Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kilasan Kedua
Malam yang panjang terlewati dengan air mata dan penyesalan. Bobon tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat wajah Wulan yang sedih. Wulan yang menangis. Wulan yang membencinya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya seperti racun.
Saat fajar menyingsing, Bobon masih duduk di balkon kamarnya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap terjaga. Dia memandangi langit yang mulai memerah dan merenungkan semua yang telah terjadi.
"Bobon, kau tidak tidur?" suara Putri Laras terdengar dari balik pintu.
"Tidak, Putri. Aku tidak bisa tidur."
Putri Laras masuk dan duduk di sampingnya. Dia melihat wajah Bobon yang pucat dan mata sembab. "Kau menangis semalaman?"
Bobon mengangguk pelan. "Aku ingat semuanya, Putri. Tentang Wulan. Tentang bagaimana aku meninggalkannya."
"Ceritakan padaku."
Bobon menarik napas dalam-dalam. "Dulu, sebelum aku menjadi bocah, aku adalah seorang pendekar. Aku bertemu Wulan di Sekte Selendang Biru. Dia murid terbaik di sana. Kami jatuh cinta. Tapi kemudian ada misi besar. Ancaman dari Sekte Iblis. Aku harus pergi. Aku berjanji akan kembali. Tapi aku tidak pernah kembali. Tubuhku berubah menjadi bocah dan aku kehilangan ingatanku."
Putri Laras mendengarkan dengan saksama. "Jadi kau tidak sengaja meninggalkannya?"
"Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah aku pergi. Tapi yang jelas, aku tidak pernah kembali. Wulan menunggu bertahun-tahun. Lalu hatinya berubah. Dia bergabung dengan Sekte Iblis. Dia menjadi Jenderal Seruling Kematian."
"Bobon, itu bukan salahmu. Kau tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi."
"Tapi aku yang berjanji padanya. Aku yang membuatnya berharap. Dan aku yang menghancurkan harapan itu."
Putri Laras meraih tangan Bobon. "Kau bisa memperbaikinya. Kau bisa menemuinya dan menjelaskan. Wulan pasti masih mencintaimu. Kebencian tidak akan tumbuh jika tidak ada cinta di dalamnya."
Bobon menatap Putri Laras dengan mata penuh harap. "Kau benar. Aku harus menemuinya."
"Tapi tidak sekarang. Kau harus membuka segelmu dulu. Kau harus menjadi kuat. Kalau tidak, Wulan tidak akan mendengarkanmu."
Bobon mengangguk. "Aku akan membuka semua segelku. Aku akan menjadi kuat. Dan aku akan menemui Wulan."
Sarapan pagi berlangsung dengan suasana yang lebih tenang. Bobon makan dengan lahap seperti biasa, tapi ada kesedihan di matanya. Keluarga kerajaan memperhatikannya dengan prihatin.
"Bobon, kau baik-baik saja?" tanya Pangeran Bima.
"Aku baik, Pangeran. Hanya sedikit lelah."
"Kau bisa istirahat hari ini. Tidak ada latihan."
"Terima kasih, Pangeran. Tapi aku ingin pergi ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ke perpustakaan. Ada beberapa buku yang ingin aku baca."
Pangeran Bima mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan terlalu memaksakan diri."
Setelah sarapan, Bobon berjalan ke perpustakaan. Kali ini dia tidak ditemani Putri Laras. Dia ingin mencari jawaban sendirian. Dia mengambil buku tentang sejarah Sekte Selendang Biru dan membacanya dengan saksama.
Di dalam buku itu, dia menemukan catatan tentang Wulan. Tentang bagaimana dia menjadi murid terbaik, tentang bagaimana dia jatuh cinta pada pendekar asing, tentang bagaimana dia menunggu bertahun-tahun tanpa kabar.
Ada satu halaman yang menarik perhatian Bobon. Di halaman itu, ada tulisan tangan Wulan sendiri. Tulisannya indah tapi terlihat tergesa-gesa.
"Aku menunggu. Aku selalu menunggu. Tapi kau tidak pernah datang. Aku bertanya-tanya, apa kau masih hidup? Apa kau masih mengingatku? Atau kau sudah melupakanku? Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku sakit. Sangat sakit. Mungkin lebih baik jika aku melupakanmu. Tapi aku tidak bisa. Aku mencintaimu terlalu dalam."
Bobon menutup buku itu dengan tangan gemetar. Air mata mengalir di pipinya. Dia bisa merasakan kesedihan Wulan melalui kata-kata itu. Dia bisa merasakan sakit yang diderita wanita itu selama bertahun-tahun.
"Aku minta maaf," bisik Bobon. "Aku benar-benar minta maaf."
Saat dia duduk termenung, dia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Segel keempat berdenyut dengan kuat. Lalu tiba-tiba, kilasan kedua datang.
Kali ini, kilasannya lebih jelas. Dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tengah hutan. Di depannya, ada Wulan dengan selendang biru dan seruling di tangannya.
"Aku harus pergi," kata Bobon dalam kilasan itu. "Ada misi penting. Aku harus menyelamatkan mereka."
"Tapi kau berjanji akan menikahiku bulan depan!" teriak Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu. Tapi ini lebih penting. Ratusan nyawa dipertaruhkan. Aku akan kembali. Aku berjanji."
Wulan menggigit bibirnya. Air mata mengalir di pipinya. "Kau selalu bilang begitu. Kau selalu pergi. Kapan kau akan berhenti?"
"Setelah misi ini. Aku berjanji. Setelah ini, aku akan tinggal bersamamu selamanya."
Wulan terdiam lama. Lalu dia mengangguk pelan. "Aku akan menunggumu. Tapi ini yang terakhir kalinya, Bobon. Kalau kau tidak kembali, aku akan..."
"Kau akan apa?"
"Aku akan melupakanmu. Aku akan membenci semua pendekar. Aku akan menjadi orang yang berbeda."
Bobon tersenyum dalam kilasan itu. "Kau tidak akan melupakanku. Aku tahu kau mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu. Tapi cinta bisa berubah menjadi kebencian."
Bobon mendekati Wulan dan memeluknya. "Aku akan kembali. Aku berjanji."
Kilasan itu berakhir. Bobon terbangun dengan napas terengah-engah. Dia berada di perpustakaan, sendirian. Air mata mengalir deras di pipinya.
"Aku tidak pernah kembali," bisiknya. "Aku tidak pernah menepati janjiku."
Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kenangan itu begitu nyata. Begitu menyakitkan. Dia bisa merasakan cinta Wulan, tapi juga kebencian yang tumbuh setelah bertahun-tahun menunggu.
"Aku harus memperbaikinya," kata Bobon dengan suara bergetar. "Aku harus menemukannya. Aku harus meminta maaf. Dan aku harus membawanya kembali."
Dia bangkit dan berjalan keluar perpustakaan. Di luar, matahari sudah tinggi. Tapi Bobon tidak merasakan hangatnya. Hatinya terasa dingin dan kosong.
Di taman, dia bertemu dengan Sari. Gadis kecil itu tersenyum melihatnya. "Bobon! Aku mencari-cari kamu. Ada apa?"
"Aku hanya... merenung, Sari."
Sari mendekat dan menatap wajah Bobon. "Kau menangis. Apa yang terjadi?"
Bobon tidak bisa berbohong. "Aku ingat sesuatu tentang masa laluku. Tentang seseorang yang sangat aku cintai. Dan aku menyakitinya."
Sari duduk di samping Bobon. "Ceritakan padaku."
Bobon menceritakan semuanya. Tentang Wulan, tentang janji yang tidak ditepati, tentang bagaimana Wulan berubah menjadi Jenderal Seruling Kematian. Sari mendengarkan dengan saksama tanpa menyela.
"Bobon, kau tidak sengaja menyakitinya," kata Sari pelan. "Tubuhmu berubah. Ingatanmu hilang. Kau tidak bisa mengendalikannya."
"Tapi aku berjanji padanya. Aku mengatakan aku akan kembali."
"Dan kau akan kembali. Sekarang. Kau bisa menemuinya dan menjelaskan. Wulan pasti masih mencintaimu. Kalau tidak, dia tidak akan menangis sepertimu."
Bobon menatap Sari dengan mata penuh harap. "Kau benar. Aku harus menemuinya."
"Tapi kau harus siap, Bobon. Wulan sudah berbeda. Dia adalah Jenderal Iblis sekarang. Dia bisa saja menyakitimu."
"Aku tidak peduli. Aku akan menerima apapun yang terjadi. Aku hanya ingin meminta maaf."
Sari tersenyum. "Kau orang yang baik, Bobon. Aku yakin Wulan akan melihat itu."
Bobon merasakan kehangatan di hatinya. Sari selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Gadis kecil itu memiliki kebijaksanaan di luar usianya.
Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya dan memandangi kain biru di tangannya. Kain itu adalah satu-satunya hubungannya dengan Wulan sekarang. Dia menggenggamnya erat dan berbisik.
"Aku akan menemukanmu, Wulan. Aku berjanji. Dan kali ini, aku akan menepati janjiku."
Di kejauhan, suara seruling terdengar. Melodi yang sama. Tapi kali ini, melodinya terdengar lebih lembut. Seperti ada harapan di dalamnya.
Bobon tersenyum. "Kau mendengarku, kan? Kau tahu aku menyesal. Aku akan memperbaikinya. Tunggu aku."
Dan di bawah sinar bulan, segel keempat di dadanya retak lebih lebar. Rasa sakitnya masih ada, tapi sekarang ada juga harapan. Harapan untuk memperbaiki segalanya. Harapan untuk cinta yang hilang.
Bobon memejamkan mata dan membiarkan dirinya tertidur. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tidurnya damai. Tidak ada mimpi buruk, tidak ada air mata. Hanya ketenangan.
Besok akan menjadi hari yang baru. Dan Bobon akan melangkah lebih dekat pada takdirnya.