NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:46.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Si Kembar

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah tirai Paviliun Naga, jatuh lembut di wajah Zi Xuan yang perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Mo Yuuran yang begitu dekat, dengan senyum tipis yang seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana.

Untuk sesaat, Zi Xuan hanya menatapnya tanpa bergerak. Hatinya hangat, namun di saat yang sama, ketakutan itu masih belum sepenuhnya hilang.

Ia bangun perlahan tanpa membangunkan Mo Yuuran. Langkahnya ringan saat berjalan menuju balkon, seolah membawa beban yang tidak terlihat.

Di tangannya, sebuah belati tajam kembali tergenggam. Tatapannya kosong, dipenuhi keraguan antara kenyataan dan ilusi.

“Jika ini mimpi .…” gumamnya lirih. “Maka aku harus bangun.”

Perlahan, ia mengangkat belati itu ke arah dadanya. Tangannya tak sedikit pun gemetar. Namun tepat saat ujung belati hampir menyentuh tubuhnya.

“Srek!”

Sebuah tangan menahan bilah tajam itu.

Zi Xuan terkejut, matanya langsung melebar. Ia menoleh cepat, dan napasnya tercekat saat melihat darah mengalir dari tangan yang menahan belati itu.

“Yuuran!” serunya panik.

Mo Yuuran berdiri di hadapannya, wajahnya datar dan pucat. Tangan yang menahan belati itu terluka, darah menetes perlahan.

“Apa yang kau lakukan, Zi Xuan?” tanyanya pelan, namun penuh tekanan.

Zi Xuan tidak langsung menjawab. Ia justru terlihat semakin panik.

“Kenapa kau menahannya?!” suaranya meninggi, dipenuhi kecemasan. “Kau terluka!”

Mo Yuuran mengernyit, menahan rasa sakit. “Kalau aku tidak menahannya, kau sudah melukai dirimu sendiri lagi,” balasnya tegas. “Pantas saja kau memiliki bekas luka seperti ini ternyata kau sendiri yang melakukannya.”

Zi Xuan menggigit bibirnya, tidak menyangkal. Tangannya bergerak cepat mengambil kain, lalu membungkus luka di tangan Mo Yuuran.

“Diamlah, jangan bergerak,” katanya tergesa, suaranya dipenuhi kekhawatiran.

Namun Mo Yuuran justru menarik tangannya. Ia menatap Zi Xuan dengan serius.

“Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya tajam. “Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri seperti orang bodoh?”

Zi Xuan terdiam. Tatapannya jatuh, seolah akhirnya menyerah untuk menyembunyikan semuanya.

“Aku hanya .…” ia berhenti sejenak, suaranya melemah. “Aku hanya ingin memastikan.”

Mo Yuuran mengernyit. “Memastikan apa?”

Zi Xuan mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh kegelisahan. “Bahwa ini bukan mimpi,” jawabnya jujur. “Bahwa perubahanmu bukan ilusi.”

Ia menggenggam belati itu lebih erat, seolah itu satu-satunya cara ia bisa membedakan kenyataan dan khayalan.

“Jika aku merasakan sakit maka aku tahu ini nyata,” lanjutnya lirih.

Mo Yuuran terdiam. Hatinya kembali terasa sesak, bahkan lebih dari sebelumnya.

Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju dan langsung memeluk Zi Xuan. Pelukan itu erat, hangat, dan penuh kepastian.

“Aku tidak akan berubah,” bisiknya pelan di dekat telinga pria itu. “Cintaku hanya untukmu bahkan sampai kehidupan berikutny.”

Zi Xuan membeku sejenak. Tangannya perlahan mengendur, belati itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Bukankah aku sudah bilang padamu semalam. Jadi .…” lanjut Mo Yuuran lembut, “kumohon jangan sakiti dirimu lagi.”

Perlahan, Zi Xuan mengangguk. Ia membalas pelukan itu.

Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukan itu dengan hati-hati. Pandangannya langsung tertuju pada luka di tangan Mo Yuuran.

Tanpa banyak bicara, ia kembali mengambil kain dan obat. Kali ini, Mo Yuuran tidak menolak.

Zi Xuan membersihkan luka itu dengan hati-hati, gerakannya lembut namun penuh amarah yang tertahan. “Kau terluka karena aku,” gumamnya pelan, nadanya dipenuhi rasa bersalah.

Mo Yuuran tersenyum tipis, seolah itu bukan hal besar. “Ini belum seberapa,” katanya ringan.

Zi Xuan mengerutkan kening. “Bagaimana bisa kau mengatakan itu?”

Mo Yuuran menatapnya dalam, sorot matanya penuh keteguhan. “Aku bahkan bisa menerima serangan tombak dan pedang, jika itu untuk melindungimu.”

Zi Xuan terdiam. Tangannya yang sedang mengobati luka itu berhenti sejenak.

Ia menatap Mo Yuuran, seolah mencoba memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata. Dan kali ini, tanpa perlu melukai dirinya lagi ia mulai percaya.

Zi Xuan mengikat perban terakhir dengan hati-hati, memastikan luka di tangan Mo Yuuran sudah tertutup rapi. Ia menghela napas pelan sebelum berkata singkat, “Selesai.”

Mo Yuuran menatap tangannya sejenak, lalu tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia mendekat dan mengecup singkat bibir Zi Xuan.

Cup!

“Hari ini aku akan sangat sibuk,” ujarnya ringan. “Ketiga putra kita akan datang, aku harus bersiap.”

Ia berbalik hendak pergi, langkahnya cepat seolah benar-benar dikejar banyak hal. Namun belum sempat menjauh, Zi Xuan tiba-tiba menarik tangannya.

Tubuh Mo Yuuran kehilangan keseimbangan dan langsung menubruk dada bidang pria itu. Napasnya sedikit tercekat, sementara Zi Xuan menahannya agar tidak jatuh.

“Zi Xuan—” protesnya belum selesai.

Pria itu menunduk sedikit, suaranya rendah dan dekat di telinganya. “Kau yang memancing lebih dulu,” bisiknya pelan. “Jadi jangan salahkan aku jika aku ingin waktu bersamamu pagi ini.”

Wajah Mo Yuuran langsung memerah. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun kata-katanya tertahan saat Zi Xuan membungkam bibirnya.

Ia hanya bisa terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Suasana di antara mereka berubah panas dan penuh perasaan yang sulit dijelaskan.

Di luar paviliun, beberapa pelayan yang hendak masuk saling berpandangan saat mendengar suara aneh dari dalam. Mereka segera menunduk dan diam-diam mundur, memilih memberi ruang tanpa berani mengganggu.

*

*

Di dalam sebuah kereta kuda sederhana yang berguncang pelan di jalan berbatu, tiga anak laki-laki berusia enam tahun duduk berhadapan tanpa banyak bicara.

Wajah mereka mirip, namun tidak identik, masing-masing menyimpan kesunyian yang sama, dingin, datar, dan lelah, seolah usia mereka jauh lebih tua dari yang seharusnya.

Angin musim dingin menyusup dari celah tirai, membuat suasana semakin sunyi. Hingga akhirnya, Zi Rui yang duduk paling ujung menggenggam ujung bajunya sendiri dengan ragu.

“Apakah kita … tidak usah kembali ke istana?” tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh derak roda kereta. Ia menunduk, matanya berkaca-kaca.

Zi Xin yang duduk di sebelahnya melirik, lalu menghela napas panjang. “Mau bagaimana lagi?” jawabnya datar. “Akademi juga libur di awal musim dingin ini, kita tidak punya tempat lain selain kembali.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, nada suaranya tetap tenang meski terselip kepahitan. “Lagipula, di akademi pun kita tidak diperlakukan lebih baik.”

Zi Rui menggigit bibirnya, lalu menatap kedua kakaknya, Zi Xin dan Zi Cheng, bergantian. “Kenapa kita harus dilahirkan ke dunia ini?” tanyanya dengan suara 0edih.

Tak ada yang langsung menjawab, membuat keberaniannya sedikit bertambah. “Kalau hanya untuk tidak dianggap, untuk disiksa, kenapa kita tidak mati saja dan ikut ibu?”

Kereta terasa semakin sunyi, hanya suara roda yang terdengar. Zi Rui menunduk lebih dalam, bahunya sedikit bergetar.

“Ayah juga tidak menyukai kita,” lanjutnya, suaranya semakin kecil. “Padahal kita ini pangeran tapi kenapa semua orang menganggap kita menjijikkan dan menyiksa kita sebegitu kejamnya?”

Zi Xin mengalihkan pandangannya ke luar jendela, rahangnya sedikit mengeras. Ia tidak membantah, karena ia tahu semua itu benar.

Sementara itu, Zi Cheng yang sejak tadi diam akhirnya menggerakkan tubuhnya. Ia menatap Zi Rui dengan wajah tetap datar, namun matanya lebih lembut dibanding biasanya.

“Jangan bicara seperti itu,” katanya pelan, suaranya rendah namun tegas. Ia mengulurkan tangan dan menepuk kepala adiknya dengan hati-hati.

“Kita tidak mati,” lanjutnya. “Kita masih hidup, berarti kita harus bertahan.”

Zi Rui menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi sampai kapan, Kak?”

Zi Cheng terdiam sesaat, lalu menjawab tanpa ragu. “Sampai suatu hari tidak ada lagi yang bisa merendahkan kita.”

Note:

Assalamualaikum teman-teman. Maaf ya, author update 1 bab dulu. Soalnya lagi di perjalanan buat pulang, setelah beberapa bulan di kampung almarhum ayahku.

1
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
Allfa Rizky
sadiiisss,, tpi kereenn Badas
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Uuuhhh mantaaapp itu baru Permaisuri /Applaud/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Drowsy//Scream/ Tumaaaann mang enak disiram aer nanaasss
SENJA
mantabs🔥
SENJA
yaelaaah kurang lah segitu😳
SENJA
lu yang mati 😤
SENJA
udah langsung hukum langsung siksa
SENJA
siksa udah buseh dah ga beres nih 😤
SENJA
emang ga ada ingatan yuran sebelumnya?
Vika Lestari
uf lagi kaka🙏
Sribundanya Gifran
lanjut
Maydian li Maydian
lanjut thor 😍
Atik Kiswati
mantap....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!