Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 24
“Engkau yang tersenyum begitu ceria dan ngomel manja, hatikulah yang menerima, bukan telinga atau mataku.”
Sekujur tubuhku kembali merinding, pura-pura pingsan begini malah membuatku tertawan sepenuhnya oleh rindu mas Kaysan yang tidak menghindar dari bahuku yang lemes.
Tanganku yang di genggam olehnya di tarik ke arah wajahnya.
“Kukumu panjang-panjang, Dik. Ambilah pemotong kuku di rumah.”
Aku lagi-lagi memutar bola mata, kali ini aku membalas ucapannya dengan menarik tanganku menjauh dari tangannya.
“Aku menolak tua dengan memakai kuku palsu mas, warnanya juga bagus kok, masa di potong?” Aku menyembunyikan tanganku di kantong daster.
Mendengar itu, mas Kaysan terbatuk-batuk hebat. Aku menepuk punggungnya kuat-kuat.
“Lebih mendingan, sayang?” Aku langsung memberinya air hangat yang disuguhkan pelayan rumah.
Mas Kaysan melepas maskernya seraya menyembunyikannya ke kantong jaketnya dan menggantinya dengan yang baru setelah menghabiskan setengah isi cangkir.
“Benar, itu akan menjadi masalah lagi.” Mas Kaysan melemparkan tatapan bersabar yang dilebih-lebihkan padaku saat mataku melihatnya dengan seksama..
“Tapi kukumu itu tidak aman untuk menggaruk kulit.”
Mendengar itu aku mengembuskan napas. Turuti saja, Jani. Turuti suamimu yang rapuh ini.
“Tapi omong-omong mata batinmu itu masih ada tidak mas?” tanyaku setelah kembali dari mengambil pemotong kuku di kamarku. Tetapi seketika itu aku malu sendiri saat ia menatapku sembari meraih tanganku yang hendak ia meni pedi.
“Masih ada, kenapa? Kamu takut isi hatimu saya ketahui.”
“Itu namanya curang.” sahutku sambil mendengus. “Tapi terserahlah, Jani capek berkelahi dengan orang-orang di atas normal. Nggak sanggup.”
“Begitu kan bagus,” tegur mas Kaysan. “Kamu terlihat lebih cantik saat menurut.” pujinya sembari mengusap kukuku.
“Ini bagaimana melepas kuku palsunya?”
“Kuku asli Rinjani sudah kuning, jadi mas potong saja bagian yang panjang. Selebihnya jangan!” Aku mendelik, mengingatkan masalah baru yang akan tercipta nanti jika kuku palsu itu hilang.
Mas Kaysan menyunggingkan senyum sampai kerutan di matanya terlihat kentara.
“Penggunaan cat kuku juga dapat membuat kukumu menguning, apa Jati tidak memberitahu kamu kalau kekurangan vitamin dan mineral juga dapat menyebabkan kuku menguning?”
Aku menggeleng perlahan-lahan.
“Jangan sampai kamu lupa memperhatikanmu dirimu sendiri, Dik.” Wajahnya disusupi kehangatan dan bersungguh-sungguh.
“Daripada di titipkan ke Nanang yang sudah tua, mas nggak minat menitipkan aku pada semesta atau Arya Saloka saja? Aku lebih welcome lho sama yang muda-muda.” selorohku menggodanya.
Sembari memotong kukuku mas Kaysan menggeleng. Tubuh ringkih yang kini hanya memiliki mata menyala-nyala dan ketegasan dalam kata-katanya menyipitkan mata.
“Kamu punya pria idaman lain? Siapa Arya Saloka?”
“Artis mas, Jani cuma ngefans kok. Tubuhnya gagah sepertimu waktu muda. Atau Wisnu Hardana, kamu mirip dengannya.”
“Kalau begitu kita bicarakan yang dekat-dekat saja. Mimpimu ketinggian bersanding dengan artis!” tanggap mas Kaysan dengan nada agak puas. Suaranya menyiratkan nada familiar seorang suami pencemburu.
“Canda doang kali mas, aku juga sadar cuma kamu yang mau sama aku.” Aku tertawa dengan puas saat ia mengangguk setuju tanpa bersusah-payah menyangkal ucapanku.
“Tapi kuduga mas Kaysan akan terus bersalah karena menyakiti hati Nanang. Padahal kita tahu harta yang berharga adalah keluarga. Itu alasan Nanang slalu nyempil di antara kita. Bukan karena alasan yang lain.” kataku hati-hati saat mencoba mengajukan pendapat.
“Itu juga salah satu alasanku menitipkanmu kepadanya. Dia punya cinta dan kasih sayang yang besar untuk keluarga. Kamu tidak harus menikah dengannya, Dik. Jangan salah duga, saya hanya menyuruhnya menjagamu dari godaan pria-pria yang akan menyukai janda Kaysan.”
“Buset...” sahutku gemas sampai terheran-heran. “Jauh sekali ya pikiranmu mas.” kataku tidak percaya.
“Ya... Betul. Aset yang saya tinggalkan untukmu cukup banyak. Jika ada Nanang, tidak akan ada yang mengincarmu.” Mas Kaysan tertawa geli sembari menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
“Maaf, Dik. Kata-kata saya memang tidak menyenangkan hati. Tapi itu harapan terakhir saya agar beban di benak ini menghilang perlahan-lahan sebab saat saya tidak ada lagi di sisimu. Semua akan terasa lebih berat.”
“Pandu?” balasku sambil menyingkirkan potongan kuku di pahanya.
“Bagaimana keadaannya nanti setelah pamong leluhur bersamanya.”
Mas Kaysan memegang daguku seraya mendongakkan tatapanku yang menunduk agar menatapnya.
“Sepertinya ini akan sedikit sulit, namun percayalah kepadanya dan mantanmu itu bisa membantunya.”
Saking jengkelnya aku mendengar kalimat itu, aku reflek berdiri sembari berkacak pinggang.
“Gething aku mas, Nanang terus, Nanang terus. Kecanduan kamu sama pertolongannya sampai lupa kamu sendiri kasian?”
Mas Kaysan menahan pergelangan tanganku saat aku hendak berlari darinya. Saat itulah aku mengarahkan tatapanku, dia mengajak bertukar pandang dengan isyarat yang kentara.
“Saya sudah menyerahkan tanggung jawabku ke Nanang. Jadi itu menjadi bebannya nanti.”
“MAS KAYSAN!” Sukmaku berteriak, napasku memburu tetapi aku hanya mampu menginjak kakinya sambil mengerang frustasi.
Aku harus berdamai dengan semua ini, harus, jika tidak aku yakin, hidupku slalu di naungi bayangan kelam menuju janda.
...----------------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu