Season Terakhir dari Keluarga Roberto.
Baca Dulu Season Sebelumnya:
1. Anak Genius Milik Sang Milliarder
2. Pesona Si Kembar (Ada Cerita di Balik Gerbang Sekolah)
3. Pesona Si Kembar 2 (Cinta Tersembunyi di Balik Gerbang Kampus)
4. Pesona Si Gadis Badas
Callie Noura Eleanor, bocah cilik berusia 3 tahun dan merupakan anak dari Rachel dengan Lucky. Si bocah cilik cerewet dan sangat genius. Usianya yang baru menginjak 3 tahun itu, dia sudah pintar berbicara dan memainkan senjata andalannya. Begitu licik, hingga membuat keluarga hanya bisa geleng-geleng kepala.
Jika sepupunya seringkali merahasiakan identitas keluarganya, justru berbeda dengan Callie. Dia akan terang-terangan mengaku dari Keluarga Roberto. Hal itu membuat dia selalu berada dalam bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledekan
"Minggil... Olang kaya mau lewat. Kasih kalpet melahnya dong," seru Callie saat memasuki sebuah mall. Bahkan cara berjalannya sudah seperti model terkenal dengan berlenggak-lenggok sambil tangan berada di pinggang.
Callie mengajak Rachel, Ussy, Naura, Rose, dan Vita ke mall. Pasalnya kemarin dia tidak jadi mengajak Rachel ke mall. Ini semua karena kemarin ada masalah pada Arthur. Alhasil Callie lupa untuk mengajak Rachel pergi ke mall. Semua yang bersama Callie di belakangnya sampai memejamkan mata mendengar teriakan bocah cilik itu. Rasanya mereka ingin berjauhan dari Callie karena sedikit malu dengan tingkahnya itu.
Tak lupa dengan beberapa pengunjung mall yang tampaknya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Callie. Yang dilihat sama sekali tidak peduli. Bahkan berjalan dengan santai, padahal Callie menggunakan sandal hak tinggi dan membawa tas selempang. Bocah cilik itu sudah seperti model yang tengah memamerkan tas dan sepatunya.
"Tante lachel ndak malu punya anak kaya Callie? Angkat anak balu aja sih. Dikila olang stless lho itu sama pengunjung mall," ceplos Naura yang shock dengan tingkah Callie. Naura memang tahu jika di rumah itu Callie pasti sering berteriak. Namun ini di tempat umum dengan banyak pengunjung.
"Sedikit sih, tapi nggak papa. Dia itu penghibur kita-kita di rumah kalau lagi pusing," ucap Rachel sambil terkekeh pelan.
"Lihat ke depan. Jangan kanan, kili, atas, dan bawah dilihat semua. Nanti nablak lho," tegur Naura pada Rose dan Vita yang berada dalam gandengannya.
"Gedungnya besal sekali. Ini luasnya lebih besal dalipada lapangan sepak bola di kampung kita," Rose berceloteh dan menceritakan tentang lapangan sepak bola di kampungnya. Rose sangat kagum dengan gedung mall yang besar itu.
"Bisa buat guling-guling," tambah Vita dengan antusiasnya.
Rose dan Vita awalnya takut masuk ke dalam mall itu. Pasalnya pakaian mereka yang menurut keduanya kurang pantas untuk berada di mall. Rose tidak memakai pakaian yang diberi Callie kemarin karena masih dicuci. Namun Callie memaksa mereka untuk ikut. Bahkan Rachel berjanji akan mengantar mereka untuk pulang nanti. Rachel dan Ussy sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang yang melihat Rose juga Vita. Toh nanti keduanya juga akan membeli di sana, bukan ingin mencuri.
"Mama, beli tas dulu ya." Callie langsung berlari menuju toko tas branded. Sedangkan Rachel langsung berlari mengejar Callie.
"Beli tas sekolah, Callie. Kok malah mau beli tas branded yang buat pesta sih," tegur Rachel yang langsung menarik tangan anaknya itu sebelum masuk ke dalam toko.
"Bagus lho itu. Mimited edition itu tulisannya. Callie belum punya yang walna ijo itu," ceplos Callie sambil memberontak dari gandengan tangan Rachel. Namun Rachel takkan membiarkan anaknya itu membeli tas branded lagi.
"Biarin. Mau limited edition atau apa, Mama nggak peduli. Beli tas sekolah baru Mama ijinkan," ucap Rachel yang kekeh dengan keputusannya. Tas branded Callie di rumah sudah sangat banyak. Itu adalah hadiah dari Mama Martha dulu yang sangat jarang Callie pakai.
"Itu juga bisa buat sekolah lho. Callie kan gayanya paling beda sendili. Lagian Callie juga nanti bayal sendili,"
Alasan Callie tetap tidak diterima oleh Rachel. Anaknya itu sangat menyebalkan jika berurusan dengan barang branded. Tas dan pakaian saja jarang dipakai tapi malah ingin membeli lagi. Ussy hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu. Beruntung Naura tidak terlalu suka berbelanja barang seperti itu. Naura hanya suka jajan jajanan dari pedagang yang lewat di depan rumah. Untuk pakaian dan perlengkapan sekolah, Ussy yang membelikannya.
"Itu mah tas buat pesta-pesta begitu," ceplos Vita saat melihat tas yang akan dibeli oleh Callie.
"Makanya itu, aneh sekali itu selela Callie. Masa mau sekolah pakai tas begitu," Naura juga setuju dengan Vita. Biasanya yang memakai tas seperti itu adalah Ibu-Ibu sosialita yang menghadiri arisan atau pesta.
"Kalian nanti selelanya jangan aneh kaya Callie. Jangan dekat-dekat sama Callie bial ndak ikutan stless," peringat Naura dengan raut wajah seriusnya.
Tapi Callie olangnya baik,
Tapi galak,
Hahaha...
***
Lucky sudah sampai di perusahaan milik Ronand. Laki-laki itu dengan cepat masuk ruangan Ronand untuk membicarakan masalah pekerjaan. Terutama tentang pembukaan jalur kapal yang mengangkut senjata mereka. Ada satu fakta yang didapatkan oleh Lucky. Pihak anggota lawan ditemukan mengapung di tengah laut. Padahal mereka adalah anggota berpengaruh di dunia bawah. Namun bisa luluh lantah karena serangan senyap yang entah darimana.
"Jadi Arven itu pengkhianat?" tanya Ronand pada Lucky yang sudah duduk di depannya.
"Iya, tapi bukan itu yang aneh dan buat aku bingung." ucap Lucky menatap serius pada Ronand.
"Jebakan yang kita buat di markas, bisa aktif sendiri tanpa tersentuh. Bahkan waktu itu Arven sedang ambil minum di kulkas, tapi tiba-tiba ada suara tembakan dan jatuh pingsan. Setelah diperiksa, jebakan yang kita buat di dapur tenyata aktif dan membuat Arven terluka. Apa sistemnya eror?" tanyanya yang masih bingung memikirkan hal ini. Pasalnya kemarin dia datang ke markas dan melihat sendiri tembakan itu memang berasal dari jebakan yang mereka buat.
"Apa jebakan itu bisa diaktifkan dari jarak jauh, Ronand?" Lucky akhirnya mengutarakan semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya pada Ronand.
Ronand pun terkejut mendengar ucapan dari Lucky. Ronand tak memberikan jawaban tapi tangannya langsung mengetik sesuatu pada laptopnya. Dia yang membuat sistem pada jebakan itu. Jebakan tersebut akan aktif jika ada sentuhan dan diaktifkan dari jarak jauh. Namun yang bisa mengaktifkan jebakan itu dari jarak jauh hanya dia dan Papa Fabio. Jika tidak tersentuh tapi bisa aktif, kemungkinan sistem eror atau ada yang mengaktifkan dari jarak jauh.
"Sistem tidak ada yang eror. Opa tidak mungkin mengaktifkan jebakan itu karena memang sudah lama Opa tak ikut campur urusan dunia bawah," ucap Ronand dengan raut wajah seriusnya.
"Ya, jebakan itu bisa diaktifkan dari jarak jauh." lanjutnya membuat Lucky terkejut.
"Lalu siapa yang mengaktifkannya?" tanya Lucky yang merasa buntu dengan hal ini.
"Tentu saja bukan aku dan Opa,"
"Aku cek lokasi jaringan yang digunakan untuk mengaktifkan jebakan itu. Sabar... Ada kode sandi yang sangat rumit. Ini orang kayanya pintar sekali,"
Ronand terus berusaha mengotak-atik laptopnya untuk mengetahui dimana lokasi jaringan yang digunakan oleh pengaktif jebakan itu. Lucky harap-harap cemas dengan apa yang dilakukan oleh Ronand. Dirinya khawatir kalau Ronand tidak bisa menemukan siapa sosok di balik ini semua. Jika tidak menemukan, pasti akan ada kejadian lain di dunia bawah nantinya. Lucky pasti harus kerja keras dalam menjaga markasnya.
Astaga...
Cieee...
Mau cari aku ya? Kasih aku telur gulung seratus biji dulu dong, baru aku muncul.
Gimana, Ronand? Ada apa?
🤣🤣🤣🤣