Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
Pagi itu, aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi area dapur. Udara dingin yang masuk lewat celah jendela tidak menyurutkan kesibukan Mahira.
Sejak pukul lima subuh, jemarinya yang terampil telah bekerja menyiapkan sarapan. Meskipun badannya belum pulih sepenuhnya dari sakit kemarin, gerakan tubuhnya tetap tertata tenang dan efisien.
Dari balik lorong, suara langkah kaki berhak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer. Clarissa muncul dengan gaun kerja berwarna krem elegan yang membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya dipoles riasan tajam nan profesional, siap memukau siapa saja di ruang rapat nanti.
Melihat Ziko masih berada di lantai atas merapikan dasi dan Bu Rani belum turun dari kamarnya, Clarissa melangkah pelan mendekati meja konter dapur. Pandangannya menyapu hidangan sederhana, nasi goreng, telur mata sapi, dan potongan buah segar, yang disiapkan Mahira.
"Mbak Hira," sapa Clarissa dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia menyandarkan kedua lengannya di meja konter, menatap Mahira yang sedang memotong daun bawang. "Wah, rajin sekali. Setiap pagi harus bangun subuh cuma untuk urusan dapur ya?"
Mahira tidak menghentikan pisau di tangannya. Suaranya terdengar datar dan tenang saat merespons. "Ini kewajiban saya sebagai pemilik rumah dan istri Mas Ziko, Mbak Clarissa."
Clarissa tertawa kecil, sebuah tawa halus yang kentara sekali nada penghinaannya. Ia merogoh tas tangannya yang berharga puluhan juta rupiah, mengeluarkan sebuah cermin kecil dan lipstick untuk memoles bibirnya.
"Pemilik rumah?" bisik Clarissa seraya menyunggingkan senyum sinis dari balik cermin kecilnya. "Mbak Hira... jujur ya, saya itu kasihan melihat Mbak. Tiga tahun menikah dengan Ziko, tapi penampilan Mbak tidak ada bedanya dengan Asisten Rumah Tangga. Daster kusam, tangan kasar karena sabun cuci, dan aroma tubuh yang bau minyak goreng."
Mahira meletakkan pisaunya perlahan di atas papan pemotong. Ia membalikkan badan, menatap Clarissa lekat tanpa raut marah sedikit pun. Matanya yang jernih memancarkan kedalaman yang tak tersentuh.
"Kemewahan di luar tidak selalu mencerminkan nilai seorang wanita di dalam, Mbak Clarissa," sahut Mahira halus.
Clarissa mendengus pelan, menutup cermin kecilnya dengan suara klik yang tajam. Ia melangkah lebih dekat, menundukkan kepala sedikit agar bisikannya hanya terdengar oleh Mahira.
"Jangan naif, Hira," bisik Clarissa tajam, menghilangkan sebutan 'Mbak' dari panggilannya. "Pria seperti Ziko itu butuh wanita yang bisa dibanggakan di depan relasi bisnis, bukan wanita yang cuma bisa bikin sambal di dapur. Kamu lihat sendiri kan semalam? Ziko lebih memilih menemani saya makan di restoran mewah daripada makan sop buntut buatan kamu di hari ulang tahun pernikahan kalian. Dia bahkan dorong kamu dan bilang kamu lebay, kan?"
Dada Mahira berdesir pelan mendengar penekanan pada peristiwa semalam. Namun, ia tidak memberikan reaksi emosional yang diharapkan Clarissa. Ia tetap berdiri tegak dengan tatapan dingin.
Clarissa tersenyum puas melihat perubahan di mata Mahira, menyangka pancingannya berhasil. Ia melanjutkan provokasinya dengan senyum penuh kepalsuan.
"Ziko itu mencintai ambisi dan kesuksesan. Dan saat ini, cuma saya yang bisa memberikan itu untuk dia," sambung Clarissa dengan percaya diri. "Proyek ekspansi kantornya sangat butuh suntikan dana dari investor besar."
"Hari ini, saya yang bakal mendampingi dia rapat dengan perwakilan konsorsium raksasa. Sementara kamu? Kamu cuma bisa berdiam di sini, menunggu sisa-sisa waktu Ziko kalau dia ingat pulang. Kalau saya jadi kamu, saya sudah tahu diri dan angkat kaki dari rumah ini daripada terus-terusan jadi benalu."
Tepat saat kalimat tajam itu selesai diucapkan, suara langkah kaki Ziko terdengar menuruni tangga.
Dalam sekejap mata, seperti seorang aktris profesional, raut wajah Clarissa berubah total. Senyum sinis dan tatapan tajamnya menghilang, berganti raut wajah lembut, canggung, dan seolah sedang disudutkan.
"Ah... maafkan saya kalau ucapan saya salah, Mbak Hira..." ucap Clarissa tiba-tiba dengan suara agak keras dan sedikit bergetar, seolah baru saja ditegur oleh Mahira. Ia mundur setengah langkah dengan jemari memegang dadanya. "Saya tidak bermaksud mencampuri urusan dapur Mbak. Saya cuma berniat menawarkan bantuan..."
Ziko yang baru saja masuk ke area dapur langsung menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada Clarissa yang tampak memegang dada dengan wajah serba salah, lalu beralih menatap Mahira yang berdiri di balik konter dengan pisau di tangan.
"Ada apa ini?" tanya Ziko dengan nada curiga dan dahi berkerut tajam.
Clarissa cepat-cepat membalikkan badan, memasang senyum dipaksakan pada Ziko. "Oh, tidak ada apa-apa kok, Ziko. Saya cuma... mau coba membantu Mbak Hira menyiapkan piring. Tapi sepertinya Mbak Hira kurang nyaman kalau saya ikut campur di dapurnya. Maaf ya, Mbak Hira...."
Ziko seketika membelalakkan matanya pada Mahira. Rasa marah langsung memuncak di dadanya tanpa mau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
"Hira! Kamu ini benar-benar tidak ada sopan santunnya, ya?" bentak Ziko keras hingga membuat Bu Rani yang baru turun dari tangga bergegas mendekat. "Clarissa itu tamu di rumah ini. Dia mau berniat baik membantumu, kenapa kamu malah pasang wajah judes dan membuat dia tidak nyaman?"
"Ziko, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Bu Rani seraya menghampiri Clarissa dan merengkuh bahunya.
"Ini Bu! Hira bikin gara-gara lagi." tuduh Ziko emosi. "Clarissa cuma mau bantu di dapur, tapi Hira malah menunjukkan sikap tidak suka."
Bu Rani langsung menatap Mahira dengan tatapan murka. "Mahira! Dasar tidak tahu untung. Clarissa ini wanita terpelajar, mau menyentuh dapur kotormu saja sudah syukur. Harusnya kamu terima kasih, bukannya malah sok berkuasa di rumah anak saya."
Mahira memandangi tiga orang di hadapannya. Clarissa yang berada di balik bahu Bu Rani sempat melemparkan senyum kemenangan yang sangat tipis, sebuah kerlingan mata yang penuh kebanggaan atas keberhasilannya mengadu domba.
Mahira tidak membela diri. Ia tidak berteriak atau menangis, dan tidak berusaha menjelaskan bahwa Clarissa baru saja menghina statusnya. Pembelaan diri di depan orang-orang yang sudah buta oleh gengsi hanya akan menjadi hal yang sia-sia.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Mahira meletakkan pisau di atas papan pemotong, lalu mengusap jemarinya dengan kain lap bersih.
"Maafkan saya jika kehadiran saya di dapur membuat Mbak Clarissa tidak nyaman," ucap Mahira dengan suara selembut sutra, matanya menatap Ziko lurus. "Makanan sudah siap di meja. Silakan Mas Ziko, Ibu, dan Mbak Clarissa sarapan agar tidak terlambat menghadiri rapat penting hari ini."
Ziko tertegun sejenak. Sikap Mahira yang teramat tenang dan sama sekali tidak tersulut emosi justru membuat dadanya terasa aneh, ada rasa janggal yang tak tersampaikan. Namun, dorongan gengsi di depan Clarissa membuat Ziko menutupi rasa canggung itu dengan cepat.
"Sudahlah! Bikin selera makan hilang saja," dengus Ziko ketus seraya menarik kursi makan untuk Clarissa. "Clarissa, kamu duduk di sini. Tidak usah memikirkan omongan Hira."
"Terima kasih ya, Ziko... Kamu baik sekali," bisik Clarissa manja seraya duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Mahira berbalik perlahan, melangkah menuju kamar belakang tanpa bicara sepatah kata lagi. Langkah kakinya begitu stabil dan yakin.
Di dalam kamar, Mahira menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang terkunci. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan menyelimuti dirinya.
Provokasi Clarissa pagi ini tidak melukainya, justru provokasi itu menjadi bukti sahih bahwa Clarissa sedang memainkan kartu terakhirnya.
Mahira membuka matanya kembali. Tatapannya kini berkilat tajam seperti baja yang baru diasah.
'Kamu benar, Clarissa,' batin Mahira dengan senyuman dingin terukir di bibirnya. 'Ziko memang butuh wanita yang sepadan dengan ambisinya. Dan sebentar lagi... kamu dan Ziko akan tahu siapa pemilik sebenarnya dari konsortium raksasa yang sangat Kalian puji-puji itu.'