Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Serba Canggung
Ceklek...
Derit pintu salah satu kamar terbaik di Hotel Tugu-Malang itu pun perlahan terbuka. Prabu melangkah masuk ke dalam kamar pengantin miliknya.
Langkah kaki Prabu terhenti sejenak kala tatapan kedua matanya beradu pandang dengan sorot mata sayu melembutkan dari wanita berhijab putih yang beberapa jam lalu baru saja resmi menjadi istri barunya. Tatapan mata Alea sungguh menenangkan bagi Prabu, namun jelas menyimpan sebuah trauma masa lalu yang penuh misteri baginya.
Alea tak lama-lama memandang Prabu. Ia tetap berada di posisi semula, sama sekali tak beranjak sejengkal pun. Alea tetap duduk di tepian ranjang pengantin. Ia masih lengkap memakai baju pengantin dan hijabnya. Sungguh sejak tadi
"Ehem," Prabu berdehem bermaksud memecah keheningan yang ada.
Alea sedikit terkejut mendengar suara deheman Prabu yang begitu dingin, tegas tapi ada hal yang sedikit aneh. Seakan Alea familiar dengan suara Prabu di telinganya, tapi otaknya tengah buntu saat ini. Ia tak mampu berpikir atau mengingatnya dengan jelas. Berakhir melupakan pikirannya sepintas lalu.
Saat ini Alea benar-benar tengah dilanda canggung yang luar biasa. Di antara kepingan trauma masa lalunya, sekarang ia harus berada satu kamar bersama lawan jenis. Hal yang sudah tujuh tahun lebih dirinya hindari yakni berdekatan dengan lawan jenis selain keluarganya. Walaupun pria di hadapannya sekarang ini adalah suami sah nya. Pria yang berhak atas dirinya secara utuh.
"Kenapa belum ganti baju?"
"Eh..." refleks bibir Alea yang juga kepalanya ikut menongak menatap Prabu yang berdiri tak jauh darinya saat ini.
"Ehm, a_ku..." ucapan Alea menggantung dengan bola mata bergulir resah ke sana-kemari.
Pikirannya tengah kebingungan mencari jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Prabu tersebut tanpa membuat dirinya malu sebagai istri. Hati Prabu memaklumi sikap Alea yang canggung di malam pengantin.
Namun, Prabu adalah sosok tentara yang terbiasa dengan tatapan dingin menusuk dan penuh ketegasan. Tak jarang apabila orang yang belum mengenal dirinya, pasti beranggapan bahwa Prabu adalah sosok manusia es alias kulkas dua belas pintu.
"Apa kamu lupa bawa baju ganti?" pancing Prabu.
"Ah, enggak Mas." Jawab Alea refleks cepat.
Sejujurnya Alea begitu merutuki bibirnya sendiri yang suka berucap tanpa bisa ia kendalikan. Alea semakin malu pada Prabu. Padahal dirinya bukan gadis pera_wan lagi, tapi tingkahnya mirip gadis yang masih suci yang seolah ingin kabur dari malam pertamanya
Melihat tingkah Alea yang terlihat gemetaran, Prabu semakin menabur bensin dalam kobaran api kecanggungan itu. Prabu memilih untuk mendaratkan bo_kong nya di samping Alea.
"Maaf, kalau di ruang ijab qobul tadi adalah pertemuan pertama kita. Seharusnya aku hadir saat lamaran di rumah orang tuamu beberapa waktu yang lalu. Tapi aku dapat panggilan tugas mendadak. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Prabu.
Nyess...
Sungguh hati Alea begitu terharu karena kalimat pertama kali Prabu ucapkan di kamar pengantin mereka adalah sebuah permintaan maaf yang terlihat jelas begitu murni dan tanpa bumbu yang lain.
Alea tak banyak berharap jika malam pengantinnya diisi kata cinta dari Prabu. Toh mereka berdua baru saja menikah karena perjodohan singkat dari kedua orang tua. Tentu secara logika, kata cinta itu masih sangat jauh.
Bagi Alea, seorang pria hebat seperti Prabu menerima dirinya saja, ia sudah sangat bersyukur.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kesibukan Mas Prabu," balas Alea lirih dan apa adanya.
Sejak lahir, Alea juga hidup di keluarga militer sehingga ia begitu paham kesibukan seorang abdi negara terlebih Prabu baru saja menjabat sebagai komandan batalyon.
☘️☘️
Hening tercipta beberapa saat sebelum akhirnya Prabu kembali membuka suara.
"Apa kamu tau kalau aku seorang duda cerai hidup tanpa anak?" tanya Prabu seraya menatap sekilas wajah Alea dari samping.
"Tau," jawab Alea singkat seraya kepalanya mengangguk kecil.
Alea tetap memilih untuk menjatuhkan pandangannya ke lantai sembari jari-jemarinya saling bertautan untuk mengurangi rasa groginya.
"Apa yang kau tau?"
"Bunda Citra bilang Mas Prabu diceraikan Mbak Kinan setelah tiga tahun menikah. Mas Prabu dikatakan man_dul," jawab Alea apa adanya sesuai informasi dari ibu sambung Prabu.
Sebuah helaan nafas berat keluar jelas dari bibir Prabu.
"Kalau nanti kita tetap gak punya anak atau aku enggak bisa nyenengin kamu, gimana?"
"Hah, gimana apanya Mas?" tanya Alea terlihat polos 'ceng0'.
Gara-gara pertanyaan barusan, akhirnya Prabu bisa melihat cukup jelas wajah Alea dari dekat. Terlebih kali ini wanita yang duduk di sampingnya tersebut ikut mendongak dan menatapnya juga walau hanya beberapa detik saja. Sebelum akhirnya Alea tersadar dan kembali menjatuhkan pandangannya ke lantai kamar hotel.
"Apa kamu akan berbuat hal yang sama seperti Kinan?" tanya Prabu. "Meminta bercerai dariku," sambungnya memperjelas kalimatnya.
Sejenak Alea terdiam membisu. Namun, ia pun akhirnya menjawab pertanyaan penting Prabu tersebut.
"Buatku pribadi, sebuah pernikahan bukanlah permainan yang bisa selesai sesuai kehendak manusia. Berharap pernikahan ini bisa berjalan dengan baik hingga maut memisahkan. Aku hanya meminta satu hal pada Mas Prabu, apa boleh?"
"Apa?" sahut Prabu. "Katakan saja," desaknya seakan tak sabaran mendengarnya.
Sebab dari penuturan Bunda Citra, Alea adalah sosok wanita muda berpikiran dewasa, gak neko-neko, tapi irit bicara. Jadi mendengar Alea ingin sesuatu, Prabu tanpa sadar seolah ikut didera penasaran.
"Jangan ada perselingkuhan dalam pernikahan ini," pinta Alea terdengar begitu serius. "Kalau Mas Prabu memang ingin menikah lagi entah dengan seorang gadis atau wanita dewasa yang lain, aku rela mundur dengan baik tanpa banyak drama," sambungnya.
"Besok setelah makan siang aku akan langsung pergi ke Jakarta. Apa kamu mau tetap di sini dulu atau ikut bersamaku?" tanya Prabu. "Mungkin kamu masih berat ninggalin keluarga di sini. Aku enggak masalah kalau memang kamu mau menghabiskan waktu lebih lama sama keluargamu di sini," imbuhnya.
"Aku ikut ke mana Mas Prabu pergi. Itu sudah janji dan tugasku sebagai istri seorang tentara," jawab Alea penuh keyakinan.
"Apa kamu pernah ke Jakarta sebelumnya?" tanya Prabu.
"Pernah," jawab Alea singkat.
"Kapan terakhir kali kamu berkunjung ke Jakarta?" tanya Prabu.
Deg...
Seketika memori Alea kembali terngiang akan trauma masa lalunya yang pahit nan kelam di kota itu.
Bersambung...
🍁🍁🍁