Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI GUDANG C
Cahaya senter itu hanya menyala sepersekian detik, lalu padam. Namun, bagi Udin, kedipan cahaya itu lebih terang daripada lampu sorot stadion.
Ia berdiri di balik jendela kamar mess, tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari atap Gudang C yang gelap. Dadanya bergemuruh. Gudang itu seharusnya kosong, tergembok dan angker. Itu kata Pak Darman dan seluruh karyawan.
Udin menoleh jam dinding, "Jam satu dini hari...." bisiknya mengambang dengan dahi mengernyit dalam.
Pikiran Udin berkecamuk. Tulisan darah di cermin toilet, sosok berhelm proyek, buku log lembur tahun 2007, ucapan Sari tentang mayat yang bukan ayahnya, fakta kematian yang seolah diubah. Semua mengarah ke satu tempat, yaitu Gudang C. Tempat ayahnya 'meninggal' tujuh belas tahun yang lalu.
"Haruskah aku melihat sendiri ke sana?" pikirnya bimbang.
Udin menoleh pada kertas penugasan yang masih dipegangnya, lalu kembali membaca tembusan nomor 3—Gudang Arsip Gudang C.
"Jika itu arsip, pasti ada dokumen. Mungkin dokumen tentang malam 17 Agustus 2007, mungkin laporan asli kejadian atau bahkan mungkin bukti bahwa ayahnya difitnah, ada di dalam sana, di ruang arsip yang pernah ia lihat di sudut dalam gudang itu."
Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Udin merasa harus masuk malam ini juga, sebelum ketakutan mengalahkannya.
Udin bergerak cepat. Ia mengenakan jaket hoodie hitam miliknya, celana panjang gelap, dan sepatu kets. Dari laci meja, ia mengambil senter kecil miliknya. Ia menyelipkan buku peninggalan ayahnya ke dalam jaket, tepat di dadanya. Benda itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki. Ia tidak akan meninggalkannya.
Sebelum keluar, Udin menatap foto ayahnya yang ia sandarkan di dinding. “Doakan saya, Pak,” bisiknya.
Ia membuka pintu kamar perlahan. Lorong mess gelap dan sunyi. Hanya suara jangkrik dari sawah di luar yang terdengar. Udin melangkah tanpa suara, menyusuri lorong menuju pintu belakang mess yang langsung mengarah ke area pabrik.
Angin malam bertiup dingin dan membawa bau karat serta oli bekas. Kompleks pabrik pada malam hari tampak seperti makhluk lain. Siang hari ia terlihat tua dan lusuh, tetapi malam hari ia terlihat menyeramkan seolah hidup. Bayangan mesin-mesin besar di ruang produksi terlihat seperti raksasa yang sedang tidur.
Gudang C berdiri paling ujung, terpisah dari bangunan utama. Bangunan itu besar, dindingnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di pintunya, sebuah gembok besar dan rantai besi terpasang melintang. Persis seperti yang dikatakan Pak Darman. "Ini seperti beberapa malam lalu." monolognya.
Namun, Udin melihat sesuatu yang janggal. Di bagian bawah pintu, di antara tanah dan celah pintu, terdapat bekas seretan baru. Tanahnya tampak lebih gembur, seolah pintu itu baru saja dibuka dan ditutup kembali. Gemboknya memang terpasang, tetapi rantai besinya tampak sedikit longgar, tidak kencang.
Jantung Udin berdegup kencang. Ia menempelkan telinganya ke pintu seng. Sunyi. Tidak ada suara mesin, tidak ada suara langkah. Hanya suara angin yang mendesir melalui celah.
Dengan tangan gemetar, ia mencoba menarik rantai itu. Ternyata benar. Rantai itu hanya dililitkan, tidak benar-benar digembok pada kedua ujungnya. Salah satu ujung gembok hanya dikaitkan agar terlihat terkunci dari luar. Siapa pun bisa membukanya dari dalam.
Udin menelan ludah. 'Ini sengaja dibuat, agar orang mengira gudang ini tidak bisa dimasuki, padahal sebenarnya bisa,' pikirnya.
Ia menarik rantai itu perlahan.
Krek
Tapi suara gesekannya tetap terdengar nyaring di keheningan malam. Udin berhenti, menahan napas, memandang ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa, hanya dirinya dan bayangannya sendiri.
Setelah rantai terlepas, ia mendorong pintu itu perlahan agar cukup untuknya masuk.
Kriiieet
Engsel pintu yang berkarat berderit, terdengar seperti jeritan manusia. Udin membeku sesaat, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Ia menunggu satu menit penuh. Setelah yakin tidak ada reaksi, ia memberanikan diri menyelinap masuk dan segera menutup pintu itu kembali dari dalam.
Gelap, pekat, bau oli, bau besi karatan, bau anyir dan bau aneh lain yang menusuk hidung langsung menyergap, disusul bau hangus seperti daging terbakar yang sudah sangat lama.
Udin menyalakan senternya, tetapi ia menutup separuh lensanya dengan jari agar cahayanya tidak terlalu terang. Berkas cahaya kecil itu menyapu bagian dalam gudang.
Gudang C sangat luas. Di tengahnya berdiri mesin-mesin penggiling besar yang sudah tidak beroperasi, tertutup debu tebal. Di lantai, masih terlihat garis polisi. "Ini pasti tempat Pak Bejo ditemukan kemarin," batin Udin. Di sudut lain, terdapat tumpukan kardus kosong dan terpal sobek.
Namun, yang membuat napas Udin tercekat adalah dinding di sisi barat. Dinding itu hitam, meninggalkan bekas gosong, seperti nekas jilatan api yang besar. Catnya mengelupas, batanya terlihat retak-retak. 'Ini bekas kebakaran, kebakaran hebat, persis seperti yang diceritakan Sari!' monolog Udin dalam hati.
Udin mengarahkan senternya ke sekeliling. Ia mencari pintu yang beberapa malam lalu pernah dilihatnya. "Disana!' pekiknya tapi berbisik.
ARSIP GUD. C, seperti itulah tulisan yang tertempel diatas pintu.
Jantung Udin berdegup lebih kencang saat melangkah mendekat. Pintu itu tidak digembok, hanya tertutup. Ia memegang gagang pintu yang dingin dan berkarat.
Sebelum ia sempat menariknya, telinganya menangkap sebuah suara dari dalam gudang arsip itu.
Sruk... sruk... sruk...
Suara seperti seseorang sedang menyeret kaki di lantai semen. Pelan, tapi tak seimbang seperti langkah kaki yang pincang.
Darah Udin berdesir, ia mematikan senternya seketika dan membuat gudang kembali gelap gulita. Ia menahan napas, menunggu lalu menarik lagi tangannya dari gagang pintu. Suara seretan itu berhenti tepat di balik pintu arsip.
Satu detik. Dua detik.
Klek.
Gagang pintu arsip itu bergerak turun dari dalam.
Udin mundur selangkah. Ia tidak membawa senjata apa pun, kecuali senter kecil dan buku log di dadanya. Jika yang keluar adalah sosok berhelm proyek itu, ia tidak akan bisa melawan.
Pintu terbuka perlahan. Cahaya bulan yang masuk dari ventilasi atap gudang menerpa sosok yang berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya kurus kering, seperti tengkorak berbalut kulit. Rambutnya gondrong, putih, dan kusut. Ia mengenakan seragam kepala pabrik yang sudah lusuh, robek, dan berwarna cokelat karena noda yang mengering. Kepalanya tertunduk, di tangannya, ia memegang helm proyek kuning yang penyok dan retak.
Sosok itu mengangkat wajahnya perlahan. Udin terbelalak melihat wajah hancur sosok itu. Separuh kulitnya menampakkan bekas luka bakar, separuh lagi tampak pucat dan tirus.
Tapi matanya... sorot mata itu masih menyala. Mata yang lelah, marah, dan penuh penderitaan. Sorot mata yang sangat Udin kenal.
Bibir yang pecah-pecah itu bergerak. Tapi lutut Udin seperti kehilangan kendali, ia mundur selangkah, untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Giliranmu...."
...****************...
Bersambung