NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Tak Bisa Diulang

Setelah mencapai puncak kenikmatan tadi, Kenan masih enggan melepaskan tubuh mungil itu. Ia berbaring memiringkan badan tepat di samping Kinasih, memeluk erat tubuh gadis itu dari belakang, membiarkan keduanya tetap menyatu dalam kehangatan yang terasa begitu pas dan alami. Napas mereka masih terengah-engah, berkeringat, dan suasana di dalam kamar itu terasa semakin panas dan memabukkan.

Beberapa saat kemudian, kesadaran Kinasih mulai pulih. Ia perlahan membuka matanya, mencoba bergerak sedikit, namun seketika ia mengerang pelan menahan rasa perih dan ngilu yang terasa di bagian dalam tubuhnya. Wajahnya langsung memerah mengingat apa yang baru saja terjadi, dan ia berniat ingin bangun perlahan untuk merapikan dirinya.

Namun baru saja ia sedikit mengangkat pinggulnya, Kenan yang masih terjaga pun segera mempererat pelukannya. Tangan kekarnya melingkar erat di pinggang Kinasih, menarik tubuh gadis itu kembali menempel kuat pada dirinya.

“Mau ke mana, Sayang? Belum selesai… rasanya masih kurang,” bisik Kenan dengan suara parau yang masih terdengar berat dan penuh gairah. Efek obat itu belum sepenuhnya hilang, ditambah lagi rasa nikmat yang ia rasakan bersama Kinasih jauh melebihi apa pun yang pernah ia bayangkan.

Tanpa memberi kesempatan Kinasih untuk menjawab, bibir Kenan segera mendarat lembut namun bernafsu di tengkuk leher Kinasih yang halus dan harum. Ia menciumnya dalam, menjilat, dan menggigit pelan kulit leher itu hingga membuat bulu kuduk Kinasih meremang seketika. Ciuman itu terus bergerak turun menyusuri lekukan punggung gadis itu, meninggalkan jejak panas yang membakar setiap jengkal kulitnya.

Sementara itu, tangan kanan Kenan bergerak naik perlahan, menyentuh dan meremas lembut namun kuat kedua gundukan lembut di dada Kinasih, memutar-mutar puncaknya hingga terasa menegang dan semakin peka.

“Ahhh… Kak kenan… hhh… masih sakit sedikit… tapi… ahhh…”desah Kinasih lirih, rasa perih itu perlahan berubah lagi menjadi gejolak nikmat yang mulai menjalar kembali.

Merasakan tubuh Kinasih sudah mulai melunak dan merespons, Kenan pun mengangkat sedikit pinggulnya. Dengan satu dorongan yang halus namun pasti, ia memasukkan kembali miliknya yang masih keras dan membara ke dalam lubang hangat Kinasih yang ternyata masih lembap, basah, dan siap menerimanya lagi.

“Hhhh… masih sangat ketat dan hangat… enak sekali… hhh…”erang Kenan dalam napasnya, matanya terpejam menikmati sensasi menyatu itu dari posisi belakang yang terasa lebih dalam dan memuaskan.

Tak butuh waktu lama, Kenan mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya perlahan dan teratur, tapi seiring memburunya hasrat yang tak terbendung, gerakannya makin lama makin cepat, makin keras, dan makin menusuk ke bagian paling dalam tubuh Kinasih. Setiap hentakannya terasa kuat dan dalam, menggetarkan seluruh tulang rusuk gadis itu.

“Ahhhh… Kakkk kenan… hhh… makin dalam… ahhh… nikmat sekali… jangan berhenti… ahhh!”teriak Kinasih mendesah panjang, suaranya melengking meluapkan kenikmatan yang menyelimuti seluruh raganya. Rasa sakit tadi sudah hilang sama sekali, digantikan rasa melayang yang membuatnya lupa diri.

“Hhhh… iya Sayang… terima begitu saja… ahhh… kau sempurna sekali… hhh… bikin gila… ahhh!”balas Kenan dengan suara parau dan berat, erangannya bercampur dengan hembusan napasnya yang memburu. Ia makin mempercepat hentakannya, mendesak masuk semakin dalam dan cepat seolah ingin menyatu sempurna dengan jiwa dan raga Kinasih.

Suara gesekan tubuh yang saling beradu, bercampur dengan desahan dan erangan mereka yang bersahutan memenuhi seluruh ruangan kamar itu, menciptakan irama kenikmatan yang tak ada habisnya. Keduanya terus terhanyut dalam gairah yang meledak-ledak, hingga dunia terasa hanya milik mereka berdua saja.

Belum sempat rasa nikmat itu reda sepenuhnya, Kenan pun menghentikan gerakannya sejenak. Dengan tenaga yang masih meluap dan hasrat yang belum terpuaskan, ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Kinasih, dan tangan satunya memeluk erat pinggang gadis itu. Tanpa usaha yang berarti, ia mengangkat dan menggendong tubuh mungil itu dalam gendongannya, masih dalam keadaan keduanya sama-sama telanjang dan masih saling terhubung.

Kinasih terkejut, memeluk leher Kenan erat-erat, wajahnya memerah padam. “Kak… mau dibawa ke mana… hhh…” desahnya lirih, suaranya masih terguncang sisa kenikmatan.

“Diam saja… kita belum selesai, Sayang,” bisik Kenan parau, melangkah pasti menuju sofa empuk yang ada di sudut kamar.

Ia pun duduk dengan nyaman, lalu menurunkan tubuh Kinasih perlahan hingga gadis itu terduduk tepat di atas pangkuannya, menghadap lurus ke arah wajah Kenan. Posisi itu membuat milik Kenan tertekan dan masuk semakin dalam ke dalam liang hangat Kinasih, membuat keduanya sama-sama mendesah seketika.

“Ahhh… Kak… dalam sekali… hhh…”erang Kinasih menggeliat pelan.

Tanpa membuang waktu, Kenan langsung membenamkan wajahnya ke leher Kinasih. Ia mencium, menjilat, dan menggigit pelan kulit halus itu hingga meninggalkan tanda merah yang membara. Mulutnya lalu bergerak turun, menyambar salah satu gundukan lembut di dada Kinasih, menghisapnya lebih dalam dan lebih kuat dari sebelumnya. Lidahnya berputar liar memutar puncaknya yang sudah menegang keras, sesekali ia menjepitnya pelan di antara giginya, sementara tangannya meremas dan memainkan payudara satunya dengan ganas.

“Ahhhh… hhh… Kak… nikmat sekali… jangan berhenti… ahhh!”desahan Kinasih melengking tinggi, tubuhnya melengkung menikmati setiap sentuhan yang membakar rasanya. Kepalanya terkulai ke belakang, tenggorokannya terbuka mengeluarkan suara-suara seksi yang membuat Kenan makin gila dibuatnya.

Merasa gadis itu sudah kembali melunak dan basah sempurna, Kenan pun memegang pinggang Kinasih erat-erat, lalu mendesakkan tubuhnya sedikit lebih dalam lagi.

“Ayo… bergoyang untukku, Sayang… gerakkan pinggulmu… buat Kakak puas,” bisik Kenan parau di telinganya, napasnya memburu hebat.

Kinasih mengangguk lemah, matanya berkabut oleh kenikmatan yang memabukkan. Ia menurut perlahan, mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, memutar dan mengayunkan tubuhnya dengan gerakan yang lambat namun sensual. Lama-kelamaan, gairahnya ikut terbakar, gerakannya makin menjadi, makin cepat, makin dalam, dan makin liar. Tubuhnya bergoyang seirama, setiap kali turun ia menekan sekuat tenaga agar milik Kenan menembus ke bagian paling dalamnya.

“Ahhh… begitu… Kak… ahhh… nikmatnya… hhh… makin dalam… ahhh!”suara desahan Kinasih terdengar sangat seksi dan merdu, menggema tepat di telinga Kenan, memicu hasrat pria itu meledak semakin hebat.

“Hhhh… bagus sekali… gerakkan terus… kau sangat menggoda… ahhh… bikin Kakak gila… hhh…”erang Kenan tak kalah keras, matanya terpejam menikmati liang hangat dan ketat yang terus menggesek dan memeluk miliknya dengan sempurna.

Namun tak lama kemudian, tenaga Kinasih mulai habis. Gerakannya makin melambat, napasnya tersengal-sengal hebat, dan tubuhnya terasa lemas tak berdaya.

“Kak kenan… lelah… hhh… nggak sanggup lagi…”desahnya lirih sambil terkulai di bahu Kenan.

Melihat itu, Kenan tersenyum penuh nafsu. Ia mempererat cengkeramannya di pinggang Kinasih, lalu mulai menggerakkan pinggulnya sendiri dari bawah, mendorong ke atas dengan kekuatan yang luar biasa. Setiap hentakannya makin keras, makin cepat, dan makin menusuk dalam, menggetarkan seluruh tulang dan urat tubuh Kinasih. Ia bergerak tanpa ampun, melampiaskan semua hasrat yang masih tersisa dan efek obat yang belum sepenuhnya hilang.

“Ahhhhhh… Kakkk… hhh… terlalu dalam… ahhh… nikmatnya luar biasa… jangan berhenti… ahhh!”teriak Kinasih mendesah panjang, setiap dorongan itu membuat kepalanya terasa melayang dan tubuhnya terasa meleleh seluruhnya.

“Hhhhh… iya… Sayang… terima saja… ahhh… kau milikku malam ini… hhh… enak sekali… ahhh!”Kenan mengerang keras, suaranya parau dan berat, gerakannya makin menjadi seolah ingin menyatu raga dan jiwa mereka selamanya.

Hingga akhirnya, dengan satu dorongan paling kuat, paling dalam, dan paling cepat, gelombang kenikmatan meledak membanjiri tubuh mereka berdua secara bersamaan. Keduanya mendesah panjang, seolah jiwa mereka melayang keluar raga, terguncang hebat oleh puncak rasa yang memabukkan itu. Tubuh mereka menegang seketika, lalu melemas perlahan, masih saling tergantung erat satu sama lain, berkeringat dan terengah-engah, ditinggalkan rasa hangat dan penuh yang terasa sempurna di dalam tubuh mereka masing-masing.

Meski napas mereka masih terengah dan tubuh sama-sama berkeringat, Kenan sama sekali tak membiarkan Kinasih turun dari pangkuannya. Justru ia mempererat pelukannya, seolah takkan pernah melepaskan gadis itu dari dekapannya selamanya.

“Belum cukup… masih ingin terus merasakanmu, Sayang,” bisik Kenan parau, suaranya masih penuh sisa gairah yang membara.

Tanpa melepaskan posisi mereka yang masih saling menyatu, Kenan berdiri tegak dengan tenaga yang luar biasa. Ia tetap menggendong tubuh mungil Kinasih dalam gendongannya, melangkah pasti menuju meja makan panjang yang ada di sudut ruangan itu.

Dengan lembut namun tegas, Kenan menurunkan tubuh Kinasih dan mendudukkannya tepat di atas permukaan meja yang lebar dan halus itu. Lalu ia menekan bahu gadis itu perlahan hingga Kinasih terbaring telentang sempurna di atas meja makan, kedua kakinya terbuka lebar mengangkang mengelilingi pinggang Kenan, sementara miliknya masih tertancap dalam dan erat di dalam sana.

“Ahhh… Kak… di meja… hhh… malu…”desah Kinasih lirih, wajahnya memerah padam melihat posisi mereka yang tak biasa itu, tapi hatinya justru berdebar kencang menunggu sensasi yang akan datang lagi.

“Malu apa? Tubuhmu sudah sepenuhnya milikku malam ini… biarkan meja ini pun merasakan betapa indahnya tubuhmu,” bisik Kenan sambil menunduk mencium bibir Kinasih dalam-dalam, lalu memegang pinggang gadis itu kuat-kuat sebagai tumpuan.

Tanpa menunggu lagi, Kenan mulai menggerakkan pinggangnya. Awalnya perlahan, namun tak lama kemudian ia menghentakkan tubuhnya dengan kekuatan penuh, makin cepat, makin keras, dan makin menusuk ke bagian paling dalam yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Setiap hentakannya membuat meja itu bergetar pelan, dan tubuh Kinasih terangkat sedikit mengikuti irama dorongan pria itu.

“Ahhhhh… Kakkk… hhh… terlalu dalam… ahhh… nikmatnya luar biasa… hentakkan terus… jangan berhenti… ahhh!”teriak Kinasih mendesah melengking, suaranya terdengar sangat seksi dan menggema memenuhi seluruh ruangan. Rasa nikmat itu meledak kembali menjalar ke setiap ujung urat nadinya, membuatnya menggeliat dan memeluk erat pinggang Kenan seolah tak ingin terlepas.

“Hhhhh… iya Sayang… begini kan… ahhh… kau sempurna sekali… begitu ketat dan hangat… bikin gila terus… hhh… ahhh!”balas Kenan mengerang keras, suaranya parau dan terputus-putus mengikuti setiap hentakan tubuhnya. Ia makin mempercepat gerakannya, mendesak masuk berulang kali dengan ganas, memuaskan semua hasrat yang masih meluap dan efek obat yang masih menguasai dirinya.

Desahan dan erangan mereka bersahutan lagi, tak ada lagi rasa malu atau ragu, hanya ada kenikmatan yang memabukkan yang menyatukan raga dan jiwa mereka. Keduanya terus terhanyut dalam irama yang makin liar dan tak terkendali, seolah dunia hanya milik mereka berdua malam itu saja.

Hingga akhirnya, saat puncak kenikmatan itu datang lagi meledak dengan dahsyatnya, tubuh mereka sama-sama menegang kaku, mendesah panjang dan keras secara bersamaan, melepaskan semua rasa yang terpendam sepenuhnya di dalam tubuh satu sama lain. Keduanya terkulai lemas, masih saling terhubung erat, napas mereka terengah-engah, berkeringat, dan terasa begitu lengket dalam kehangatan yang membahana.

Malam itu benar-benar menjadi malam yang takkan pernah bisa dilupakan, malam yang mengubah takdir hidup mereka selamanya.

Waktu terus berjalan, dan jarum jam di dinding kamar itu sudah menunjuk tepat pukul dua pagi. Suasana masih hening, hanya tersisa suara napas yang terengah-engah dan tubuh yang masih terasa lemas setelah berjam-jam terhanyut dalam kenikmatan yang membara.

Kenan terbaring lemas di atas sofa, matanya masih terpejam rapat, napasnya memburu dan terputus-putus, sisa efek obat serta kelelahan luar biasa membuatnya seolah tak sanggup lagi bergerak sedikit pun.

Melihat keadaan itu, Kinasih perlahan melepaskan pelukan dan menggeser tubuhnya dengan hati-hati. Rasa perih dan ngilu terasa menyelimuti seluruh bagian bawah tubuhnya, tapi ia tak punya waktu untuk memikirkannya lebih lama. Dengan langkah tergopoh dan masih sedikit goyah, ia segera berlari kecil menuju kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.

Di dalam sana, air mata kembali menetes perlahan bercampur dengan air keran yang membasahi tubuhnya. Ia membersihkan dirinya dengan cepat, menghapus semua bekas tanda ciuman dan rasa hangat yang masih tersisa, berusaha menenangkan hatinya yang kacau balau. Setelah merasa cukup bersih, ia segera memakai kembali pakaiannya tadi dengan tergesa-gesa, merapikan rambut dan wajahnya sebaik mungkin.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!