan pergi sendiri..!!" Bang Anom hendak mengikuti langkah Syila tapi Elma meringkuk meremas perutnya. Dirinya bagai dilema berdiri di tengah pertikaian. "Ya Allah, Astaghfirullah hal adzim.. bisa bisanya aku membentak Syila." Gumamnya penuh sesal.
"Tolong aku Mas..!!"
Bang Anom memejamkan matanya sejenak dan menenangkan hatinya yang berantakan lalu segera berlari menyusul Syila dan membiarkan Elma sendiri.
~
"Deek.." Bang Anom berjalan mundur mengikuti gerak langkah Syila.
"Jangan kejar Syila.. Syila mau pulang." Pekik Syila sambil menangis dan mengusap air matanya. Tangisnya sesenggukan terdengar begitu sedih.
"Mau pulang kemana? Kamu salah jalan, ini di Asrama Matra laut. Asrama kita di sebelah." Kata Bang Anom.
"Makanya jangan kejar Syila, Mas buat Syila salah jalan." Pekik Syila.
"Kamu yang ngikutin Mas, bukan Mas yang kejar kamu." Jawab Bang Anom meluruskan tapi bukannya tenang, Syila malah semakin marah.
"Pokoknya Syila mau pulang, Syila nggak mau hidup disini..!!!! Disini nggak ada nasi, Syila nggak bisa jalan-jalan, nggak ada TV, sulit jaringan, disini juga ada.........." Tangis Syila semakin sesak seakan tak sanggup lagi bicara.
"Elma??? Mas nggak ada hubungan apapun lagi dengan Elma."
"Tapi Mbak Elma hamil, dia kesini hanya untuk Mas Anom, dia berjuang keras." Syila yang gemas menangis sampai memukuli dada Bang Anom.
"Saking awakmu wedhok dek, coba lanang yowes tak tunjeki nganti bengep." Gumam lirih Bang Anom tapi hatinya kalah dengan segala sikap Syila. "Lihat suamimu baik-baik..!!!"
Syila pun memberanikan diri menatap wajah Bang Anom.
"Apa usaha dan perjuanganmu untuk mengunciku?? Kamu nangis dan kesal tapi tidak mempertahankan saya??? Apa jadinya kalau saya jadi laki-laki bia*ab yang merespon Elma, saya mau kamu jugaa mau dia. Apa tidak sakit hatimu????" Tegur Bang Anom. "Maaf saya salah sudah membentakmu, tapi jelas itu salahmu dek. Kamu ingat-ingat kata saya, kamu istri saya.. berarti semua lawan jenismu adalah musuh terbesar saya, tekankan itu dalam hatimu juga..!! Saya suamimu berarti seluruh wanita di dunia ini adalah ancaman besar buatmu karena dalam rumah tangga harus ada rasa cemburu. Tapi ingat... gunakan pikiran dan hatimu, kapan harus menggunakan sifat cemburu dan kapan harus menempatkan lawan jenis sebagai musuh. Manusia harus memiliki kontrol diri..!!!!"
Tangis Syila sedikit mereda. Masih tertinggal rasa kesal tapi saat ini dirinya lebih merasa takut berhadapan dengan manusia seribu garang macam Bang Anom.
"Tapi maksud Syila bukan begitu. Mbak Elma hamil, dia tidak punya teman disini."
"Itulah kau Syila, kebodohan mu memang sudah di ambang batas. Apa kau mau memberi umpan manis untuk suamimu?????" Bang Anom kembali meninggikan suaranya.
Syila terdiam sejenak dan berpikir keras tapi lama kelamaan dirinya menyadari ada titik kesalahan fatal yang nyaris di lakukannya.
"Sudah sadar salahmu?????" Tegur Bang Anom.
Seketika Syila memeluk Bang Anom begitu eratnya. Tubuhnya sampai gemetar ketakutan. Iantak paham mengapa hatinya bisa begitu ketakutan kehilangan Bang Anom. Membayangkan Bang Anom bersama wanita lain saja rasanya tak mampu.
"Tidak ada nasi disini tetap Mas usahakan, mau televisi nanti Mas sambungkan, Kamu butuh jalan-jalan tidak akan Mas abaikan, urusan jaringan kurang pasti mas yang selesaikan, tapi kalau soal wanita lain.. cukup..!! Tidak ada ruang, sudah ada yang mengisi dan memiliki. Saya sudah pasrah di tangani pawang terakhir."
"Maaaaaass.. Syila sedih, nggak tau mau ngomong a_paaa??" Ucap Syila tersendat karena memang tidak tau harus bagaimana bersikap di hadapan Bang Anom.
"Nggak usah ngomong apa-apa. Cukup nurut sama Mas dan jangan ceroboh lagi itu sudah cukup."
"Syila nggak mau punya garwa alit. Syila hanya mau Mas untuk Syila sendiri. Apakah Syila perempuan yang serakah??" Tanya Syila merengek dan menarik-narik kaos Bang Anom dengan manja.
"Pulang yuk..!!" Bisik Bang Anom.
"Mau apa?" Suara Syila semakin menggoda.
Bang Anom menggaruk kepalanya, bingung sendiri dengan pertanyaan Syila sebab ia pun tak tau apa yang akan di lakukannya di rumah.
:
Syila dan Bang Anom sedang duduk berdua di belakang rumah sambil menikmati rujak buah. Bang Anom dengan senang hati mengulek bumbu rujak karena memang Syila hampir tidak pernah menyentuh dapur, jangankan untuk tau memasak, ketumbar dan merica bahkan jahe dan kencur saja Syila tidak tau.
"Coba ini apa?"
"Kencur ya Mas?" Kata Syila menerka apa yang di tunjuk Bang Anom.
"Itu kunyit dek..!! Warnanya kuning oranye begitu pasti kunyit. Kalau kencur baunya yang tajam."
Syila mengangguk kemudian mencolek lagi bumbu rujak dengan sepotong buah mangga.
Mereka berdua asyik bercanda seakan lupa dengan kejadian tadi pagi hingga satu ketukan pintu membuat mereka berdua saling pandang.
.
.
.
.
selalu kutunggu karya²mu kak