NovelToon NovelToon
Suamiku Mantan Narapidana

Suamiku Mantan Narapidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Emmy Liana

Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan dimulai

Layar ponsel di tangannya mati, memantulkan wajahnya yang kotor dan putus asa. Azka tidak kembali ke mobil sportnya. Kunci mobil itu ia lempar ke tempat sampah terdekat. Ia berjalan, lalu berlari, keluar dari area bandara, menuju jalan raya utama, dan masuk ke taksi pertama yang ia lihat.

​"Apartemen Cendana, Kuningan," perintahnya, suaranya serak.

​Sopir taksi itu meliriknya aneh lewat kaca spion. Seorang pria berantakan dengan kemeja mahal yang robek dan tangan berdarah, memesan tujuan ke salah satu apartemen termewah di Jakarta. Tapi dia tidak bertanya, hanya menginjak gas.

​Perjalanan itu adalah siksaan. Setiap klakson, setiap lampu merah, terasa seperti paku yang ditancapkan ke otaknya. Adrenalin yang tadi menopangnya telah habis, meninggalkan rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya yang masih lemah. Demamnya kembali, membawa serta rasa menggigil yang hebat.

​Tapi rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan api yang membakar di benaknya.

​Dia mencoba membunuh putraku.

​Frasa itu berulang-ulang, menjadi bahan bakar yang melenyapkan rasa takutnya akan Farida, akan kebangkrutan, akan kehilangan keluarganya.

​Dia tidak takut kehilangan segalanya. Dia sudah kehilangan segalanya lima tahun lalu, dia hanya terlalu bodoh untuk menyadarinya.

​Perusahaan? Itu penjara Farida.

Keluarga? Mereka memilih penjara itu daripada kebenaran.

Uang? Itu hanya alat.

​Yang dia inginkan sekarang tidak bisa dibeli. Itu harus direbut kembali. Direbut dari takdir, dari Farida, dan dari kebodohannya sendiri. Urusan perusahaan dan aset serta ancaman Nyonya Farida adalah hantu. Jasmine dan Naka adalah satu-satunya hal yang nyata.

​Setibanya di safe house—sebuah unit apartemen steril yang ia beli dengan nama samaran bertahun-tahun lalu—penyelidik swastanya, seorang pria pendiam bernama Roni, sudah menunggu.

​Di atas meja kopi terdapat paspor baru, setumpuk uang tunai dalam berbagai mata uang, dan sebuah ponsel burner.

​"Identitas Anda 'Adam Hermawan'," kata Roni, tanpa basa-basi. "Paspor ini akan lolos pemeriksaan, tapi jangan diuji di bandara besar. Nyonya Farida telah mem-blokir nama Azka Aditama di semua manifes penerbangan keluar negeri. Anda sudah ditandai."

​"Bagaimana aku bisa pergi?" tanya Azka, sambil merobek kemejanya yang kotor dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan darah di tangannya.

​"Bukan dengan pesawat. Tidak dari Jakarta," jawab Roni. "Ada kapal kargo yang berangkat ke Singapura dari Tanjung Priok dalam tiga jam. Dari Singapura, 'Adam' bisa terbang ke mana saja. Saya sudah memesankan tiket atas nama Adam ke Kopenhagen, transit di Dubai."

​Kapal kargo. Bukan jet pribadi. Azka nyaris tertawa.

​"Reykjavik, Islandia," kata Azka, suaranya menggema dari kamar mandi.

​Roni mengangkat alis. "Jauh. Dingin. Dan sangat mahal. Tapi bisa diatur. Rute Anda menjadi: Singapura - Dubai - Kopenhagen - Reykjavik. Butuh waktu tiga hari, jika lancar."

​"Lakukan," kata Azka, keluar dengan kaus hitam dan celana kargo. Wajahnya telah dicuci bersih, tapi matanya menyala seperti bara.

​"Ada satu hal lagi," kata Roni, ragu-ragu.

​"Gloria dan Daniel," kata Azka, dan itu bukan pertanyaan.

​Roni mengangguk. "Hilang. Ponsel tidak aktif. Pengawal pribadi Anda yang loyal—yang tidak dibayar Farida—melaporkan bahwa mereka dibawa dari ballroom hotel oleh tim keamanan Farida. Dibawa 'berlibur' ke Puncak. Tanpa alat komunikasi."

​Azka mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Penyekapan. Farida tidak main-main.

​"Tinggalkan mereka," kata Azka, suaranya sedingin es.

​"Tuan?" Roni tampak kaget.

​"Mereka adalah jaminan. Farida menyekap mereka untuk memaksaku kembali. Aku tidak bisa kembali. Belum. Satu-satunya caraku menyelamatkan mereka adalah dengan mendapatkan Jasmine dan Naka terlebih dahulu. Jika aku kembali sekarang, aku kalah. Kita semua kalah."

​Dia mengambil paspor Adam, memasukkan tumpukan uang ke dalam ransel. "Urus sisanya. Asetku. Cairkan."

​"Baik, Tuan Adam," kata Roni.

​Perjalanan ke Tanjung Priok adalah awal dari neraka. Azka, yang terbiasa dengan kemewahan, kini berdesakan di dermaga yang bau ikan dan solar. Dia menyelinap ke kapal kargo di bawah kegelapan malam, menyuap seorang petugas dengan uang tunai yang lebih banyak daripada gaji setahunnya.

​Dua hari berikutnya dihabiskan di kabin sempit yang berbau karat. Demamnya naik turun. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat wajah Gwen di ICU. Dia melihat foto Gwen yang ketakutan di tahun 2020. Dia mendengar teriakan Naka.

​Dia muntah di sisi kapal, bukan karena mabuk laut, tapi karena rasa bersalah.

​Di Singapura, dia hampir tertangkap. Petugas imigrasi menatap paspor 'Adam' terlalu lama. Wajah Azka, yang kini pucat dan tirus, tidak terlalu mirip dengan foto yang tampak sehat.

​"Tujuan?" tanya petugas itu dalam bahasa Inggris.

​"Bisnis," jawab Azka.

​"Bisnis apa?"

​"Impor-ekspor," kata Azka, jantungnya berdebar kencang.

​Petugas itu mengetik sesuatu di komputernya. Azka menahan napas. Dia bisa merasakan pistol di pinggang petugas keamanan di belakangnya. Inikah akhirnya?

​Lalu, stempel itu berbunyi. Cap.

​"Selamat datang di Singapura."

​Azka berjalan, tidak berlari, menuju gerbang keberangkatan.

​Penerbangan ke Dubai dan Kopenhagen adalah siksaan yang berbeda. Dia duduk di kelas ekonomi, terjepit di antara penumpang lain. Dia tidak bisa tidur. Setiap turbulensi terasa seperti tangan Farida yang mencoba menarik pesawat itu jatuh. Dia paranoid, curiga pada setiap orang yang menatapnya.

​Dia harus berganti burner phone di setiap negara, menghancurkan yang lama, hanya untuk mengirim satu pesan terenkripsi ke Roni: "Status."

​Balasan Roni di Kopenhagen sangat singkat: "Aset beku. Farida mengumumkan Anda 'cuti medis tanpa batas' karena ketidakstabilan mental. Dia mengambil alih dewan. Ibu dan adik Anda masih 'berlibur'. Jasmine transit di Amsterdam tanpa masalah. Mereka seharusnya sudah mendarat di Reykjavik 12 jam yang lalu."

​12 jam.

​Dia tertinggal 12 jam.

​Penerbangan terakhir dari Kopenhagen ke Reykjavik adalah dengan pesawat kecil. Di luar jendela, kegelapan Arktik menyambutnya. Saat pesawat mulai turun, Azka melihatnya untuk pertama kali.

​Tanah hitam. Es. Api di kejauhan.

​Bukan kota yang gemerlap. Itu adalah lanskap bulan yang sepi dan asing.

​Dia mendarat di Bandara Keflavík. Udara yang dia hirup terasa sangat dingin, membakar paru-parunya yang tidak biasa. Saat itu pukul tiga pagi waktu setempat.

​Dia berhasil. Dia telah melintasi dunia. Dia adalah 'Adam'. Dia punya uang tunai di tasnya.

​Dia berdiri sendirian di terminal kedatangan yang nyaris kosong.

​Dan dia tidak tahu harus mulai dari mana.

​Dia harus menemukan seorang wanita dan seorang anak yang namanya tidak terdaftar, di sebuah negara asing yang tidak dia kenal, yang disembunyikan oleh jaringan rahasia, sementara dia sendiri diburu oleh salah satu wanita paling berkuasa di Asia Tenggara.

​Perjalanan itu tidak sulit. Perjalanan itu baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!