NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melepas Rindu

***

"Papa jangan lupa telepon jam tujuh malam nanti, ya! Kalau telat, hukuman es krimnya berlaku!"

Sabrina berseru lantang sembari bergelayut manja di lengan kanan Rayyan. Mereka saat ini sedang berdiri di tengah koridor keberangkatan Terminal 3 Bandara Changi, Singapura, dikelilingi oleh lalu lalang calon penumpang pesawat.

Rayyan terkekeh, lalu berlutut di depan Sabrina untuk menyejajarkan tinggi mereka.

"Iya, Anak Papa yang paling galak. Jam tujuh tepat, jam tangan pintar Sabrina pasti bergetar. Mengerti?"

"Mengerti, Kapten!" Sabrina memberikan salam hormat yang menggemaskan, membuat Rayyan tidak tahan untuk tidak menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya sekali lagi.

"Ingat pesan Papa semalam, ya? Jaga Mama selama di pesawat," bisik Rayyan sembari mengecup puncak kepala Sabrina berulang kali.

"Siap, Papa. Ina akan jagain Mama biar tidak hilang," jawab Sabrina mantap setelah pelukan mereka terlepas. Dia kemudian berbalik, berlari kecil ke arah kursi tunggu tidak jauh dari sana untuk memeriksa tas ranselnya sendiri.

Rayyan perlahan berdiri kembali, memutar tubuhnya menghadap Zia yang sejak tadi berdiri diam memandangi mereka. Tanpa aba-aba, Rayyan melangkah maju dan langsung menarik pinggang Zia, mendekap tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya yang teramat erat dan kokoh.

Zia sempat tersentak kaget dengan tindakan spontan Rayyan di depan umum, namun sedetik kemudian, dia perlahan menyandarkan dagunya di bahu tegap pria itu. Kedua tangan Zia bergerak memeluk balik punggung Rayyan, meremas kain kemejanya.

"Aku akan merindukanmu setengah mati di sini, Zia," bisik Rayyan dengan suara rendah yang bergetar di dekat telinga Zia.

"Butik ini akan terasa sangat sepi tanpa desainer utamaku,"

Zia tersenyum di dalam dekapan Rayyan, memejamkan matanya sejenak untuk merekam aroma maskulin yang selalu menenangkannya itu.

"Hanya tujuh hari, Ray. Jangan berlebihan,"

"Tujuh hari itu terasa seperti tujuh tahun kalau kamu tidak ada di dekatku," sahut Rayyan, mempererat pelukannya seolah enggan melepaskan wanita yang telah dia jaga selama sembilan tahun terakhir ini.

Zia terkekeh pelan, lalu perlahan mendorong dada Rayyan agar pelukan mereka merenggang. Dia menatap lekat sepasang mata elang pria di hadapannya.

"Makanya, kamu harus berjanji untuk menyusul kami tepat waktu. Jangan menunda-nunda pekerjaan lagi,"

"Tentu saja. Semua urusan di Singapura akan kuselesaikan dalam lima hari," jawab Rayyan mantap.

"Bagus," Zia mengusap kerah kemeja Rayyan dengan lembut.

"Ingat, begitu kamu sampai di Jakarta nanti, kita harus segera menyiapkan pernikahan kita secepatnya. Mbak Amara sudah tidak sabar, dan aku... aku juga ingin status kita segera sah,"

Mendengar kalimat itu keluar langsung dari bibir Zia, binar kebahagiaan yang luar biasa seketika terpancar dari mata Rayyan.

"Kamu serius, Zia? Kamu tidak sedang mencoba menghiburku, kan?"

"Kapan aku pernah bercanda soal hal seperti ini, Ray?" balas Zia dengan senyum manisnya yang paling tulus.

"Aku ingin memulai hidup yang baru bersamamu. Di Jakarta,"

"Terima kasih, Zia. Terima kasih karena sudah memercayakan sisa hidupmu bersamaku," Rayyan membawa tangan kanan Zia ke bibirnya, mengecupnya dengan sangat dalam.

"Oh ya, untuk kepulangan kalian hari ini, aku sudah menyiapkan segala sesuatunya di Jakarta,"

Zia mengerutkan dahinya sedikit.

"Menyiapkan apa, Ray?"

"Aku sudah menugaskan dua pengawal pribadi dari Mahindra Group untuk menjemput kalian tepat di depan pintu keluar kedatangan Bandara Soekarno-Hatta," jelas Rayyan dengan nada suara yang beralih menjadi protektif.

"Dua pengawal? Ray, apa itu tidak terlalu berlebihan? Di sana kan ada Mbak Amara juga yang menjemput," tukas Zia ragu.

"Tidak ada kata berlebihan jika itu menyangkut keselamatanmu dan Sabrina, Zia," potong Rayyan tegas, sorot matanya menajam.

"Jakarta adalah wilayah kekuasaan Abraham Group. Kita tidak pernah tahu apakah Alfa atau anak buahnya masih terus mengawasi pergerakan di bandara atau tidak. Pengawal-pengawal itu akan memastikan kalian berdua sampai di rumah baru dengan aman, tanpa ada satu pun mata-mata yang bisa mendekat,"

"Baiklah, kalau itu membuatmu lebih tenang, aku menurut saja,"

"Mama! Ayo masuk! Petugasnya sudah panggil-panggil!" teriak Sabrina dari arah gerbang pemeriksaan paspor, sambil melambaikan tangan kirinya yang memegang tiket pesawat.

Zia menoleh ke arah putrinya, lalu kembali menatap Rayyan.

"Kami masuk dulu ya, Ray. Jaga kesehatanmu selama di sini,"

"Iya, sayang. Hubungi aku begitu pesawatmu mendarat," Rayyan memberikan satu kecupan lembut di kening Zia sebelum akhirnya perlahan melepaskan genggaman tangan mereka.

"Sampai jumpa di Jakarta, Calon Istriku,"

"Sampai jumpa juga di Jakarta, calon Papanya Sabrina yang paling bucin,"" bisik Zia dengan senyuman terbaiknya. Dia membalikkan tubuh, menggandeng tangan Sabrina, dan melangkah mantap memasuki gerbang keberangkatan.

***

"Di mana sebenarnya kamu sembunyi, Zia? Kenapa begitu dekat... tapi rasanya sejauh ini?"

Alfa bergumam lirih di tengah keheningan ruang kerja megahnya. Tatapannya tertuju lekat pada selembar halaman majalah remaja internasional yang terbuka di atas meja jati besarnya. Di sana, sebuah artikel mode menampilkan foto Zia yang sedang tersenyum sangat lebar, tampak begitu cantik dan bersinar dalam balutan pakaian kasual yang modis.

"Aku bisa melihat wajahmu di mana-mana sekarang, Zia. Di majalah meja kopi, di televisi kantor, bahkan semua kolega bisnisku membicarakan keberhasilanmu sebagai desainer berbakat. Tapi kenapa... kenapa begitu sulit bagi aku untuk menemukanmu di Singapura?"

Alfa menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi yang teramat sangat. Napasnya terdengar berat dan putus asa.

"Segitu jijiknya kamu bertemu denganku, Zia? Sampai-sampai seluruh jejakmu dikunci rapat seperti ini?" Alfa tertawa hambar, meratapi kebodohannya sendiri.

"Harus pakai cara apa lagi agar aku bisa bertemu denganmu dan meminta maaf? Aku hanya ingin melihatmu... membawa kamu kembali bersamaku. Aku berjanji akan menebus semua kesalahan terbesarku yang pernah kubuat dulu,"

"Aku mengaku salah, Zia... Aku minta maaf... Aku minta maaf... Aku ingin kita kembali seperti dulu, Zia... Aku merindukanmu..."

"Apakah kamu menggugurkan anak kita? Atau... Anak kita pasti sudah besar sekarang, Zia. Atau mungkin kamu sudah menikah di Singapura, Zia? Kenapa satu pun jaringanku tidak ada yang bisa menemukan jejakmu," gumam Alfa frustasi.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang keras dan teratur seketika memotong rentetan kalimat putus asa Alfa. Belum sempat Alfa merapikan meja atau memberikan izin masuk, pintu jati itu sudah didorong terbuka dengan kasar.

Azad melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegas, membawa aura kepemimpinan yang dominan dan kaku.

"Alfa, kenapa kamu masih duduk santai di sini?" seru Azad tanpa basa-basi, suaranya bergaung di dalam ruangan.

"Sekretaris baru saja mengonfirmasi kalau jadwal meeting penting kita dengan investor dari Turki dimajukan jadi jam satu siang ini. Kamu harus segera bersiap membawa berkas presentasinya,"

Alfa tidak langsung menjawab. Dia dengan gerakan lambat mencoba menutup majalah di atas mejanya, namun gerakan tangannya kalah cepat dari mata elang Azad yang tajam.

Pandangan Azad langsung terkunci pada halaman majalah yang memperlihatkan foto Zia sebelum Alfa sempat menyembunyikannya.

"Benda apa itu?!" bentak Azad, melangkah maju dua tapak dan menunjuk majalah tersebut dengan jari yang gemetar karena marah.

"Jadi... dari tadi kamu mengurung diri di ruangan ini hanya untuk memandangi wajah wanita itu lagi, Alfa?!"

"Pa, tolong... jangan mulai lagi di kantor," jawab Alfa dengan nada suara yang sangat lelah, menolak untuk menatap mata ayahnya.

"Jangan mulai lagi kamu bilang?!" Azad memukul permukaan meja kerja Alfa dengan telapak tangansampai menimbulkan dentuman keras.

"Sampai kapan kamu mau jadi pria lemah seperti ini, Alfa?! Kamu itu Alfarizky Abraham CEO dari Abraham Group! Masa depan perusahaan ini ada di tanganmu!"

Azad merebut majalah tersebut dari atas meja, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah di sudut ruangan dengan gerakan kasar.

"Wanita itu sudah pergi! Dia bukan siapa-siapa lagi di dalam keluarga kita! Kenapa otakmu masih saja dipenuhi oleh bayang-bayang wanita miskin yang tidak tahu diri itu?!"

"Dia pergi karena kita yang mengusirnya, Pa! Dan anak yang dia bawa itu adalah darah dagingku!" Alfa akhirnya ikut berdiri, suaranya meninggi, menatap ayahnya dengan kilat amarah dan penyesalan yang bercampur menjadi satu.

"Dia pasti sudah menggugurkan anak itu, Alfa. Dia tidak akan bisa sukses seperti sekarang ini kalua dia punya anak. Pikirkan itu,"

"Bagaimana jika anak kami masih hidup? Zia tidak menggugurkannya?"

"Cukup, Alfa! Papa tidak mau mendengar alasan konyol itu lagi!" potong Azad dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

"Dengar baik-baik. Minggu depan, Papa akan meresmikan hubunganmu dengan Helena. Kamu harus menikah dengan Helena secepatnya!"

"Aku sudah bilang pada Helena, aku tidak akan pernah menikahinya. Pembicaraan itu sudah selesai,"

"Tidak ada yang selesai sebelum Papa yang mengatakannya selesai, Alfa!" sahut Azad, suaranya semakin menekan.

"Menikahlah dengan Helena. Dia wanita yang terhormat, berkelas, dan berasal dari keluarga yang setara dengan kita. Hanya dengan cara itu... hanya dengan menikah dengan Helena, kamu akan lebih mudah melupakan Zia dan menghapus semua obsesi bodohmu ini dari kepalamu!"

"Pernikahan bukan obat untuk melupakan seseorang, Pa," desis Alfa dengan nada suara yang mendadak merendah namun sarat akan penolakan yang dingin.

"Pernikahan ini adalah bisnis dan nama baik keluarga, Alfa! Dan kamu tidak punya pilihan selain menurut," balas Azad tajam. Pria paruh baya itu merapikan jasnya sendiri, lalu berbalik menuju pintu. Sebelum melangkah keluar, dia menoleh sedikit

"Aku tidak akan pernah menikahi Helena, Pa! Berhenti memaksaku!" suara Alfa menggelegar, memotong kalimat ayahnya sebelum Azad sempat melangkah lebih jauh menuju pintu.

Azad langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik dengan tatapan mata yang berkilat murka.

"Apa kamu bilang? Berani kamu menentang perintah Papa, Alfa?!"

"Ya! Aku menentang Papa!" Alfa melangkah maju dari balik meja kerjanya, menatap lurus ke dalam manik mata Azad tanpa ada lagi rasa takut yang tersisa.

"Aku tidak mau lagi diatur-atur oleh Papa! Cukup masa laluku yang Papa hancurkan dengan mengusir Zia dari rumah ini. Tapi untuk masa depanku, Papa tidak punya hak sedikit pun untuk mengatur siapa yang pantas menjadi istriku!"

"Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa, hah?!" bentak Azad, wajahnya semakin memerah padam.

"Papa melakukan ini semua demi kebaikanmu, demi nama baik Abraham Group!"

"Kebaikan apa, Pa?!" potong Alfa dengan tawa sinis yang tertahan di tenggorokannya.

"Menikah dengan wanita pilihan Papa yang hanya peduli pada harta dan status sosial kita? Dengar, Pa... Helena bukanlah wanita yang pantas untukku! Dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Zia, dan aku tidak akan sudi menyerahkan sisa hidupku pada wanita seperti dia!"

"Jaga bicaramu, Alfa! Kamu pikir kamu bisa berdiri setinggi ini di kota ini karena usahamu sendiri?!" ancam Azad dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan penekanan yang mematikan.

"Ingat siapa dirimu! Kamu tidak ada apa-apanya tanpa Papa! Kamu tidak akan bisa memakai setelan jas mahal ini, tidak akan bisa duduk di kursi CEO ini, dan tidak akan punya kuasa apa pun tanpa nama besar Papa dan seluruh aset perusahaan milik Papa!"

Azad menjeda kalimatnya, napasnya memburu mementahkan ego Alfa.

"Jadi jangan pernah berpikir untuk membangkang. Papa tidak akan pernah berhenti mengatur hidupmu, tidak akan pernah berhenti mencampuri urusanmu, sampai kamu benar-benar sadar dan bangun dari mimpi burukmu tentang wanita miskin itu! Papa akan mengurus soal rencana pernikahanmu dengan Helena, dan semua itu akan tetap berjalan, dengan atau tanpa persetujuanmu!"

"Jam satu siang tepat, Papa tunggu di ruang rapat utama. Dan pastikan otakmu sudah bersih dari urusan wanita miskin itu,"

Blam!

Pintu ditutup dengan sangat keras, meninggalkan Alfa yang kembali berdiri mematung di tengah ruangannya yang luas.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!