NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Motor matic yang dikendarai Asia berhenti mulus di area parkir depan gerbang sekolah Nero. Ini sudah hari kesekian Asia yang membonceng bocah kecil itu menuju sekolah dengan motor matic. Sebuah rutinitas baru yang pelan-pelan terasa makin alami untuk mereka berdua.

Sungguh melegakan karena Nero juga sudah mulai terbiasa dengan sekolah.

Asia membantu Nero untuk membetulkan posisi tasnya. Saat itu sebuah suara bernada ramah namun sarat akan rasa ingin tahu menyapa dari arah samping.

"Mbak Asia, ya?"

Asia menoleh. Seorang wanita berpenampilan rapi sedang berdiri menuntun anaknya. Di belakangnya, dua ibu-ibu lainnya ikut memperhatikan.

"Eh, iya, Bu," sahut Asia sopan sambil mengumbar senyum tipis. Asia belum kenal betul siapa-siapa ibu Persit disini. Namun ia mencoba ramah pada semua.

"Saya Mbak Sarah, ibunya Bagas," ujar wanita itu ramah.

Bagas? Siapa itu? Batin Asia merasa tetap tidak kenal. Ah biarlah.

Matanya wanita itu sempat melirik ke arah motor matic Asia lalu kembali menatap Asia dari atas ke bawah.

"Wah ... sekarang rajin banget antar jemput Nero pakai motor, ya? Beda banget, biasanya kan Nero diantar jemput pakai mobil."

Asia tersenyum maklum. "Iya, Bu, soalnya saya tidak bisa bawa mobil. Lagipula pakai motor lebih cepat dan fleksibel," jawab Asia tenang tanpa ada rasa minder sedikit pun.

Mbak Sarah dan dua ibu-ibu di belakangnya saling melempar kerlingan tipis. "Oalah... iya sih."

Asia tersenyum karena dapat jawaban.

"Oya, Mbak Asia," lanjut Bu Sarah dengan nada yang ditahan-tahan, seolah menyampaikan rahasia penting. "Hari Sabtu esok ada arisan bulanan ibu-ibu komplek asrama di aula. Bu Ratna ketua arisan sempat titip pesan. Datang, ya? Ibu-ibu yang lain pada nanyain Mbak Asia, lho. Katanya pengen kenal lebih dekat sama... 'penghuni baru' rumah Pak Hugo."

Ada jeda menggantung yang sengaja ditinggalkan wanita itu. Penekanan kata 'penghuni baru' terasa amat jelas di telinga Asia.

"Saya usahakan ya, Bu. Kalau tidak ada halangan saya pasti datang," jawab Asia halus. Dia tidak tidak terlihat panik.

"Harus datang lho, Mbak. Biar makin akrab sama lingkungan Persit sini," kekeh Bu Sarah sebelum akhirnya pamit menuntun anaknya masuk ke gerbang.

Asia menghela napas pelan. Ia tahu cepat atau lambat momen seperti ini akan datang. Sorotan dan bisik-bisik dari lingkungan asrama tentara tempat Hugo bertugas.

Teet!! Bel masuk berbunyi.

"Ayo Bu, sudah bel bunyi. Nero harus cepat masuk ke kelas," ujar Asia menyela percakapan dengan ramah, memanfaatkan momen bel sekolah itu untuk menyudahi basa-basi dengan para ibu Persit secara halus.

"Eh, iya Mbak Asia. Yuk nak, masuk kelas," sahut Mbak Sarah mengangguk persetujuan.

Asia menunduk sedikit ke arah Nero, menepuk pelan bahu kecil bocah itu. "Sana masuk kelas ya, Nero. Belajar yang pintar."

"Iya!"

***

Di sudut ruang kelas TK yang penuh warna, Nero berlutut di atas karpet busa. Kedua tangan kecilnya dengan cermat menumpuk balok-balok kayu satu per satu. Fokusnya begitu dalam, matanya bulat menatap menara balok yang kini sudah tumbuh makin tinggi. Bahkan sudah melampaui tinggi bahunya sendiri.

"Wah, Nero hebat banget! Bikin apa itu?" puji Bu Guru yang melintas dan sengaja menghentikan langkah untuk melihatnya.

"Menara benteng Papa, Bu Guru!" sahut Nero bangga tanpa mengalihkan pandangannya dari balok terakhir yang hendak ia pasang di paling atas. "Ini tinggi banget!"

Tepat saat jemari Nero terulur pelan untuk menaruh balok puncak, tiba-tiba ...

BRAK!

Bagas yang berlari tidak sengaja menyenggol siku Nero. Dalam sekejap, menara tinggi yang dibangunnya runtuh berserakan di atas karpet.

"Eh...," cicit Bagas agak takut. Bocah itu memegang mainannya erat-erat.

Nero menelan ludah, menahan napas sejenak. Ia teringat pesan ayahnya di rumah untuk tidak gampang marah. Pelan-pelan, Nero menghembuskan napas lalu mendongak menatap Bagas.

Bu guru yang tidak sengaja melihat, langsung mendekat.

"Ada apa?" tanya beliau lembut.

"Itu ..." Bagas takut-takut menunjuk ke arah mainan Nero yang berantakan.

Mata Bu guru melebar. Nero membeku melihat mainannya. Tangannya masih menggantung di udara, menatap tumpukan baloknya yang kini sudah hancur. Air mukanya sudah merah mau nangis.

"Ayo Bagas bantu Nero buat lagi," pinta Bu guru.

"Nggak apa-apa," ujar Nero pelan, berusaha bersikap dewasa. "Aku masih bisa pasang sendiri," ujar Nero tidak mau dibantu.

Tanpa mengeluh sedikit pun, Nero kembali berlutut dan mulai mengambil balok terbawah untuk menyusunnya dari awal. kali ini dengan dasar yang lebih kokoh agar bisa terbangun jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

"Bagus. Kamu anak pintar dan mandiri." Bu guru memberi apresiasi dengan mengelus kepala bocah ini lembut.

Lalu beliau menoleh pada Bagas. "Bagas jangan lari-lari lagi. Kalau yang lain kena sambar kamu juga, gimana? Ayo duduk di tempatmu. Kamu sudah berhasil buat sesuatu dengan balok mu?"

Bagas menggeleng. "Saya tidak bisa Bu guru."

Ibu guru menghela napas. lalu mendekati Bagas. "Ayo, ibu guru ajari." Beliau membantu bocah itu membuat sesuatu.

***

"Tante kita jadi beli helm?" tanya Nero saat mau berangkat pulang.

"Ah iya. Aku hampir lupa. Aku ijin dulu ke Oma ya?"

"Oke!"

Sebelum memutar kunci kontak motor matic-nya di halaman sekolah TK Nero, Asia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel. Sebagai orang baru di rumah keluarga perwira, ia paham betul tata krama. Membawa anak kecil keluar tanpa memberi kabar pada Nyonya Malinda hanya akan memicu kecemasan yang tidak perlu.

​Asia mendial nomor ibu mertuanya. Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum suara anggun Nyonya Malinda terdengar di ujung telepon.

​"Halo, Asia? Gimana, Nero sudah pulang sekolah?" tanya Nyonya Malinda langsung.

​"Sudah, Ibu. Ini Nero sudah sama Asia di parkiran sekolah," jawab Asia lugas dan sopan. "Ibu, Asia mau izin sebentar sebelum pulang. Asia mau mampir ke toko perlengkapan dulu buat membelikan Nero helm."

​Di seberang sana, Nyonya Malinda terdengar agak heran. "Helm? Helm untuk siapa, Asia?"

​"Untuk Nero, Bu. Mumpung sekarang Asia antar-jemput Nero naik motor, Nero butuh helm sendiri yang pas di kepalanya," jelas Asia rinci, tetap dengan nada hormat. "Selama ini kan Nero tidak pernah diajak naik motor dan selalu naik mobil, jadi dia tidak punya helm. Biar lebih aman di jalan, Asia belikan helm khusus anak dulu."

​Nyonya Malinda terdiam sejenak di seberang telepon. Ibu mertuanya itu baru menyadari betul hal tersebut. Selama ini Nero memang selalu difasilitasi mobil dan sopir, jadi tidak pernah terlintas di pikiran keluarga untuk menyediakan helm anak.

​"Oh... benar juga," suara Ibu Malinda melunak, ada nada hangat dan lega yang terselip. "Ya sudah kalau begitu, Asia. Hati-hati di jalan ya, jangan terlalu lama."

​"Iya, Bu. Terima kasih. Asia tutup dulu teleponnya."

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!