Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
### Bab 2
"Kamu mirip ayahmu."
Kalimat itu tidak keras. Bahkan di antara denting gelas dan musik rendah The Jade Lounge, suara Richard hampir tenggelam. Namun bagi Keira, kalimat itu seperti pintu besi yang akhirnya terbuka satu celah.
Ia menunduk lebih dalam, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. "Banyak orang bilang begitu, Om."
Padahal tidak banyak.
Engkong pernah berkata ia punya mata Hendra saat sedang marah. Papa pernah tertawa dan bilang keberaniannya lebih mirip anak jalanan daripada anak keluarga Tan. Selain mereka, tidak ada yang benar-benar melihat kemiripan itu. Bagaimana mungkin ada, kalau darahnya saja bukan darah Tan?
Richard menatapnya beberapa detik lagi. "Kenapa sendirian di tempat seperti ini?"
Pertanyaan itu pendek, tetapi tajam.
Keira sudah menyiapkan jawaban sejak tiga hari lalu.
"Saya datang dengan teman. Tapi dia pulang duluan." Keira menggigit bibir bawahnya, cukup pelan agar tampak seperti kebiasaan gugup. "Saya kira bisa pesan taksi sendiri. Ternyata..."
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Pria pintar lebih mudah percaya pada cerita yang ia simpulkan sendiri.
Richard menoleh sedikit. "Jason."
Asisten di belakangnya langsung maju. "Ya, Pak Lim."
"Cek CCTV. Pastikan tiga orang tadi tidak masuk lagi ke tempat ini."
"Baik."
Keira mengangkat wajah dengan cepat. "Tidak perlu, Om. Saya tidak apa-apa."
Richard kembali menatapnya. Dingin. Seolah kalimat Keira tadi tidak masuk daftar hal yang perlu dipertimbangkan.
"Aku tidak bertanya apakah perlu."
Keira terdiam.
Untuk sesaat, ia benar-benar lupa harus berakting. Ada sesuatu pada cara pria itu memberi perintah, tidak keras, tidak sibuk membuktikan kekuasaan, tetapi semua orang di sekitarnya langsung bergerak. Staf lounge menunduk. Manajer datang tergopoh. Jason mengetik cepat di ponsel.
Beginilah rupa kuasa yang ia cari.
Bukan Kevin yang hanya bisa mengancam memakai nama keluarga.
Bukan Om Hartono yang berani ketika Engkong sedang lemah.
Lim Richard adalah pintu keluar dari mimpi buruknya.
"Rumahmu di mana?" tanya Richard.
"Menteng. Rumah Keluarga Tan."
Ada jeda kecil saat ia menyebut nama rumah itu. Keira tahu Richard mendengarnya. Rumah itu bukan sekadar alamat. Di sana ada Engkong, nama Tan Hendra, dan seluruh kebohongan yang selama dua puluh dua tahun melindunginya.
Richard mengambil ponsel dari saku jasnya. "Saya panggilkan mobil."
"Saya bisa pesan sendiri, Om."
"Malam ini kamu tidak pulang sendiri."
Keira menatapnya.
Kalimat itu seharusnya membuatnya lega. Dalam rencana awal, ia memang menginginkan Richard merasa bertanggung jawab. Ia ingin pria itu menempatkannya dalam daftar orang yang harus dilindungi.
Namun saat kalimat itu benar-benar datang, dadanya justru terasa aneh. Hangat sedikit, nyeri sedikit.
Ia menunduk lagi. "Terima kasih, Om."
Jason kembali setelah beberapa menit. Di tangannya ada kartu nama hitam dengan tulisan perak. "Nona Tan, ini kartu saya. Kalau ada masalah seperti tadi, hubungi nomor ini. Saya akan bantu menghubungi pihak hotel atau keamanan."
Keira menerima kartu itu dengan dua tangan. "Terima kasih, Ko Jason."
Jason tampak agak terkejut mendengar panggilan itu, tetapi hanya mengangguk sopan.
Richard tidak mengomentari apa pun. Ia hanya berjalan lebih dulu menuju lift. Keira mengikuti beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak yang cukup sopan. Di cermin dinding lorong, ia melihat wajahnya sendiri. Pucat, rapuh, mata sedikit merah.
Sempurna.
Di luar hotel, angin malam Jakarta membawa bau aspal basah dan sisa kretek dari area parkir. Taksi online yang dipanggil Jason berhenti tepat di depan lobby. Sebelum Keira masuk, Richard berdiri di sisi pintu mobil.
"Sampaikan salam saya untuk Om Budi," katanya.
Jantung Keira bergerak pelan. "Om kenal Engkong?"
"Dulu."
Hanya itu. Satu kata yang menutup pintu pembicaraan.
Keira tidak memaksa. Ia masuk ke mobil, menutup pintu, lalu menatap keluar dari balik kaca. Richard masih berdiri di bawah lampu lobby, wajahnya setengah tertutup bayangan. Di belakangnya, Rolls-Royce hitam dengan plat B 1 RIC menunggu seperti binatang mahal yang jinak hanya pada pemiliknya.
Mobil Keira bergerak meninggalkan hotel.
Baru setelah tikungan pertama, senyum kecil muncul di bibirnya.
Langkah pertama berhasil.
Rumah Keluarga Tan di Menteng sudah sunyi ketika Keira tiba. Lampu taman masih menyala, memantul di kolam kecil dekat pintu samping. Pak Hasan membukakan pintu dengan kardigan tipis di atas baju koko rumah.
"Non Kei, kok pulangnya malam sekali?" suaranya pelan agar tidak membangunkan penghuni rumah.
"Ada urusan sebentar, Pak."
Pak Hasan memperhatikan wajahnya. Matanya turun ke pergelangan tangan Keira yang masih sedikit merah. "Ini kenapa?"
Keira menarik lengan bajunya. "Tidak apa-apa. Cuma kesenggol."
"Non Kei."
Nada Pak Hasan berubah. Lembut, tetapi tidak mudah dibohongi. Pria itu sudah bekerja di rumah ini sejak Keira masih kecil. Ia pernah melihat Keira pulang dengan lutut berdarah setelah berkelahi dengan anak laki-laki tetangga, lalu tetap bersikeras bilang hanya jatuh dari sepeda.
Keira tersenyum tipis. Kali ini senyumnya lebih jujur. "Nanti saya cerita, Pak. Engkong sudah tidur?"
"Sudah. Tadi sempat tanya Non Kei pulang jam berapa."
Hati Keira seperti ditusuk pelan. "Besok pagi saya sarapan sama Engkong."
Pak Hasan mengangguk, masih tidak puas, tetapi membiarkan Keira naik.
Kamar Keira berada di lantai dua, menghadap taman belakang. Begitu pintu tertutup, wajah rapuh yang ia pakai sepanjang malam runtuh. Bahunya lurus. Matanya mengering. Ia melepas sepatu hak tinggi, berjalan ke meja rias, lalu membuka laci paling bawah.
Di bawah tumpukan syal sutra, ada amplop cokelat.
Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama laboratorium, nomor sampel, dan tanggal yang sudah ia hafal.
Hasil tes DNA.
Keira duduk di tepi ranjang. Jarinya berhenti di ujung amplop, lalu menarik kertas di dalamnya.
Setiap kali melihat baris kesimpulan itu, tubuhnya tetap memberi reaksi yang sama.
Perutnya dingin.
Napasnya memendek.
Hubungan biologis tidak cocok.
Kalimat medis yang kering. Sopan. Bersih. Seolah hanya sedang membandingkan dua angka, bukan mencabut seluruh hidupnya dari akar.
Ia bukan anak kandung Tan Hendra.
Ia bukan cucu kandung Tan Budiman.
Ia bukan darah keluarga yang memberinya nama, kamar, meja makan, guru piano, pesta ulang tahun, dan pelukan Papa saat ia demam.
Keira menekan kertas itu dengan ibu jari sampai sudutnya melengkung.
Dalam mimpi, kertas seperti inilah yang menghancurkannya. Setelah kebenaran terbuka, Kevin berdiri di sisi perempuan bernama Vanya dan berkata Keira sudah cukup lama menikmati hidup orang lain. Keluarga Ong menarik dukungan. Om Hartono menatapnya seperti barang cacat. Engkong sakit, lupa namanya, lalu semua orang memakai kebingungan itu untuk mengusirnya.
Paling akhir, pintu rumah sakit jiwa tertutup.
Keira masih bisa merasakan dingin lantainya setiap kali terbangun.
"Tidak," bisiknya.
Suaranya kecil, tetapi di kamar sunyi itu terdengar seperti sumpah.
Ia melipat kembali hasil tes DNA, memasukkannya ke amplop, lalu meletakkannya di atas meja. Di samping amplop itu, ia menaruh kartu nama Jason.
Dua benda.
Satu adalah pisau di lehernya.
Satu lagi adalah tangga keluar.
Keira berdiri di depan cermin. Rambutnya sedikit berantakan, lipstiknya pudar, bekas merah di pergelangan tangan belum hilang. Gadis di cermin terlihat seperti korban kecil yang baru saja diselamatkan.
Keira tersenyum.
Bukan senyum lemah di depan Richard.
Bukan senyum manja di depan Engkong.
Senyum ini dingin, pelan, dan hanya miliknya sendiri.
Kalau masa depan ingin menyeretnya ke rumah sakit jiwa, ia akan menyeret masa depan itu lebih dulu ke meja permainannya.
Keesokan paginya, setelah memastikan Engkong sedang berjemur di taman belakang dan tidak mendengar percakapannya, Keira memanggil Pak Hasan ke ruang kecil dekat dapur.
Pak Hasan datang membawa kopi tubruk yang belum sempat diminum. "Ada apa, Non?"
Keira menyerahkan kartu nama Jason.
Pak Hasan membaca nama di sana, lalu menatap Keira. "Lim Group?"
"Semalam saya bertemu Om Lim."
Alis Pak Hasan terangkat. "Om Lim? Maksud Non Kei, Pak Lim Richard?"
Keira mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, Pak Hasan tidak langsung bertanya. Ia hanya meletakkan cangkir kopinya di meja, wajahnya berubah serius.
Keira menatap kartu itu, lalu berkata pelan, "Pak, cari tahu jadwal Om Lim minggu depan. Semua."