NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa

Mulut Gua Sendang Biru menjulang bagaikan rahang raksasa purba yang menganga di balik dinding tebing terjal. Udara di sekitar pintu gua terasa amat berbeda dibanding udara sengit di Lembah Tengkorak. Tidak ada lagi bau bangkai menyengat atau belerang bakar yang menyiksa paru-paru. Di sini, udara justru begitu dingin membekukan, dipenuhi aroma lembap lumut tua dan wangi samar bunga wijayakusuma yang tumbuh liar di sela-sela stalaktit.

Cahaya biru pudar memancar dari dasar mata air yang mengalir di sepanjang lantai gua. Air itu bening bagai kaca kristal, namun di kedalamannya, pendar biru temaram berpendar ritmis seperti denyut nadi makhluk bernapas.

Marno melangkah paling depan. Parang panjangnya tetap siap di tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam obor cawan yang telah disulut ulang. Suara langkah boot kulitnya bergaung pelan, memantul di dinding-dinding batu basah.

"Hati-hati mengekor di belakangku, Sari," bisik Marno, matanya menyapu stalagmit-stalagmit tajam yang mencuat dari dasar gua. "Sendang Biru ini bukan sekadar gua batu. Tempat ini adalah pertapaan tertua di Gunung Tengger. Jalurnya dipenuhi jebakan yang dipasang oleh para pendahulu ilmu hitam untuk melindungi rahasia mereka."

Sari mengangguk pelan, merapatkan langkah di belakang Marno. Di atas bahunya, Si Mbah bertengger kaku. Kain merah di kepala kera hitam itu sudah agak miring, dan matanya yang bundar bergerak liar mengawasi kegelapan di atap gua yang dipenuhi ribuan kelelawar tidur.

Semakin dalam mereka melangkah, lorong gua terasa semakin menyempit hingga mereka harus berjalan beriringan satu per satu. Suara gemercik air di Sendang Biru terdengar kian membahana, diiringi gema gaung yang ganjil—seolah-olah dinding batu di sekeliling mereka sedang berbisik-bisik menggunakan bahasa kuno yang tak dipahami manusia biasa.

Setelah menyusuri lorong berliku selama hampir setengah jam, mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah aula gua raksasa.

Di tengah aula tersebut, terdapat sebuah kolam alami melingkar berisi air biru yang berpendar amat terang. Di tengah-tengah kolam itu, berdiri sebuah pulau batu kecil tempat tersusunnya altar batu hitam. Di atas altar itulah terletak sebuah kotak perunggu tebal yang dilapisi segel tanah liat kering bertuliskan ukiran aksara Jawa kuno.

"Itu tempatnya!" bisik Sari, matanya berbinar melihat kotak perunggu tersebut. "Kitab penawar racun itu pasti ada di dalam sana!"

Namun, sebelum Sari melangkah maju mendekati bibir kolam, Marno mendadak membentangkan lengan kirinya yang kekar, menahan dada Sari dengan seketika.

"Tunggu, Sari!" seru Marno tegas.

Marno mengambil sebutir batu kecil dari lantai gua, lalu melemparnya ke permukaan air Sendang Biru yang tenang.

Pliuk.

Saat batu itu menyentuh permukaan air, air biru yang tenang itu mendadak mendidih secara ganas! Gelembung-gelembung udara meletup-letup, dan dari dalam kedalaman kolam yang gelap, muncul gulungan-gulungan kabut tipis berwarna perak. Air yang tadinya tampak bening bagaikan kristal kini berubah menjadi cairan asam pekat yang sanggup melumerkan besi dalam hitungan detik!

Batu kecil yang dilempar Marno seketika hancur meleleh tanpa tersisa!

Sari menelan ludah, dadanya berdesir hebat. Jika tadi ia melangkah ceroboh menyeburkan diri ke dalam kolam untuk menyeberang ke pulau batu, niscaya kakinya sudah hancur membusuk.

"Racun air raksa ghaib," desis Marno dengan raut wajah sangat serius. "Siapa pun yang ingin mencapai altar batu itu tidak bisa menyeberangi air ini secara langsung. Ada mekanisme atau kunci rahasia yang tersembunyi di aula ini."

Si Mbah melompat dari bahu Sari ke atas sebuah stalagmit di tepi kolam. Kera hitam itu mencium udara, mengendus-endus bau batu basah, lalu pandangannya tertuju pada dinding tebing di sebelah kiri aula.

Uuk! Uuk! Si Mbah menunjuk-nunjuk ke arah dinding batu yang tertutup rapat oleh sulur-sulur tanaman liar.

Sari dan Marno mendekati tempat yang ditunjuk Si Mbah. Marno mengayunkan parangnya, menebas gulungan sulur tebal yang menutupi permukaan dinding. Di balik tanaman liar itu, terpampang tiga buah ukiran relief batu berbentuk kepala hewan: Kepala Harimau, Kepala Ular, dan Kepala Kera.

Di bawah ketiga relief kepala hewan tersebut, terdapat ceruk batu berukuran kepalan tangan manusia.

"Ini teka-teki kuncinya," kata Sari sambil mengamati relief tua tersebut. "Bibi Seruni pernah bercerita bahwa ilmu hitam Gunung Tengger berdiri di atas tiga sifat dasar: Kejam seperti harimau, licik seperti ular, dan cerdik seperti kera."

Marno mengelus dagunya yang berewok. "Tapi ceruk di bawah relief ini butuh penyeimbang. Apa yang harus dimasukkan ke dalamnya?"

Sari mengamati ceruk tersebut lebih dekat. Pada dasar ceruk di bawah kepala harimau, terdapat sisa-sisa tetesan darah kering. Pada ceruk di bawah kepala ular, terdapat bekas serbuk minyak hitam. Dan pada ceruk di bawah kepala kera... terdapat bekas lelehan getah buah.

"Bukan mantra," cetus Sari tiba-tiba, matanya menyala mendapatkan pemahaman. "Ini adalah pengorbanan kecil yang mewakili tiga sifat itu! Darah keberanian untuk harimau, racun penawar untuk ular, dan hasil bumi untuk kera!"

Tanpa ragu-ragu, Sari menarik belati di pinggangnya.

"Sari! Apa yang mau kamu lakukan?!" kaget Marno melihat Sari mengarahkan mata belati ke telapak tangannya sendiri.

"Ini satu-satunya cara, Kang!" jawab Sari mantap.

Dengan membulatkan tekad, Sari mengiris tipis telapak tangan kirinya. Darah merah segar menetes keluar, dan Sari menampungnya lalu meneteskannya ke dalam ceruk di bawah relief Kepala Harimau. Relief harimau itu seketika memancarkan pendar merah redup!

Selanjutnya, Sari mengambil sisa serbuk belerang kunyit—serbuk penawar racun dari Mbok Sumi—lalu menuangkannya ke dalam ceruk di bawah relief Kepala Ular. Relief ular itu berkilat memancarkan warna hijau zamrud!

Terakhir, Si Mbah yang memahami perannya tanpa perlu diperintah, bergegas membuka tas rajut kecilnya. Kera hitam itu mengambil buah katuk kering terbaiknya, mengunyahnya sedikit, lalu memasukannya ke dalam ceruk di bawah relief Kepala Kera. Relief kera itu memancarkan warna kuning keemasan!

GREEKKK... BARRR!

Dinding aula bergetar hebat! Suara gesekan batu raksasa bergaung memekakkan telinga. Dari dalam air biru yang mendidih di kolam Sendang Biru, perlahan-lahan muncul sederet pilar-pilar batu bundar dari dasar kolam, membentang membentuk jembatan pijakan lurus dari tepi aula menuju ke pulau batu di tengah kolam!

Cairan asam pekat di permukaan air perlahan-lahan mereda, kembali tenang dan jernih seperti sedia kala.

"Jembatannya terbuka!" seru Marno penuh kekaguman.

Sari mengikat telapak tangannya yang terluka dengan kain bersih, lalu menatap Marno dan Si Mbah. "Ayo, Kang! Kita ambil kitab itu sebelum waktunya habis!"

Mereka bertiga melompati pilar-pilar batu bundar tersebut satu per satu dengan lincah. Hanya dalam beberapa saat, kaki mereka akhirnya memijak pulau batu di tengah kolam.

Sari melangkah mendekati altar batu hitam. Dengan tangan yang agak gemetar namun penuh kehati-hatian, ia memotong segel tanah liat pada kotak perunggu tersebut menggunakan belatinya, lalu membuka penutup kotaknya.

Di dalam kotak perunggu tua itu, bersemayam sebuah kitab tebal yang terbuat dari gulungan kulit kerbau jantan. Di atas sampul kulitnya, terukir judul dalam aksara Jawa tua yang sangat rapi: Kitab Usada Tengger—Kitab Penawar Segala Racun dan Mantra Ghaib.

Sari mengangkat kitab kulit itu dengan kedua tangannya. Benda itu terasa sangat berat, memancarkan wangi kayu cendana murni yang sangat menenangkan dada.

Namun, tepat saat Sari hendak memasukkan kitab itu ke dalam tas perbekalannya, sebuah gema tawa dingin yang amat sangat dikenal bergaung dari arah langit-langit aula gua!

"Kekekekek! Sungguh luar biasa... keponakan Seruni memang gadis yang sangat cerdas!"

Buuumm

Sebuah tiang asap belerang hitam meledak di ujung jembatan pilar batu! Dari dalam asap tersebut, melangkah keluar sesosok pria tua kurus tinggi dengan jubah hitam berkilat. Rambutnya yang putih panjang terurai hingga ke pinggang, dan matanya benar-benar putih tanpa bola hitam sedikit pun—tanda bahwa pria ini telah menyerahkan penglihatannya kepada iblis demi ilmu keabadian.

Di tangannya, ia memegang tongkat tembaga berkepala naga bernapas api.

Marno seketika berdiri di depan Sari, memasang kuda-kuda bertarung dengan martil besinya. Wajah pande besi itu memucat tajam melihat sosok tersebut.

"Mbah... Jiwo... Suro..." desis Marno dengan suara penuh dendam dan ketakutan yang mendalam.

Pria tua berbaju hitam itu, Mbah Jiwo Suro, sang ketua tertinggi Perguruan Gunung Tengger tersenyum dingin, memperlihatkan deretan giginya yang telah meruncing bagaikan gigi hiu.

"Lama tidak berjumpa, Marno si anak pembawa martil," kata Mbah Jiwo Suro, suaranya bagaikan gesekan dua batu tajam. "Terima kasih sudah membantuku membuka segel Sendang Biru ini. Selama lima puluh tahun, Seruni mengunci kitab penawar ini dengan darah dan pengorbanannya. Aku sendiri tidak bisa membukanya tanpa adanya darah keturunannya yang sah!"

Sari tersentak hebat. "Jadi... ini semua jebakan?!"

Mbah Jiwo Suro tertawa makin keras, gema tawanya membuat beberapa stalaktit kecil di atap gua runtuh berjatuhan ke dalam kolam!

"Tentu saja, Gadis Bodoh!" seru Mbah Jiwo Suro kejam. "Ancamanku kepada desamu semalam adalah umpan! Aku tahu kau akan melakukan apa saja demi menyelamatkan Karang Tumpuk. Dan kini, kau telah membuka kotak itu untukku! Serahkan Kitab Usada Tengger itu padaku, atau kalian bertiga akan kubakar menjadi abu di pulau batu ini!"

Mbah Jiwo Suro menghentakkan tongkat naganya ke lantai batu. Buuummmm!

Semburan api berwarna hijau menyala meledak dari ujung tongkatnya, membakar dua pilar batu jembatan hingga hancur berkeping-keping—memotong jalan keluar Sari dan Marno dari pulau batu tersebut!

Di tengah kepungan api hijau dan ancaman sang ketua aliran ghaib raksasa, Sari meremas Kitab Usada Tengger di dadanya. Perjuangan di dalam Gua Sendang Biru bukan lagi sekadar misi pencarian penawar, melainkan pertempuran hidup dan mati melawan sumber tertinggi dari segala kejahatan ilmu hitam Gunung Tengger!

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!