Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marwa Si Gadis Pincang
BRAAAK!
BRAAAK!
"MARWAA BANGUUN!
BRAAAK!
BRAAAK!!
Seorang wanita paruh baya mengedor pintu kamar dengan kasar disertai gurat emosi pagi itu. Hingga tak lama, Pintu kamar terbuka.
Seorang gadis cantik muncul. Wanita yang bernama Dartik itu berkacak pinggang menatap tajam sang gadis yang merupakan keponakannnya.
"Kamu tahu ini jam berapa?? Bukannya bangun dari pagi malah enak-enakan tidur kamu!!" Gadis itu menunduk, Bukannya takut namun gadis tersebut malas hendak berdebat.
"Maaf Bibi.. Aku capek banget, Jadi bangun agak siang.." Ucapnya. Dia memang merasa lelah sekali, Maklum saja kalau bangun agak siang.
"Capek capek!! Eh! Kamu kira yang lainnya gak capek!? Semua capek tahu gak? Kamu ini.. Udah numpang nyusahin pula.." Setelah mengatakan itu, Sang Bibi mulai pergi. Seperginya sang Bibi, Gadis itu menghela nafas panjang.
"Apa iya hidup aku seperti ini terus..." Gumamnya lirih. Dengan hati-hati gadis yang biasa panggil Wawa itu menuruni anak tangga.
"Wawa..." Ia menoleh, Seorang wanita menyusulnya.
"Ya kak..
"Jangan dengerin apa kata ibu ya? " Gadis tadi mengangguk seraya tersenyum.
"Yaudah, Kita turun yuk, Sarapan.. " Ajak wanita itu.
Begitu sampai diruang makan, Rasa lapar yang gadis itu rasakan mulai hilang setelah telinganya kembali mendengar ucapan pedas dari Paman dan Bibinya. Hingga sebuah ketukan pintu terdengar. .
"Sepertinya itu Kak Raski.. Kalau gitu, Wawa berangkat dulu ya..." Gadis itupun bangkit setelah berpamitan pada semua yang ada disana. Kakinya melangkah menuju pintu dimana seorang pria telah menunggunya.
"Pagi..
"Pagi..
"Udah siap?
"Udah Kak..
"Yaudah, Ayo berangkat.." Sepasang pria dan wanita itupun mulai berangkat bersama. Sekitar dua puluh menit perjalanan, Kendaraan roda empat itu terhenti.
"Kak, Makasih ya udah nganterin aku.." Seorang gadis itu mengucapkan ucapan terimakasih pada seorang pria yang lima tahun lebih tua darinya.
"Sebentar lagi kita kan nikah, Jadi aku bisa antar kamu kuliah tiap hari.." Kata Pria itu. Raski tersenyum menatap gadis dihadapannya ini. Gadis yang telah menjadi tunangannya hampir satu tahun ini..
"Ya udah Kak, Aku turun dulu ya.." Marwa hendak turun namun Raski menahan pergelangan tangan Marwa. Wanita itu menoleh..
"Ya kak?
"Aku punya sesuatu buat kamu.."
"Apa?
Raski meraih sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru dimana didalamnya ada sebuah Kalung berliontin hati yang indah. Ada manik cantik bak Berlian yang berkilau membuat Marwa menutup bibirnya karena terkejut.
"Ini, Kakak beliin kamu kalung.. Suka gak?" Marwa menatap Raski dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Tak ada yang memberikan ia hadiah lagi kecuali kakak sepupunya, Sahabatnya dan sekarang pria ini.
"Kak Raski.." Marwa memeluk Raski, Sungguh dia merasa sangat terharu sekali. Dia tak pernah mendapatkan hadiah dari siapapun termasuk dari kedua orang yang merawatnya selama ini. Hanya kakak dan sahabatnya saja yang kadang memberikannya barang. Dan untuk kakaknya selalu saja mendapat teguran dari kedua orangtuanya karena hadiah itu.
"Udah gak usah nangis dong.. Sini aku pake in.. " Marwa berbalik badan membelakangi Raski. Pria itu memakaikan kalung tersebut dileher jenjang Marwa.
Marwa tersenyum senang seraya memegang bentuk liontin itu.
"Dah..
Marwa kembali memutar tubuhnya menatap Raski penuh dengan cinta. Gadis itu menggenggam tangan pria yang merupakan tunangannya itu.
"Kak.. Makasih ya, Kakak baik banget ternyata.. Aku sayang sama Kakak.." Marwa kembali memeluk Raski dengan erat seolah Raski lah hidup Marwa selama ini.
Sejak pria itu mencoba menyatakan rasa kagum terhadapnya, Raski selalu baik padanya. Pria itu tak pernah membuatnya sedih..
"Baiklah.. Sekarang kamu masuk gih, Nanti telat malah ke kampusnya.." Marwa mengangguk.
"Ohya, Kamu kerja nanti?"
"Iya kak..
"Yaudah, Hati-hati ya...
"Iya...
Marwa pun turun dari kendaraan roda empat milik Raski. Seperginya Marwa, Raski menghela nafas panjang.
Pria itu mengotak atik ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang.
"Tunggu aku, Kita berangkat bersama hari ini." Seperti itulah pesan yang dikirim Raski pada orang itu yang entah itu temannya atau bukan.
Ting...
"Okey, Aku tunggu..
Sementara itu, Marwa sangat pelan-pelan berjalan kearah gerbang kampus. Gadis itu menyeret kakinya dengan hati-hati.
"Wawaaa!!" Gadis itu menoleh ke arah seorang gadis yang seumuran dengannya. Marwa tersenyum.
"Hay...
"Baru nyampe?" Tanya Nina, Gadis itu adalah sahabat Marwa sejak mereka duduk dibangku SMP.
"Iya, Aku baru aja nyampe... Di antar sama Kak Raski.." Nina menyenggol pelan lengan Marwa dengan ekspresi menggoda.
"Cie ee... Yang mau nikah nih cieee...
"Apaan sih..
"Ya gak usah malu gitu.. Lagian ya, Kamu sama Kak Raski itu cocok banget.. Ya, Walaupun usia kalian selisih lima tahun lah.." Kata Nina yang ikut senang dan bahagia melihat sahabatnya ini bertemu dengan orang tepat.
"Ya Alhamdulillah lah.. Kak Raski itu pria yang baik. Aku bersyukur bisa ketemu sama dia.. Selain baik dia itu juga perhatian sama aku.." Marwa sangat bersyukur sekali, Pertemuannya dengan Raski membuat Marwa punya setitik kebahagiaan.
Namun sayangnya, Hubungannya dengan Raski terhalang ibu dari pria itu. Katanya karena Marwa tidak setara sama sekali..
"Ya udah sekarang kita masuk yuk.." Marwa mengangguk, Nina sang sahabat membantu gadis itu berjalan.
...****************...
Annisa Marwa. Gadis dua puluh tahun yang dikenal dengan paras cantiknya. Marwa juga dikenal sebagai seorang gadis yang pintar dan ceria, Yang ramah terhadap sesama serta baik hati.
Gadis itu juga murah senyum, Meski sebenarnya sangat jauh dari kehidupan yang Marwa jalani saat ini.
Orang memang mengenal Marwa dengan gadis yang punya banyak kelebihan. Namun sayangnya dia masih punya kekurangan. Sejak usianya sepuluh tahun Marwa sudah ditinggal ayah dan ibunya meninggal.
Marwa menyandang gelar yatim piatu saat itu juga. Selama ini Marwa dirawat oleh Paman dan Bibinya. Paman Marwa adalah Kakak dari mendiang ibunya.
Walaupun masih terikat sodara yang cukup dekat. Kehidupan Marwa berubah sejak itu juga. Dia memang dirawat oleh Paman dan Bibinya, Namun mereka seolah tidak ikhlas merawat Marwa.
Paman dan Bibinya yang bernama Haris dan Darti itu selalu memarahi Marwa, Kadang perhitungan dengan apa yang selalu mereka kasih. Padahal yang ditempati saat ini adalah rumah mendiang orangtua Marwa sendiri.
Hanya kakak sepupunya lah yang selalu peduli padanya. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu begitu baik sekali padanya, Dan Marwa cukup bersyukur. Dalam dunia ini ada tiga orang yang percaya dan dia sayangi, Yaitu Tania kakak sepupu, Calon suaminya Raski. Dan yang terakhir adalah Nina, Sahabat baiknya..
Salah satu kekurangan Marwa saat ini ialah. Dia tidak bisa berjalan dengan normal. Kakinya pincang akibat tiga tahun yang lalu Marwa menyelamatkan Tania yang pada saat itu hendak ditabrak oleh mobil..
Marwa mendorong Tania sehingga dialah yang menjadi korban kecelakaan itu. Kakinya mengalami cedera yang cukup parah, Dokter mengatakan kemungkinan sangat kecil kakinya bisa sembuh seperti sedia kala.
Akan tetapi dokter juga tidak mematahkan harapan Marwa. Kaki Marwa masih bisa disembuhkan meski kemungkinan kecil asal gadis itu rutin melakukan terapi dan sering banyak kontrol. Dan semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Selain itu, Semua harus dengan biaya yang cukup besar. Marwa tidak punya uang sebanyak itu untuk mengobati kakinya. Sementara Paman dan Bibinya tidak peduli dan tidak mau tahu. Entah sudah makan atau minum pun mereka tidak peduli sama sekali..
Bagi mereka, Marwa hanya seorang anak yang menyusahkannya saja. Setelah dirawat oleh mereka, Masa iya harus merawat kaki Marwa yang pincang itu. Begitulah pikir mereka..
Ketidakpedulian Paman dan Bibinya itu membuat Marwa tidak patah semangat sama sekali. Sepulang dari kuliah, Marwa pergi bekerja paruh waktu disalah satu cafe. Sungguh dia tak patah semangat sama sekali.
Gaji miliknya Marwa kumpulan dikit demi sedikit untuk biaya kakinya nanti. Karena itulah yang paling penting saat ini. Kalau kaki Marwa sembuh, Dia tidak akan menyusahkan Paman dan Bibinya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu langsung kerja?" Marwa mengangguk. Dia tersenyum seraya memasukan buku-bukunya kedalan tas.
"Iya..
Nina terdiam menatap sahabatnya itu. Sejak dulu Nina dan Marwa adalah sahabat baik. Dari Nina masih tinggal didekat rumah Marwa sampai Nina pindah rumah pun hubungan keduanya tetap erat.
Terkadang Nina merasa kasihan sekali pada sahabatnya itu. Marwa harus berjuang seorang diri meskipun Paman dan Bibinya tak peduli. Mau dibantu, Marwa selalu menolak. Selama ia masih sanggup dan kuat, Marwa tidak akan meminta bantuan orang lain.
Untuk Tania, Wanita itu memang baik sekali. Sayangnya Tania tidak bisa membantu adik sepupunya itu karena sebagian gaji wanita itu bekerja diserahkan pada Ibunya. Padahal mereka sudah punya penghasilan setiap harinya.
"Aku antar kamu ketempat kamu bekerja ya?" Marwa mengangguk.
"Makasih Ya, Nin.. Kamu emang baik banget..
"Iya dong.." Seperti biasa, Nina membantu Marwa untuk bangkit dan menuntun gadis itu berjalan. Begitu sampai diparkiran, Marwa disapa oleh para teman-temannya yang akan lulus tahun ini bersama Marwa dan Nina sendiri.
"Hay Marwa.. Udah mau pulang ya?" Sapa seorang pemuda dengan parasnya yang tampan. Beruntung saja, Di kampus ini tidak ada yang membully Marwa meski kondisinya demikian. Justru itu Marwa sangat senang kuliah disini.
"Iya..."
"Hati-hati ya...
"Iya..
Nina memberikan helm cadangannya pada sahabatnya itu. Karena Nina lah yang sering mengantarkan Marwa ketempat kerjanya.
"Ayo naik..." Marwa berpegangan pada bahu Nina kemudian naik ke motor matic milik Nina dengan sangat hati-hati.
"Dah..
"Yuk, Lest gooo...
Sepanjang perjalanan, Nina bersenandung. Di belakangnya, Marwa hanya bisa geleng-geleng. Motor milik Nina berhenti tepat dilampu merah hingga matanya tak sengaja melihat dua orang yang dia kenal baru saja keluar dari toko tas..
"Loh? Itu kan??
•
•
•
TBC
...Assalamualaikum ........
...Bismillah.. Othor Kembali merilis Karya baru yang berjudul...
..." Marwa ( Istri Tangguh Tuan Rayyan )"...
Kisah ini adalah kisah Rayyan kakak kembaran Raisha ya.. Setelah kisah adeknya, Kita lanjut sama kisah kakaknya.. ❤️ Yuk ikuti terus kisahnya..
Mohon dukungan nya ya...✨️✨️
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,