Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Secercah Harapan
Tiga hari kemudian.
Karennina berdiri di depan cermin, merapikan jas berwarna nude yang membalut tubuh rampingnya. Mata itu sembab, namun sorotnya tetap tajam—seperti wanita yang sudah terlalu sering terluka namun memilih tetap berdiri.
Hari ini, sidang perdananya melawan mantan suaminya, Erick Shin, dimulai.
Di sisi lain, Rangga, sahabat sekaligus pengacaranya, memperhatikan Nina dengan diam. Ia tahu, wanita yang ia cintai itu sedang berpura-pura kuat. Tanpa kata, Rangga meraih tangan Nina dan menggenggamnya erat. Tangan itu dingin… tapi tetap kokoh.
Saat persidangan berlangsung, Erick tak pernah melepas pandangannya dari Nina.
Tuhan… mengapa aku sebodoh itu dulu? Melepaskan wanita sekuat dan secantik dia, hanya karena egoku sendiri? Padahal aku telah berjuang untuk jadi versi terbaik… untuknya.
Sidang berakhir. Suasana menegang saat Nina berjalan keluar aula pengadilan. Erick mengejar, memanggil dengan suara parau.
"Karen!"
Nina tak menggubris.
"Karen, tolong dengarkan aku!" Erick menarik lengan Nina.
"Kau jangan keterlaluan!" seru Nina, matanya membara.
Bug!
Rangga yang sejak tadi menahan diri, langsung menarik tubuh Nina ke belakang, menahan emosinya dengan rahang mengeras.
"Dia sudah bukan milikmu, Erick!" desisnya. "Aku pernah mengalah… tapi tidak lagi. Aku di sini untuk melindunginya, dan aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi!"
Erick terdiam. Tapi hatinya tidak. "Aku hanya ingin bicara… sejenak saja." suaranya merendah. "Aku rindu Jimmy."
"Jimmy tidak ingin bertemu denganmu." Rangga menjawab tajam. "Dia membencimu!"
Nina meraih lengan Rangga, mencoba menenangkan.
"Tenang… aku tahu yang kulakukan." ucap Nina meredakan.
"Tapi Karen, kau tahu dia tidak pernah berubah—"
"Mungkin. Tapi jika aku bisa memancingnya menyerahkan hak asuh, aku akan ambil risiko itu." suara Nina pelan, namun bulat.
"Kau tahu dia tidak pernah melunak!"
"Kalau begitu mengapa dia muncul kembali setelah dua tahun?"
Rangga terdiam. Rahasia yang tak ingin ia bocorkan keluar begitu saja dari mulut Nina.
"Dari mana kau tahu dia mengejarku?"
Tidak ada jawaban. Rangga hanya menatapnya dalam-dalam. Tatapan penuh kekesalan… dan cinta yang tak tersampaikan.
"Aku hanya ingin menjemput Suho-ku juga anakku."
Nina melangkah menjauh. Rangga menahan napas.
"Aku jemput kamu nanti."
"Aku pakai mobilku." seru Nina menoleh dengan senyuman. "Istirahatlah… Aku dengar kamu baru kembali dari sidang kasus di Bandung."
"Tak masalah… jika itu demi kamu."
Rangga mengusap pipi Nina perlahan, menahan semua gejolak yang hampir meledak di dadanya.
Maafkan aku, Rangga... hatiku sudah jatuh pada sahabatmu sendiri.
Nina kembali berbalik badan dan mengikuti mantan suaminya yang tersenyum menyirat seolah penuh kemenangan. Di dalam mobil Erick menyetir dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya terus mencuri pandang ke arah Nina.
"Maaf..." gumamnya.
"Untuk apa?" ucap Nina dingin.
"Untuk segalanya. Untuk semua kebodohanku…"
"Terlambat." elak Nina cepat, suaranya nyaris seperti belati yang menyayat perih di dada Erick.
Mobil berhenti di depan sekolah. Nina turun menjemput Jimmy. Beberapa menit kemudian, bocah laki-laki berlari memeluknya erat.
"Papa?"
Erick terhenyak. "Jimmy... Maafkan papa..."
Jimmy tidak menjawab. Ia memeluk ibunya lebih erat, wajah kecilnya menatap ayahnya dengan tatapan asing.
"Kau lihat sendiri, kan? Dia tidak mengenalmu lagi, Erick…" ucap Nina datar.
"Aku menyesal… Sungguh." suara Erick bergetar. "Dua tahun— dan aku menghabiskannya tanpa kalian. Aku salah…"
Nina menggenggam tangan putranya. "Dan aku sendiri sudah lelah memberimu kesempatan. Kesempatan itu telah kau buang dengan tanganmu sendiri."
***
Keduanya kembali menyusuri hiruk-pikuk jalanan ibu kota. Di dalam mobil, ponsel Nina terus berdering, Hanssel menelponnya berulang kali. Namun, Nina tak menggubris. Fokusnya hanya satu, memastikan Jimmy aman.
Mobil berhenti di depan salah satu taman bermain terbesar di kota.
“Kenapa kita ke sini, Bu?” tanya Jimmy heran, memandang sekeliling.
Jujur saja, Nina juga tidak tahu apa maksud mantan suaminya kali ini.
“Ibu juga tak tahu, Sayang,” ucapnya pelan, pandangannya menajam ke arah Erick.
“Papa janji, kan? Mau bawa Jimmy ke taman bermain. Hari ini, Papa tepati,” ucap Erick, menunduk menyamakan tinggi dengan putranya.
Jimmy mengangguk pelan, masih ada ragu di matanya.
“Papa gendong, ya—”
“Tidak perlu!!” potong Nina tajam. Ia segera membuka pintu dan turun dari mobil. Ia tak sanggup membiarkan putranya disentuh oleh pria yang dulu pernah menjatuhkannya hingga ke titik terendah dalam hidupnya.
Mereka sempat berdebat soal pembayaran tiket. Akhirnya Erick yang menang dan membayarkan ketiganya. Di dalam, Nina melepas Jimmy yang langsung berlari penuh semangat. Tawa anak kecil itu terdengar mengisi udara. Erick hanya berdiri mematung, matanya mengikuti sosok kecil itu. Sudah berapa lama aku tak melihat senyum itu?
Topi karakter lucu dan balon udara dibelinya. Jimmy menerimanya dengan canggung, tapi senyumnya perlahan merekah. Erick mengacak rambut anaknya, sebuah sentuhan yang dulu sangat ia rindukan. Hatinya mencelos… Rasa bersalah menamparnya keras.
Nina menjauh, membiarkan Erick merenung sendirian. Ia tahu betapa lelaki itu tengah diliputi sesal yang terlambat. Namun, Erick segera menyusulnya dan memberikan topi serupa untuk Nina.
“Hari ini panas. Pakai ini,” katanya singkat.
“Terima kasih,” jawab Nina datar.
“Makan siang di mana?” tanya Erick, mencoba mencairkan suasana.
“Kau tanya Jimmy, dia mau makan apa,” sahut Nina cepat.
“Oke...” Erick diam sebentar. “Kamu kerja di mana sekarang?”
“Di tempat yang menghargai keberadaanku,” jawab Nina dingin, menohok langsung ke hati.
Erick tertunduk. “Karen...” Erick memanggil, suaranya nyaris parau. “Aku tahu semuanya terlambat. Tapi, aku hanya ingin... Setelah ini, kita tetap bisa bertemu. Setidaknya, dua minggu sekali. Untuk Jimmy...”
Nina menghentikan langkahnya. Ia menatap Erick, matanya basah, tapi tetap kuat.
"Karen... Aku tidak akan berebut hak asuh denganmu..." sambung Erick lemah lembut.
"Baguslah kalau begitu... Kita tidak akan membuang waktu dengan terus mengikuti sidang itu." Ujar Nina dingin.
"Tapi dengan syarat..."
“Kau ingin melempar syarat padaku? Kamu sudah memiliki keluargamu sendiri bukan?!"
“Dia tetap putraku, Karen. Darahku mengalir dalam tubuhnya...”
“Heh—” Nina terkekeh sinis dengan perkataan mantan suaminya.
“Aku tahu aku salah...”
Nina tercekat, rasa kecewa kembali menggerogotinya. “Seumur hidupku, aku sungguh menyesal menikah denganmu…”
Erick meremas jemarinya sendiri. “Aku mencintaimu, Karen. Dulu, sekarang, mungkin selamanya. Tapi... aku lemah. Saat ibuku mulai mengusikmu, aku tak bisa melindungimu. Aku biarkan kau dihina, diperlakukan seperti pembantu di rumah yang seharusnya menjadi tempatmu berlindung.”
“Tidak perlu membahas yang sudah berlalu!!” potong Nina cepat. Wanita itu lantas sigap berdiri, menatap Erick tajam. “Aku pastikan akan mengambil kembali apa yang jadi milikku…Suho adalah perusahaan yang aku bangun dari nol. Tapi kau... Kau hancurkan semuanya.”
Erick mengerjap kaget. “Kau tahu tentang itu?”
“Aku tahu lebih dari yang kau pikirkan.”
Nina berdiri, menggandeng Jimmy.
“Makan siangnya selesai. Ayo, Sayang.”
“KAREN, TUNGGU!!” Erick berlari, mencoba menyusul mereka.
Namun Nina mempercepat langkah, membaur ke dalam kerumunan pengunjung taman bermain. Erick hanya bisa berdiri di tengah keramaian, menatap punggung wanita yang dulu ia sakiti, yang cintanya masih tersimpan rapi.
Nina terisak sepanjang jalan. Jemarinya menggenggam tangan kecil Jimmy erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya alasan hidupnya. Matanya bengkak, nafasnya tercekat, dan seluruh tubuhnya bergetar menahan luka yang kembali menganga.
Langkahnya akhirnya terhenti di sebuah trotoar yang sepi, matanya menatap nanar ke arah sosok pria yang berdiri sejajar dengannya.
“Hanssel…” lirih Nina, hampir tak terdengar.
Pria itu berdiri di sana, dengan tatapan tajam penuh amarah.
“Aku pikir ada hal penting apa yang membuatmu mengabaikan semua panggilanku.” ucap Hanssel dingin menekan. “Ternyata hanya seorang bajingan tidak berguna dari keluarga Shin yang membuatmu seperti ini.”
Hanssel melangkah mendekat, suaranya mulai gemetar menahan emosi. “Aku melihatmu... Menangis sepanjang jalan... Membawa Jimmy dalam pelukanmu seperti dunia sedang menjatuhkan kalian!” Hanssel tercekat sesaat. “Besok aku akan— tidak! Bukan besok! Hari ini juga aku akan membunuhnya!”
Dia hendak berbalik dan pergi, tapi tangan Nina meraih lengannya dengan penuh kegilaan.
“TIDAK! HANSSEL! TUNGGU!!” Air mata mengalir semakin deras dari pelupuk Nina.
“Aku... aku sudah punya rencana sendiri.” pinta Nina mengiba. “Aku bersumpah... Sejak tiga tahun yang lalu, aku bersumpah akan membalas semua luka ini. Bukan dengan darah, tapi dengan cara yang akan membuat mereka memohon belas kasihanku!”
“Aku akan buat mereka memungut setiap tetesan air mataku! Aku akan buat mereka menyesali setiap kata dan tindakan yang telah menginjak harga diriku!”
Hanssel terpaku. Hatinya yang keras bergetar saat melihat Nina hancur seperti ini. Dia menarik Nina ke pelukannya dengan lembut, lalu menatap wajahnya yang basah air mata.
Untuk pertama kalinya, Hanssel bersimpuh di hadapan Jimmy. Ia menatap bocah itu dengan mata berkaca-kaca.
“Jimmy…” suaranya bergetar. “Mulai sekarang... biarkan aku yang menjadi papamu.”
“Papa Hanssel janji akan jadi pelindung kalian. Akan membuat kalian tertawa lagi... akan menyembuhkan semua luka yang dia tinggalkan.”
Jimmy menatapnya dalam diam. Mata kecilnya yang tadi sembab kini mulai memancarkan cahaya. Bocah itu mengangguk pelan, lalu melangkah memeluk Hanssel dengan erat.
“Papa Hanssel…” gumamnya lirih, tapi cukup untuk menghantam dada Nina.
Hanssel mengangkat tubuh mungil Jimmy, lalu menggenggam jemari Nina. Hangat. Kokoh, serta penuh keyakinan.
“Pulang, yuk,” bisiknya. “Kita pulang ke rumah yang akan jadi milik kita.”
Nina menatap pria di sampingnya. Untuk sesaat dunia terasa berhenti. Langkah mereka menyatu, satu arah, satu tujuan.
Mengapa dia datang saat jiwaku rapuh? Mengapa dia tahu cara memeluk luka yang tak terlihat ini? Mungkinkah... Dia adalah takdir yang selama ini Tuhan siapkan?
Genggaman Hanssel di jemarinya semakin erat dan untuk pertama kalinya, Nina tak ingin melepaskannya.
Bersambung…
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕