bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Kamu mendengar sesuatu?" tanya Arga. Nada suaranya rendah dan penuh ancaman.
Nadira menelan ludah, jari-jarinya mencengkeram pinggiran meja hingga putih. Ini bukan hanya soal kesabaran lagi, ini adalah ancaman nyata bagi kebebasan dan masa depannya. Ia harus bertindak, atau ia akan kehilangan segalanya sebelum sempat
mencicipi kekayaan itu.
"Tidak!"
"Sayangnya raut wajahmu mengatakan iya,"
"Aku tidak mendengar apapun!"
"Baguslah. Ku harap kamu memang tidak mendengar apapun. Karena jika iya aku akan-" kalimat Arga terjeda, Layar ponsel di atas meja rias tiba-tiba menyala, memecah keheningan di kamar, Nadira. Nama "Dinda" muncul dengan notifikasi pesan masuk yang langsung dibuka oleh Nadira.
Jemarinya berhenti sejenak di udara sebelum menyentuh permukaan kaca yang masih
hangat itu. Ia membaca baris kalimat yang dikirim sepupunya itu dengan pelan. Dinda tidak menuliskan ancaman terbuka, hanya mengingatkan agar Nadira tidak lupa membawa dokumen warisan besok siang.
Namun, di balik kata-katanya yang teratur, ada nada tajam yang sulit disembunyikan.
Napas Nadira tertahan sesaat. Dinda pasti mulai curiga dengan perubahan sikapnya
akhir-akhir ini.
Ia meletakkan ponsel itu sejenak, mengusap wajahnya yang terasa kaku. Menjadi wanita jahat ini ternyata melelahkan, terutama saat harus berpura-pura tenang di depan orang yang hapal setiap langkahnya.
Ia mengambil ponselnya kembali dan mengetik balasan dengan satu jari. Setiap huruf ia pilih dengan hati-hati agar tidak terlihat terlalu ramah atau justru terlalu dingin.
"Baik, Dinda. Semua sudah aku siapkan.
"Sampai jumpa besok," tulisnya dengan nada formal yang kaku.
Tekanan dari Dinda memang menjadi batu sandungan terberat minggu ini. Nadira menatap pantulan wajahnya di cermin besar kamar. Ia tidak boleh goyah, karena satu kesalahan kecil dalam perannya bisa membuat seluruh warisan dua ratus triliun itu lenyap dalam sekejap.
Ia mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung ke kursi kayu yang dingin.
Keheningan malam mulai terasa menyesakkan, tapi ia harus tetap waras.
Rencana besar ini harus berjalan sesuai jalurnya tanpa sedikit pun kecurigaan dari keluarga besar mereka.
Esok hari adalah batas waktunya. Nadira menarik napas panjang dan menatap tumpukan dokumen di sudut meja. Keputusannya sudah bulat, dan malam ini ia harus menyusun setiap langkah dengan sangat hati-hati agar tidak ada yang curiga sedikit pun.
Suara langkah kaki Arga di tangga akhirnya memudar sepenuhnya. Nadira segera
menutup pintu ruang kerja dan memutar kunci dengan gerakan kasar.
Jantungnya berdegup kencang, menyesuaikan diri dengan keheningan di dalam ruangan yang pengap dan berbau tembakau kuno itu. Ia tahu waktu yang dimilikinya sangat sempit sebelum
salah satu kerabat lain mulai mencari-cari keberadaannya.
Ia bergegas menuju lemari besi di sudut ruangan dan menarik keluar tumpukan dokumen tebal yang tadi malam dia temukan tersembunyi di balik laci rahasia. Kertas-kertas itu berdebu dan kaku.
"Ada apa dengan aliran dana ini?" gumamnya pelan, saat melihat angka-angka fantastis yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi perusahaan keluarga.
Nadira mulai mencatat setiap detail penting ke dalam buku notes kecilnya. Ia berusaha
memetakan ke mana saja kekayaan kakek tersebut mengalir selama ini. Namun,
tangannya tiba-tiba terhenti saat melihat sebuah nama yang sangat familiar tercantum
sebagai penerima transfer terbesar.
Itu adalah nama saudara tirinya, orang yang selama ini dia anggap paling lemah dan tidak berbahaya dalam perebutan warisan ini.
Ketegangan di dalam ruangan mendadak berubah menjadi kecurigaan yang tajam. Jika
saudaranya itu benar-benar mengatur semua ini dari bayang-bayang, maka posisi Nadira
sekarang jauh lebih berbahaya dari yang dia duga.
Ia tidak sedang memperebutkan warisan dengan orang yang bodoh, melainkan dengan seorang aktor yang sangat teliti dan licik.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar jelas di koridor luar, menginterupsi konsentrasinya. Nadira menjepit pensil di antara bibirnya, menahan napas, dan mendengarkan dengan
saksama. Langkah kaki itu terdengar ragu-ragu, berhenti tepat di depan pintu ruang kerja yang dia kunci tadi.
Ada jeda waktu yang cukup lama sebelum gagang pintu itu digoyang-goyang pelan.
Dengan gerakan cepat, Nadira menutup buku catatan rahasianya dan menyembunyikannya ke balik bantal sofa. Ia meraih majalah gaya hidup yang ada di meja dan membukanya lebar-lebar, berpura-pura asyik membaca seolah-olah dia hanya terjebak di ruangan itu tanpa sengaja. Jantungnya berdetak kencang, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya di balik pintu itu.
Kesadaran akan bahaya yang mengintai membuat Nadira menyadari bahwa dia harus
bekerja jauh lebih cepat. Jika Dinda datang berkunjung atau orang di balik pintu itu masuk, semua bukti yang dia kumpulkan akan hilang dalam sekejap.
Ia harus memutuskan apakah akan terus menggali kebenaran ini atau segera menyusun rencana untuk menghadapi
pengkhianatan yang baru saja dia temukan.