Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Kerja keras Dira akhirnya membuahkan hasil..Dalam waktu satu tahun, ia berhasil mengejar ketertinggalan pelajaran yang selama ini membebaninya. Berkat bimbingan para guru dan usaha yang tak kenal lelah, ia lulus ujian kesetaraan dengan hasil yang membanggakan.
Semua orang di yayasan ikut bersorak bahagia. Bu Emi memeluk Dira dengan mata berkaca-kaca. "Ibu sudah bilang, masa lalumu tidak menentukan masa depanmu."
Dira tersenyum lebar untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Di dalam hatinya, ia berbisik, "Mas Adrian... aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan. Ini baru langkah pertama. Aku akan terus maju sampai suatu hari nanti kita bertemu lagi."
***
Waktu terus berjalan. Setelah berhasil mengejar ketertinggalan pendidikannya, Dira diterima di salah satu sekolah menengah atas terbaik di kotanya. Sekolah itu memang bukan sekolah elite yang hanya diisi anak-anak dari keluarga kaya, tetapi dikenal memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik.
Berkat prestasi akademiknya yang terus meningkat, Dira memperoleh beasiswa penuh. Seluruh biaya pendidikannya ditanggung sehingga ia dapat belajar tanpa membebani yayasan. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dira seolah sedang berpacu dengan waktu. Ia sadar, masa lalunya telah membuatnya tertinggal bertahun-tahun dibandingkan teman-teman seusianya. Karena itu, ia bertekad mengejar semuanya.
Ia tidak hanya belajar untuk mendapatkan nilai tinggi. Ia mengikuti berbagai lomba akademik, olimpiade, debat, karya tulis, hingga kompetisi kewirausahaan. Jika sekolah membuka pelatihan, Dira menjadi orang pertama yang mendaftar. Jika ada seminar gratis, ia hadir. Jika ada buku baru di perpustakaan, ia menjadi salah satu pembaca pertama.
Baginya, setiap ilmu adalah investasi. Setiap pengalaman adalah bekal. Setiap kesempatan adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dilewatkan.
Para guru mulai mengenalnya sebagai siswi yang luar biasa haus akan pengetahuan. "Dira," kata salah seorang guru suatu hari, "kamu tidak pernah terlihat lelah. Apa yang membuatmu terus bekerja sekeras ini?"
Dira hanya tersenyum.."Karena saya tidak ingin kembali menjadi orang yang tidak punya pilihan."
Jawaban itu membuat guru tersebut terdiam..Tak seorang pun di sekolah mengetahui bahwa di balik semua prestasi itu, ada seorang gadis yang pernah tinggal di gubuk berdinding kardus, hampir dijual oleh ayahnya sendiri, lalu diselamatkan oleh seorang pemuda yang memberinya kesempatan kedua.
Dan jauh di dalam hati Dira, masih tersimpan satu impian yang tak pernah berubah..Suatu hari nanti, ketika ia bertemu kembali dengan Adrian, ia ingin berdiri di hadapannya bukan sebagai gadis jalanan yang membutuhkan pertolongan, melainkan sebagai perempuan yang berhasil mengubah takdirnya dengan kerja keras dan pendidikan.
***
Seiring berjalannya waktu, Dira tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan berprestasi.
Parasnya yang manis, sikapnya yang rendah hati, serta kecerdasannya membuat banyak orang mulai memperhatikannya.
Tak sedikit siswa laki-laki yang diam-diam mengaguminya. Ada yang memberinya cokelat dan bunga. Ada yang sengaja meminjam buku hanya untuk memiliki alasan berbicara dengannya. Bahkan beberapa di antaranya dengan berani mengajaknya berkencan.
"Dira, akhir pekan nanti... mau nonton bareng?"
Dira hanya tersenyum ramah. "Maaf, aku sudah punya rencana. Terima kasih." Ia menolak tanpa mempermalukan siapa pun.
Di sisi lain, banyak siswi juga ingin berteman dekat dengannya. Mereka mengagumi kecerdasan dan kedisiplinan Dira.
"Ayo belajar bareng, sekalian jalan-jalan setelahnya."
"Kapan-kapan kita nongkrong, ya."
Dira kembali tersenyum hangat. "Boleh belajar bersama. Tapi kalau untuk sering jalan-jalan, maaf ya. Aku masih punya banyak hal yang harus dikejar."
Bukan karena Dira sombong. Bukan pula karena ia merasa lebih baik dari orang lain. Ia hanya sadar bahwa waktunya sangat berharga. Setiap jam yang dimilikinya terasa seperti kesempatan untuk mengejar masa depan yang dulu hampir direnggut darinya.
Sementara teman-temannya menikmati masa remaja dengan berkumpul, berpacaran, atau menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan, Dira memilih duduk di perpustakaan, mengikuti pelatihan, membaca buku, atau mempersiapkan diri untuk kompetisi berikutnya.
"Aku tidak punya waktu untuk menyia-nyiakan kesempatan ini," bisiknya suatu malam sambil kembali membuka buku pelajaran. "Aku harus terus belajar." Dan memang itulah yang ia lakukan. Belajar. Belajar. Dan terus belajar. Karena bagi Dira, pendidikan bukan sekadar jalan menuju kesuksesan, melainkan jalan untuk memastikan bahwa ia tidak akan pernah kembali pada kehidupan yang pernah hampir menghancurkannya.
***
Suatu sore, saat Dira sedang membantu merapikan perpustakaan yayasan, sebuah mobil berhenti di halaman. Seorang perempuan elegan turun sambil membawa beberapa kotak berisi perlengkapan untuk anak-anak yayasan.
Perempuan itu adalah Dokter Monik, seorang dokter yang juga memiliki jaringan salon kecantikan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu donatur tetap yayasan dan sering datang untuk memeriksa kesehatan anak-anak sekaligus memberikan bantuan. Begitu melihat Dira, senyum Dokter Monik mengembang. "Dira?"
"Iya, Dok." jawab Dira yang tahu dengan dokter Monik meski selama ini mereka belum pernah berkomunikasi langsung.
Dokter Monik memandangnya beberapa saat, seolah membandingkan gadis yang berdiri di hadapannya dengan anak yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu. "Kamu benar-benar berubah."
Dira tersenyum malu.
"Dulu waktu pertama kali datang ke sini, rambutmu menggimbal, tubuhmu kurus, dan matamu penuh ketakutan."
Dira hanya menundukkan kepala.
"Sekarang..." lanjut Dokter Monik sambil tersenyum bangga, "kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik, sopan, dan berprestasi. Bu Emi sering bercerita tentang nilai-nilaimu."
"Semua berkat yayasan," jawab Dira pelan.
Dokter Monik mengangguk.."Lalu, apa rencanamu setelah lulus SMA?"
Pertanyaan itu membuat Dira terdiam..Ia tahu aturan yayasan..Yayasan hanya menanggung biaya hidup dan pendidikan anak-anak sampai mereka lulus sekolah menengah atas. Setelah itu, setiap anak harus mandiri dan mulai membangun kehidupannya sendiri. "Aku... belum tahu, Dok. Yang penting sekarang aku ingin terus belajar."
Dokter Monik tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu bekerja paruh waktu di salon milikku? Kebetulan ada salah satu cabang yang baru ku buka dan lokasinya dekat dari sini."
Dira membelalak. "Saya... bekerja?"
"Iya. Kamu bisa membantu pekerjaan ringan sepulang sekolah atau saat akhir pekan. Selain mendapatkan penghasilan, kamu juga bisa belajar bagaimana mengelola usaha."
Dira masih belum percaya. Ia yang bahkan belum lulus SMA ditawari bekerja.
Dokter Monik melanjutkan, "Selain itu, aku akan meminta anakku, Beri, untuk mengajarimu dasar-dasar bisnis. Dia memang masih muda, tetapi sudah cukup berpengalaman mengembangkan usaha."
"Mengajari... saya bisnis?"
"Tentu. Ilmu itu akan jauh lebih berguna ketika nanti kamu lulus. Aku ingin kamu tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi kalau memungkinkan, mampu membangun usahamu sendiri."
Mata Dira mulai berkaca-kaca. Kesempatan seperti itu terasa seperti mimpi. Ia membungkukkan badan dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Dok. Saya akan belajar sungguh-sungguh."
Dokter Monik tersenyum hangat. "Itu sebabnya aku memilihmu, Dira. Kesempatan hanya akan berarti bagi orang yang mau bekerja keras. Dan sejauh ini, kamu sudah membuktikan bahwa kamu adalah orang seperti itu."