Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggagalkan Rencana
Desa Cisaat masih dalam wilayah kota Mawar, dan posisinya berada di pinggiran kota, juga merupakan salah satu wilayah kumuh, karena desa Cisaat adalah tempat pembuangan akhir sampah; mungkin hal inilah desa Cisaat terabaikan oleh pemerintah kota. Meskipun begitu pemerintah kota sudah beberapa kali mencoba untuk mendaur ulang sampah yang menggunung, dengan bekerjasama dari pihak swasta membuat sejenis pabrik pengolahan sampah. Akan tetapi tidak ada yang bertahan lama dan entah kenapa bisa terjadi. Pekerjaan dari warga hampir semua berprofesi mengais sampah untuk kebutuhan sehari-hari. Dan juga sudah menjadi hal umum tercium bau sampah, meskipun begitu warga desa Cisaat tidak pernah merasa terganggu dengan baunya sampah, dan warga desa Cisaat masih memiliki rasa kebersamaan.
Faktanya saat ini. Ketika rumah bu Lasmi; juga sebagai tempat penampungan, baik itu anak jalanan, maupun anak yang di telantarkan oleh orang tua mereka, kedatangan dua puluh orang yang pengaku sebagai eksekutor yang di utus oleh pemilik rumah baru, juga di belakang para eksekutor sudah ada kendaraan berat yang siap merobohkan rumah. meminta mengosongkan rumah sesegara mungkin, warga segera menahannya dan mencoba melakukan negosiasi, dengan tujuan mengulur waktu selama mungkin.
Awalnya para eksekutor setuju menunggu sampai kembalinya bu Lasmi, dengan syarat; semua anak-anak yang ada di dalam rumah harus keluar, setelah ada negosiasi dengan para warga, warga juga kemudian menyetujui persyaratan eksekutor, meskipun dalam hati para warga penuh kekesalan.
Wargapun segera membawa anak-anak keluar dari rumah, lalu di tempatkan di bawah pohon mangga milik warga tetangga. Karena waktu sudah mulai malam hawa dingin bercampur bau sampah sudah terasa, namun warga desa Cisaat masih tetap berkumpul di dekat rumah bu lasmi, setelah sekian lama menunggu; bu Lasmi belum juga kembali, akhirnya para eksekutor sudah habis kesabaran.
"Ayo kita hancurkan rumah sekarang juga!!," tiba-tiba seorang eksekutor mulai bicara ke eksekutor lainnya,
"Iya setuju", Kita sudah lama menunggu sebaiknya lalukan sekarang; eksekutor yang setuju ikut bicara.
Para eksekutor saling melirik setelah mendengar pembicaran dari temannya, kemudian mengangguk. Lalu pemimpin eksekutor berbalik kebelakang dan menghadap di depan kendaraan berat, lalu mengangkat tangan kanannya keatas dan berkata; "robohkan rumah sekarang juga."
Warga yang melihat bahwa rumah bu Lasmi akan segera di robohkan sudah cemas, dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Lalu seorang warga bertubuh kurus dengan memberanikan dirinya maju kedepan menghadap para eksekutor, lalu berkata; "aku harap kalian lebih sabar sedikit."
"Apa kamu bilang kami harus bersabar lagi, memangnya kamu itu siapa..??" Seorang eksekutor menunjuk dan memarahinya, lalu berkata kembali; "kami juga banyak pekerjaan ditempat lain, dan juga sudah menunggu sesuai kesepatan jadi mengapa kami harus bersabar lagi.!! pergi sana."
Warga berbadan kurus menundukan kepalanya namun tidak pergi.
Tiba-tiba seorang eksekutor yang sudah habis kesabarannya, berlari kearah warga berbadan kurus; tanpa berbicara lagi, langsung mengangkat kaki kanan lalu menendangnya..
"Bugh"..... Aaaaahhhhh"
Warga berbadan kurus langsung, berteriak kesakitan.
"Inilah akibat bagi siapapun yang berani menahannya", kata eksekutor setelah menendang warga berbadan kurus, matanya menatap tajam kearah warga.
Warga hanya diam, tidak berani menatap eksekutor yang telah menendang warga lainnya,
"Jika kalian tidak mundur maka sama saja telah menentang apa yang telah disepakati, dan ini adalah contohnya", seringai muncul di bibir eksekutor, kemudian eksekutor itu mengangkat tubuh warga yang kurus, setelah di angkat lalu kemudian eksekutor itu mengepalkan tangan kanannya segera meninju perut warga berbadan kurus beberapa kali.
"Dugh...dugh...dugh"
Suara pukulan yang menghantam perut warga berbadan kurus begitu keras, membuat warga yang melihatnya ketakutan dan mulai mundur.
Sedang Warga berbadan kurus, setelah mendapatkan pukulan berteriak kesakitan.. "Aaaahhhh" uuuughh" tolong hentikan aku sudah tidak... tahan laa...giiii..
Setelah merasa puas memukulinya, juga teriakan untuk berhenti, akhirnya eksekutor yang kejam itu dengan enteng melemparkannya.
"Bruukkk"
Warga berbadan kurus setelah di lemparkan lalu jatuh, dan pingsan.
"Bawa dia dan kalian mundur lebih jauh", eksekutor itu berteriak.
Beberapa warga wajahnya pucat karena sudah ketakutan, akan tetapi berlari kearah tetangganya yang pingsan dan segera membawanya,
"bagaimana ini apa yang harus kita lakukan", seorang warga berbicara;
"kita sudah tidak bisa berbuat sesuatu untuk menahannya lagi, lihat Sugi si kurus itu... sampai pingsan karena mencoba menghalanginya" seorang warga menunjuk ke arah Sugi.
"Tapi kita tidak bisa berdiam diri saja" warga lain berteriak kesal, "
"Terus apa yang harus kita lakukan, kalau kamu berani. Maju sendiri sana!" Warga lain lagi mendengus marah.
"Kau...." Warga yang di marahi menunjuk.
"sudah hentikan kalian, kenapa malah saling adu mulut", Warga yang menghentikan itu melototi kedua warga, lalu berbicara kembali; " Aku dari tadi bertanya-tanya dalam hati, apakah kalian berdua melihat atau tahu dimana kepala desa kita!! semenjak kemunculan ke dua puluh orang yang mengaku eksekutor, tidak kelihatan. Apakah di antara kalian ada yang tahu..??"
Semua warga setelah mendengar pertanyaan salah satu warga, menjadi diam dan akhirnya kepikiran juga.
"Iya juga kemana kepala desa" seorang warga bergumam.
"Mungkin aku bisa menjawab pertanyaan dari mang Diman", seorang warga maju kedepan menghadap mang Diman.
"Coba jelaskan Sabri", kata mang Diman.
Begini mang. Sabri mulai menjelaskannya; " beberapa hari yang lalu aku kebetulan ada keperluan ke kantor desa dan membutuhkan tanda tangan kepala desa, namun ketika aku di sana di kantor. Ada beberapa tamu yang berkunjung dan berbicara dengan kepala desa, namun aku tidak bisa mendengarkannya karena ruang kepala desa ditutup. Tapi sama-samar aku mendengar tamu itu bilang menyuruh kepala desa pergi. Begitu mang."
"Kamu yakin sabri", mang Diman penasaran;
"tadi aku bilang hanya samar-samar mang, bisa benar atau salah, tapi kalau kepala desa tidak muncul saat ini, berarti itu benar". Sabri penuh percaya diri.
Mang Diman dan warga lainnya, setelah mendengarkan penjelas dari Sabri, menghela napas berat.
"mang Diman dan yang lain harap tenang dulu", kata Sabri.
"Maksudmu apa Sabri", mang Diman mengerutkan alisnya.
"Begini mang. Lalu Sabri menjelaskan kembali; waktu kedatangan orang-orang itu, Sarip datang menemuiku dan, Sarip mengatakan padaku akan menyusul Ibu Lasmi ke pusat kota, jadi menurutku setidaknya bu Lasmi tidak akan kecewa terhadap kita setelah dia kembali dan melihat rumahnya sudah di robohkan, yang terpenting bagi kita sebagai warga desa yang baik, telah berusaha sebaik mungkin menahan para eksekutor itu".
"Benar seperti yang dikatakan oleh Sabri jadi kita hanya bisa pasrah". kata mang Diman, wajahnya sedikit menunduk.
Sementara para eksekutor, setelah melihat warga mulai mundur, senyum seringai muncul di wajah para eksekutor. kemudian pemimpin eksekutor berteriak, lalu memerintahkan sopir kendaraan berat segera maju.
"Robohkan sekarang"
Suara kendaraan menderu kemudian mulai melaju, namun tanpa di duga, suara teriakan menggelegar.
"Berhenti sekarang juga"
Tiba-tiba semua pergerakan para eksekutor berhenti bahkan termasuk kendaraan berat. Itu langsung menggagalkan rencana mereka.
"Siapa Kau...."