Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Pil Kecil, Rahasia Besar
Beberapa hari setelah restoran hotel itu berubah menjadi ruang eksekusi karier keluarga Tjiang, Keira datang ke rumah sakit swasta di Jakarta tanpa memberi tahu Rayhan.
Tari menemaninya sampai meja pendaftaran. Wajah gadis itu lebih pucat dari pasien.
“Ci, yakin tidak mau aku masuk?”
“Tidak perlu.”
“Tapi kalau hasilnya...”
“Tari.”
Tari langsung diam.
Keira masuk ke ruang konsultasi sendirian. Ia mengira akan bertemu dokter kandungan biasa, sampai pria berkacamata di balik meja mengangkat wajah dan tersenyum tipis.
“Keira Salim?”
Keira berhenti. “Dr. William Wongso.”
“Kebetulan yang kurang nyaman, ya?”
Keira duduk. “Anda teman Rayhan.”
“Dan hari ini dokter Anda. Saya akan berusaha memisahkan keduanya.”
Pemeriksaan berjalan profesional. USG, riwayat menstruasi, pertanyaan tentang stres, nyeri, pola tidur, dan obat yang pernah dikonsumsi. William tidak banyak bercanda. Di balik sikap tenangnya, ia membaca hasil dengan alis yang perlahan turun.
“Dinding rahim Anda tipis,” katanya akhirnya. “Bukan berarti mustahil hamil, tapi risikonya ada. Tubuh Anda juga menunjukkan respons stres kronis. Dalam istilah pengobatan tradisional, aliran qi hati Anda terganggu. Secara medis modern, saya juga melihat kecenderungan mood yang perlu diperhatikan.”
Keira merapikan lengan bajunya. “Kesimpulannya?”
“Jaga tubuh. Kurangi stres. Dan kalau Anda punya rencana kehamilan, harus didampingi dokter sejak awal.”
Keira menatap hasil di meja. “Saya tidak punya rencana itu.”
William menutup map perlahan. “Saya juga perlu bertanya soal pola tidur. Anda sering tidak tidur dua hari berturut-turut?”
“Kalau ada deadline.”
“Dan setelah itu tubuh Anda drop?”
“Semua orang drop setelah deadline.”
“Tidak semua orang datang dengan denyut setinggi ini, tangan dingin, dan catatan nyeri yang Anda anggap biasa.”
Keira menatap garis tipis di layar USG yang belum dimatikan. Ruangan itu terlalu putih. Terlalu bersih. Terlalu mudah membuat seseorang merasa tubuhnya bukan miliknya sendiri.
“Dokter William,” katanya, “kalau Anda ingin memberi saran medis, beri. Kalau ingin menyimpulkan hidup saya, jangan.”
William menghela napas kecil. “Saya tidak menyimpulkan. Saya khawatir.”
“Kekhawatiran bukan izin untuk membuka rahasia pasien.”
William tidak bertanya lebih jauh. “Baik. Tapi Rayhan...”
“Tidak perlu tahu.”
William melepas kacamata. “Keira, kalau ada kondisi medis yang bisa memengaruhi keselamatan Anda, orang terdekat sebaiknya tahu.”
“Orang terdekat bukan selalu orang yang punya hak.”
Kalimat itu membuat William diam.
Namun sore itu juga, Rayhan tahu.
Malamnya, ketika Keira pulang, meja makan apartemennya sudah dipenuhi sup ayam kampung, ikan kukus, sayur bening, buah potong, dan semangkuk bubur hangat. Rayhan berdiri di dapur dengan lengan kemeja tergulung, wajahnya terlalu serius untuk orang yang sedang memegang sendok.
“Makan,” katanya.
Keira menatap meja. “Kamu memesan satu rumah sakit?”
“William bilang kamu perlu makan bergizi.”
Keira berhenti. “Dia memberitahumu.”
“Aku yang bertanya.”
“Itu tidak membuatnya lebih benar.”
Rayhan meletakkan sendok. “Kalau kamu sakit, aku harus tahu.”
“Aku pasien, bukan aset perusahaan.”
Ketegangan itu tidak meledak malam itu. Keira terlalu lelah, Rayhan terlalu sibuk memastikan ia makan. Namun saat Keira mandi, Rayhan melihat botol Vitamin C di laci.
Ia mengambil satu pil.
Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Pil kecil itu masuk ke kantong plastik bening, lalu ia mengirim pesan pada orang lab kepercayaannya.
Analisis. Sekarang.
Keesokan malamnya, hasil datang.
Drosperinon dan estradiol. Kontrasepsi hormonal.
Rayhan membaca pesan itu tiga kali.
Untuk beberapa detik, dunia di sekitarnya tidak bergerak. Lalu sesuatu di dadanya pecah, panas dan gelap.
Keira baru keluar dari lift apartemen ketika ponselnya berdering.
Rayhan.
Ia mengangkat. “Ya?”
“Pulang. Sekarang.”
“Aku baru dari kantor.”
“Keira.”
Satu kata. Rendah. Berbahaya.
Keira menutup mata sebentar, lalu masuk ke apartemen.
Rayhan berdiri di ruang tengah. Botol Vitamin C ada di meja. Di sampingnya, hasil analisis tercetak rapi.
Keira menatap kertas itu, lalu Rayhan.
“Kamu mengambil obatku.”
“Kamu berbohong padaku.”
“Itu vitamin menurut labelnya.”
“Jangan main kata.”
Keira meletakkan tasnya. “Aku tidak pernah berjanji akan hamil untukmu.”
Rayhan mendekat. “Kamu minum pil KB diam-diam selama ini?”
“Ya.”
Jawaban itu terlalu tenang. Justru itu yang membuat Rayhan semakin marah.
“Kenapa?”
Keira tertawa pendek tanpa senyum. “Pertanyaanmu aneh.”
“Jawab.”
“Kalau aku hamil, kamu mau apa?”
Rayhan membeku.
Keira menatapnya lurus. “Menikahiku? Membawaku ke rumah keluargamu? Mengenalkanku pada Mama dan Engkong sebagai ibu dari anakmu?”
“Keira...”
“Atau menyembunyikanku lebih dalam? Memberi apartemen lebih besar? Dokter pribadi lebih mahal? Anak itu nanti jadi apa, Rayhan? Anak yang tidak bisa kamu akui di depan publik?”
Wajah Rayhan berubah pucat sedikit.
Keira melangkah mendekat. Suaranya tetap rendah, tetapi setiap kata seperti pisau yang ditaruh rapi di meja.
“Aku ini apa? Istri? Tunangan? Kekasih resmi? Tidak. Aku perempuan yang kamu simpan di apartemen, kamu jemput saat ingin, kamu lindungi saat tersinggung, tapi tidak bisa kamu bawa berdiri di sampingmu di depan keluarga.”
“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu.”
“Tapi dunia menganggapku begitu. Dan kamu membiarkan.”
Rayhan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Untuk pertama kalinya, tidak ada jawaban.
Keira mengambil botol itu dari meja. “Aku menjaga tubuhku sendiri karena posisiku tidak dijaga siapa pun.”
“Aku menjagamu.”
“Kamu menjagaku seperti seseorang menjaga benda mahal.”
Rayhan seperti tertampar tanpa suara.
“Aku tidak pernah malu padamu,” katanya.
“Tapi kamu juga tidak pernah berani memberiku nama.”
“Nama apa yang kamu mau?”
Keira menatapnya. Di saat lain, pertanyaan itu mungkin terdengar seperti celah. Malam itu, ia hanya terdengar seperti pria kaya yang baru sadar ada barang yang tidak bisa ditebus setelah rusak.
“Bukan sesuatu yang diberikan saat kamu marah,” jawab Keira. “Bukan status yang dilempar supaya aku berhenti bicara.”
Rayhan maju satu langkah. “Kalau aku bilang aku bisa menikahimu?”
“Kamu bisa. Pertanyaannya, apakah kamu akan melakukannya saat Mama-mu duduk di depanmu, Engkong menatapmu, Vanessa berdiri di samping mereka, dan semua orang bertanya siapa perempuan yang selama ini kamu sembunyikan?”
Rayhan diam lagi.
Keira tersenyum tipis. Tidak ada kemenangan di sana, hanya lelah.
“Lihat? Bahkan bayangannya saja membuatmu diam.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan.
Keira mengambil tasnya kembali.
Rayhan menangkap pergelangan tangannya. “Jangan pergi.”
“Lepaskan.”
“Keira.”
“Kalau kamu menahanku sekarang, kamu hanya membuktikan ucapanku.”
Jari Rayhan mengendur perlahan.
Keira keluar tanpa menoleh.
Malam itu, Rayhan duduk sendirian di lantai ruang tengah. Gelas alkohol di tangannya tidak banyak berkurang. Ia menatap botol kecil berlabel Vitamin C yang tertinggal di meja, seolah benda sekecil itu baru saja menunjukkan seluruh retakan dalam hidupnya.
Di luar sana, Keira tidak mengangkat telepon.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Keira Salim, Rayhan tidak tahu di mana harus mencarinya.