NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Chenny Tio

"Dan lain kali," katanya, suara kembali dingin, "jangan biarkan dia naik ke lantai tiga."

Perintah Ethan sampai ke telinga Keira lewat cara yang tidak langsung.

Keesokan paginya, Jefri sendiri turun ke lantai dua untuk mengambil dokumen lanjutan dari Stephanie. Ia sopan seperti biasa, tetapi tidak memberi ruang sedikit pun bagi Keira untuk menawarkan bantuan.

Keira mengerti.

Ia tidak boleh naik lagi.

Stephanie mendengar kabar itu dari Bi Sari dan hanya tertawa lemah. "Ko Ethan memang begitu. Kalau ada orang melihatnya sedikit saja, dia langsung menutup semua pintu."

Keira tidak menjawab.

Ia sedang memeriksa suhu bayi ketika suara mobil terdengar dari halaman depan. Bukan rombongan besar. Hanya satu mobil, tetapi langkah staf di koridor berubah cepat.

Bi Sari masuk beberapa menit kemudian.

"Suster Keira, Nyonya Stephanie tidak perlu keluar. Tamu akan diterima di aula."

Stephanie yang semula bersandar di bantal langsung menegang. "Siapa?"

Bi Sari menatapnya sejenak sebelum menjawab. "Chenny Tio datang bersama Ko Gilbert."

Wajah Stephanie memucat.

Bayi di boks bergerak kecil, seolah ikut merasakan perubahan udara.

Keira meletakkan termometer di meja. "Nyonya Stephanie tetap di kamar."

"Dia berani datang ke sini?" suara Stephanie hampir pecah.

"Justru karena dia berani, Nyonya tidak boleh memberinya apa yang dia cari."

Stephanie menutup mulutnya dengan tangan.

Keira menatap Bi Sari. "Saya turun?"

Bi Sari mengangguk pelan. "Nyonya Besar belum di aula. Awasi saja. Jangan membuat keributan."

"Saya mengerti."

Aula utama sudah disiapkan seperti menerima tamu biasa, tetapi ketegangan di wajah staf membuat semuanya terasa palsu.

Gilbert berdiri dekat sofa, jasnya rapi seperti biasa. Di sampingnya, seorang perempuan muda membawa kotak kain kecil dengan kedua tangan.

Chenny Tio.

Keira mengenalinya sebelum ada yang memperkenalkan.

Perempuan itu tidak memakai perhiasan mencolok. Gaunnya katun putih dengan motif bunga kecil, lengan pendek, potongan sederhana. Rambutnya dibiarkan jatuh natural. Wajahnya hampir tanpa makeup, hanya lip balm tipis dan alis yang rapi. Ia tampak seperti seseorang yang tidak pernah berniat merebut apa pun dari siapa pun.

Terlalu bersih.

Terlalu tepat.

"Bi Sari," sapa Chenny lembut. "Maaf datang mendadak. Aku dengar Nyonya Stephanie masih kurang sehat. Aku hanya ingin menitipkan ini."

Ia membuka kotak itu.

Di dalamnya ada topi bayi rajutan tangan warna krem, dengan pita kecil di sisi kiri.

Beberapa staf perempuan di belakang Keira menahan suara kagum.

Gilbert menatap kotak itu dengan ekspresi lebih lunak daripada saat berada di depan kamar Stephanie.

"Chenny membuatnya sendiri," katanya.

Chenny segera menunduk. "Ah, hanya rajutan sederhana. Aku tahu mungkin tidak seberapa dibanding barang-barang bayi di rumah ini. Tapi aku pikir sesuatu yang dibuat sendiri... terasa lebih tulus."

Kalimat itu lembut.

Namun Keira mendengar kaitnya.

Barang mahal di rumah ini dingin. Buatan tangan Chenny tulus.

Stephanie, yang tidak membuat topi rajutan, akan terlihat lebih jauh lagi dari citra ibu lembut yang diinginkan Gilbert.

Keira berdiri di sisi meja, berpura-pura merapikan nampan.

Bi Sari menerima kotak itu tanpa langsung menyentuh topinya. "Terima kasih. Saya akan sampaikan kepada Nyonya Stephanie."

"Kalau boleh," Chenny berkata cepat, lalu seolah sadar ia terlalu ingin. Suaranya langsung melemah. "Maaf. Maksudku, kalau Nyonya Stephanie tidak keberatan, aku ingin melihat bayinya sebentar. Aku tidak akan lama."

Gilbert menoleh kepada Bi Sari. "Hanya sebentar."

Bi Sari tersenyum sopan. "Bayi sedang tidur. Dokter menyarankan kunjungan dibatasi."

"Oh." Chenny langsung mundur setengah langkah. "Tentu. Kesehatan bayi yang utama."

Ia terlalu mudah mengalah.

Keira melihat Gilbert melihat itu.

Melihat dan menilai.

Di kepala pria itu, mungkin kalimatnya sudah terbentuk: Chenny mengerti batas. Stephanie selalu meledak.

Keira menurunkan mata.

Jadi begini caranya.

Tidak perlu mengatakan Stephanie buruk. Cukup berdiri di sampingnya sebagai kebalikan yang lebih tenang, lebih lunak, lebih mudah dikasihani.

Gilbert berkata, "Aku akan titip pesan untuk Steph."

Bi Sari mempersilakan mereka menuju koridor depan kamar Stephanie, bukan masuk ke dalam. Keira ikut beberapa langkah di belakang dengan nampan teh, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh agar tidak tampak mengawasi.

Di depan pintu Stephanie, Chenny berhenti.

"Aku tidak ingin membuat Nyonya Stephanie salah paham lagi," katanya pelan kepada Gilbert, tetapi volumenya cukup untuk didengar orang sekitar. "Kalau kedatanganku membuat beliau tidak nyaman, aku bisa pulang."

"Kau hanya berniat baik."

"Niat baik kadang tetap menyakiti orang kalau waktunya salah."

Gilbert terdiam.

Keira hampir ingin tertawa dingin.

Bagus.

Mengakui kemungkinan menyakiti, tanpa pernah mengakui kesalahan. Orang yang mendengar akan merasa ia sangat peka. Padahal kalimat itu juga menempatkan Stephanie sebagai pihak yang terlalu mudah tersakiti.

Saat Bi Sari membuka pintu sedikit untuk menyampaikan pesan kepada pengasuh dalam, Chenny bergerak.

Gerakannya kecil.

Terlalu kecil untuk disebut sengaja oleh orang yang tidak memperhatikan.

Ujung sandalnya tersangkut di batas karpet dekat pintu. Tubuhnya oleng ke samping, lengannya membentur kusen.

"Ah."

Suaranya pendek, tertahan.

Gilbert langsung maju. "Chenny!"

Chenny memegang lengannya, wajahnya pucat sedikit. "Nggak apa-apa, Ko Gilbert. Jangan khawatir."

"Kau terluka?"

"Tidak. Aku saja yang ceroboh."

Ia tersenyum. Lembut. Menenangkan orang yang justru sedang mengkhawatirkannya.

Keira melihat mata Gilbert berubah.

Kasihan.

Protektif.

Terseret.

Bi Sari juga melihat, tetapi wajahnya tetap sopan.

Dari balik pintu, tidak ada suara Stephanie.

Keira bersyukur.

Kalau Stephanie membuka pintu saat ini dan melihat Gilbert memegang lengan Chenny, semua kerja mereka sebelumnya bisa hancur.

Chenny menunduk ke arah pintu tertutup. "Tolong sampaikan kepada Nyonya Stephanie, aku sungguh berharap beliau cepat pulih. Aku tidak akan mengganggu lagi."

Ia mundur.

Gilbert mengikutinya.

Keira tetap diam sampai mereka kembali ke aula.

Di sana, Chenny meminta izin ke toilet. Bi Sari memanggil satu staf untuk mengantar, tetapi Chenny menolak halus.

"Tidak usah repot. Aku ingat arahnya."

Kalimat itu juga aneh.

Tamu yang baru beberapa kali datang seharusnya tidak terlalu hafal jalur rumah.

Keira mengambil nampan kosong dan bergerak lewat koridor samping, mengikuti dari jarak yang tidak mencolok.

Chenny tidak menuju toilet tamu.

Ia berhenti di sudut dekat jendela panjang, tempat kamera koridor tertutup oleh pilar dekoratif selama beberapa detik jika seseorang berdiri terlalu dekat ke tirai.

Keira berhenti di balik rak bunga.

Chenny mengeluarkan ponsel.

Wajah lembutnya hilang sekejap.

Jari-jarinya mengetik cepat.

Keira tidak bisa melihat isi pesan. Jaraknya terlalu jauh dan sudut layar terlalu miring.

Namun ketika layar menyala lebih terang, ia melihat satu hal.

Nama di bagian atas percakapan itu bukan Gilbert.

Chenny sedang menghubungi orang lain.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!