NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:144.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Malam semakin larut saat Arka akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Suasana hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang menderu pelan. Lilis, yang sejak tadi duduk bersandar di kepala ranjang sambil memegang ponselnya, langsung mendongak saat melihat suaminya muncul.

"Dari mana, Mas? Baru saja aku mau turun cari kamu," tanya Lilis.

Arka meletakkan jam tangannya di atas meja rias. "Dari bawah tadi, lihat peliharaan ikan mas di akuarium itu. Ternyata nggak diurus sama Kenan," jawabnya beralasan.

Lilis tersenyum maklum. "Kenan kan sibuk, Mas. Sebentar lagi dia juga mau lulus SMA, mau masuk kuliah. Kasihan dia kalau harus urus ikan juga. Kenapa nggak dibawa saja ikannya kalau sayang?"

Arka terkekeh pelan sambil melepas kancing kemejanya. "Nggak ah, nanti Zayn marah. Itu kan ikan kesayangannya juga."

Arka kemudian berjalan ke arah lemari dan mengganti pakaiannya dengan piyama berbahan katun yang nyaman. Setelah itu, ia melangkah menuju tempat tidur dan naik ke atas ranjang, menyusul Lilis yang sudah menunggunya. Arka menyandarkan punggungnya, namun pandangannya lurus menatap kosong ke depan.

Ia terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang kondisi ibunya dan percakapannya dengan Yuda tadi. Arka melamun dengan raut wajah yang tampak terbebani.

Lilis melihat itu dan merasakan ada yang tidak beres. Ia meletakkan ponselnya, lalu bergeser mendekat dan menyentuh lengan Arka dengan lembut.

"Kenapa, Mas? Ada yang sedang dipikirkan?" tanya Lilis pelan, mencoba menyelami apa yang sedang mengusik ketenangan suaminya.

Arka terdiam sejenak, namun bahunya mulai bergetar. Pertahanan yang ia bangun di depan Ayah dan adik-adiknya runtuh seketika di hadapan istrinya. Arka tak bisa lagi menahan sesak di dadanya, dan air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh. Dia menangis terisak, menumpahkan segala beban yang menghimpitnya.

"Aku takut, Lis... Ibu tadi bicara soal Ayah Arya, soal merasa waktunya sudah dekat," ucap Arka dengan suara parau, mengatakan kegundahan hatinya.

"Sebagai dokter, aku tahu fisik Ibu cuma demam, tapi sebagai anaknya, aku takut firasat Ibu itu benar. Aku belum siap kalau harus kehilangan lagi.".

Melihat suaminya yang rapuh, Lilis langsung memeluknya dengan erat, membiarkan Arka menyandarkan kepala di bahunya. Ia mengusap punggung Arka dengan gerakan lembut yang menenangkan.

"Sstt... Mas, tak boleh berpikir seperti itu," ucap Lilis dengan nada yang sangat tenang.

"Kita harus mendoakan kesembuhan dan yang terbaik untuk Ibu. Jangan mendahului takdir dengan ketakutan kita sendiri."

Lilis mengusap air mata di pipi Arka, menatap suaminya dengan penuh keyakinan. "Tadi juga aku yang suapi Ibu, sudah mendingan aku lihat. Makannya habis cukup banyak dan wajahnya sudah lebih segar setelah minum sup."

Lilis kemudian menggenggam tangan Arka, mencoba menyalurkan kekuatan iman ke dalam hati suaminya. "Dalam agama kita diajarkan untuk selalu berhusnudzon, berprasangka baik kepada Allah. Ucapan adalah doa, Mas. Jadi, daripada memikirkan hal yang buruk, lebih baik kita terus mengetuk pintu langit agar Ibu diberi umur yang panjang dan berkah untuk melihat anak cucunya nanti."

Mendengar kata-kata tulus dari istrinya, Arka perlahan mulai mengatur napasnya. Kehangatan pelukan Lilis perlahan mengusir dinginnya ketakutan yang sejak sore tadi menyelimuti hatinya.

Keesokan paginya, suasana rumah sudah kembali sibuk sejak fajar menyingsing. Arka dan Lilis sudah siap untuk berangkat menjalankan rutinitas mereka masing-masing. Arka tampak rapi dengan kemeja kerjanya, sementara Lilis juga sudah bersiap mendampingi suaminya keluar rumah.

Saat berada di bawah, Arka mengatakan pada kedua adiknya yang masih SD itu, Zayn dan Aira, untuk berangkat bersamanya agar lebih praktis.

"Zayn, Aira, ayo berangkat sama Bang Arka saja ya sekolahnya," ajak Arka sambil merapikan tas kerjanya.

Namun, kedua bocah itu tampak enggan dan menggeleng serentak.

"Mau sama Ayah saja," sahut Zayn singkat yang diangguki oleh Aira dengan wajah polosnya.

Arka merapikan kerah kemejanya sambil menatap kedua adiknya yang masih tampak enggan berangkat bersamanya. Melihat tingkah mereka, Arka berkacak pinggang dan mengambil alih kendali situasi.

"Ayah lagi suapi Ibu makan di atas," ucap Arka dengan nada tegas namun penuh perhatian.

"Kalian nggak kasihan sama Ayah dan Ibu? Kalau nunggu Ayah, nanti Ibu malah nggak ada yang temani."

Zayn dan Aira saling berpandangan, tampak mulai mempertimbangkan ucapan abang sulungnya.

"Sini yok sama Abang. Biar Bang Kenan saja yang antar kalian," ucap Kenan yang tiba-tiba muncul sambil bersiap dengan motornya dan memakai helm.

Melihat itu, Arka tak mengizinkan. Ia merasa khawatir jika adik-adiknya harus mengebut di jalan raya dengan motor.

"Mereka sama aku saja naik mobil. Nanti jatuh lagi kalau naik motor," tegas Arka sambil membukakan pintu mobilnya. "Ayo Zayn, Aira, masuk ke dalam mobil."

Lilis yang berdiri di samping Arka hanya tersenyum melihat ketegasan suaminya yang sebenarnya sangat menyayangi adik-adiknya itu. Akhirnya, dengan wajah sedikit cemberut namun patuh, kedua bocah SD itu melangkah masuk ke kursi belakang mobil Arka.

......................

Yuda duduk di sisi ranjang dengan mangkuk di tangannya, telaten menyuapi sang istri yang masih tampak lemas.

"Mau tambah lagi, Sayang?" tanya Yuda lembut sambil menyodorkan sendok terakhir.

Kirana menggeleng pelan, ia mengulas senyum tipis untuk menghargai perhatian suaminya. "Enggak Mas, aku sudah kenyang," jawabnya lirih.

Yuda meletakkan mangkuk ke atas nakas, lalu mengambil segelas air putih dan beberapa butir obat.

"Ya sudah, minum obat dulu ya. Habis itu jangan tidur dulu, bajunya diganti dulu biar lebih segar. Enggak usah mandi, cukup diseka saja nanti kalau sudah agak kuat," ucap Yuda penuh perhatian.

Kirana meminum obatnya perlahan, namun pikirannya justru melayang pada rutinitas rumah yang biasanya ia pegang.

"Anak-anak gimana, Mas? Mereka semua sudah pada sarapan, kan?" tanya Kirana cemas. "Zayn dan Aira sudah berangkat sekolah? Seragam mereka siapa yang siapkan?"

Yuda mengusap dahi Kirana, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya.

"Sudah, Sayang."

"Mereka baru saja pergi. Itu tadi suara mobil Arka. Dia yang antar adik-adiknya ke sekolah," ucap Yuda menjelaskan agar istrinya tidak lagi merasa cemas.

"Dan soal seragam mereka, kamu tak usah meragukan suamimu ini lagi. Semua sudah beres," tambahnya.

Yuda kemudian menatap wajah Kirana dengan saksama, memastikan rona wajah istrinya sudah sedikit kembali. "Gimana perasaanmu sekarang? Apa masih ada yang sakit atau masih merasa lemas?" tanya Yuda penuh perhatian.

Kirana menarik napas perlahan, mencoba merasakan kekuatan fisiknya sendiri.

"Mau berjemur matahari lagi? Biar badanmu terasa lebih hangat dan segar," tawar Yuda.

"Aku mau istirahat saja, Mas," ucap Kirana pelan sambil menatap suaminya dengan tatapan memohon.

Yuda mengangguk paham dan tidak ingin memaksakan kehendak istrinya.

"Ya sudah, tapi setelah Mas lap dulu dan ganti baju ya. Nanti biar nyaman tidurnya," ucap Yuda lembut sambil bersiap mengambil air hangat. Ia ingin memastikan kulit istrinya bersih dari keringat dingin sisa demam semalam agar istirahatnya lebih berkualitas.

Setelah merapikan posisi tidur Kirana, Yuda ikut berbaring di sampingnya, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan sang istri.

"Biar Mas peluk kamu sampai tidur," bisik Yuda mesra sambil menarik Kirana ke dalam dekapannya, berharap ketenangan yang ia berikan bisa mengusir mimpi-mimpi buruk yang menghantui istrinya semalam.

1
Sri Rahayu
kok Arka jd MANJA bgt...jgn2 Lilis bener hamidun sprt kata Hana 🙃🙃🙃😇😇😇 lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
bagus Elham...kamu gentleman memilih pergi meninggalkan semua demi mempertahanksn kel kecil mu
Yati Susilawati
arka nggak ngasih tau tempat kerjanya?
Yati Susilawati
murid tk ada ujiannya?
Nice1808
jangan ada bibit pelakor ya thor, awas aja🤣🤣🤣
Nice1808
apa bibit pelakor thor🤣🤣
Sarinah Quinn
Hana gak usah keras kepala deh biar bagaimanapun elham Sd mau bertanggungjawab. gemas deh sama Hana jadi gak respect 😤
Aghitsna Agis
tjor jgn ada yg ganggu rumahtangga arka lah
Shabrina Darsih
good job elham benr2 tamggung jawab ke Hana berani melepaskan semua fasikitas dr ayah nua
Sri Supriatin
slmt Arka n Lilis semoga lancar menjalani ngidam😍😍
Aghitsna Agis
selamst srka lilis udah dapet titipan dari allah semiga dapat menjaga amanahnya
Sri Rahayu
aku jg bahagia mas Arka 🤩🤩🤩 atas kehamilan Lilis...semoga sehst trs sampe lahiran nanti...selamat ya Arka dan Lilis... lanjut Thort😘😘😘
Sri Rahayu
wah jgn badai lagi yg hrs dilalui Hana...dia uda bnyk melewati badai bekerja keras utk ibu dan adiknya...semoga dia akan bahagia bersama Elham...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
sebaiknya saling memaafkan...kan Elham uda menyadari kesalahan nya, meminta maaf dan mau bertanggung jaeab...damai ajalah...lanjut Thorr😘😘😘
Dar Pin
semoga bsdainya cepat berlalu beri kesempatan untuk Ilham menebus dosa nya 💪
Melki
semangat kak....
Sri Rahayu
rupanya.bu Tantri kenal bu Marni....siapakah mereka....akan kah Elham mendapat restu 😇😇😇...lanjut Thorr kepo nih 😘😘😘
Sri Rahayu
dibikin enak ma Arka kok cemberut sih Lilis 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Aghitsna Agis
sahabatnya kah atau sepupu
Sri Supriatin
wah seruuu nich, semangat thor n lanjut 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!