"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pelukan Hangat Sang Panglima
"Astaga, kamu ini! Nggak sopan sekali masuk rumah orang asal nyelonong!"
PLAK! PLAK!
Suara pukulan mendarat telak di lengan dan bahu tegap sosok itu. Marry, yang baru saja mendorong pintu rumah, terlonjak kaget setengah mati mendapati sesosok pria bertubuh kekar sedang duduk santai di ruang tamunya. Pria itu hanya mengenakan kemeja linen longgar khas rakyat biasa, tanpa zirah militer berlapis emas yang biasa ia pakai. Karena panik dan refleks yang keluar, Marry langsung menghujani bahu bidang itu dengan pukulan gemas layaknya memarahi anak remaja yang nakal.
"Aw ... aw! Sakit, Nyonya! Maaf!" Aethan mengaduh pelan, refleks mengangkat kedua lengan besarnya untuk melindungi kepala, memasang ekspresi defensif yang sama sekali tidak mencerminkan reputasinya sebagai Panglima di kemiliteran.
Paul dan Anna yang baru saja melangkah masuk seketika membeku. Pemandangan di depan mereka benar-benar tidak masuk akal. Paul dengan wajah pucat pasi segera maju dan menarik istrinya mundur, lalu tanpa ragu langsung bersimpuh di atas lantai di hadapan Aethan.
"Mohon ampun, Tuan Panglima Tertinggi! Istri hamba benar-benar tidak tahu siapa Anda. Dan ... hamba juga ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas prasangka buruk hamba tempo hari," ucap Paul dengan penyesalan yang dalam, menepati janjinya untuk bersujud meminta maaf setelah melihat kebaikan sang Panglima.
Aethan menurunkan lengannya, berdeham canggung seraya mengusap bahunya yang masih terasa panas. Ia menatap Paul yang bersimpuh, lalu mengalihkan netra peraknya kepada Anna, menuntut penjelasan lewat tatapan mata yang bingung. Namun, Anna hanya mengangkat kedua bahunya dengan cuek.
"Ayah, berdirilah. Tuan Panglima tidak akan memenggal kita hanya karena pukulan di bahu," sela Anna santai, lalu berjalan melewati mereka menuju dapur. "Ibu, mari kita hangatkan sup daging yang tadi sudah Ibu buat sebelum kita pergi. Aku akan menyiapkan meja."
Melihat reaksi Anna yang begitu tenang, atmosfer mencekam itu mencair seketika. Marry yang baru menyadari identitas asli tamu mereka hanya bisa menutup mulutnya dengan wajah memerah, sementara Aethan berdeham lagi, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh dalam satu menit.
Di meja makan kayu yang sederhana, ketegangan berganti menjadi kehangatan yang asing bagi Aethan. Sembari menyendok sup daging hangat, Paul membuka pembicaraan. "Kami berencana merenovasi total rumah panggung ini, Tuan. Mengingat musim dingin yang akan segera tiba, fondasi kayu ini tidak akan mampu bertahan."
Aethan meletakkan sendoknya, menatap Paul dengan serius. "Jika kalian ingin merombak tempat ini, kalian butuh tempat tinggal sementara. Aku memiliki sebuah rumah pohon yang kosong tapi agak jauh di pinggiran hutan pinus sana dan aku jamin keamanannya. Kalian bisa tinggal di sana selama proses pengerjaan."
Paul sempat ragu, namun melihat ketulusan di mata pria itu, ia akhirnya mengangguk setuju. "Kebaikan Anda sangat besar, Tuan. Besok pagi-pagi sekali, aku akan mencari sewaan pedati baru untuk mengangkut barang-barang kami."
"Tidak perlu menunggu besok. Kita pindah malam ini juga agar lebih cepat," potong Aethan santai. Ia bangkit berdiri setelah menghabiskan makan malamnya lalu mengeluarkan sebuah kantong beludru kecil dari saku celananya—sebuah Kantong Spasial magis yang biasa digunakan perwira tinggi untuk membawa logistik perang.
"Pakai saja punyaku ini. Mumpung lagi kosong."
Proses berkemas malam itu berjalan luar biasa cepat. Barang-barang besar dan peti pakaian keluarga Anna lenyap seketika begitu menyentuh riakan magis dari k kantong milik Aethan. Namun, saat jemari besar Aethan bergerak hendak meraih sebuah cermin besar yang dibalut kain tudung hitam, Anna langsung berteriak lantang.
"Jangan sentuh itu, Tuan!"
Aethan menghentikan gerakannya, menoleh dengan sebelah alis terangkat tajam.
"C-Cermin itu sangat rapuh dan ... hmmm, biar aku sendiri yang membawanya. Lagipula, aku harus membersihkannya sebelum meletakkannya di ruang kerjaku yang baru nanti," dalih Anna cepat, memeluk cermin transmisi rahasianya itu dengan erat. Aethan menatap Anna lekat-lekat, mencoba mengendus kebohongan, namun akhirnya ia hanya mendengus halus dan membiarkan gadis itu membawanya sendiri.
Keesokan harinya, proyek besar dimulai. Atas saran dari Aethan malam sebelumnya, Paul langsung menghubungi Serikat Pekerja Konstruksi yang terpercaya. Rumah kayu tua mereka dirobohkan, digantikan dengan bangunan baru berfondasi batu batuan magis yang dirancang khusus untuk menahan badai musim dingin, tekanan ekstrem, hingga enkripsi sihir jahat. Paul menyerahkan cetak biru itu pagi-pagi sekali pada sang mandor dan berdiri mengawasi jalannya pengerjaan sepanjang hari.
Keluarga ini bukanlah tipe orang yang pelit. Meskipun upah pekerja sudah bersih sesuai pasaran serikat untuk pengerjaan satu minggu selesai, Marry tetap memasak makanan hangat setiap siang dan sore. Paul bahkan tidak ragu untuk duduk dan makan bersama para kuli bangunan dari nampan yang sama. Tiap kali jam kerja berakhir dan para pekerja hendak pulang, Paul selalu membagikan bungkusan sembako untuk keluarga mereka di rumah titipan dari Anna. Tindakan kemanusiaan yang jarang terjadi itu membuat para pekerja merasa sangat dihargai, hingga mereka bekerja dengan giat dan loyal.
Sementara itu, kehidupan baru di rumah pohon tepi hutan pinus berjalan dengan ritme yang tak terduga. Tempat itu sangat asri dan tenang, namun ketenangannya kerap terusik oleh kedatangan pemilik rumah.
Aethan mendadak sering muncul tanpa zirah militernya. Kadang ia datang siang hari hanya untuk mengantar sekeranjang buah liar, menumpang makan malam dengan alasan merindukan masakan Marry, atau tiba-tiba datang membawa seekor rusa jantan hasil buruannya dengan wajah kebingungan, berdalih tidak tahu harus diapakan daging sebanyak itu.
Namun, intensitas yang sesungguhnya terjadi saat kegelapan malam telah menguasai hutan pinus.
Saat malam tiba, di salah satu kamar rumah pohon yang sunyi, Anna selalu terbangun di jam yang sama. Di balik keheningan malam, ia akan mendapati tubuh mungilnya telah terperangkap sempurna di dalam dekapan hangat sepasang lengan kokoh. Aethan selalu menyelinap masuk diam-diam melalui jendela, menyelip di balik selimut tanpa mengeluarkan suara. Pria itu tidak melakukan tindakan yang melewati batas; ia hanya menarik tubuh Anna erat-erat ke dalam dadanya, menenggelamkan wajahnya di antara helaian rambut merah anggur sang gadis. Anehnya, pelukan posesif itu memutus segala mimpi buruk Aethan, membuat keduanya selalu tertidur dengan sangat nyenyak hingga menjelang fajar.
Tanpa mereka tahu, tepat ketika napas Aethan dan Anna mulai teratur dalam tidur mereka yang lelap, permukaan cermin di balik kain hitam itu mendadak beriak samar. Energi magis terpancar tipis, bermanifestasi dengan seutas benang emas tak kasat mata yang melayang pelan di udara tepat di atas tubuh mereka yang saling mendekap. Benang emas itu terajut dengan sendirinya, membentuk pola perlindungan absolut yang perlahan mengikat jiwa sang predator dan mangsanya dalam jalinan takdir yang kian tak terputus.
lanjut yaaaaa