Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pembalasan Sang Penakluk Badai
Gemuruh ledakan dari meriam sihir The Sky Leviathan menggetarkan seluruh cakrawala malam. Gelombang energi berwarna biru murni melesat membelah kegelapan, menghantam perisai kabut hitam milik armada Sekte The Obsidian Dawn.
Di atas dek utama yang diterjang angin kencang, Kapten Alden berdiri kokoh seperti batu karang di tengah ombak. Jubah hitamnya berkibar kasar, dan sepasang mata abu-abu badainya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Laras meriam dua dan empat, kunci koordinat kapal sayap kiri mereka! Jangan beri mereka celah untuk mendekati lambung bawah!" perintah Alden, suaranya menggelegar mengalahkan suara dentuman meriam.
"Siap, Kapten!" sahut wakil komandan dek dengan tergesa-gesa.
Tiga kapal hitam milik musuh bergerak dengan lincah di antara gumpalan awan. Mereka tidak berniat menghancurkan The Sky Leviathan sepenuhnya, melainkan mengincar titik lemah kapal untuk melakukan invasi jarak dekat (boarding).
Dari dek kapal utama musuh, belasan sosok berjubah ungu tua mulai merapalkan mantra terlarang. Sedetik kemudian, rantai-rantai sihir hitam berukuran raksasa melesat dari kegelapan, mencoba mengait dan mengunci pergerakan baling-baling kemudi The Sky Leviathan.
Sraakkk!
Dua rantai hitam berhasil mencengkeram pembatas perak di dek belakang, menciptakan percikan api kutukan yang mulai mengikis perisai pelindung kapal.
"Mereka mencoba menahan kita, Kapten! Jika perisai terkikis habis, sihir hitam mereka akan menembus ke kabin dalam!" teriak perwira navigasi dari menara atas.
Alden tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aliran sihir elemen angin topan di dalam tubuhnya bangkit ke tingkat maksimal. Pedang perak besarnya, The Zephyr Blade, mulai memancarkan pendaran cahaya putih murni yang menyilaukan. Pria itu melangkah maju menuju pembatas dek yang terikat rantai musuh.
Di dalam benaknya, bayangan wajah Clara yang tenang dan pelukan hangat anak-anaknya di ruang rahasia kembali terlintas.
Sentuhan lembut kecupan di kening Clara sebelum ia naik ke dek atas seolah menjadi bahan bakar energi yang tak terbatas bagi jiwanya. Ia telah bersumpah tidak akan membiarkan monster-monster dari masa lalu ini melangkah satu senti pun mendekati keluarga barunya.
"Kalian salah memilih lawan," desis Alden dingin.
Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Alden melompat tinggi ke udara, menantang hembusan angin malam yang mematikan. Ia mengayunkan pedang besarnya dengan teknik tebasan badai melingkar.
WUSSS! BOOM!
Gelombang angin pemotong setajam pisau raksasa melesat dari mata pedangnya, menghantam dan memutuskan rantai-rantai sihir hitam musuh dalam sekali tebas.
Tidak berhenti di situ, tekanan angin dari tebasan Alden menciptakan pusaran udara makro yang menghantam salah satu kapal sayap kanan musuh hingga miring drastis dan menabrak gumpalan awan batu di dekat mereka.
Ledakan besar kembali membubung di langit malam saat kapal musuh tersebut mulai kehilangan daya terbang dan merosot jatuh menuju samudra bawah.
Melihat satu kapal mereka hancur dengan mudah, sisa armada Sekte The Obsidian Dawn mulai mengubah strategi. Mereka melepaskan ratusan Wraith Sky, yaitu roh-roh langit pelahap jiwa, dari dalam palka kapal mereka.
Gumpalan asap hitam bermata merah melesat terbang memenuhi udara, mencoba menembus ventilasi sihir The Sky Leviathan untuk menyerang para kru dan mencari keberadaan anak-anak Alden.
"Gunakan peluru perak penolak roh! Lindungi jalur ventilasi kabin bawah!" seru Alden sembari mendarat kembali di atas dek dengan mulus.
Pria itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, menebas setiap roh hitam yang mencoba mendekatinya. Namun, dalam hatinya, Alden mulai merasa cemas. Ia tahu bahwa Toby sangat rentan terhadap serangan roh seperti ini. Jika roh-roh ini berhasil merembes masuk melalui celah sihir terkecil sekalipun, putra bungsunya bisa mengalami histeria hebat.
'Clara... aku mempercayakan mereka kepadamu,' batin Alden, memperkuat cengkeramannya pada gagang pedang.
Di saat yang sama, salah satu penyihir hitam tingkat tinggi dari kapal utama musuh melayang di udara, merapalkan mantra kutukan skala besar yang mengarah langsung ke menara kemudi utama The Sky Leviathan.
Sebuah bola energi ungu kehitaman raksasa terbentuk di atas langit, siap dijatuhkan untuk melumpuhkan seluruh sistem sihir kapal terbang milik Alden.
Alden mendongak, matanya menyipit tajam menatap ancaman besar tersebut. Ia tahu, menahan serangan sebesar itu dengan perisai kapal saja tidak akan cukup. Ia harus menghancurkan inti mantra tersebut sebelum dilepaskan.
"Bernet! Ambil alih komando pertahanan dek tengah!" seru Alden melalui alat komunikasi sihir di kerah bajunya.
"Diterima, Kapten!" sahut suara Bernet dari dalam kabin.
Alden memfokuskan seluruh energi sihirnya ke telapak kakinya. Lambung kapal The Sky Leviathan berguncang sedikit saat Alden melesat terbang lurus ke atas menuju arah penyihir hitam tersebut, siap memberikan pembalasan penuh dari Sang Penakluk Badai Barat yang mengamuk demi melindungi rumah dan keluarganya.
Pertempuran di atas langit malam barat ini baru saja memasuki fase paling puncaknya.